
Hah! Beraninya dia menantangku dengan kemampuannya yang remeh seperti itu! Belum tahu saja dia kalau aku ini bukan orang sembarangan! Apakah dia mengira bisa merebut Tuan Emir dariku? Sombong sekali dia! Jika aku yang menampar, aku yakin kaca mobilnya sudah pecah dari tadi! Ckck!
“Keluar kamu Arimbi! Jika kamu tidak keluar aku akan masuk ke kantor dan mengadu ke ayahmu!” teriak Zivanna dengan kencang, sampai urat lehernya mau putus.
“Ckck…..dasar perempuan tidak tahu malu! Manusia plastik-plastik! Kamu mengadu ke orang tuaku karena kamu gagal menyerangku.’ ujar Arimbi menanggapi.
Lalu Arimbi membuka pintu mobilnya dan keluar, “Dengar ya Tuan putri plastik-plastik! Kenapa kamu terus saja menggangguku. Kalau kamu sedang galau karena cintamu ditolak, pergilah ke pantai dan berteriaklah ke lautan selama tiga puluh menit! Teriak sekencang-kencangnya! Aku yakin kamu akan merasa lebih baik! Ups! Tidak...tidak...kamu tidak boleh teriak, nanti plastiknya terlepas!”
“Dengar ya plastic princess! Aku tidak kan pernah berhenti menemui Emir atau meninggalkannya! Kamu telah memutuskannya, tapi aku tidak akan melakukannya. Kenapa aku harus mendengarkan manusia plastik sepertimu? Tuan Emir tidak memperlakukanmu sebaik dia memperlakukanku kan? Oh, pagi ini sangat manis padaku….mungkin lain kali aku akan mencium bibirnya yang seksi itu!” ujar Arimbi menatap Zivanna dengan tatapan jijik dan mengejek.
Zivanna semakin emosi dan geram mendengar perkataan Arimbi. Dia tersedak dengan kata-kata bahwa Arimbi akan mencium Emir! Hah?
“Bagaimana Tuan Emir memperlakukanku bukan urusanmu! Kamu hanyalah pengasuh gartis dan kamu kerja rodi saja! Pengasuh tahu! Tuan Emir hanya balas dendam kepadamu! Aku tak percaya kamu tertipu olehnya. Kamu kira dia sayang padamu, hah?” teriak Zivanna dengan dada naik turun saking emosinya.
“Jika memang benar, kenapa kamu masih tidak terima Nona Plastik?” tanya Arimbi. Setiap kali wanita itu menyebut Zivanna dengan nama nona plastik membuatnya semakin marah. Memangnya salah jika dia melakukan operasi plastik di beberapa bagian tubuh dan wajahnya? Banyak wanita diluar sana melakukan hal yang sama.
Meskipun Zivanna wajah aslinya cantik tetapi tidak secantik Arimbi. Apalagi dengan plastic surgery yang dilakukan memang membuat wajahnya semakin cantik tapi tetap saja tidak bisa menandingi kecantikan Arimbi yang alami. Wajah Arimbi sangat manis dan cantik dengan hidung mancung, bibir seksi dan ukuran payudara yang montok alami tanpa silikon ataupun suntikan.
Zivanna sudah tidak tahu lagi harus berkata apa. Pada akhirnya dia memutuskan untuk main fisik karena dia tidak akan bisa menang beradu mulut dengan Arimbi yang mulutnya kayak emak-emak satu kompleks.
__ADS_1
Saat Zivanna mengangkat tangannya hendak menampar Arimbi, wanita itu menghindari tamparannya dan Zivanna hanya menampar angin.
Ini membuat Zivanna semakin marah dan dia melontarkan tendangan pada Arimbi, namun Arimbi menangkap kakinya dan mengambil sepatunya.
Arimbi mengangkat sepatu itu tinggi-tinggi sambil bicara, “Aku takjub dengan kemampuanmu mengebut dengan sepatu ini Nona Plastik! Tuhan pasti sayang sekali padamu karena kamu belum kecelakaan!”
“Arimbi! Kembalikan sepatuku. Dasar gadis kampungan bodoh! Tolol!” teriak Zivanna yang harus berdiri dengan satu kaki karena satu sepatunya diambil Arimbi. Namun sulit baginya untuk berdiri dengan satu kaki sehingga dia meloncat-loncat seperti kelinci supaya tidak jatuh.
Akhirnya dia terlihat seperti menghentakkan kakinya dengan marah. Dulu,s emua orang mengaguminya karena dia putri keluarga Lavani. Orang-orang akan melakukan apapun untuk menyenangkannya dan mereka takut menyinggung perasaannya karena takut keluarga Lavani akan balas dendam.
Bagaimana bisa gadis kampungan seperti Arimbi berani padaku? Kurang ajar! Apakah karena Tuan Emir? Tuan Emir meminta Michele secara pribadi membuatkan empat puluh pakaian sehari-hari untuk Arimbi, jadi aku yakin dia pasti peduli padanya…..Zivanna kembali cemburu ketika mengingat itu.
“Arimbi! Kembalikan sepatuku sekarang!” teriak Zivanna semakin marah karena Arimbi terus saja menghinanya dan dia tidak mampu melawan pedasnya mulut Arimbi. Saat ini, satu-satunya yang diinginkannya hanyalah sepatunya karena melompat-lompat dengan satu kaki itu terlihat sangat bodoh dan memalukan.
Jika ada paparazi yang mengambil gambarnya, dia bisa-bisa membunuh Arimbi gara-gara ini. Sementara itu Arimbi melihat sepatunya Zivanna dan dia mendapati bahwa sepatu itu dihiasi berbagai macam berlian. “Jika kamu mau sepatumu, melompat dan ambillah sendiri.” ujar Arimbi lalu melemparkan sepatu itu sejauh mungkin.
Sepatu itu terlempar dan membentuk lengkungan sempurna sebelum jatuh ke tanah yang lumayan jauh dari mereka berdua. Saat bersamaan tanpa sepengetahuan mereka, beberapa orang yang secara kebetulan lewat disana dan menonton pun mengambil kesempatan merekam video dan foto lalu segera pergi dari sana. Mereka tak mau berurusan dengan wanita yang dikenal kejam itu.
“Arimbi Rafaldi!” teriak Zivanna kencang membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
“Nona Lavani, ambillah sepatumu sekarang juga. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku kejam padamu.” ujar Arimbi dengan santai dan senyum mengejeknya.
“Meskipun aku tidak mengambilnya, kamu tetap masih kejam padaku.” sahut Zivanna.
“Tau tak apa!” cibir Arimbi puas.
“Kau!”
Sebuah mobil milik pengawal Emir mendekat kearah mereka dan yang menyetir siapalagi kalau bukan si tampan Rino. Dari kejauhan dia melihat Arimbi sedang ribut dengan Zivanna. Takut Arimbi akan kalah, dia segera tancap gas dan melindas sepatu Zivanna.
Melihat itu, Arimbi menghela napas seraya merasa menyesal, “Sepatu itu dihiasi berlian. Bisakah kuambil berliannya?” pikirnya. ‘Lumayan kan berliannya bisa kujual lalu ku berikan pada pengemis jalanan?’
Zivanna kehabisan kata-kata, dia merasa pusing dengan semua yang terjadi hingga dia bisa pingsan kapan saja. Ketika dia melihat mobil yang melindas sepatunya adalah milik seseorang dari Keluarga Serkan, dia segera melompat-lompat dan menghampirinya.
Dengan tercengang Rino ternganga dengan semua itu dan berpikir. Nona Lavani benar-benar melompat-lompat kemari dan hanya memakai satu sepatu? Mana sepatu satunya lagi?
Dimatanya, wanita semuda dan secantik Zivanna itu seperti seorang putri, setiap gerak geriknya dan perkataannya mencerminkan kepribadian bangsawan.
Dan dia tidak akan melakukan hal-hal hina seperti melompat-lompat dengan satu kaki. Siapakah yang sudah berani membuatnya seperti ini? Dalam diamnya dia memuji siapa yang melakukannya. Orang ini pastinya sangat berani, puji Rino didalam atinya. Dan sepertinya orang itu adalah Nyonya Muda Arimbi.
__ADS_1