GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 193. MARAH PUN BUTUH ENERGI


__ADS_3

Emir menarik Arimbi kedalam pelukannya setelah mengusir si pelayan wanita. Dia memeluk Arimbi dengan erat sambil menepuk-nepuk punggungnya menenangkannya.


Sementara Arimbi membenamkan wajahnya ke dada suaminya sambil tersenyum yang tidak dapat dilihat siapapun. Dia membasahi kemeja Emir dengan airmatanya. “Sayang…….kakiku perih sekali. Hiks hiks hiks…….”


“Ssstttt…...sudah sudah…..jangan menangis lagi. Kamu pasti lapar kan?”


Arimbi langsung menganggukkan kepalanya, “Sayang, aku tidak terlalu lapar. Tadi aku sudah makan banyak.” ujarnya dengan tersedu-sedu mendongakkan wajahnya menatap Emir dengan sendu.


“Apa? Kamu sudah makan banyak tadi siang? Arimbi Saraswaty! Apa kamu masih bisa makan setelah apa yang terjadi tadi?” ujar Emir menaikkan suaranya. Dia kesal mendengar istrinya makan banyak sedangkan dia tidak makan apapun hari ini. Dia bahkan mencium bau alkohol dari mulut istrinya.”Berapa banyak kamu minum tadi?”


“Sayang, aku tahu aku salah. Tapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan tadi aku sama sekali tidak memikirkan pria brengsek itu. Aku tadi memikirkan hal lain, lagipula aku sudah mengambil kembali semua pemberianku dan membuangnya! Sampai hal terkecil sekalipun tidak ada yang tersisa. Sedangkan barang-barang berharga sudah aku kembalikan pada ibuku.”


“Aku tahu. Tadi ibu memberitahuku soal itu.” ucap Emir pelan.


Arimbi menghela napas panjang lalu berkata lagi, “Emir, aku tidak punya perasaan apapun lagi pada Reza. Sekarang di hatiku hanya ada kamu suamiku, aku sangat mencintaimu tapi kamu membuatku sedih dan menangis. Setelah kamu menendangku keluar dari mobil aku memanggilmu dan menangis di pinggir jalan. Ku pikir kamu akan kembali menjemputku tapi setelah menunggu satu jam, kamu benar-benar meninggalkanku disana...hiks….hiks….”


“Hatiku sakit sekali, kamu sudah salah paham padaku. Bagaimana bisa suamiku meninggalkanku sendirian di pinggir jalan seperti itu? Bagaimana kalau aku diculik orang dan tak pernah bertemu denganmu lagi? Huaaa…..huaaa…..” tangisnya kembali pecah seperti anak kecil.

__ADS_1


“Aku tahu kamu tidak percaya padaku tapi kita ini sudah menikah dan kita harus saling mempercayai, menghormati dan mencintai agar pondasi kita kokoh sehingga tidak ada yang bisa menghancurkan kita. Aku tadi terpaku bukan karena memikirkan Reza tetapi aku memikirkan bagaimana reaksi Amanda jika dia tahu Reza menikahi Ruby. Apa yang akan terjadi pada mereka berdua? Apakah mereka akan diam-diam tetap berhubungan dibelakang? Atau rencana jahat apalagi yang sedang mereka mainkan sekarang?”


“Sayang…..maafkan aku ya. Aku…...sudah tidak punya perasaan apapun lagi pada Reza. Dan aku mau jujur padamu kalau aku memang sudah makan banyak tadi dan minum bir sedikit. Tapi aku marah dan sakit hati, aku kehilangan tenagaku setelah menangis lama. Emir! Marah pun butuh tenaga. Setelah menangis aku harus makan banyak supaya punya tenaga untuk berjalan pulang.”


‘Apa katanya? Marah pun butuh makan? Tenaganya habis karena menangis di pinggir jalan? Cih! Bisa-bisanya dia makan sepuasnya dan tidak memikirkan suaminya kelaparan.’ gerutu Emir dalam hati.


“Berapa banyak kamu minum bir? Aku sudah melarangmu minum kan?”


“Aku cuma minum 4 kaleng bir. Joana sudah berusaha menghentikanku tapi aku memarahinya karena aku sedang sedih, aku butuh pelampiasan.”


“Sayang.” Arimbi menyandarkan kepalanya di dada Emir lagi sebelum dia berkata dengan lembut lagi. “Sayang, mari kita perbaiki oke? Sejak kita menikah aku benar-benar ingin bersamamu seumur hidupku. Saat menerima surat nikah kita, saat itu juga aku sudah menyerah pada Reza. Kamu mengatakan bahwa aku gelisah dan aku masih tidak bisa memikirkan Reza, tapi itu tidak benar. Aku sedang memikirkan sesuatu.”


Emir mengerutkan keninganya dengan wajah menegang. “Karena kami sudah putus maka kami tidak harus memiliki hubungan apa-apa lagi dimasa depan bahkan sebagai temanpun tidak. Aku sudah membuka lembaran baru bersamamu. Aku tidak akan pernah terlibat lagi dengannya ataupun dengan pria lainnya dimasa depan. Aku tahu ini semua tiba-tiba dan aku tidak tahu malu memintamu untuk menikahiku.”


“Alasan mengapa aku menikahimu, aku akan menjelaskannya padamu nanti. Untuk saat ini bisakah kamu makan malam denganku? Tadi Rino bilang padaku kalau kamu melewatkan makan siang hari ini.” sambil mengatakan itu, Arimbi melirik diam-diam pada Emir yang masih enggan menatapnya dan menunggu tanggapan suaminya itu.


Setelah terdiam cukup lama, Emir menatapnya dan ketika sepasang suami istri itu saling menatap dia bertanya dengan nada dingin, “Berapa botol alkohol yang kamu minum sore ini?” tanya Emir kesal. Dia sudah memperingatkan Arimbi untuk tidak minum alkohol saat dia diluar rumah dan tidak bersamanya. “Baumu seperti alkohol tiap kali membuka mulut.”

__ADS_1


“Benarkah?” Arimbi mendengus dan mengendus-endus napasnya sebelum melanjutkan, “Aku tidak bisa mencium bau alkohol lagi karena sudah lama. Sayang, indera penciumanmu luar biasa masih bisa mencium bau alkohol.”


“Berapa banyak yang kamu minum?” tanya Emir lagi.


Sekarang, Arimbi takut menatap mata Emir dan mulai mengalihkan pandangannya darinya. Namun, Emir dengan dingin menangkup dagunya dan melekatkan kepalanya sehingga Arimbi tidak bisa menghindari matanya lagi.


Dia bertanya sekali lagi dengan nada dingin. “Jawab aku! Berapa banyak yang kamu minum? Jangan membuatku bertanya keempat kalinya. Jawab yang jujur!”


“Tidak banyak hanya empat botol dan itu hanya bir. Karena aku memiliki tingkat toleransi alkohol yang cukupbaik, empat botol bir tidak ada artinya bagiku.” jawab Arimbi.


“Empat botol? Tadi kamu bilang empat kaleng! Arimbi….sepertinya kamu harus dihukum karena berbohong.” ujar Emir menatapnya. “Kenapa kamu minum sebanyak itu?”


Arimbi memasang wajah sedih dan hendak menangis lagi, “Apakah kamu pikir kamu satu-satunya yang memiliki temperamen? Apakah kamu pikir kamu satu-satunya yang merasa dirugikan? Aku sangat terpukul saat kamu menyuruhku keluar mobil. Aku merasa sedih saat suamiku meninggalkan aku sendirian dan aku terus memanggilmu dari belakang mobil. Aku sedih karena kamu mengabaikan aku. Hiks hiks hiks….” airmatanya kembali menetes.


“Kamu sangat kejam pergi begitu saja. Aku hanya menangis dan menangis dipinggir jalan itu berharap kamu kembali. Tapi kamu tidak pernah kembali makanya aku terpaksa menelepon Joana untuk menjemputku. Aku ketakutan sekali berada ditempat itu. Ketika dia membawaku makan siang aku memesan bir karena aku sangat sedih. Joana terus memintaku berhenti karena dia takut kamu akan marah padanya nanti. Makanya aku hanya minum 4 botol saja.”


Emir kini merasa seperti dadanya sedang ditusuk ketika Arimbi menangis lagi. Menatap kearahnya, yang terlihat hanya kesedihan saat dia terus menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Emir akhirnya menyerah dan menaruh lengannya dibahu Arimbi saat wanita itu menghela napas panjang. “Aku juga tidak makan apapun hari ini sedangkan kamu masih bisa makan dan minum bir.”


“Emir, kamu harus ingat selalu untuk tidak melewatkan makan. Meskipun kamu dalam suasana mara atau apapun itu karena tubuhmu juga butuh energi untuk marah. Kalau kamu tidak makan, kamu bisa pingsan karena tidak punya tenaga untuk marah-marah.” ujar Arimbi lagi.


__ADS_2