GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 358. KETEGASAN MOSHA


__ADS_3

“Oh itu! Remote itu sudah tidak bisa dipakai lagi Nona! Semua sudah diganti sama yang baru!”


“Ada apa pak? Siapa yang datang?” terdengar suara pria dari dalam, tak lama seorang pria berpakaian hitam bertubuh kekar tampak keluar dan berdiri di pintu kecil yang terbuka.


“Ini ada Nona Amanda! Katanya mau masuk kedalam tapi tidak saya izinkan.” jawab satpam itu.


 


“Tanya dia mau apa datang kesini?”


“Hei! Siapa kamu? Seenaknya mengatur-atur disini! Cepat buka gerbangnya, aku mau masuk menemui ibuku! Ini rumahku, jangan sembarangan kalian melarangku masuk! Apa-apaan ini?”


Pria itu berjalan mendekat dan menatap Amanda dengan tajam membuat Amanda mengeryit heran. Dia tidak mengenal pria itu dan belum pernah melihat sebelumnya, siapa dia? Tanyanya dalam hati.


 


“Hanya tamu yang sudah mendapatkan izin boleh masuk kedalam rumah ini. Saya adalah pengawal dirumah ini. Apa ada pertanyaan lain? Kalau Nona mau masuk, silahkan isi buku tamu dulu.”


“Kurang ajar!” Amanda berteriak lalu turun dari mobilnya. “Minggir! Aku mau bertemu ibuku.”


“Maaf Nona! Anda tidak diperbolehkan masuk kedalam rumah ini tanpa izin!” pria itu memegang lengan Amanda yang memaksa masuk ke rumah.


 


“Lepaskan! Minggir kamu! Kamu tidak punya hak untuk menghalangiku! Ini rumahku.”


“Eh…..ehh…….sudah...sudah jangan ribut disini. Kata Nyonya biarkan dia masuk.” seorang pelayan tergesa-gesa menghampiri setelah dia melapor pada Mosha tentang keributan yang terjadi diluar. Setelah Mosha memberitahunya untuk membiarkan Amanda masuk dia langsung berlari keluar.


 


“Sudah dengar kan? Ibuku menyuruhku masuk! Jadi, jangan pernah menghalangiku untuk masuk kerumah ini lagi.” Amanda langsung masuk kedalam mobilnya. Setelah gerbang terbuka lebar, dia melajukan mobilnya masuk dan berhenti didepan pintu masuk.


 


Dengan bergegas dia menyambar tasnya dan masuk kedalam rumah tanpa mengindahkan pelayan yang membukakan pintu untuknya. “Dimana ibuku?” tanyanya berjalan masuk lalu duduk di sofa.


“Ckckck! Baru beberapa hari tinggal di desa, tingkahmu jadi bar-bar dan tidak sopan saja Amanda.” Suara Mosha terdengar dari arah belakang Amanda membuatnya menoleh melihat Mosha yang menatapnya tanpa ada senyum.

__ADS_1


 


Dengan santainya Mosha duduk di sofa. “Buatkan teh untukku.” ucap Mosha pada pelayan yang langsung pergi dan tak lama membawakan teh untuk majikannya tanpa menawarkan pada Amanda.


“Bu…..” panggil Amanda dengan suara lirih, menatap sendu pada Mosha. Wanita cantik yang sudah hidup bersamanya selama bertahun-tahun.


 


“Amanda, biar aku perjelas padamu. Ibumu adalah Pratiwi! Jangan menyakiti hati dan perasaan ibumu dengan memanggilku ‘ibu’. Kamu paham kan maksudku? Tugasku untuk merawat dan membesarkanmu sudah selesai. Jadi mulai dari sekarang jangan panggil aku ibu lagi!”


 


Amanda bergetar mendengar Mosha yang bicara dengan nada dingin dan datar. Tidak ada senyum dan keramahan yang biasa ditunjukkan Mosha, tidak ada lagi pancaran kasih sayang dari binar mata wanita yang sudah membesarkannya itu. Hati Amanda teriris, sakit dan perih! Wanita yang selama dua puluh tiga tahun dia panggil ibu tapi sekarang tak sudi mendengar Amanda memanggilnya ibu.


 


“Kenapa?” tanya Amanda dengan suara bergetar.


“Apa masih belum jelas? Putriku adalah Arimbi! Seharusnya aku melakukan ini sejak lama, setelah kembalinya Arimbi. Semuanya akan berbeda seandainya waktu itu kami langsung mengembalikanmu pada keluarga kandungmu.” ujar Mosha.


 


“Hentikan Amanda! Jangan pernah memanggilku dan suamiku dengan sebutan ayah dan ibu lagi! Sekarang, kami bukan lagi orang tuamu dan kamu pasti sudah tahu itu. Kembalilah pada keluarga kandungmu dan berbaktilah pada mereka. Belajarlah menerima dan menyayangi mereka.”


 


“Aku mohon! Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi! Ijinkan aku menjadi bagian dari keluarga ini, dan aku janji akan selalu mengunjungi keluarga kandungku dan melakukan semua yang ibu minta. Aku mohon bu.”


 


“Amanda! Sudah kubilang aku bukan ibumu! Berhenti memanggilku seperti itu karena kamu bukan putriku lagi! Apa kamu masih belum paham? Kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini! Kamu adalah Amanda Darmawan bukan Amanda Rafaldi! Secara hukum. Kamu tidak ada hubungan lagi dengan keluarga Rafaldi. Kamu paham?”


 


Amanda merasa sakit hati, dia meneteskan airmata. Dengan suara bergetar dia berkata,


“Baiklah. Tapi bolehkah aku mengambil barang-barangku yang masih ada dikamarku?”

__ADS_1


“Semua sudah di bereskan pelayan. Mereka sudah meletakkannya diluar. Kamu bisa bawa!”


“Semuanya? Bagaimana dengan barang berharga milikku? Perhiasanku?”


 


“Tidak ada satu perhiasanpun yang boleh kamu bawa dari rumah ini! Semua perhiasanmu adalah pemberianku dan itu bukan milikmu! Karena perhiasan itu adalah milikku yang kuberikan untukmu sebagai putriku tapi hubungan kita sekarang bukan lagi ibu dan anak. Jadi kamu tidak berhak membawa apapun dari rumah ini kecuali pakaian saja!”


 


Amanda membelalakkan matanya, terkejut mendengar perkataan Mosha. ‘Apa? Aku tidak mendapatkan kembali perhiasan-perhiasan itu? Padahal tujuanku datang kesini untuk mengambil semua perhiasan milikku! Bagaimana ini? Tanpa perhiasan itu aku tidak punya pegangan untuk bertahan hidup.’ Amanda bergumam dalam hatinya yang galau.


“Ada lagi yang mau kamu katakan? Kalau tidak, kamu sudah bisa pergi dan jangan pernah datang lagi kesini. Kuharap kamu akan mempunyai kehidupan yang baik dan bahagia bersama keluarga kandungmu. Oh iya, mengingat kamu bekerja sekian lama di perusahaan dan mendapat gaji besar, pasti kamu punya simpanan yang lumayan banyak bukan? Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerjamu, tidak akan sulit bagimu mencari pekerjaan maupun memulai bisnis. Uangmu pasti cukup, kalau memang kamu menyimpan uangmu selama ini.”


 


Amanda tak mampu lagi berkata-kata, semua rencana yang sudah dia susun terhempas dalam sekejap. Mencari kerja? Memulai usaha? Bagaimana dia bisa melakukan itu? Apakah ada perusahaan yang mau menerimanya setelah apa yang terjadi? Sedangkan memulai usaha sendiri, dia tidak punya uang.


 


“Kamu bisa membawa mobil itu! Itu milikmu, kamu pasti membutuhkannya untuk sehari-hari. Kami tidak akan mengambil mobil itu darimu. Anggap saja itu pemberian dari kami.Tapi tidak dengan barang-barang lainnya. Hanya barang yang kamu beli dengan uangmu sendiri yang bisa kamu bawa.” ucap Mosha dengan tegas dan penuh penekanan.


 


Dengan langkah gontai, Amanda keluar dan saat dia tiba di teras rumah dia melihat deretan koper-kopernya disana. Dia memasukkan kopernya satu persatu kedalam mobil, setelah itu dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu. Saat keluar dari gerbang, Amanda menoleh kebelakang sekejap menatap rumah mewah yang selama ini dia tinggali.


 


Rasa mual kembali muncul saat dia sudah melaju menjauhi kediaman Rafaldi. Tak bisa menahan rasa mual yang menderanya, Amanda menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan turun dari mobil.


Dia memuntahkan seluruh isi perutnya. Amanda memegangi perutnya yang terasa sakit, setelah mualnya hilang dia masuk kembali ke mobilnya.


 


Amanda duduk diam didalam mobilnya. Ekspresi wajahnya yang tadi muram dan sendu berubah, rahangnya mengeras dan tatapan matanya tajam. Sinar matanya menunjukkan kemarahan dan kebencian yang mendalam.


Tangannya mengepal erat lalu memukul kemudi mobil sambil berteriak marah. Dia berteriak meluapkan semua amarah dan rasa sakit yang menyesakkan dadanya.

__ADS_1


__ADS_2