GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 383. AMANDA TERUSIR


__ADS_3

“Arimbi….Arimbi…..Arimbi…..! Kenapa kalian selalu saja menyebut nama perempuan itu? Apa bagusnya dia? Apa yang sudah dia lakukan pada keluarga ini yang membanggakan? Aku lebih berpendidikan daripada dia! Aku lebih pintar dan lebih segala-galanya dari Arimbi!” teriak Amanda penuh amarah.


“Cih! Kamu lebih baik dari Arimbi katamu? Kalau memang kamu baik, Reza tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan hamil dan bahkan tak peduli padamu! Kalau kamu baik, keluarga Rafaldi tidak akan menendangmu keluar dari rumah mereka! Keluarga Lavani hanya mempermainkanmu! Katakan dimana bagusnya dirimu?”


Amanda yang mendengar perkataan Adrian langsung mengamuk dan melemparkan barang-barang yang ada didekatnya. Pada saat bersamaan ayah mereka datang dan langsung menghentikan Amanda. “Hentikan, Amanda! Apa-apaan kamu melempar semua barang-barang ini? Sudah banyak barang yang kamu rusak selama tinggal disini.”


Amanda melotot menatap ayahnya, “Oh jadi ayah juga sekarang mulai perhitungan denganku?”


“Jujur, ayah kecewa padamu Amanda! Selama lebih dua puluh tahun kami merawat Arimbi dan hidup bersama, tak pernah sekalipun dia bersikap kasar pada kami. Dia memperlakukan ibumu dengan sangat baik. Tapi lihatlah dirimu!”


“Kamu tidak pernah menghormati aku dan ibumu sebagai orangtuamu! Aku tahu kalau ibumu menangis dan sedih setiap hari. Dia menahan semua perasaannya karena dia menyayangimu tapi kamu tidak tahu diri! Sepertinya kamu harus mulai memikirkan untuk mencari tempat tinggal baru, Amanda!” ujar Mardin dengan tegas.


Adrian menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia sudah tidak tahan melihat perlakuan Amanda kepada ibunya setiap hari. Sedangkan Amanda hanya duduk dan bermain ponsel sepanjang hari tanpa melakukan apapun. Dia juga bahkan mengamuk setiap kali Adrian menyuruhnya untuk mencari pekerjaan.


“Baik! Ingat ya kalau aku keluar dari rumah, kalian jangan pernah datang menemuiku dan meminta bantuanku! Aku pastikan kalau aku akan kembali menjadi orang kaya. Apa kalian pikir aku senang tinggal disini? Kalau bukan karena ibu yang memintaku, aku juga tidak sudi tinggal lama-lama di kampung ini!”


Amanda menghentakkan kakinya dengan marah lalu masuk ke kamarnya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi tinggal di pedesaan. Dia pun mengemasi barang-barangnya, sambil menggerutu dan memaki. Amanda tak peduli jika suaranya didengar oleh Adrian karena dia tahu jika Adrian dan ayahnya masih ada diruang depan.


“Sepertinya dia akan benar-benar pergi dari rumah ini.” kata Mardin dengan suara lirih. Meskipun dia tidak suka dengan sikap Amanda selama tinggal bersama mereka tapi mengingat kondisi putrinya yang sedang hamil dan penggangguran sedikit membuat Mardin merasa kasihan. Tapi dia juga tidak mau melihat istrinya menangis setiap hari.


“Ayah, ayo kita kembali ke ladang. Orang yang akan memborong hasil pertanian kita akan tiba setengah jam lagi.” ujar Adrian mengajak ayahnya. Ladang mereka cukup luas dan penghasilannya lumayan besar. Adrian sudah menemukan pemborong yang akan membeli semua hasil kebung mereka.

__ADS_1


Sementara ditempat lain Emir dan Arimbi pun sedang bersiap-siap akan berangkat. Setelah menghabiskan waktu selama seminggu mengurus bisnis Emir diluar negeri, hari ini mereka akan kembali. Tampak Edward dan staff-nya juga sudah mengemas baju pengantin mereka berdua dalam kotak yang indah.


Pesawat pribadi yang akan membawa mereka pulang sudah siap. Semua barang-barang bawaan mereka pun sudah dinaikkan keatas pesawat. “Edward! Aku akan mengirimkan undangan pernikahanku nanti! Aku harap kamu bisa hadir.” ucap Emir berjabatan tangan dengan sahabat lamanya itu.


“Aku pasti datang! Mana mungkin aku melewatkan pernikahan sahabatku dan melihat pengantin wanita tercantik mengenakan baju pengantin rancanganku! Ini adalah rancangan spesial dan aku ingin mengambil banyak foto istrimu nanti dengan gaun pengantinnya.” ujar Edward. “Selamat jalan Emir, Arimbi.”


Pria itu menatap sepasang suami istri itu naik keatas pesawat lalu dia pun menjauh dari sana karena pesawat akan segera take off. Ada senyum muncul diwajah Edward, akhirnya dia bisa melihat sahabatnya tersenyum dan bahagia kembali setelah kecelakaan yang menimpa Emir, membuat pria itu hidup dalam kemuraman.


“Jam berapa kita akan sampai disana?” tanya Arimbi setelah pesawat mereka lepas landas.


“Sekitar jam dua siang. Perjalanan kita selama empat jam, kamu bisa istirahat didalam kamar kalau kamu merasa lelah. Atau mau kutemani?” tanya Emir mengedipkan satu matanya seraya tersenyum nakal pada Arimbi.


“Mantan? Mantan yang mana? Sepertinya tidak pernah!”


“Ehm…..tapi kenapa sepertinya kalau dilihat dari gelagatmu, kamu sudah biasa melakukan diatas pesawat.”


“Arimbi! Atas dasar apa kamu mengambil kesimpulan seperti itu?”


“Hahahaha……aku cuma becanda kenapa kamu malah sewot begitu? Kalau memah belum pernah ya sudah, tidak masalah.” ujar Arimbi lalu diam. Saat ini seorang pramugari datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk Arimbi.


“Boleh minta jus jeruknya lagi? Sepertinya aku juga lapar. Sayang, kamu tidak mau makan?”

__ADS_1


“Aku masih kenyang. Tadi kita sudah sarapan, makanlah apa yang ingin kamu makan. Sepertinya mereka ada buat lasagna dan chicken gordon bleu! Minta saja apa yang kamu mau.”


Arimbi pun langsung meminta semua makanan yang disebutkan Emir tadi.


********


“Amanda! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memasukkan semua pakaian dan barang-barangmu ke koper?” tanya Pratiwi saat dia kembali kerumah untuk menyiapkan makan siang. Dia melihat dari pintu kamar Amanda yang terbuka lebar kalau putrinya sedang mengemasi barang-barangnya.


“Aku mau pindah dari sini bu. Aku tidak betah lagi tinggal disini.” ujar Amanda.


“Iya, tapi kamu mau pindah kemana? Apa tidak sebaiknya kamu tunda dulu sampai anakmu lahir, Amanda? Tidak baik bagi seorang ibu hamil tinggal sendirian diluar sana. Kalau kamu kenapa-napa, siapa yang akan menjagamu?”


“Sudahlah bu! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Lagipula dirumah ini sumpek dan tidak baik bagi calon bayiku! Ibu mau masak makan siang kan? Sudah sana, masak dan jangan ganggu aku. Aku mau makan dulu sebelum pergi.” ujar Amanda menarik ibunya keluar dari kamarnya. Pratiwi hanya bisa menatap nanar putri kandungnya itu.


‘Dia jauh berbeda dari Arimbi. Arimbi tidak pernah bersikap kasar ataupun berkata kasar padaku. Amanda mau tinggal diluar sana, ah…..aku pun sudah lelah menghadapinya tapi bagaimanapun dia adalah putriku. Mana mungkin aku bisa membiarkannya tinggal sendirian diluar sana dalam keadaan hamil?’ bisik hati Pratiwi sedih.


Dengan langkah gontai dia pergi ke dapur dan mulai menyiapkan makan siang untuk keluarganya. Dia dengan cepat memasak beberapa menu makanan karena Amanda akan pergi dari rumah itu setidaknya Pratiwi ingin memasak makanan enak untuk Amanda. Sambil mengaduk makanan dia melamun.


Pikirannya kembali pada masa-masa dimana Arimbi masih tinggal bersama mereka. Masa-masa indah dimana Arimbi selalu membantunya memasak didapur. Atau kadang Arimbi membantu membersihkan rumah meskipun Pratiwi tidak pernah memintanya melakukan pekerjaan rumah.


Tak sekalipun Arimbi menyusahkan keluarga itu selama dia tinggal bersama mereka. Sangat jauh berbeda dengan Amanda, setiap hari dia marah-marah dan membentak Pratiwi ibunya hanya karena masakan ibunya tidak sesuai dengan yang diinginkan Amanda. Tak sekalipun Amanda mau membantu ibunya membersihkan rumah.

__ADS_1


__ADS_2