GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 49. CIUMAN HANGAT


__ADS_3

Arimbi pun mengerti apa yang membuat suaminya menjadi muram seperti itu. Sebuah ide iseng pun muncul dibenaknya.


Tiba-tiba, Emir merasakan sensasi hangat dipipinya lalu dia cepat-cepat menoleh dan menatap istrinya dengan wajah memerah.


“Emir, wajahmu terlalu menawan. Aku tidak bisa menahan diriku lagi.”


Pria itu terdiam membuat Arimbi mengira bahwa Emir kesal dengan ciumannya, “Kalau kamu pikir aku mengambil keuntungan darimu, aku akan membiarkanmu menciumku kembali. Kamu bisa menciumku sebanyak yang kamu mau. Bagaimana? Mau ya?”


Emir kembali tak bisa berkata-kata. Saat bersamaan Rino dan Michael sudah mendekati mereka, Arimbi langsung menenangkan diri dan berdiri tegak dibelakang Emir. Dia meletakkan tangannya di kursi roda dan menatap lurus sedangkan Emir terlihat tenang. Pasangan itu terlihat seperti pasangan yang saling mencintai, namun saat itu juga Michael merasa dunia sudah terbalik.


Dia terkejut melihat Emir bersama seorang wanita yang berdiri dibelakangnya. Sejak kecelakaan itu emosi Emir semakin memburuk bahkan para pegawainya tidak berani mendekatinya tetapi sebelum kecelakaan itu terjadi, dia juga tidak suka ketika wanita yang tidak ada hubungan dengannya mendekatinya.


Michele telah jatuh cinta pada Emir selama bertahun-tahun dan wanita itu bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan perhatiannya. Meski begitu, Emir hanya menganggapnya sebagai teman saja.


Emir melihat tatapan Michael fokus pada Arimbi, ekspresinya langsung berubah muram. Bibirnya membentuk garis tipis bahkan Arimbi pun merasakan auranya semakin dingin. Arimbi menunduk untuk melihat tapi yang dia lihat hanya rambut hitam tebal Emir, dia tidak bisa melihat wajah suaminya karena Arimbi berdiri dibelakang kursi roda.


“Tuan Emir!” Michael berhenti tiga langkah dari Emir dan menyapanya.


Michael Hara adalah salah satu penata rambut paling terkenal di negeri ini. Keterampilannya sangat bagus tetapi dia juga dikenal karena wajahnya tampan dan halus. Wajah tampannya lembut sehingga dia terlihat cantik, berbeda dengan Emir yang berwajah tampan tapi wajahnya maskulin.


Ini pertamanya kalinya Arimbi bertemu dengan Michael Hara. Dia tidak pernah berpikir bahwa pria itu juga memiliki sepasang mata yang memikat seperti Dion Hardiwijaya. Banyak orang yang mengatakan bahwa pria yang memiliki mata yang memikat biasanya adalah buaya darat. Arimbi merasa bersyukur karena Emir tidak memiliki mata yang memikat.


“Kamu sudah disini.”ujar Emir dingin.


“Kamu memintaku datang jam 1 siang. Aku bahkan tidak berpikir untuk datang terlambat” jawab Mike tersenyum lalu melirik Arimbi lagi dan dia sangat penasaran ingin tahu siapa wanita itu. Tapi Mike tidak berani bertanya tapi siapapun yang melihatnya pasti tahu jika pria itu ingin tahu.


“Dia putri kedua dari keluarga Rafaldi.” ucap Emir singkat menjawab rasa penasaran Mike.


Pada hari kelahiran Arimbi, seorang wanita yang merasa cemburu pada Mosha telah menukarnya dengan putri pasangan miskin dan Arimbi baru kembali ke keluarganya setahun lalu. Yadid Rafaldi dan istrinya tidak rela berpisah dengan Amanda, putri yang mereka besarkan sejak kecil. Arimbi lahir setengah hari lebih lambat dari Amanda sehingga dia menjadi putri kedua keluarga itu.

__ADS_1


Berita itu teah menyebabkan kegemparan diseluruh kota bahkan negeri ini. Begitu Mike mengetahui siapa wanita itu, dia pun langsung kehilangan minat. Arimbi sudah terbiasa dengan sikap yang ditunjukkan oeh Mike karena hampir semua orang memandangnya seperti itu hanya karena dia dibesarkan oleh keluarga miskin di pedesaan meskipun kini dia kembali ke keluarga aslinya namun tak seorang pun yang memandangnya dengan hormat.


Selain orang tuanya, satu-satunya orang yang menerima Arimbi hanyalah Joana Ganesha. Semua orang bersikap sopan dihadapan Arimbi tapi mereka mencibir dan menghinanya dibelakangnya.


Orang-orang kelas atas selalu mendengus dan mencemoohnya karena pendidikannya tidak setinggi mereka. Lalu mengapa kalau dia dibesarkan dipedesaan? Dia bukan penjahat dan dia juga kebanggaan orang tua angkatnya. Saking kesalnya pada sikap orang-orang kaya itu, Arimbi bahkan menantang mereka yang memandang rendah masyarakat pedesaan untuk berhenti memakan makanan yang dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan. Tindakan Arimbi itu banyak mendapat dukungan dari kalangan menengah kebawah yang tidak menyukai sikap angkuh para kalangan atas.


Emir yang menangkap perubahan ekspresi wajah Mike hanya bisa menahan dirinya untuk tidak mengatakan apapun saat ini. “Coba periksa dan lihat gaya rambut apa yang cocok untuk Nona Rafaldi. Jangan membuat perubahan drastis dan pastikan kamu menjaga kelembutan dan kekenyalan rambutnya.” ujar Emir menjelaskan.


Mike terkejut, dia mengira Emir membuat janji untuk dirinya sendiri tetapi ternyata Emir ingin dia yang menata rambut Arimbi. Mike ingat jika Keluarga Rafaldi telah mencoba membuat janji dengan asistennya tapi Mike selalu menolaknya dengan alasan dia sudah fullbooked. Jika keluarga itu ingin menunggu antrian maka mereka harus menunggu sampai akhir tahun depan. Sejak itu Mosha pun berhenti mencoba membuat janji.


Mike tidak pernah peduli pada Nyonya Rafaldi ibunya Arimbi jadi wajar jika dia juga tidak pedulia dengan Arimbi yang tiba-tiba saja muncul dikalangan kelas atas.


“Tuan Emir?” nada suara Mike terdengar tidak senang tapi dia berusaha menahannya.


“Apa kamu tidak dengar apa yang kuperintahkan? Apa perlu aku pakai toa supaya kamu bisa dengar?”


“Tidak perlu Tuan Emir. Aku mendengar ucapanmu dengan jelas. Ruangan mana yang akan kami pakai untuk meriasnya?” tanya Mike akhirnya meskipun sedikit tak rela harus melayani Arimbi.


“Baiklah.” meskipun Mike dipenuhi rasa penasaran tapi dia tidak mengatakan apapun. Dia menoleh pada Arimbi dengan sopan berkata, “Silakan ikuti aku, Nona Rafaldi.”


Dia adalah penata rambut langganan Emir dan dia sering datang ke Villa Serkan untuk menata rambut pria itu, jadi dia sudah hapal dimana letak salon pribadi Emir.


 


“Aku pergi dulu ya Emir.” ujar Arimbi tersenyum manis yang dijawab dengan anggukan kepala.


Arimbi pun mengikuti Mike ke salon pribadi Emir. Saat memasuki ruangan itu, dia terpesona melihat desain ruangan itu yang sama persis seperti salon kelas atas dengan peralatan mewah. Semuanya lengkap disana.


 

__ADS_1


“Bisa lepaskan rambutmu Nona Rafaldi?” ujar Mike karena Arimbi menyanggul rambutnya keatas. Dia pun lalu melepaskan rambut panjangnya yang lebat. Mike berdiri didepannya untuk memeriksa rambutnya, semakin dia memperhatikan rambut Arimbi, semakin berbinar matanya. Penilaiannya tentang Arimbi sedikit berubah.


Arimbi memiliki wajah yang cocok untuk semua gaya rambut, saat Mike merasakan rambut Arimbi dia menyadari mengapa Emir memberinya instruksi khusus seperti itu. Dia pun enggan memotong rambut yang lembut dan kenyal itu.


“Bagaimana kamu merawat rambutmu nona? Rambut ini sangat terawat dengan baik, gelap dan lembut dan tidak ada satupun ujung yang terlihat.”


“Aku tidak melakukan apapun hanya mencuci rambutku secara teratur.”


“Hanya pakai shampoo?” tanya Mike heran.


“Apalagi yang bisa kupakai selain shampoo dan kondisioner? Aku sedikit malas dan sudah cukup sulit untuk mencuci rambut setiap dua hari sekali. Aku tidak bisa mengikuti rutinitas menggunakan kondisioner.”


Mike tidak tahu harus mengatakan apa, karena selama ini semua klie-nya bisa memiliki rambut indah karena rajin perawatan teratur, tapi ternyata Arimbi malah bisa punya rambut sebagus itu tanpa ada perawatan khusus apapun.


‘Wanita ini sungguh beruntung. Bagaimana dia bisa mempertahankan rambut yang bisa membuat orang iri? Tanpa ada perawatan rambut khusus bisa punya rambut sebagus ini?’ gumam Mike dihatinya.


Sementara Mike sibuk dengan perawatan Arimbi, Emir duduk di sofa ruang tamu dengan majalah ditangannya meskipun dia tampak tidak membalik halaman.


“Tuan Muda Emir, sudah waktunya anda tidur siang.” ujar Beni mengingatkan.


Emir hanya diam dan Beni menyadari jika Emir pasti menunggu Arimbi, “Kenapa tidak tidur siang dulu Tuan? Nyonya Arimbi tidak akan selesai perawatan secepat ini.”


“Aku bukan menunggunya.” jawab Emir tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Iya Tuan. Anda tidak menunggu Nyonya Arimbi. Jadi kenapa tidak istirahat saja sekarang. Anda masih harus pergi ke kantor nanti.”


Beni sudah lama bekerja dikeluarga itu, dia sangat berharap agar Emir beristirahat dirumah dan melanjutkan rehabilirasi fisiknya tetapi Emir bersikeras untuk terus menjalankan perusahaan.


 

__ADS_1


__ADS_2