
“Mimpi buruk?”
“Iya.” jawab Arimbi seraya mengusap airmatanya. “Apa? Apa aku tak boleh bermimpi buruk juga ya?”
Emir menatapnya dalam diam membuat Arimbi merasa gugup jadi dia berusaha memperbaiki suasana tapi tiba-tiba Emir malah mengetuk kepalanya, “Hei berhenti mengetuk kepalaku! Kamu bahkan tidak memberitahuku dulu.” karena kesal Arimbi menerjang Emir.
Pria itu terkejut lalu terjatuh ke belakang. Arimbi ada diatasnya, mereka hampir jatuh dari ranjang tapi masih saja Arimbi mengetuk kepalanya beberapa kali untuk balas dendam. ‘Dasar picik!’
“Kenapa kamu menyentil dan mengetuk kepalaku? Aku dulu sangat pintar tapi kamu melakukan hal ini di kepalaku.” Arimbi bangkit setelah memukul Emir balik tapi kemudian dia merasa bersalah meihat pria itu terbaring diatas lamtai begitu saja.
Arimbi membantunya bangun sambil bergumam, “Jangan salahkan aku, kamu sendiri yang memulainya. Padahal kamu kan bisa bertanya langsung padaku tanpa melakukan kekerasan? Tanya saja kalau mau tanya. Tak perlu menyentil dan mengetuk kepalaku. Aku ini bodoh dan kemampuanku untuk memahami sesuatu rendah sekali.”
“Siapa yang kamu sebut bayi? Kamu mengumamkan itu dalam tidurmu.”
“Oh dia putriku.” jawab Arimbi.
“Hah? Kamu punya anak?”
“Di mimpiku iya! Tapi seseorang mencurinya tepat setelah aku melahirkan. Aku berteriak dan menangis saat berusaha merebutnya kembali tapi kamu membangunkanku sebelum aku bisa merebut anakku!” kebohongannya begitu mulus seolah dia biasa melakukannya.
Emir menghela napas lega, karena dia berpikir akan segera menjadi seorang ayah. “Kembalilah tidur. Aku akan pergi keruang kerjaku.” ujarnya sebelum pergi.
Arimbi ingin membantunya mendorong kursi roda tapi dia berhenti saat pria itu berkata dia ingin pergi keruang kerjanya. Beni telah memberitahunya soal beberapa peraturan. Ruang kerja Emir adalaha area terlarang dan tak semua orang bisa masuk kesana.
Emir menggerakkan kursi rodanya kearah lift lalu pergi keruang kerjanya dilantai dua tanpa meminta bantuan pengawal. Seperti biasa, dia duduk dibelakang meja kerja mengeluarkan sebuah foto tanpa wajah. Emir menatap foto itu sebelum menyingkirkannya. Kemudian dia menyalakan komputernya dan merancang sebuah rencana untuk Arimbi.
__ADS_1
Istrinya itu ingin menjadi wanita karir dan melindungi Rafaldi Group, tapi dia tak berniat menyerang balik. Wanita itu tak bisa ditebak dan Emir tak suka itu. Setelah beberapa jam, akhirnya dia pun selesai merancang rencana untuk Arimbi. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, matahari mulai menyingsing. Fajar datang dan setelah menyusun rencana untuk Arimbi, Emir melihat jam lalu mengambil ponsel menghubungi Rino.
“iya Tuan?” Rino masih tidur ketika Emir meneleponnya. Dia pun segera bangun dan bertanya sambil menguap, “Tuan butuh apa?” ucapnya melirik jam diatas nakas.
“Rino! Aku ingin kamu mencari informasi soal hubungan Arimbi dan Reza! Aku ingin setiap reincinya.” kata Emir memberi perintah.
“Uhm...baik Tuan.”
“Ya sudah itu saja. Kembalilah tidur.”
Emir menutup panggilan itu tapi Rino tak bisa tidur lagi. Dia pun merasa penasaran tapi dia tidak bisa bertanya apapun. Emir tidak akan menjawabnya, tak seorangpun bisa memaksanya untuk membicarakan sesuatu kecuali pria itu yang memulai.
Sementara itu didalam kamarnya, Arimbi merasa kesulitan untuk tidur lagi setelah mimpi buruk dan dibangunkan oleh Emir. Dia pun membacar beberapa novel online diponselnya sebelum kembali tidur. Matahari sudah bersinar tapi dia masih tidur saat Beni mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya.
“Sudah! Aku akan keluar beberapa menit lagi. Apakah kamu butuh sesuatu?” Arimbi buru-buru berdiri mengambil ponselnya untuk memeriksa jam. Astaga sudah jam sembilan pagi.
“Nona Lavani disini dan dia ingin menemuimu Nona.” ucap Beni.
“Nona Lavani? Nona Lavani yang mana?” tanya Arimbi sambil mengganti bajunya.
“Namanya Zivanna!” jawab Beni setelah hening sejenak.
‘Oh! Aku lupa soal dia! Si ****** itu adalah sobatnya Amanda. Dia mempermalukanku dalam pesta ulang tahunnya dikehidupan sebelumnya. Tunggu! Kenapa dia ingin menemuiku? Apalagi dirumah besar ini? Yah, tentu saja si ****** itu tahu aku tinggal disini dari Amanda! Tapi kenapa dia datang kesini? Tunggu! Apakah dia menyukai Emir suamiku?’ pikiran Arimbi menerka-nerka.
“Beni! Tolong katakan pada Nona Lavani untuk menunggu sebentar ya sekitar sepuluh menit.”
__ADS_1
“Baik Nona!” Beni pun bergegas pergi.
Lima belas menit kemudian, dia keluar dari kamar dengan memakai pakaian yang nyaman. Kali ini Arimbi memakai kaos pendek belang dengan celana panjang persis seperti dia masih dirumah orang tua angkaynya tapi baju yang dipakainya sangat cocok ditubuhnya.
Beni yang sepertinya tahu kalau Arimbi akan muncul saat itu sudah menungguk diluar bersama pelayan. “Selamat pagi Nona Arimbi!”
Lebih dari sepuluh pelayan menyapanya disaat bersamaan membuatnya terkejut, “Oh selamat pagi semuanya.” balas Arimbi seraya tersenyum.
“Maaf Nona Arimbi! Waktunya sarapan, Beni mengulurkan tangannya mengajak keruang makan untuk sarapan.
“Kukira Nona Lavani ingin bertemu denganku?” tanya Arimbi.
“Saya sudah bertanya pada Tuan Emir soal itu dan Tuan mau Nona sarapan dulu sebelum menemuinya. Itupun kalau nona tidak keberatan untuk menemuinya.” ujar Beni dengan sopan.
Zivana datang kesini pasti untuk mencari masalah. Kalau emir tidak ada pasti tak ada seorangpun yang bisa melindungi Arimbi jadi Beni bertanya pada Emir apa yang harus dia lakukan. Saat menerima perintah tuannya, dia pun bisa mewakilinya untuk melindungi Arimbi.
Memilih antara sarapan atau menemui wanita yang membuatnya sengsara dikehidupan sebelumnya? Yaah…..jelas sekali jawabannya. Makanan jauh lebih penting dari pada si ****** itu. Zivana masih bisa menunggunya hingga selesai makan. Sedangkan Zivana yang berdiri diluar terlihat kesal. Dua pria berpakaian hitam berdiri didepannya untuk menghalanginya masuk kedalam rumah.
“Apa yang dilakukan kepala pelayan itu? Aku memintanya untuk menyuruh Arimbi segera menemuiku, dimana dia?” tanya Zivanna marah. Dia bisa saja memaksa masuk kalau rumah ini bukan rumah Emir. Keluarga Lavani setara dengan keluarga Harimurti dan posisi mereka berada dibawah keluarga Serkan. Zivana adalah tuan putri dari keluarga Lavani, sama halnya dengan Elisha dari Keluarga Serkan.
Dia selalu menajdi pusat perhatian dan sangat dimanja. Beraninya kepala pelayan Beni itu membuatnya menunggu? Dan wanita itu hanyalah gadis desa yang tidak ada apa-apanya. Kedua pengawal berpakaian serba hitam itu tidak menanggapi pertanyaan Zivana. Wajah perempuan itu semakin menggelap melihat dirinya diabaikan. Dia pun tak punya pilihan lain selain menelepon Emir.
Panggilan itu tersambung tapi tidak dijawab. Hal itu terjadi beberapa kali setelah Zivana mencoba menelepon Emir. Hal itu pun membuatnya semakin murka. Sementara Arimbi yang sadar kalau membiarkan Zivana menunggu lama akan membuatnya marah tapi dia tak peduli.
Dulu dia membenci Zivana dari lubuk hatinya karena dia telah mempermalukannya di pesta ulang tahunnya. Juga karena saat itu Arimbi tidak mampu melawannya karena Zivana memiliki banyak orang dibawah kendalinya dan melawannya hanya akan membuatnya berada disituasi hidup atau mati.
__ADS_1