GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 278. PENGUNTIT


__ADS_3

“Hm….boleh dibilang begitu. Tapi sudahlah, Sandra! Tak perlu dibahas lagi.” Amanda kembali fokus pada pekerjaannya.


Sedangkan Sandra mencari informasi tentang keterlambatan Arimbi hari ini. Setelah dia mendapatkan informasi yang di inginkan dia segera melaporkan pada Amanda.


“Apa yang ingin kamu sampaikan?”


“Mengenai Nona Arimbi, menurut info yang saya dapatkan dia meminta izin pada Direktur Rafaldi pagi tadi. Katanya dia pergi ke rumah sakit.”


“Ke rumah sakit? Apa yang dilakukannya dirumah sakit pagi-pagi?”


“Saya juga tidak tahu Nona. Hanya itu saja informasi yang bisa saya dapatkan.”


Sandra meninggalkan ruangan Amanda dan melanjutkan pekerjaannya. Berbeda dengan Amanda yang masih berpikir tentang Arimbi.’Apa dia sakit? Atau dia ingin menjenguk ibu? Aneh, tidak biasanya dia menjenguk ibu pagi-pagi. Atau jangan-jangan ibu keluar dari rumah sakit? Sebaiknya kutanyakan saja pada ayah nanti.


Amanda teringat kalau dia sudah beberapa hari ini tidak menjenguk ibu kandungnya. Dia benar-benar malas jika harus berhubungan dengan Keluarga Darmawan. Mengingat ucapan Zivanna waktu itu, ini memang kesempatannya untuk menggunakan nama Keluarga Rafaldi.


Amanda berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Dia memasuki lift dan naik ke lantai atas tepatnya ruang kerja Presdir. Saat dia sampai di lantai atas dia tidak melihat Sartika, sekretaris ayahnya. Dia pun langsung melangkah mendekati pintu ruang kerja Presdi.


Saat itu dia melihat pintu tidak tertutup rapat dan mendengar ada dua orang yang sedang berbicara didalam ruangan itu. Amanda tahu jika itu adalah Arimbi, sejak Arimbi bekerja sebagai asisten pribadi Yadid, sudah pasti Arimbi selalu berada dekat dengan ayahnya itu. Dia merasa penasaran apa yang sedang mereka bicarakan didalam.


Meskipun Amanda tidak suka menguping pembicaraan orang lain, tapi kali ini dia penasaran. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain disana dia mendekat ke pintu dan mencoba mendengarkan.


“Arimbi, bagaimana keadaanmu? Apakah semua baik-baik saja?”

__ADS_1


“Aku baik ayah. Coba lihat ini.” Arimbi memberikan foto usg bayinya kepada Yadid.


Ekspresi wajah pria paruh baya itu langsung berubah, dia tersenyum bahagia menyentuh foto usg itu. Tampak sudut matanya berair karena kebahagiaan, tak lama lagi dia akan mengendong cucunya. “Apa yang kamu rasakan? Apa kamu menginginkan sesuatu? Katakan saja pada ayah.” ucap Yadid.


“Ayah, aku sudah punya segalanya! Saat ini aku tidak menginginkan apapun. Aku hanya mau ayah sehat selalu supaya kelak bisa menghabiskan waktu bersama kami.” ucap Arimbi. Meskipun Yadid tidak menyadari tapi Arimbi sudah tahu sejak awal jika ada Amanda dibalik pintu.


Dia sempat melihat sekelebat bayangan dari pintu yang tak tertutup rapat, saat Amanda bersembunyi dibalik pintu. Arimbi mengenali pakaian yang dikenakan oleh Amanda karena tadi dia sempat melihatnya dari jauh. Dia pun tersenyum smirk,’Sepertinya ular betina itu sudah mulai bergerak.’


“Ayah, simpanlah itu dengan baik. Berikan pada ibu ya, dia pasti akan senang.” ucap Arimbi yang membuat Amanda semakin penasaran. Dia berpikir jika Arimbi memberikan hadiah pada kedua orang tua mereka.


“Pasti! Akan ayah berikan pada ibumu agar dia menyimpannya dengan baik. Arimbi, jagalah dirimu baik-baik, jika kamu merasa kelelahan ambillah cuti sementara.” ujar Yadid lagi.


“Aku baik-baik saja ayah. Tidak perlu mengkhawatirkanku.”


“Ayah, bagaimanapun aku adalah putrimu. Sudah seharusnya aku menanggung tanggung jawab untuk meneruskan keluarga. Aku janji tidak akan mengecewakan ayah. Aku juga bersyukur karena aku tidak mual-mual, semuanya baik-baik saja.”


‘Tunggu dulu! Mual-mual? Apakah dia memang benar-benar sakit? Tapi kelihatannya dia sehat-sehat saja belakangan ini. Atau….jangan-jangan dia mengidap penyakit berbahaya makanya dia pergi kerumah sakit pagi-pagi? Hahahaha…..ini bagus sekali!’ gumam Amanda didalam hatinya.


“Jika kamu membutuhkan sesuatu segera katakan pada ayah. Bagaimana jika hari ini ayah memberimu izin untuk istirahat. Kamu bisa pulang lebih awal dan beristirahat atau melakukan apa yang menyenangkan hatimu.”


“Terima kasih ayah. Ayah memang yang terbaik! Tapi aku merasa tidak enak dengan karyawan lain jika aku izin. Sedangkan aku masih baru disini, aku tidak mau mereka mengira aku hanya bermalas-malasan saja karena aku putri kandungmu.”


“Tak perlu hiraukan mereka! Oh iya, pakailah kartu ini. Kamu bisa belanja apapun yang kamu mau. Anggap ini sebagai hadiah dari ayah.” ucap Yadid menyodorkan sebuah kartu pada Arimbi.

__ADS_1


Tapi Arimbi menolaknya karena dia sudah diberikan kartu oleh Emir, belum lagi uang saku hariannya yang berjumlah besar. Tidak mungkin dia memakai uang ayahnya.


“Ayah, simpan saja uangnya untuk keperluanmu. Aku sudah punya banyak uang.” ucap Arimbi sedikit melirik kearah pintu. “Uang saku ku tiga ratus juta setiap hari saja belum habis, kalau ayah memberiku kartu ini lagi aku jadi tidak tahu bagaimana menghabiskan semua uangku, hehehe…..”


Yadid ikut tertawa, ya dia lupa kalau menantunya memberikan uang saku harian dengan jumlah fantastis kepada putrinya. Tapi sebagai seorang ayah dia juga ingin memanjakan putri kandungnya itu.


Dia meletakkan kembali kartu itu didepan Arimbi. “Ambillah kartu ini. Kamu boleh simpan dan pergunakan disaat kamu benar-benar membutuhkan.”


Sementara Amanda yang mendengar bahwa uang saku Arimbi mencapai nilai tiga ratus juta sehari, membuat matanya membelalak tak percaya.


‘Apa-apaan ini? Ayah memberi tiga ratus juta perhari untuk uang saku Arimbi? Ck….sungguh nasib anak kandung! Tapi dulu sebelum dia datang ke keluarga ini, ayah bahkan tidak pernah memberiku uang saku sebanyak itu! Apa ayah memiliki simpanan dalam jumlah besar yang tidak aku ketahui?


Amanda merasakan amarahnya menggebu-gebu! Kedua tangannya mengepal erat dan saat dia mendengar suara Ting dari arah lift, dia bergegas mengetuk pintu ruang presdir berpura-pura. Dia melihat Sartika yang baru saja keluar dari lift. “Wakil Direktur Rafaldi! Apakah anda mau bertemu Direktu Rafaldi?”


“Ya. Aku masuk dulu. Didalam juga ada Arimbi.” ujarnya lalu mendorong pintu dan menutupnya setelah dia berada didalam.


“Arimbi…..kebetulan sekali kamu ada disini. Tadi aku mencarimu keruanganmu tapi tidak ada. Ternyata kamu disini.” ucap Amanda dengan tenang dan duduk dikursi disebelah Arimbi.


“Ada yang ingin kamu laporkan?” tanya Yadid yang merasa sedikit canggung dan tak enak hati dengan kehadiran Amanda yang tiba-tiba disana. Dia sedikit khawatir apakah Amanda mendengar sesuatu.


“Mengenai beberapa proyek kerjasama kita dengan beberapa perusahaan. Apakah ayah sudah mendapatkan balasan dari mereka?” tanya Amanda berpura-pura membicarakan pekerjaan.


“Belum. Sampai saat ini belum ada kepastian dan kita harus menunggu. Tidak perlu khawatir, beberapa perusahaan itu sudah pernah bekerjasama dengan Rafaldi Group dan aku yakin mereka akan segera menandatangi kontrak kerjasama.” ucap Yadid.

__ADS_1


“Ayah, Rafaldi Group punya banyak saingan sekarang ini. Dan aku khawatir mereka akan memberikan penawaran yang lebih rendah dari Rafaldi Group! Dengan kondisi perekonomian sekarang ini banyak perusahaan yang lebih memilih harga rendah dan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan produk kita. Jika ayah tidak keberatan, aku akan mencoba negosiasi dengan mereka agar segera menandatangani kontrak kerjasama.”


__ADS_2