GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 390. WANITA HALU


__ADS_3

Siang itu dikediaman keluaga Harimurti, kepala pelayan terihat terburu-buru masuk kekamar Dion dan tak lama kemudian keluar sambil menenteng sebuah tas dan berjalan tergesa. Joana yang baru saja masuk kedalam rumah membawa beberapa tangkai bunga pun mengerutkan alisnya melihat kepala pelayan menyerahkan tas kepada pengawal.


“Ada apa? Kenapa kalian sepertinya terburu-buru sekali?” tanya Joana menatap kepala pelayan.


“Ehm…..Nona Joana! Apa anda belum tahu kalau Tuan Harimurti berada dirumah sakit.”


“Ap---apa? Dion masuk rumah sakit? Kenapa? Dia sakit apa?”


Kepala pelayan itu menatap ekspresi wajah Joana yang terlihat pucat dan cemas.


“Ehm…..Tuan Harimurti sakit dan dia mempunyai penyakit perut! Tepatnya infeksi usus, makanya beliau tidak pernah makan makanan yang pedas. Tapi karena Tuan menghargai Nona yang sudah memasak dia memakan semua makanan yang Nona berikan padanya tadi pagi. Dan tadi kata dokter kalau kondisinya kali ini parah dan harus dilakukan operasi.”


“Akhhhh!” Joana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya membelalak tak percaya apa yang barusan dia dengar. Rasa bersalah pun hinggap dihatinya, dengan reflek dia meletakkan bunga yang tadi dipetiknya di taman samping. Lalu bergegas naik kelantai atas. Joana dengan cepat membersihkan tubuhnya lalu berganti pakaian.


Sebelum keluar dari kamar, Joana menyambar tasnya lalu dengan setengah berlari menuruni tangga. Dia bahkan mengacuhkan kepala pelayan yang memanggilnya. Kekhawatirannya memuncak dan dia merasa sangat bersalah karena sudah mengerjai Dion tadi pagi.


“Cepat antarkan aku kerumah sakit.” perintah Joana pada supir.


Tiga puluh menit kemudian, Joana sudah tiba dirumah sakit dan langsung turun dari mobil. Setelah mendapatkan dimana keberadaan Dion dari supir, dia bergegas menuju kelantai lima. Saat dia baru saja keluar dari lift, dia melihat disebelah kiri ada beberapa pengawal Dion yang biasa mengawalnya.


‘Pasti itu kamarnya. Mereka semua berkumpul didepan pintu kamar rawat itu.’ gumamnya dalam hati. Dengan langkah cepat dia berjalan menghampiri pintu itu. Begitu para pengawal melihat kedatangan Joana, mereka pun langsung memberikan hormat dan membukakan pintu untuknya.


“Tuan Harimurti masih dalam pengaruh anastesi. Mungkin dalam waktu satu jam lagi dia akan sadar. Silahkan Nona masuk.” ucap salah satu pengawal yang membukakan pintu untuknya. Setelah Joana berada didalam kamar rawat itu, kedua matanya terasa panas dan tak sadar airmatanya menetes.

__ADS_1


Dia berjalan perlahan menghampiri Dion yang terbaring tenang diatas tempat tidur. Joana bisa melihat betapa pucatnya wajah pria itu dan selang yang terpasang ditubuhnya. Tangan Joana meremas dadanya yang terasa sakit melihat kondisi Dion saat ini. Perlahan dia meletakkan tas diatas meja lalu semakin mendekati Dion.


Dengan gemetar tangannya menyentuh tangan Dion sambil tersedu-sedu. “Dion, maafkan aku! Aku tidak berniat menyakitimu dengan memasak makanan pedas untuk sarapanmu!” Joana bicara sambil mengusap airmatanya. “Kenapa kamu jadi sebodoh itu Dion? Kamu tahu kalau kamu tidak bisa makan makanan pedas tapi kenapa kamu masih saja memakannya?”


Joana terus bergumam lirih sambil memegang tangan Dion. Sesekali dia mengusap airmatanya tanpa melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Dion.


“Dion, aku mohon bangunlah! Jangan membuatku takut! Aku minta maaf dan aku janji tidak akan pernah mengerjaimu lagi! Aku akan bersikap baik dan penurut padamu.”


Satu hal yang Joana tidak tahu kalau Dion sudah sadar sejak tadi tapi saat dia hendak membuka matanya, dia mendengar Joana menangis dan mulai bicara sendiri. Rasa penasaran Dion semakin besar dan dia menutup matanya kembali sambil terus mendengarkan ocehan Joana yang membuatnya harus menahan tawa.


‘Kenapa anak ini lucu sekali? Dia sampai berani berjanji akan selalu menurutiku? Ehm…..sepertinya ini semakin menarik! Dia juga bilang akan menjaga dan merawatku? Hahaha Joana…..Joana……ternyata semudah itu menipumu? Tapi kamu yang sudah memulainya! Kita lihat kemana alurnya nanti.’


Dion yang mendengarkan semua curhatan Joana hanya bisa menahan senyumnya. ‘Baiklah Joana karena ini sudah jadi janjimu! Maka aku sendiri yang akan membuatmu merawatku setiap hari.’ Dion kembali berkata-kata didalam hatinya dan mulai menyusun rencana untuk membalas Joana.


Setelah satu jam lebih dia mendengarkan keluh kesah dan curhatan Joana. Dion yang sudah tidak tahan lagi pun perlahan membuka matanya. tangannya terasa kebas akibat digenggam oleh Joana.


"Dion.....Dion....kamu sudah sadar? Jangan bergerak dulu. Biar aku panggilksn dokter." dengan panik Joana melepaskan genggaman tangannya dari Dion lalu memencet tombol disamping ranjang.


Tak berapa lama pintu ruang rawat inap itu terbuka lebar. Seorang dokter pria masuk diikuti dua orang perawat dibelakangnya. Joana segera memberi ruang pada dokter untuk memeriksa Dion.


'Apakah gadis ini tunangan Tuan Harimurti?' gumam kedua perawat didalam hati mereka. Sejenak mereka melirik Joana yang terlihat masih muda dan berbeda jauh dengan Dion Harimurti.


"Dokter bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Joana tak sabar dengan suara penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Tuan Harimurti memiliki masalah dengan ususnya sejak lama. Makanan pedas bisa memperburuk kesehatannya. Saya harap Nona bisa menjaga dan memperhatikan kesehatan Tuan Harimurti kedepannya."


Dokter itu memperhatikan raut wajah Joana dan dia hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Jika bukan karena ancaman Dion Harimurti, dia tidak mungkin melakukan sesuatu diluar akal sehatnya hari ini.


'Sebegitu besarkah cinta Tuan Harimurti pada gadis ini? Tapi dia masih muda sekali! Ahhhh orang jatuh cinta memang aneh! Sampai membuat heboh satu rumah sakit!' keluhnya didalam hati.


"Baiklah dokter. Akan saya ingat! Terimakasih." ucap Joana penuh rasa bersalah. Setelah kepergian dokter dan kedua perawat, ruangan itu krmbali hening.


Baik Dion maupun Joana tak ada yang bicara. Dion hanya melirik Joana sesekali sambil tersenyum tipis. "Kenapa kamu diam saja?"


"Ehem.....Dion, aku janji akan merawatmu dengan baik. Aku akan memasak untukmu!"


"Tidak perlu! Aku takut lain kali aku makan masakanmu, aku mati!" ujar Dion sarkas.


"Tidak....tidak.....jangan mati! Aku akan membuatkan makanan yang enak untukmu."


*******


PLAK!


“Dasar perempuan tidak berguna! Apa gunanya kamu kubeli mahal-mahal dari tempat itu kalau bekerja saja tidak becus!” ujar seorang pria bertubuh tambun dengan wajah berminyak. Dia menatap nyalang wanita cantik yang sedang memunguti pecahan kaca dilantai.


“Pastikan tidak ada pecahan kecil yang tersisa!”

__ADS_1


Wanita itu hanya bisa diam sambil menggertakkan rahangnya menahan amarah. Bagaimana bisa hidupnya sebagai seorang putri kaya keluarga Lavani berubah hanya dalam hitungan menit. Dia memunguti pecahan kaca lalu meletakkan diatas nampan kecil. ‘Dasar pria tua jelek! Kalau bukan karena aku ingin keluar dari neraka itu, tidak mungkin aku merayumu.’


Zivanna saat ini sudah tidak bekerja lagi di bar bawah tanah itu lagi. Pria tambun berwajah jelek itu yang mengeluarkan Zivanna dari tempat hina itu.


__ADS_2