GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 190. APA KAMU MENCINTAINYA


__ADS_3

Arimbi meminta Joana untuk mengantarnya pulang kerumah orang tuanya. Mosha baru saja bangun tidur saat dia melihat kedua wanita itu membawa banyak barang masuk kedalam rumahnya. “Arimbi?”


Mosha terkejut mengira kalau putrinya telah diusir kembali dari rumah Emir. Wanita itu berggeas turun dan bertanya dengan nada khawatir, “Ada apa ini?”


“Halo tante.” sapa Joana dengan sopan.


Saat Arimbi memasukkan barangnya kedalam dia berkata kepada ibunya, “Ibu, aku baru saja pergi ke kediaman Kanchana untuk mengambil semua barang yang pernah kuberikan pada Reza.”


Mosha tercengang mendengar perkataan putrinya, lalu dia mengikuti Arimbi untuk membantunya.


“Tidak perlu ibu. Aku bisa melakukannya sendiri.” ujar Arimbi meletakkan semua barang dilantai lalu berjongkok dan membuka kantongnya mengeluarkan semua barang-barangnya.


“Ibu, semua barang ini adalah barang yang pernah kuminta dari ibu dan ayah sebelum aku memberikannya pada Reza.” Arimbi tersenyum mengedikkan pundaknya.


Arimbi mengambil sebuah vas bunga cantik dan memberikannya pada Mosha, “Ibu, semuanya ada disini dan tak ada satupun yang hilang.”


Mosha mengambil vas itu lalu melihat semua barang yang memenuhi lantai kemudian menyadari bahwa semua barang itu berasal dari koleksi mereka. Dulu Arimbi bersikap seolah dia telah terhipnotis oleh Reza.


Lalu dia menyerahkan semua barang berharga pada Reza. Karena orang tua kandungnya merasa bersalah pada Arimbi jadi merekapun memberikan apapun yang dia suka. Tapi dia tak menyangka Arimbi akan memberikannya pada Reza, sehingga membuat pasangan suami istri itu merasa sedikit terbodohi oleh putri kandung mereka sendiri.


Meskipun begitu, semua barang ini telah kembali kerumah pemilik aslinya. “Arimbi, apakah kamu meminta semua barang ini kembali?” tanya Mosha penasaran.


“Benar ibu. Aku mengambil semuanya kembali, tak ada yang tersisa.”


Mosha lalu meletakkan vas-nya lalu berkata, “Baguslah! Kamu sungguh memutuskan hubungan itu dengan total. Ini sangat bagus!”


Kejadian antara Reza dan Ruby telah menyebar disetiap keluarga kalangan atas. Mosha senang putrinya bisa sadar dari mimpi buruk itu dan tak lagi terobsesi dengan Reza.


“Iya ibu. Aku melakukannya tanpa rasa penyesalan sedikitpun.” Arimbi meletakkan dua koper lainnya lalu mengeluarkan semua barang dan pakaian dari dalam koper.

__ADS_1


"Ibu, apakah ibu tahu kalau Amanda dan Reza bertemu dan berbincang sebelum insiden itu? Apakah menurut ibu, Amanda dan Reza berencana menjebakku? Karena minuman itu memang diperuntukkan untukku."


"Keterlaluan Amanda! Kenapa dia ingin menjebakmu?"


"Ibu sudah tahu jawabannya. Aku tidak perlu menjelaskan lagi, kurasa."


“Ibu, ini adalah baju-baju yang dipakainya. Aku tak menginginkannya lagi. Lebih baik dibuang saja.” ujar Arimbi mengalihkan topik menunjuk semua pakaian.


Saat melihat kalau semua baju itu dibuat dengan bahan khusus yang berharga mahal, Mosha berkata, “Atau kamu ingin mencucinya lalu memberikannya pada saudara-saudaramu dari keluarga Darmawan?”


Arimbi menolah saran ibunya, “Kakak-kakakku tak akan mengenakan barang dari orang brengsek itu. Aku akan membelikan mereka yang baru kalau perlu.”


Jawaban Arimbi membuat Mosha pun terdiam. Dia tahu Arimbi memperlakukan saudaranya denga baik, dibuktikan dengan sayangnya mereka selama dua puluh tahun tahun.


Arimbi bahkan bisa tahu apa yang terbaik bagi mereka dengan tidak membiarkan mereka mengenakan baju-baju bekas Reza yang memang wajar.


Akhirnya para pelayan yang tidak tega membuangnya dan bertanya apakah mereka bisa menggunakannya. Sedangkan Joana yang tadinya bertamu sejenak sudah pergi karena ada panggilan telepon dari ibunya.


“Ada apa?” tanya Mosha. Sikap putrinya yang mendadak berubah membuatnya terkejut. “Apakah keluarga Kanchana mengganggumu saat kamu pergi kesana? Kalau iya, katakan padaku aku akan pergi kesana dan meminta mereka untuk meminta maaf.”


Arimbi menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Bukan soal mereka. Ini soal Emir.”


“Maksudmu Tuan Emir?”


“Ibu, kami bertengkar.” ucap Arimbi dengan suara lirih.


Mosha bertanya setelah tak lagi memeluknya, “Bertengkar? Kenapa kalian bertengkar?”


Lalu arimbi menceritakan alasan dibalik pertengkaran mereka kepada ibunya. Setelah mendengar cerita dari putrinya, Mosha merasa kasihan dan putus asa. Dia pun mengetuk dahi putrinya, “Pernahkah kamu memberitahunya alasanmu menikahinya?”

__ADS_1


“Belum.” jawab Arimbi singkat.


“Kamu harus segera memberitahunya kalau kamu terjebak dalam sebuah mimpi buruk dan saat bangun kamu mendapatkan pencerahan. Kamu harus berjanji padanya kalau kamu tak akan menjalin hubungan apapun lagi dengan Reza. Dia hanya peduli padamu, kalau tidak tak mungkin kalian berselisih hanya karena kamu sedikit terpaku.”


Melihat Emir sungguh peduli pada Arimbi membuat Mosha merasa lega. Melalui cara inilah putrinya bisa berdiri tegap dengan bangga didepan keluarga Serkan.


Tentang apakah seorang wanita bisa membela dirinya sendiri dan mendapatkan rasa hormat yang pantas ia dapatkan dari keluarga suami, itu semua tergantung dari sikap Emir.


Arimbi terdiam. Lalu dia berkata lagi, “Ibu pakah menurut ibu kalau Emir berpikir kalau aku memanfaatkannya? Tapi Emir sudah mengatakan padaku kalau dia akan mengadakan pesta pernikahan mewah untukku.”


“Bukankah kamu memang memanfaatkanya? Ah, benarkah Emir mengatakan tentang pesta pernikahan?” Mosha terlihat senang mendengarnya.


“Ibu…...”


Lalu Mosha mendudukkan putrinya diatas sofa dan dengan lembut mengatakan, “Arimbi, kamu tidak bisa menolak hal itu ketika kamu bilang kamu akan menikahi Tuan Emir. Meskipun hal itu untuk membalas budi, kamu masih beruntung. Kamu memanfaatkannya karena status dan kemampuannya itu begitu jauh diatas. Sekarang kalian telah bersama dalam waktu lama, coba tanya dirimu sendiri. Apakah kamu merasakan sesuatu pada Emir? Apakah kamu masih memperlakukannya seperti pendukungmu? Apalagi sekarang dia berencana memberimu pernikahan mewah?”


Arimbi terdiam sesaat. Mengingat kenangan mereka, Arimbi teringat perilaku tak tahu malunya dan betapa dinginnya pria itu jadi tak peduli seberapa seringnya dia menggoda Emir, dia tak akan kalah dan perlahan membangun hubungan mereka.


Walaupun mereka baru saja melewati proses pernikahan selama sebulan, Arimbi merasa seolah mereka telah lama menghabiskan waktu bersama.


Saat ini arimbi merasa sangat bersyukur kepada pria itu. Tanpa sadar telah tumbuh perasaan dalam hatinya. “Ibu, aku mencintai Emir. Aku menyadari kalau aku jatuh cinta padanya.”


“Lalu kenapa kamu masih merahasikan hal itu darinya? Katakan saja semuanya. Suami dan istri harus saling percaya, mengerti dan menghormati satu sama lain. Kalian berdua harus melakukan segalanya bersama. Walaupun yang kamu alami hanyalah mimpi, apalagi terasa konyol, kamu selalu bisa memberitahunya. Ingatlah Arimbi, apapun yang kamu lakukan dan kemanapun kamu pergi harus memberitahu suamimu.”


Dengan wajah sedih, Arimbi bertanya, “Ibu, sebagai ibu kandungku apakah ibu percaya jika mimpi itu merubahku? Bahkan orang sepintar Emir tak akan percaya padaku. Sejujurnya, dia masih menyelidiki masa laluku untuk mengetahui mengapa aku berubah pikiran dan berhenti terobsesi pada Reza.”


“Ya, kamu berubah terlalu tiba-tiba. Siapapun pasti akan curiga.”ujar Mosha.


Arimbi pun hanya bisa mengatupkan bibirnya, dia tahu benar tentang itu.

__ADS_1


 


__ADS_2