
“Halo ibu.”
“I—iya Tuan Emir. Ada apa tiba-tiba menghubungi saya?”
“Saya hanya ingin tahu keberadaan istriku, bu.” jawab Emir jujur.
“Oh, dia tadi memang datang kesini setelah kembali dari kediaman Keluarga Kanchana. Arimbi sudah memberitahuku tentang masalah kalian. Jika putriku melakukan sesuatu yang salah, aku mohon kamu jangan menutupinya. Oh iya, Tadi dia pergi kesana untuk mengambil kembali semua hadiah yang pernah dia berikan pada Reza. Semua barang-barangnya sudah ada dirumah dan dia baru saja pergi menaiki taksi online”
“Karena mereka sudah tidak ada hubungan lagi maka mereka harus memaafkan kesalahan masing-masing. Tuan Emir, aku sudah memberitahunya tentang masalah ini, jadi dia akan menjelaskannya padamu. Karena kamu memanggilku ibumu maka aku akan bicara jujur padamu. Pertengkaran antara suami dan istri adalah hal wajar.”
“Yang penting adalah pasangan itu tetap tenang setelah pertengkaran dan bagi mereka untuk belajar cara berkomunikasi satu sama lain..” ujar Mosha dengan berhati-hati bicara taj ingin menyinggung menantunya itu.
“Oh, begitu?” hati Emir merasa lega mendengar perkataan ibu mertuanya. Bahwa Arimbi sudah mengambil kembali semua hadiah pemberiannya pada Reza, matanya berkedip beberapa kali yang menandakan kalau hatinya mulai melunak.
“Terima kasih ibu. Aku akan belajar berkomunikasi dengan Arimbi.” jawab Emir datar. Meskipun kata-katanya sopan tapi dia berpikir secara berbeda. Mengapa wanita tak tahu malu itu masih belum sampai dirumah kalau dia sudah pulang sejak tadi? Apakah dia tersesat lagi?
“Ya, berkomunikasilah dengan Arimbi. Namun ini semua juga salahku karena aku tidak mengajari Arimbi dengan baik sehingga membuatmu marah.”
Namun ini tidak berjalan baik dengan Emir, dia tidak menyukai nada suara ibu mertuanya yang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi.
Dengan serius Emir berkata, “Ibu, aku dan Arimbi adalah pasangan suami istri, kedudukan kami sama. Karena kamu adalah ibunya maka ibu tak perlu khawatir tentang itu. Tolong jangan anggap aku lebih tinggi dari ibu. Apa yang terjadi antara aku dan Arimbi adalah karena kurangnya komunikasi dan kepercayaan diantara kami. Ini tidak ada hubungannya dengan ibu jadi jangan pernah merasa bersalah.”
“Ya, aku hanya merasa khawatir saja sebagai seorang ibu.” jawab Mosha lagi. Wanita paruh baya itu merasa puas dengan perkataan menantunya. Bagi seorang Emir, untuk mengatakan hal seperti itu menunjukkan bahwa dia serius dengan Arimbi.
Mosha pun merasa bersyukur karena Emir memperlakukan putrinya sebaik itu, namun disisi lain dia merasa menyesal karena membayangkan dia tidak akan bisa menimang cucu karena ketidakmampuan menantunya.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Emir menyudahi panggilan telepon itu lalu menatap kearah jam dinding. Sudah cukup lama tapi istrinya yang tak tahu malu itu masih belum pulang juga.
__ADS_1
Kecemasan mulai menggelayuti hatinya, dia merasa khawatir jika sesuatu terjadi pada Arimbi apalagi tadi ibu mertuanya bilang kalau Arimbi pulang naik taksi.
Emir memutuskan mengerjakan beberapa pekerjaannya, meskipun suasana hatinya sedang buruk tapi setelah bicara dengan ibu mertuanya suasana hatinya sedikit membaik.
Hanya dalam waktu sekejap dia menyingkirkan dokumen didepannya lalu jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Entah apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh pria itu. Raut wajahnya tiba-tiba berubah saat dia melirik jam tangannya.
Sementara itu Arimbi yang berada didalam taksi meminta supir untuk menghentikannya dijalan utama yang menuju ke kompleks villa Serkan. Setelah turun dari taksi dan melihat taksi itu pergi Arimbi pun tampak berpikir sejenak.
Tiba-tiba dia melepaskan sepatunya dan mematahkan salah satu tumit sepatunya lalu berjalan menyusuri jalanan menuju komplek villa Serkan.
Kakinya terasa sakit tapi Arimbi berusaha menahannya, wajahnya meringis saat telapak kakinya menginjak jalanan beraspal kasar itu. Berhubung dia harus terlihat menyedihkan untuk meluluhkan hati suaminya, dia terus berjalan hingga mencapai pintu gerbang utama. Saat itu dua orang penjaga melihatnya dan salah satunya langsung membukakan pintu gerbang.
Sedangkan penjaga satunya segera menghubungi kepala pelayan dirumah Emir untuk memberitahu kepulangannya. Melihat wajah Nyonya Mudanya yang terlihat meringis, penjaga itu melirik kearah kaki Arimbi yang tak memakai sepatu dan mereka tahu jika Nyonya Mudanya pasti terluka karena berjalan kaki.
Beni memerintahkan seorang pelayan untuk menjemput Arimbi di gerbang depan dengan menggunakan buggy setelah mendengar penjelasan dari penjaga. Kepala pelayan itu langsung bergegas ingin menemui Emir.
“Siapa?” terdengar suara dingin Emir dari dalam ruang kerjanya.
“Saya Tuan. Nyonya Muda sudah pulang tapi sepertinya nyonya terluka.”
Tak ada jawaban dari dalam, tapi Beni tetap berdiri menunggu didepan pintu ruang kerja itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara handle pintu yang berputar dan pintu terbuka. Beni segera membantu Emir membukakan pintu lebih lebar. Tampak wajah pria itu kusut dan gelap segelap hatinya.
“Apa katamu barusan?”
“Itu Tuan, Nyonya sudah pulang dan sekarang ada diruang tamu. Sepertinya Nyonya terluka.”
Emir mengeryitkan dahinya lalu ekspresi wajahnya terlihat berubah menjadi cemas dan dia menggerakkan kursi rodanya menuju keruang tamu. Saat dia dan Beni tiba disana, Emir melihat seorang pelayan perempuan sedang berjongkok didepan Arimbi dan sedang memegang kakinya.
__ADS_1
Melihat kehadiran Emir disana, pelayan perempuan itu menundukkan wajahnya tak berani menatap Emir. Hari ini semua orang sudah merasakan kemarahan Emir yang membuat mereka ketakutan.
Emir melirik Arimbi yang tertunduk dengan wajah sedih dan bibir yang mengerucut. Dia melihat Arimbi meringis dan meneteskan airmata saat pelayan itu membersihkan kakinya dengan alkohol.
“Ada apa dengannya?” tanya Emir tanpa menatap Arimbi. Dia masih marah dan tak ingin menunjukkan kecemasannya pada istrinya itu. Bagaimanapun dia harus menjaga harga dirinya.
“Kaki Nyonya terluka Tuan! Tumit sepatu Nyonya rusak jadi Nyonya berjalan tanpa sepatu membuat telapak kakinya terluka tertusuk kerikil.” jawab pelayan itu.
Perlahan suasana hati Emir langsung berubah melihat airmata Arimbi menetes menahan sakit. Dia tidak sanggup melihat istrinya menangis seperti itu. Emir menggerakkan kursi rodanya mendekati Arimbi. “Kenapa kamu cengeng sekali? Baru segitu saja sudah menangis” ejek Emir.
“Huaaa…..huaaaa…..ini semua gara-gara kamu Emir! Kalau kamu tidak menendangku dari mobil, aku tidak akan berakhir seperti ini. Ini sakit sekali. Huaa….huaaa…...” Arimbi kembali menangis.
“Pelan-pelan bersihkannya. Apa kamu tidak lihat istriku kesakitan?” teriaknya memarahi pelayan itu.
“Ba—baik Tuan. Saya sudah…..”
“Jangan membantah! Lakukan saja yang benar. Beni, panggilkan dokter.”
“Tidak perlu. Lukanya sudah dibersihkan dan cukup dioles obat dan di perban saja.” jawab Arimbi.
Emir berusaha berpindah kesofa dan duduk disamping Arimbi, amarahnya sudah hilang entah kemana saat melihat airmata istrinya. “Kenapa kakimu bisa begini?”
“Aku tadi naik taksi sampai didepan karena taksinya ada masalah. Jadi aku terpaksa jalan dari jalan utama sampai ke rumah. Tumit sepatuku patah jadi aku terpaksa jalan tanpa sepatu.”
“Dasar bodoh! Kenapa kamu tidak menghubungi Beni dan minta supir menjemputmu, ha? Menyusahkan saja kerjanya.” sungut Emir masih mempertahankan egonya.
“Sayang….huaaa…...aku terpaksa jalan kaki karena sepatuku rusak. Huaaa…..ini perih sekali. Batere ponselku habis, bagaimana aku bisa menelepon seseorang? Huaaa….huaaa…..” Arimbi kembali menangis tersedu-sedu sambil menarik ingusnya yang hampir meleleh keluar, memasang wajah paling menyedihkan sambil menahan tangis. Bagaimanapun sandiwaranya harus terlihat sempurna.
__ADS_1