GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 349. PENGACAU


__ADS_3

“Ya itu benar! Tapi perusahaan membayar gajimu bukan? Lalu apa masalahnya Amanda? Apa gajimu kurang? Setahuku semua pengeluaran dan biaya hidupmu juga ditanggung oleh keluarga Rafaldi selama ini. Lalu apalagi yang kamu mau? Kamu mau uang ganti rugi? Atau apa?” tanya Arimbi dengan penuh penekanan. Dia tidak akan membiarkan Amanda mengambil sedikitpun keuntungan.


 


“Sombong sekali kamu Arimbi! Fuuuh! Mentang-mentang kamu sekarang kaya! Puas kamu? Menguasai perusahaan yang sudah ku buat maju? Puas kamu bersenang-senang diatas kerja keras orang lain, hah?” Amanda berteriak. Untungnya dinding kaca ruang tunggu di lobi itu kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


 


“Ha ha ha ha…..kamu itu tidak bisa apa-apa Arimbi!”


“Amanda, sepertinya kamu punya banyak waktu luang untuk bicara omong kosong! Tapi aku sibuk! Aku harus mengurus perusahaanku dan pusat perbelanjaan milikku! Aku tidak punya waktu mendengar omong kosongmu!” ujar Arimbi membalikkan tubuhnya dan melangkah.


 


Amanda menghentikan dengan meraih bahu Arimbi yang langsung ditepis oleh Arimbi dengan cepat. “Jangan pernah sentuh aku! Sebaiknya kamu pergi kalau memang tidak ada urusan penting. Ayahku sedang sibuk saat ini! Dia tidak punya waktu menemuimu. Oh iya lain kali kalau mau bertemu sebaiknya kamu buat janji dulu!”


 


“Ini perusahaan bukan rumah makan! Semua ada aturannya dan aku tidak memperbolehkan siapapun masuk kesini seenaknya! Pergilah Amanda! Saranku, cepatlah mencari kerja karena keluarga Rafaldi tidak akan membiayai hidupmu lagi dan tolong jangan ganggu kedua orang tuaku! Kamu seharusnya tahu batasanmu Amanda!”


 


Setelah selesai mengucapkan itu Arimbi meninggalkan Amanda yang terdiam kaku. Beberapa karyawan yang memperhatikan pun mulai berbisik-bisik saat Amanda keluar meninggalkan lobi dengan tatapan tajam kearah resepsionis yang tersenyum sinis padanya. Resepsionis yang dulunya sering mendapatkan luapan amarah Amanda tersenyum senang melihat wanita itu pergi.


 


“Huh! Aku tidak menyangka kalau Nona Amanda itu sangat buruk!”


“Iya, aku sampai berpikir jangan-jangan semua pencapaiannya selama ini di perusahaan itu tidak murni karena kehebatannya! Bisa saja dia melakukan trik-trik licik! Benar kan?”


“Ya, aku pikir juga begitu! Wah, tega sekali ya mengkhianati keluarga yang sudah membesarkannya selama ini! Bukannya untung,  yang ada malah rugi besar!”


 


“Betul itu! Kalau aku ya jadi Amanda, aku akan memperlakukan Nyonya Arimbi dengan baik. Kalau perlu aku mencium kakinya akan kulakukan supaya aku bisa terus berada di keluarga itu!”


“Ha ha ha…..Nona Amanda memangnya mau buat begitu? Huh! Dia tidak maunya potong kaki supaya dapatin harta!”


 

__ADS_1


Para karyawan membicarakan Amanda dan mencibir, setelah semua terungkap ke publik tak ada lagi tempat baginya di perusahaan itu. Yadid, pria yang dia panggil ayah selama bertahun-tahun pun tak mau menemuinya.


Untuk pertama kalinya Amanda merasa kebencian dan dendamnya semakin besar! Dia tidak bisa terima perlakuan yang diterimanya dari keluarga Rafaldi.


 


Amanda melajukan mobilnya menuju ke gedung Lavani Indojaya. Dia ingin segera menemui Gio, sekarang hanya pria itu yang bisa menolongnya.


‘Sepertinya aku harus ke rumah menemui ibu nanti sekalian mengambil semua barang-barangku yang masih tertinggal disana! Semoga saja ibu tidak membuang barang-barangku.’ gumamnya dalam hati.


 


Saat Amanda tiba di gedung Lavani Indoraya, dia memarkirkan mobilnya di parkiran basement. Dia mengenakan kacamata hitam dan rambut palsunya agar tidak dikenali. Amanda mengeluarkan ponselnnya dari dalam tas lalu menghubungi Gio. “Halo Amanda? Kamu ada dimana sekarang?”


“Aku sudah di parkiran basement. Bagaimana aku naik ke atas?”


 


“Tunggu saja disana, aku akan menemuimu.” ujar Gio lalu memutuskan sambungan telepon. ‘Fuuuhh! Hidupku kacau! Kacau! Ha ha ha ha…..hanya dalam sekejap aku jatuh miskin! Arrrggggg…..kenapa bukan aku yang jadi putri kandung keluarga Rafaldi? Kenapa Arimbi harus muncul di saat hidupku berada dipuncak kesuksesan?’ geramnya mengepalkan tangan di kemudi.


 


Jendela mobilnya diketuk, Amanda menoleh dan melihat Gio yang tersenyum padanya. “Gio…..” Amanda menurunkan kaca mobil. “Maaf kalau aku mengganggumu, kamu pasti sibuk ya?”


“Tidak apa-apa Amanda. Ehm…..sebaiknya kita pergi ke suatu tempat untuk berbincang.”


“Memangnya kenapa? Apa ada masalah?”


“Ayahku ada di kantor, tidak enak rasanya kalau aku membawamu ke kantor. Kita cari tempat lain untuk bicara.” ucap Gio lalu dia berjalan memutari mobil dan masuk kedalam mobil Amanda.


 


Amanda melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. ‘Kenapa sepertinya Gio menyembunyikan sesuatu ya? Ada apa sebenarnya? Ah aku akan mencari tahu nanti! Zivanna juga tidak pernah lagi menghubungiku. Pesanku tidak pernah dibalasnya! Kemana dia?’ gumamnya didalam hati.


 


“Ehm….Gio! Kita mau kemana ya?”


“Ke cafe meadow saja.” jawab Gio.

__ADS_1


“Apa? Dimana itu? Aku tidak pernah dengar nama cafe itu.” ujar Amanda.


“Cafe baru, tempatnya tidak terlalu jauh dari sini dan tidak ramai! Tidak akan ada yang mengenali kita disana juga.” jawab Gio menatap Amanda sambil tersenyum.


 


...******...


“Pak tolong keramik yang itu dipasang di bagian depan sini. Saya mau modelnya yang seperti ini.” Joana menunjukkan design lantai yang dia inginkan untuk galery cafe-nya. Tampak dia sibuk berdiskusi tentang pengaturan warna wallpaper dan pemasangan kabel tambahan dirumah tua yang disewanya beberapa hari lalu.


 


‘Ah, rasanya menyenangkan kalau punya kesibukan seperti ini! Benar kata Arimbi, bekerja itu menyenangkan! Aku bisa punya penghasilan sendiri sekaligus menyalurkan hobiku. Nanti aku harus membuat lowongan kerja! Aku harus mulai mencari staff untuk kerja di cafeku.’ gumamnya dengan senyum ceria.


 


Joana melangkah menuju ke area dapur memperhatikan para tukang yang sedang bekerja memperbaiki beberapa bagian yang mulai rusak. Dia duduk di kursi sambil memainkan ponselnya, mengirimkan pesan pada Arimbi untuk mengingatkan kalau sore ini dia akan ikut kelas etiket dengannya.


 


Sementara itu seorang pria bertubuh tinggi kekar, berpakaian setelan jas mewah melangkah masuk. Para pekerja yang langsung menyingkir memberikan jalan pada pria yang tidak mereka kenal itu.


“Tuan, anda mau cari siapa ya?” seorang pekerja memberanikan diri bertanya pada pria itu.


“Joana!” hanya satu kata itu yang dia ucapkan.


“Oh, Nona Joana ada di belakang! Saya panggilkan ya Tuan.”


“Tidak usah!” ucap pria itu dengan dingin lalu melangkah menuju ke bagian belakang. Tatapannya jatuh pada sosok perempuan yang duduk santai sambil memainkan ponselnya.


 


Hari ini Joana mengenakan celana pendek selutut dipadukan dengan kemeja garis warna biru putih yang tiga kancingnya dibuka memperlihatkan dalaman singlet putih yang dikenakan Joana. Pria itu memperhatikan penampilan wanita itu yang terlihat seperti anak belasan tahun dengan rambut yang dikepang kuda, sepatu kets putih.


 


Satu kakinya naik bersilang diatas kaki, memperlihatkan kaki jenjang dan putihnya yang membuat pria itu mengeryitkan keningnya. Ekspresi marah muncul diwajahnya saat Joana menggeser posisi duduknya sedikit mencondong ke depan sehingga bagian dadanya terlihat.


 

__ADS_1


__ADS_2