
“Aku tahu betapa sibuknya Emir, tetapi aku ada keadaan darurat jadi aku harus bertemu denganya. Keadaan darurat yang sangat sangat mendesak. Tolong beritahukan padanya bahwa Arimbi Rafaldi ada disini untuk menemuinya. Dia pasti akan menemuiku setelah dia tahu bahwa yang datang adalah aku.”
Arimbi Rafaldi? Sepertinya anak emas Keluarga Rafaldi yang tertukar. Penjaga itu ingat bagaimana kasus pertunangan antara Emir dan Arimbi. Meskipun pertunangan itu tidak membuahkan hasil, berita itu telah tersebar luas sehingga sebagian karyawan di perusahaan itu mengetahuinya. Kemudian penjaga itu pergi dan melaporkan pada kepala departemen keamanan. Setelah atasannya memikirkannya, dia tidak menolaknya dan malah memberitahu kantor tentang kedatangan Arimbi.
Akhirnya kabar kedatangan Arimbi pun sampai ketelinga Asisten Emir setelah melalui berbagai karyawan perusahaan. Karena Arimbi meminta ingin bertemu dengan Emir, maka asisten itu hanya bisa menguatkan dirinya saat dia menekan tombol interkom untuk menghubungi Emir.
“Direktur, putri kedua Keluarga Rafaldi ingin bertemu denganmu. Dia ada dipintu masuk perusahaan.”
Emir benar-benar terkejut tak menyangka kalau istrinya itu akan datang ke kantornya. Dia mulai berpikir apakah dia akan meluangkan waktu untuk menemuinya atau tidak.
“Direktur?” sang sekretaris dengan hati-hati memanggil lagi setelah tidak mendengar jawaban apapun yang datang dari bosnya.
“Biarkan dia masuk.” ucap Emir akhirnya.
Emir langsung memutuskan panggilan setelah dia memberi ijin. Dia khawatir dia akan berubah pikiran jika dia terlambat menjawab. Ini adalah pertama kalinya Arimbi memasuki perusahaan itu setelah dia hidup kedua kalinya.
Tidak heran perusahaan itu adalah perusahaan teratas di Kota Metro. Setiap orang yang mengantarnya ke kantor Emir sangat sopan padanya sejak dia masuk ke gedung. Bahkan mulai membuatnya gugup, butuh beberapa menit baginya untuk mencapai lantai teratas. Saat dia sampai disana, sekretaris Emir yang menyapanya, “Selamat siang Nona Arimbi. Saya sekretaris Direktur Serkan, Ciara Tamara.”
“Senang bertemu denganmu Nona Ciara.” sapa Arimbi dengan senyum ramah.
“Direktur sudah menunggumu di ruangannya. Silahkan ikutisaya.”
“Terimakasih Nona Ciara.”
__ADS_1
Arimbi berjalan dengan Ciara, ruangan kantor menempati area yang sangat luas. Kecuali lantai atas, lantai lainnya ramai dengan karyawan yang bekerja di perusahaan itu. Lantai atas sangat sunyi karena itu adalah ruang kerja Emir dan Ciara.
Terdengar suara sepatu hak tinggi sekretaris di lantai yang bergema di seluruh ruang yang sunyi. Keduanya kini sudah berdiri diluar pintu direktur, Ciara mengangkat tangannya dan mengetuk pintu. Kemudian dia mendorong pintu hingga terbuka dan memberi tahu Arimbi. “Tolong beri aku waktu sebentar Nona Rafaldi.”
Arimbi mengangguk tanpa mengatakan sepatah katapun. Ciara berjalan masuk kedalam ruang direktur dan Arimbi bisa mendengar percakapan antara Ciara dan Emir.
Pembicaraan mereka hanya berlangsung sebentar dan Ciara keluar dari ruangan itu dan dengan hormat memberi isyarat pada Arimbi agar masuk. “Direktur akan menemui anda sekarang Nona Rafaldi.”
Arimbi menghela napas dalam-dalam dan berjalan masuk. Ciara menutup pintu setelah Arimbi memasuki ruangan. Pada saat itu Arimbi menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah pintu yang tertutup.
Dia tak ada pilihan lagi, Arimbi berbalik dan melihat Emir yang sedang duduk di meja setengah lingkaran. Dia mengenakan setelan jas yang dipasangkan dengan sepatu kulit dan dasi biru muda. Dia sangat tampan sehingga Arimbi tidak bisa berpaling darinya begitu matanya tertuju padanya. Dia adalah pria yang sangat menarik.
“Apakah kamu sudah puas melihatku?” emir berkata dengan dingin sambil meletakkan pulpennya. Kemudian dia mengangkat wajahnya dari dokumen didepannya dan menatap Arimbi. Meskipun ada jarak diantara mereka, Arimbi masih bisa merasakan rasa dingin yang memancar dari pria itu.
Sekarang Arimbi pantang mundur, karena sudah memasuki kandang singa. Dia menyakinkan dirinya untuk mengumpulkan keberaniannya.
Arimbi tersenyum manis dan berjalan kearahnya, “Aku disini untuk menemuimu Emir.”
“Kamu sudah menemuiku, kamu bisa pergi sekarang.” jawab Emir dingin.
Apa? Dia pasti sangat marah padaku makanya dia bersikap dingin padaku. Arimbi pun mencoba yang terbaik untuk tidak goyah saat dia beringsut ke belakang punggungnya dan memeluk lehernya. Saat itu juga, Emir melepaskan tangan Arimbi dengan paksa dan mengomel, “Sentuh aku sekali lagi dan aku akan memanggil pengawal untuk menyeretmu keluar dari sini!”
“Emir….” Arimbi mengerang dengan suara sedih, sengaja menyeret suaranya agar terdengar menyedihkan. “Ayolah. Maafkan aku Emir. Ini salahkau aku tidak akan memberimu pernak pernik buatan tanganku lagi. Aku akan membelikanmu sesuatu yang mahal oke?” Arimbi membujuknya seperti membujuk seorang anak kecil. “Katakan apa yang kamu suka. Aku akan membeli semua yang kamu suka.”
__ADS_1
Wajah Emir langsung menjadi tegang dan bibirnya yang tipis menyatu membentuk garis yang rapat.
Menyadari keheningan Emir, wanita itupun mengintip ekspresi diwajah suaminya sebelum melepas gelang imperial jade yang selalu dia kenakan di tangannya. Kemudian dia meletakkan gelang itu didepannya dan berkata dengan enggan, “Gelang Imperial Jade ini diberikan padaku oleh nenekku. Gelang ini terbuat dari batu permata mahal dan aku dengar dari Amanda bahwa gelang ini diturunkan neneknya ke ibunya. Neneknya adalah keturunan bangsawan dan gelang ini benar-benar antik. Usianya lebih seratus tahun.”
Arimbi menghela napas panjang, “Aku rasa sekarang harga gelang ini bisa mencapai ratusan milyar rupiah. Aku tahu mungkin ini bukan sesuatu yang langka bagimu tetapi ini adalah barang paling berharga yang kumiliki saat ini dan aku akan memberikannya padamu. Aku harap kamu berbesar hati Emir. Jadi tolong jangan marah lagi padaku ya?”
Arimbi terus mencuri pandang padanya untuk membaca ekspresi wajahnya saat dia berbicara. “Oh---Emir. Tolonglah singkirkan ekspresi masam diwajahmu. Kamu adalah pria yang sangat tampan. Aku yakin kamu akan terlihat jauh lebih tampam jika tersenyum. Maukah kamu menunjukkan senyum diwajah tampanmu?”
Emir tak merespon dan hanya melihat gelang itu lalu mengambilnya. Gelang itu masih hangat dari panas tubuh Arimbi karena baru satu menit dilepaskan dari tangannya.
Setelah memperhatikan dan membolak baliknya untuk memeriksanya, Emir pun setuju bahwa itu adalah barang bagus. Imperial Jade Burma adalah batu permata termahal didunia dengan harga mencapai jutaan dolar jadi bisa dibayangkan berapa harganya dalam rupiah.
Kira-kira milyaran atau bahkan triliun rupiah hanya untuk sebuah gelang. Saat Emir menyadari dari sudut matanya bahwa Arimbi tampak enggan untuk berpisah dengan gelangnya, dia langsung merasa seperti telah melakukan sesuatu yang buruk. “Aku akan menerimanya karena kamu ingin memberikannya kepadaku.”
Eh? ternyata pria juga menyukai gelang? Mata Arimbi yang enggan melepas gelangnya terus menatap gelang itu untuk waktu yang lama sebelum dia akhirnya membuang muka.
“Aku memberimu sesuatu yang mau kamu terima dengan senang hati.” Arimbi memaksakan tawa sebelum melanjutkan dengan malu-malu, “Ehm...Emir? Apakah kamu masih marah padaku?”
“Siapa bilang aku marah?”
Arimbi terkejut dan memaki dirinya sendiri, dia terdiam dan tak paham mengapa Emir menutup teleponnya, tidak membalas pesannya dan bahkan memasang wajah cemberut kalau dia memang tidak marah?
__ADS_1