GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 116. INGIN FISIOTERAPI


__ADS_3

“Baik, saya akan menghubungi Nyonya Serkan dan memberitahu kabar baik ini. Saya rasa Nona Arimbi yang sudah membujuk Tuan Muda Emir untuk menjalani rehabilitasi.”


Emir belum mengungkapkan hubungannya dengan Arimbi pada keluarga besarnya, meskipun Beni memanggil Arimbi dengan sebutan Nyonya Muda tapi dia tidak bisa memanggil begitu saat berada dirumah utama. Dia hanya bisa mengungkapkan status Arimbi kalau ada izin dari Emir.


Layla merengut saat mendengar perkataan Beni, “Kenapa dia? Mengapa dia mampu merubah pikiran Emir? Aku yang membesarkan Emir pun tidak bisa mengubah pendiriannya.”


Beni tidak berani mengatakan pada Layla Serkan bahwa sebenarnya Arimbi adalah orang yang sangat istimewa bagi Emir jadi dengan sopan dia pun berkata, “Saya rasa ada hubungannya dengan kepribadian Nona Arimbi yang penuh semangat dan ceria. Hal itulah yang mendorong Tuan Muda Emir untuk menjalani rehabilitasi agar bisa berdiri lagi. Tuan pasti mencoba untuk memulihkan kepercayaan dirinya karena dia telah menyakiti Tuan.”


Setelah memikirkannya Layla merasa bahwa perkataan Beni itu ada benarnya juga. “Beni! Apapun alasannya tidak penting, Kamu harus membuat Arimbi merawat Emir dengan baik. Jika ada sedikit kesalahan saja aku bisa menghancurkan keluarganya dengan jentikan jariku.”


Layla mengatakan itu dengan tegas sehingga terdengar seperti ancaman.


“Arimbi sering keluar rumah dua hari belakangan ini. Sedang apa dia? Katakan padanya untuk menemuiku saat dia kembali sore nanti. Aku sendiri yang akan bicara dengannya.” Lagipula sang nenek tidak akan membiarkan cucunya berubah pikiran dalam menjalani fisioterapi, mengingat usaha yang dibutuhkan untuk membuat Emir mau melakukannya.


“Ba—baik.” jawab Beni. Dia pun berpikir apakah Emir benar-benar akan melawan neneknya demi Arimbi? Didalam lubuk hatinya Beni berharap semoga Emir tidak menyalahkannya karena bermulut besar.


“Apa masih ada hal lain?”


“Tidak.” jawab Beni.


“Bagus. Pergilah dan teleponlah Rania.”


“Baik.” jawab Beni sopan dan pamit diam-diam.

__ADS_1


Setelah kepergian Beni, Nenek Layla berdiri dan memasuki ruangan dimana foto mendiang suaminya dipajang. Ruangan itu dibuat khusus agar semua keluarga dapat memberi hormat dan doa pada mendiang suaminya.


Layla menatap foto mendiang suaminya dan berkata, “Sayang, cucu tertua kita Emir akhirnya setuju untuk menjalani fisioterapi. Semua ini berkat dirimu tapi tolong awasi dia sampai pulih dari kondisinya. Aku harap dia bisa berjalan lagi dan menjadi pria sejati untuk istrinya.


Meskipun dia senang Emir sudah mau menjalani fisioterapi tapi dia masih merasa terganggu dengan masalah kemandulannya. Toh dia dan mendiang suaminya telah mengabdikan hidup mereka untuk mengasuh dan mendidik ahli waris mereka, Emir yang pada akhirnya berhasil mengambil alih Serkan Global Group saat usia muda. Hal itu adalah yang paling membanggakan baginya dan mendiang suaminya.


Perusahaan mereka adalah perusahaan yang sangat besar dan sukses tapi kepemimpunan Emir membuat perusahaan itu terus berkembang semakin maju hingga menjadi perusahan terkuat dalam era ini. Karenanya Layla tidak bisa menerima kenyataan kalau cucunya yang luar biasa itu tak bisa menurunkan gen unggulnya ke anaknya.


...******...


Arimbi terbangun dari tidur siangnya disore hari dan sadar kalau dia sudah terlambat kembali ke kantor setelah melihat jam. Cepat-cepat dia bangun dari ranjang dan membersihkan tubuhnya dengan cepat lalu mengenakan pakaiannya. Saat dia keluar kamar, dia mendengar suara getir, “Arimbi! Apakah kamu akan meninggalkanku begitu saja setelah puas tidur denganku dan memanfaatkanku?”


Arimbi berbalik dan memberinya senyum hangat, “Ayolah sayang. Aku sudah terlambat dan ini hari pertamaku bekerja. Aku harus bergegas kembali ke kantor. Kalau kamu masih mengantuk, tidurlah lagi ya. Aku akan menemuimu lagi nanti sepulang kerja.”


Kursi rodanya ada diruang tamu, dia tidak akan sampai disana sendiri. Arimbi tak punya pilihan selain kembali dan membantunya berdiri. Meski dia takut terlambat bekerja, Arimbi tidak bisa mengabaikannya begitu saja.


Lagipula dia takut Emir terluka dan keluarga Serkan akan mencelakainya jika Emir terjatuh atau terluka. Belum lagi dia merasa bersalah jika itu terjadi, bagaimanapun dia sayang pada suaminya dan tak ingin kehilangan Emir.


“Aku akan menelepon perusahaanmu dan mengajukan izin sepuluh menitk untukmu.” kata Emir.


Arimbi yang percaya masih ada waktu sepuluh menit sampai jam kerjanya dimulai dia yakin akan bisa sampai tepat waktu dengan waktu tambahan sepuluh menit. “Benarkan kamu mengajukan izin untukku sayang? Aw…..Emir kamu so sweet sekali. Cup!” Arimbi mengecup bibirnya cepat lalu tersenyum manis.


“Ya, aku sudah bicara pada ayah tadi.” ucap Emir.

__ADS_1


Entah mengapa saat Emir memanggil ayahnya dengan sebutan ‘ayah’ membuat Arimbi merasa tidak nyaman. “Alasan apa yang kamu berikan?”


“Apa perlu memberi alasan?” jawab Emir dengan nada mengintimidasi. Saat menghubungi ayah mertuanya, Yadid bahkan tidak menanyakan alasannya sebelum memberi izin.


Arimbi tidak bisa membayangkan ketakutan ayahnya pada Emir. Setelah membantu Emir keluar kamar tidur,dia membantunya duduk di kursi rodanya lalu mendorongnya keluar. Meskipun sudah meminta izin sepuluh menit, ia masih ragu akan waktu yang diberikan. Belum lagi dia tahu kalau Emir juga punya pekerjaan sendiri.


Karena mereka terburu-buru, keduanya hanya duduk diam didalam mobil. Emir tidak banyak bicara sehingga Arimbi merasa selalu menjadi orang yang memulai percakapan. Jika dia tidak bicara duluan maka Emir akan diam membisu. Itulah alasan Arimbi selalu mengeluhkan sifatnya yang acuh yang membuat orang tidak tertarik bicara dengannya.


Saat mobil mereka sudah tiba didepan gedung kantor Arimbi, dengan cepat-cepat dia membuka pintu mobil dan siap akan berlari tapi dihentikan oleh suara dingin Emir lagi, “Arimbi! Apa kamu mau kabur begitu saja setelah puas?”


Eh? Arimbi melihat sikapnya yang aneh selepas tidur, Arimbi lebih suka melihat tampang manisnya saat tidur. Dia memiringkan kepalanya seolah bicara pada anak-anak, “Emir sayangku, aku sudah terlambat tapi aku janji akan menemanimu sepanjang akhir pekan, besok ya besok. Jadi, sayang jangan nakal ya? Sini sayang….biar aku cium kamu.” Arimbi mengelus pipi Emir dan menciumnya. Lalu dia melepaskannya dan berlari kencang kedalam gedung.


Melihatnya berlari seperti atlet, Emir tersenyum senang dan bergumam, ”Kalau ada gempa bumi, dia akan menjadi wanita tercepat di dunia.”


Tak ada seorangpun didalam mobil itu yang berani merespon kata-katanya karena tak ada yang boleh bercanda dengan Arimbi kecuali Emir. Meskipun dia suka mengerjai Arimbi tapi mereka tahu bahwa Emir tidak akan membiarkan siapapun yang menghina istrinya bisa lolos dari hukuman.


Setelah Arimbi hilang dari pandangan, Emir menyuruh supirnya untuk menjalankan mobil. Sementara itu, sisa harinya dihabiskan Arimbi fokus pada pekerjaannya. Setelah nyaman dengan tugas-tugasnya, dia bisa lebih fokus dan belajar lebih produktif. Saat dia menemui masalah ia langsung berkonsultasi dengan ayahnya atau Sartika.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan malam pun menjelang. Malam itu semua orang sudah pulang tapi Arimbi tetap berada dikantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena besok akhir pekan beberapa pegawai lain juga memutuskan untuk lembur setelah makan malam untuk menyelesaikan pekerjaan agar bisa bersantai di akhir pekan.


Tanpa ada yang mengajaknya bicara, Arimbi melanjutkan pekerjaannya dengan rasa kantuk yang mulai menyerang. Saat dia melihat jam, ia pun menyadari bahwa sudah pukul sembilan lebih. ‘Ya ampun! Sudah larut. Kenapa tidak ada yang bilang? Tunggu! Emir!”


Arimbi tahu kalau Emir jarang menghibur para kliennya. Dan dia makin yakin kalau Emir tidak melakukannya karena kondisi fisiknya setelah kecelakaan. Karena itu, Arimbi percaya kalau ia pulang kerumah di sore hari setiap harinya selepas kerja.

__ADS_1


__ADS_2