
“Arimbi, aku ini menantunya sudah pasti ibu menyayangiku. Seharusnya kamu lebih menyayangiku dan bersikap hormat pada suamimu.” ucap Emir.
“Emir, aku sudah menyatakan cintaku padamu dan selalu menyenangkan hatimu tapi kenapa kamu dan ibuku malah bersekongkol dan memojokkanku? Ibu, seharusnya ibu lebih membelaku daripada menantumu. Ck! Ayah…..”
Merasa usahanya sia-sia, Arimbi menoleh kepada ayahnya dan meminta bantuan. “Hehe….Arimbi. Apa yang dikatakan Emir itu benar. Berubahlah! Kamu tidak bisa terlalu manja dan ingin diperhatikan terus. Kamu ini sudah menikah dan harus bisa menjadi wanita kuat untuk berdiri disamping suamimu.”
“Oh….jadi sekarang ayah juga sudah bergabung dalam persekongkolan ini ya? Hem….” ucapnya berpikir sejenak, “Oke tidak apa-apa. Nanti kalau anakku sudah lahir, aku punya pendukung. Dia akan selalu mendukungku. Ayah….jangan salahkan aku juga karena terlalu manja. Seharusnya salahkan Emir karena dia yang terlalu memanjakanku. Aku jadi lupa diri.”
Yadid hanya bisa menarik napas panjang, bagaimana mungkin dia tidak memihak menantunya. Mereka cari aman sajalah, lalu dia berkata, “Arimbi, seharusnya kamu bersyukur kalau Emir memanjakanmu.”
Arimbi pun segera paham maksud perkataan ayahnya, dia tidak boleh protes dan menyalahkan pria itu karena terlalu memanjakannya.
Suasana diruang tamu itu dipenuhi tawa dan canda. Tanpa mereka sadari Amanda yang baru tiba bisa mendengar suara dari dalam rumah itu. Saat dia masuk ke halaman rumah tadi, dia bisa melihat jejeran mobil pengawal Emir berada diluar dan saat itu dia juga melihat ada mobil baru di parkiran utama.
Amanda mengeryitkan keningnya, mencoba menebak-nebak siapa pemilik mobil baru itu. Dia merasa heran dan juga takut karena ada Emir yang sedang berkunjung kerumah itu. Tapi kenapa Emir datang kesini? Setelah dia tiba di pintu masuk dia bisa mendengar dengan jelas suara tawa dan canda dari dlam rumah.
Seketika itu juga perasaan Amanda semakin tak suka. Sejak kehadiran Arimbi yang kembali ke keluarga kandungnya sikap kedua orang tua mereka perlahan mulai berubah.
Tapi ibunya yang secara terang-terangan menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tak suka pada Amanda sementara sikap ayahnya masih sama seperti dulu meskipun tak sehangat dulu lagi.
Amanda tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan didalam. Dia merasa takut untuk masuk kedalam rumah karena ada Emir disana. Aura pria itu terlalu kuat sehingga membuat Amanda selalu merasa ketakutan setiap bertemu dengan Emir.
“Nona, kenapa berdiri disini?” tiba-tiba suara seorang pelayan yang muncul didepan pintu mengagetkannya. Amanda mendongak menatap pelayan paruh baya itu dan bertanya.
__ADS_1
“Siapa tamu yang ada didalam?”
“Oh itu Nona Arimbi dan Tuan Emir. Mereka juga baru sampai.” jawab pelayan itu.
“Itu mobil siapa?” tanya Amanda menunjuk kearah mobil baru.
“Itu mobil Nyonya Rafaldi! Baru tadi pagi dihantarkan kesini. Tuan Emir sendiri yang membawanya dan memberikannya pada Nyonya.” jawab pelayan itu yang membuat Amanda terkejut dan membulatkan matanya.
Pelayan itu menatap Amanda yang kini ekspresi wajahnya berubah. Merasa ada yang tak beres, pelayan itu segera menjelaskan. “Dengar-dengar katanya sebagai ganti rugi dari Nona Arimbi yang sudah membuat mobil Nyonya rusak karena kecelakaan. Iya begitu, itu dari Nona Arimbi dan pengawal Tuan Emir tadi pagi yang mengendari mobil itu kesini.”
Amanda tak mengatakan apapun lagi. Dia semakin merasa penasaran tapi takut untuk bertanya lagi. Dia pun perlahan memasuki rumah, dia masih bisa mendengar suara tawa Arimbi yang bercanda dengan ayahnya.
‘Dasar brengsek! Aku harus segera menyingkirkanmu! Sekarang kamu semakin berani bersikap manja pada ayah!’ bisik hati Amanda.
Sedangkan pelayan segera memberitahukan pada Mosha kalau Amanda sudah pulang. Wanita itupun segera meminta pelayan untuk memanggil Amanda untuk bergabung.
Amanda yang baru akan melangkahkan kakinya menaiki tangga menghentikan langkahnya saat seorang pelayan memanggil dan menyampikan pesan ibunya. Meskipun agak berat hati tapi Amanda tak bisa menolak. Dengan langkah berat dia berjalan memasuki ruang makan dan mencoba tersenyum.
“Selamat malam semuanya…...” ujar Amanda mencoba tersenyum.
Mosha membalas dengan tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, sementara Emir dan Arimbi mengacuhkan. Yadid yang merasa tak enak hati pun membalas. “Ayo Amanda. Kita makan bersama-sama. Arimbi kebetulan juga disini.”
Amanda mengangguk lalu duduk disebelah ibunya tanpa berani mengangkat wajahnya. Arimbi mencibir dan tersenyum sinis melihat wanita yang duduk diseberangnya. “Darimana tadi? Apa banyak pekerjaan ya hari ini?” tanya Arimbi sekenanya.
__ADS_1
“Hm….Iya. Tadi aku menemui klien untuk membahas pekerjaan sebentar.” jawab Amanda berbohong.
Mosha merasakan tatapan tajam dan sinis yang diberikan Arimbi saat melihat Amanda. Wanita paruh baya itupun berpikir bahwa ada sesuatu yang telah terjadi dan berhubungan dengan Amanda. Dia akan menanyakannya pada Arimbi nanti.
Suasana ruang makan hening, semuanya fokus dengan makanan didepan mereka. Amanda merasa sedikit tak enak hati karena sebelum dia hadir disana dia mendengar canda tawa mereka. Tapi semuanya berubah dengan kehadirannya. Semua orang diam dan suasana diruang makan itu terasa tegang.
...********...
Disaat bersamaan di rumah besar keluarga Lavani. Reza yang kembali kesana untuk menjemput Ruby pun baru saja turun dari mobilnya. Dia sengaja berlama-lama untuk sampai disana dengan alasan balik lagi ke kantor karena ada klien lain yang komplain dan jalanan macet agar dia tidak bertemu Zivanna.
Ruby sudah menunggunya di depan pintu masuk dan langsung tersenyum saat dia melihat Reza turun dari mobil. “Bagaimana pekerjaanmu, apa masalahnya sudah selesai?” tanya Ruby menunjukkan kepeduliaanya pada Reza. Dia mengikuti saran-saran yang diberikan Zivanna padanya tadi.
“Ya, syukurlah semuanya bisa diatasi.” ujar Reza menggenggam tangan Ruby yang langsung tersenyum dengan perlakuan manis Reza padanya. Mereka berjalan menuju ke mobil.
Reza membukakan pintu untuk Ruby dan menutupnya kembali setelah wanita itu duduk dan memasang sabuk pengamannya. Lalu Reza menuju ke sisi lain dan duduk dibelakang kemudi lalu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
“Ehm….Ruby, bagaimana tadi hasilnya? Apa sepupumu marah karena aku tiba-tiba harus pergi?” tanya Reza tanpa basa basi. Dia ingin mengetahui apa Zivanna sudah memaafkannya.
“Tidak apa-apa. Tadi aku sudah menjelaskan situasinya pada sepupuku. Memang tadi aku agak kesulitan membujuknya untuk memaafkanmu. Tapi dia bilang akan memaafkanmu dengan satu syarat.”
“Apa itu?” tanya Reza penasaran.
“Sepupuku bilang dia hanya akan memaafkanmu jika kamu secepatnya menikahiku. Karena semakin banyak rumor tak sedap yang beredar diluaran disana tentang insiden itu. Dia hanya tidak mau akan berdampak buruk pada keluarga kami.”
__ADS_1