GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 234. BALAPAN


__ADS_3

Bahkan jika Jordan tidak tertarik pada Arimbi, dia akan tetap bekerjasama dengan Rafaldi Group secara profesional. Sekarang dia mau mengambil keuntungan kedua kakak adik Rafaldi untuk menyenangkannya sebelum dia menandatangi kontrak yang mereka inginkan.


Jordan menatap kepergian Arimbi. Arimbi tidak punya waktu lagi dan dia yakin kalau dia tidak akan berpapasan dengan Emir dijalan. Jadi dia sedikit mengebut.


Tapi dia masih melambatkan mobilnya karena dia tidak mau tabrakan lagi dengan orang lain. Jika dia kecelakaan lagi, pasti tugasnya tidak akan sesederhana membuat refleksi diri sepuluh ribu kata lagi.


Arimbi baru saja memikirkan itu ketika ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi datang dari arah berlawanan. “Hmmm sepertinya bukan aku satu-satunya orang yang menyetir seperti mengemudikan pesawat, Orang ini bahkan melakukan hal yang aku lakukan.” ujarnya.


Mobil mereka hampir saja menyerempet satu sama lain. Arimbi penasaran pada orang yang mengemudikan mobil itu. Namun dia tidak bisa melihat wajahnya sama sekali. Yang dia tahu adlaah pengemudi itu seorang wanita. Ngeng! Mobil mereka saling berpapasan!


“Arimbi!”


Arimbi mendengar seperti seseorang memanggilnya. Pasti ini hanya imajinasiku saja pikirnya. Memangnya mereka tahu siapa aku? Lalu dia tancap gas dan mengebut setelah itu.


Mobil Zivanna mendecit ketika dia mengerem mobilnya. Dia sudah mengebut sejak tadi jadi mobilnya berdecit cukup keras ketika dia melambatkan laju mobilnya.


Untungnya, jalan tol disini cukup mulus dan lebar. Selain itu tidak banyak mobillainnya jadi Arimbi sangat ingin menyetir. Lega sekali menginjak pedal gas. Sudah cukup lama semenjak dia mengebut—ada banyak mobil dijalan raya kota-kota besar.


Jangankan mengebut, bisa jalan saja sudah syukur karena macet dimana-mana. Begitu mobil berhenti, Zivanna menurunkan kaca mobilnya dan menengok keluar.


Mobil Arimbi sudah sekecil semut saat itu karena sudah melaju jauh. “Dasar ****** bodoh! Tidakkah dia mendengariku saat aku memanggilnya?” sumpah serapah Zivanna mengutuki Arimbi.


Lalu dia memutar kemudinya dan mulai mengejar Arimbi. Mobil yang dikendarai Arimbi bukanlah mobil biasa. Walaupun mobil Zivanna juga cukup kuat, dia tidak bisa mengejar Arimbi karena dia sudah jauh.

__ADS_1


“Seharusnya aku menyetir jet pribadiku saja lain kali.” gerutu Zivanna pada dirinya sendiri. “Cepat sekali dia! Awas kecelakaan dan mati! Itu lebih bagus!”


Zivanna tidak mau menyerah begitu saja. Dia mengejar Arimbi selama dua puluh menit. Tak lama kemudian, Arimbi menyetir mobilnya memasuki kota, dimana jalanannya cukup macet.


Ketika Arimbi melambat Zivanna semakin mengebut dan melewati banyak mobil hanya untuk mengejar Arimbi. “Arimbi!” Zivanna berhasil menyusul mobil Arimbi dan tiba tepat disebelahnya.


Kali ini Arimbi dapat mendengar suara orang memanggilnya. Dia menoleh dan melihat Zivanna berada didalam mobil disebelahnya. Lalu dia menurunkan kaca mobilnya dan melambai pada Zivanna sebelum Zivanna menurunkan kaca mobilnya. Walau banyak mobil dijalan saat ini, tapi ini masih jalan tol dan Arimbi berada di jalur kanan.


Dia tidak bisa melambat begitu saja, dan konsentrasinya tidak boleh teralihkan. Karena itu dia tidak banyak bicara dan melajukan mobilnya. Zivanna yang sudah sangat marah karena dia sudah susah payah mengejar Arimbi. Tapi Arimbi hanya melambari padanya dan ini menyulut kemarahan Zivanna.


Dia bisa mengamuk kapan saja. Jadi dia menginjak pedal gasnya dan mengebut mendahului Arimbi. Arimbi mengerjapkan matanya sebelum berkata pada dirinya sendiri,


“Apa dia mau menantangku balapan?” Arimbi mau meladeninya tapi banyak mobil dijalan itu karena sudah berada di kota besaar. Selain itu jika mereka balapan akan terjadi kecelakaan.


Karena pertimbangan itulah dia tidak mau meladeni Zivanna. Dia melihat Zivanna mengebut mendahuluinya. Lalu Arimbi menyusulnya sambil bermain-main untuk menyulut kemarahan Zivanna.


Dia tetap menjaga jarak karena Arimbi tahu betapa bodoh dan gilanya wanita itu. Mereka terus seperti itu sepanjang perjalanan ke pusat kota. Zivanna semakin tersulut emosinya.


Dengan segaja dia memepet mobil Arimbi agar keluar dari jalur. Tapi Arimbi bukan pengemudi biasa, dia sebenarnya adalah pembalap profesional jadi dia dengan lihainya menghindar dengan memperlambat laju mobilnya saat dia melihat apa yang dilakukan Zivanna.


Karena Zivanna mengemudi dengan laju, dia tidak bisa menghindar saat mobil Arimbi melambat, pada akhirnya mobil Zivanna yang menabrak pembatas jalan tol. Arimbi membanting setir ke kiri lalu melewati mobil Zivanna yang berhenti di jalur kanan. Arimbi tersenyum sinis saat melihat kemungkinan mobil mahal Zivanna pasti lecet dan penyok.


Beberapa pengemudi jalan melihat kejadian itu. Sebelum ada yang menghubungi patroli jalan tol, Zivanna melajukan lagi mobilnya untuk mengejar Arimbi tanpa peduli kondisi mobilnya yang lecet dan sebelah kanan depan penyok akibat menabrak pembatas jalan. Dia berpikir, tidak akan ada orang yang mempermasalahkan hal itu karena dia putri keluarga Lavani.

__ADS_1


Arimbi tidak berani mengendarai mobil Amanda ke perusahaan Emir. Jadi dia kembali ke kantornya dulu tapi sayangnya, dia harus mengembalikan mobil Amanda dulu karena Emir tidak boleh tahu kalau dia meminjam mobilnya. Ini akan jadi mimpi buruk bagi Arimbi kalau sampai ketahuan Emir.


Zivanna menunggu Arimbi didepan pintu masuk Rafaldi Group. Dia memalang mobilnya supaya Arimbi tidak bisa masuk ke gedung itu. Arimbi hanya bisa mengerem dan menurunkan kaca mobilnya. Dia menatap Zivanna yang mendatanginya. “Apa maksud semua ini Nona Zivanna?” tanya Arimbi.


“Keluar kamu!” perintah Zivanna memukul mobil Arimbi penuh kekesalan.


“Memangnya ada apa?” tanya Arimbi. Dia tidak mau keluar dari mobilnya dan terus saja bicara ketika Zivanna terlihat semakin marah. “Kamu terlihat cukup kesal Nona. Sepertinya kamu akan merengek-rengek. Siapa yang menyinggungmu? Ckck….kasihan sekali ya.” ujar Arimbi berdecak.


“Jangan pura-pura tidak tahu Arimbi! Hanya wanita kampungan egois sepertimu yang berani membuatku kesal.” desis Zivanna.


“Aku? Ini adalah pertama kalinya aku bertemu denganmu nona. Memangnya aku salah apa? Bisa majukan mobilmua? Aku mau parkir dan aku sedang terburu-buru.” balas Arimbi lagi.


Biasanya Emir akan menyuruh orangnya untuk menjemputnya dan dia pasti akan habis kalau ketahuan menyetir. Arimbi tidak banyak berharap pada mereka untuk menjaga rahasianya.


Mereka masih anak buah Emir yang setia tak peduli meskipun Arimbi adalah istri Emir. Arimbi tidak tahu kalau Brian sudah tahu tentang dia menyetir.


Brian bahkan sudah menginformasikan hal itu pada Rino. Dan mendiskusikan apakah perlu memberitahu Emir. Brian tidak mau melakukannya, tapi dia telah bersumpah untuk menjaga Zivanna dan ternyata dia melihat Zivanna mengejar Arimbi.


Jadi dia mengikuti mereka ketika Zivanna sedang mengejar Arimbi. Dan dia kesulitan mengikuti mereka karena kemampuan mengemudi Arimbi ternyata sangat luar biasa. Seandainya dia diberikan mobil baguspun dia tidak akan bisa mengejar Arimbi.


Dia sangat frustasi hingga ingin melepaskan setir mobilnya saat itu juga. Dia sudah biasa balapan tapi melihat kemampuan Arimbi membuatnya malu.


“Apa kamu bosan hidup? Aku tidak akan bergerak sampai kamu keluar dari mobil. Kamu tidak akan masuk sebelum aku melampiaskan amarahku padamu.” ujar Zivanna marah.

__ADS_1


__ADS_2