
Jordan yang menyukai Arimbi sebelumnya kini merasa kesal. Sikap wanita itu sangat jauh dari sikap wanita yang berasal dari keluarga kaya pada umumnya. Sementara Arimbi sama sekali tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Bukankah mereka disini untuk makan siang? Suaminya yang memesan semua makanan itu untuknya.
“Kamu tidak perlu meminta maaf untukku Amanda karena memang tidak ada yang salah. Aku makan untuk menghargai Tuan Emir karena Tuan Emir sudah memesan semua makanan favoritku ini! Aku tidak boleh mengecewakan orang yang sudah berbaik hati memesan makanan favoritku, bukan?”
Ketiga orang itu sontak terbelalak mendengar perkataan Arimbi. Jordan mengerutkan alisnya dan berkata, “Nona Arimbi, sepertinya punya rasa percaya diri yang besar rupanya. Hehee bagaimana bisa anda sangat yakin jika Tuan Emir memesan makanan favorit anda?”
“Ya, karena memang semua makanan ini adalah makanan favoritku! Jadi aku harus memakannya untuk menghargai orang yang sudah memesannya. Apakah salah?”
Tak ada seorang pun yang berkata-kata lagi. Jordan yang masih merasa tidak puas hati pun menyantap makanannya dalam diam. Makan siang mereka berakhir hingga pukul dua siang.
Dalam perjalanan kembali ke kantor, Arimbi menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, dia tenggelam dalam pikirannya. Sepanjang siang dia merasa linglung dan sedikit tak enak badan. Dia merasakan sedikit mual tapi tidak mengalami muntah-muntah.
Sore harinya dia dijemput oleh supir keluarga Serkan. “Tuan Muda Emir sudah sampai dirumah.” ucap supir itu memberitahu Arimbi.
“Mengapa dia pulang lebih awal hari ini ya?” tanya Arimbi dengan heran.
“Memang biasanya Tuan pulang jam segini.” jawab supir itu.
Arimbi tiba-tiba teringat jika hari ini dia belum memberikan hadiah untuk Emir. Dia pun segera meminta supir untuk mengantarkannya ke pusat perbelanjaan. Dia ingin membelikan sesuatu untuk suaminya, apalagi setelah apa yang dilakukan Emir untuknya siang tadi.
Saat Arimbi sedang berada disalah satu butik ternama khusus pakaian pria. Dia melihat kemeja yang menarik minatnya. Kemeja itu berwarna biru muda, Arimbi mengingat semua kemeja Emir berwarna putih dan hitam. Tidak ada kemeja berwarna, setelah berpikir sejenak dia berniat untuk mengubah sedikit style Emir.
Arimbi memutuskan untuk membeli kemeja itu berikut dasi. Saat dia mengambil kemeja itu dan dasi yang sudah dipilihnya dan menyerahkan kepada penjaga tokok, tiba-tiba dia mendengar suara seorang wanita dari belakangnya. Arimbi pun segera menoleh untuk melihat orang itu.
“Apakah kamu berada disini untuk membelikan hadiah untuk pacarmu Nona Arimbi?”
__ADS_1
Arimbi memutar bola matanya dan hendak melangkah menuju kasir untuk membayar. Tapi sepertinya wanita itu tidak ingin melepaskan Arimbi dengan mudah. “Nampaknya kamu terburu-buru sekali. Atau kamu takut padaku?”
“Ruby! Sebaiknya kamu pergi menjauh dariku! Aku sibuk dan sedang terburu-buru.”
“Untuk siapa kamu membelikan barang-barang itu?” tanya Ruby merasa penasaran.
“Bukan urusanmu!”
“Ah, sepertinya benar ucapanku kan, kamu itu seperti bis yang bisa dimasuki pria manapun. Baru putus dengan Reza sudah punya kekasih baru! Ck!” sindir Ruby.
“Kurasa Nona Ruby punya banyak waktu luang untuk mengurusi orang lain. Oh iya, bukankah kalian akan menikah dalam waktu dekat? Segeralah menikah biar kamu sibuk mengurus suamimu! Biar aku beritahu sebuah rahasia padamu,” ujar Arimbi mendekati Ruby sembar berkata seperti berbisik, “Kamu bukan wanita satu-satunya dihati Reza! Selamat menikmati hidup penuh kebohongan, Nona Ruby.”
“Arimbi! Apa yang kamu katakan pada Ruby?” tanya Reza yang cemas.
Tanpa menghiraukan panggilan Ruby padanya, Arimbi bergegas berjalan dengan cepat meninggalkan toko itu dan pergi menuju ke parkiran dimana supirnya sudah menunggunya. Sesampainya dirumah, Arimbi langsung mencari suaminya. Dia tahu jika jam segini Emir pasti sedang menjalani rehabilitasinya.
Arimbi meletakkan tas dan paperbag nya diatas meja. Lalu dia segera pergi ke halaman belakang. Saat tiba disana, tepat seperti tebakannya Emir sedang menjalani rehabilitasi. Dengan tersenyum, Arimbi bergegas setengah berlari menghampiri suaminya.
Emir yang mendengar suara orang setengah berlari kearahnya, dia tahu itu pasti istrinya. Saat dia melihat Arimbi, Emir langsung menghentikan latihannya dan menatap tajam kearah Arimbi.
“Apa kamu lupa kalau kamu sedang mengandung? Apa kamu berniat mau membunuh anakku?” tanya Emir dengan tatapan tajam.
Arimbi langsung berhenti dan terdiam. Setelah menenangkan dirinya, dia menghampiri Emir dan berkata, “Maafkan aku sayang. Aku terlalu bersemangat ingin menemuimu.” jawabnya lalu menghamburkan diri dan memeluk erat Emir yang sedang berdiri.
“Sayang, aku sangat merindukanmu. Terima kasih untuk makan siang tadi.”
__ADS_1
“Hmm….” hanya itu saja yang keluar dari bibir Emir. “Apa kamu puas menggodaku? Arimbi! Kamu benar-benar tidak tahu malu!”
“Ya aku tahu itu. Tapi jangan salahkan aku menggodamu. Emir sayang, kamu terlalu tampan, bagaimana bisa aku menahan diri untuk tidak menggodamu?”
Emir yang selalu luluh dengan suara manja dan sikap lemah lembutnya pun hanya bisa tersenyum dan membalas memeluknya. Para pengawal hanya menundukkan wajah tak tahan melihat kemesraan yang selalu ditunjukkan pasangan itu.
“Karena kamu sudah disini, ayo bantu aku rehabilitasi.”
“Baiklah. Apa kamu sudah lama berlatih?” tanya Arimbi melepaskan pelukannya.
“Sudah satu jam. Kemana saja kamu? Kenapa kamu pulang terlambat?” tanya Emir sembari melangkahkan lagi kakinya secara perlahan.
“Oh itu, tadi aku singgah ke pusat perbelanjaan. Emir, karena hari ini kamu sangat baik dan memanjakanku. Aku membelikan hadiah untukmu.”
“Mana hadiahku? Kamu datang kesini dengan tangan kosong!” ujar Emir.
“Ada didalam rumah. Aku memang tidak membawanya kesini karena kamu sedang rehabilitasi. Nanti setelah kamu selesai, akan kuberikan padamu.”
“Apa yang kamu belikan untukku? Apakah barang murah?”
“Sayang, aku sekarang adalah wanita kaya raya dan punya banyak uang. Suamiku sangat baik hati memberiku uang saku yang banyak setiap hari. Jadi aku bisa membelikan hadiah mahal untuk suamiku. Tapi nanti saat aku menerima gaji pertamaku aku janji akan membelikan hadiah untukmu.”
Emir yang sangat serius menjalani rehabilitasi karena dia ingin secepatnya bisa berdiri di kakinya sendiri. Kini kekuatan kedua kakinya semakin baik, jika sebelumnya dia sudah bisa melangkah sebanyak enam langkah tapi sekarang dia sudah bisa melakukan sepuluh langkah.
Dikejauhan tepatnya diatas balkon teratas rumah utama, Nenek Serkan menatap cucu kesayangannya yang sedang menjalani rehabilitasi. Dia ditemani oleh Elisha seperti biasanya. Kini dia memakai kacamata baru jarak jauh sehingga penglihatannya jauh lebih bagus dan bisa melihat Emir dan Arimbi.
__ADS_1