GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 44. RASA IRI DAN CEMBURU


__ADS_3

Setelah menekan rasa iri dan cemburunya, Amanda berpura-pura menjadi penuh perhatian dan dengan lembut menutup pintu kantor. Tepat ketika dia akan pergi dia melihat Reza yang memegang buket bunga ditangannya sedangkan satu tangannya menutupi area pipinya yang ditanpar Arimbi. Tamparan Arimbi sangat kuat sehingga pipinya bengkak dan memar.


“Reza? Mengapa kamu disini?” tanya Amanda mendekatinya.


Amanda menangis pelan ketika Reza menurunkan tangannya memperlihatkan pipinya yang bengkak.


“Apa yang terjadi? Siapa yang menamparmu? Apa Arimbi yang melakukannya?” Amanda segera menyadari apa yang terjadi dan menebak sebelum Reza sempat menjawab.


Reza tampak tersenyum malu-malu ketika dia menjawab, ‘Amanda, aku baik-baik saja. Aku terlalu gegabah dengan tindakanku makanya Arimbi menamparku!”


Mereka saling bertukar pandang. ‘Kurang ajar! Dia berani menyakiti Reza? Ternyata dia tidak selemah yang aku kira selama ini, punya nyali juga dia menampar Reza?’ bisik Amanda didalam hati. Semakin dia memikirkannya semakin dia tidak mengerti. ‘Bukankah dulu Arimbi tergila-gila pada Reza? Apa yang terjadi pada Arimbi? Kenapa semuanya terlihat aneh dan dia sangat berubah sekarang?’


Selama ini Amanda sudah melakukan banyak hal untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari orang tua angkatnya sehingga Amanda selalu yang terbaik dimata mereka tapi semuanya berubah sejak Arimbi pergi ke Keluarga Serkan. Bahkan sikap orangtuanya pun ikut berubah dan Amanda mulai merasakan itu.


“Aku punya es dikantorku. Ayo pergi kesana dan kompres pipimu yang bengkak.” ujar Amanda.


Reza melirik sekretarus itu tetapi Amanda sangat marah dan meraih tangannya lalu menariknya pergi. Meskipun Reza sering mengunjungi Rafaldi Group tapi hanya urusan bisnis. Lagipula mereka sudah kenal lama sehingga tidak ada orang yang akan curiga melihat mereka berdua.


Lagipula di kota ini semua orang tahu jika Arimbi jatuh cinta pada Reza dan kedua keluarga sedang memeprtimbangkan pernikahan mereka. Begitu mereka sampai diruang kerja Amanda, gadis itu langsung menutup pintu dan mendorong Reza ke pintu. Dia mendekat lalu menangkup wajahnya dan mencium Reza dengan penuh gairah.


Awalnya, Reza ingin mendorong Amanda menjauh karena dia takut seseorang akan melihat mereka dan merusak rencana busuk mereka. Tapi akhirnya dia tidak bisa menahan lebih lama lagi dan meingkarkan tangannya dipinggang Amanda sambil satu memegang buket bunga yang enggan dia buang.

__ADS_1


Setelah keduanya hampir kehabisan napas, Amanda melepas tautannya lalu membelai pipi Reza yang bengkak, “Apa yang kau lakukan sehingga Arimbi menamparmu?”


“Sebenarnya aku tidak melakukan apa-apa padanya. Dia mengabaikanku jadi aku meraih tangannya. Tapi dia malah berbalik dan menamparku. Gerakannya sangat cepat jadi aku tidak sempat mengelak.” ujar Reza dengan sedih membuat Amanda tersentuh.


“Mengapa aku bisa tidak sadar kalau dia begitu gesit dan sangat kuat? Saat dia menamparku rasanya seperti terbakar dan aku langsung bisa merasakan pipiku bengak. Kenapa dia bisa tiba-tiba sekuat itu?”


Kebencian muncul dimata Amand saat dia menggeram, “Keluargamu dan aku bahkan tidak mau menyentuh sehelai rambutmu! Tapi dia berani menamparmu. Tunggu saja tanganku sampai padanya. Setelah ini aku akan membantumu mendapatkan keadilan dan membuatnya membayar dua kali lipat!”


Amanda memandang Reza dengan tatapan penuh kasih sayang, “Apa itu sakit? Duduklah di sofa aku akan mengambilkan es untuk mengompres pipimu.”


Ruang kerja wakil direktur itu luas dan terang benderang, disana ada ruang santai, ruang rapat kecil dan juga dapur kecil. Reza dengan cepat menarik tangan Amanda dan menyerahkan bunga itu padanya.


Amanda mengambil buket bunga itu lalu menundukkan kepala dan menciumnya dengan lembut. Wajahnya dihiasi senyuman, “Aku suka! Tapi….aku tidak bisa menerimanya. Aku akan membantumu memberikannya pada Arimbi nanti tetapi aku menyimpan daftar semua barang yang telah kamu berikan padanya. Saat rencana kita berhasil, kamu harus membayarnya sepuluh kali lipat atau seratus kali lipat lebih banyak padaku!”


“Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah membuatmu merasa diperlakukan tidak adil karena perasaanku padamu tidak akan pernah berubah. Aku sangat mencintaimu Amanda!”


Reza memeluk Amanda dan membenamkan kepala wanita itu didadanya, tetapi apa yang Amanda tidak ketahui adalah bahwa saat ini Reza justru membayangkan kalau Arimbi yang berada dipelukannya.


Dimasa lalu Reza membenci Arimbi karena wanita itu sangat patuh padanya. Tetapi saat dia mulai mengabaikannya tiba-tiba Reza menyadari bahwa dia tidak pernah membenci Arimbi seperti yang dia pikirkan selama ini. ‘Mungkinkah ini cara baru yang digunakan Arimbi untuk memikatku? Ya, pasti begitu!’ pikirnya dengan percaya diri.


“Reza, duduklah sebentar aku akan ambilkan es untuk kompresmu.” ujar Amanda. Tapi tangan Reza masih menahan Amanda lalu mencium bibirnya. Saat dia melakukan itu, dia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya tentang bagaimana rasanya bibir Arimbi karena dia belum pernah menciumnya.

__ADS_1


Diam-diam Reza berpikir kalau ada kesempatan dia harus mencicipi bibir Arimbi. Mungkin setelah menciumnya Arimbi akan berubah kembali menjadi wanita yang menjilatnya lagi.


...*******...


Emir menyuruh Arimbi untuk segera pulang sebelum jam 1 siang karena Michael Hara akan tiba jam 1.30 untuk menata rambutnya. Arimbi pun terpaksa menolak rencana ornag tuanya untuk makan siang di The Palm Bliss Hotel karena dia harus mengambil mobilnya di rumah Keluarga Rafaldi dan dibawa ke rumah Emir untuk memudahkannya beraktivitas saat dia harus pergi keluar dari Villa Serkan.


“Kenapa kamu terburu-buru pergi? Apa Tuan Emir mencarimu? Bagaimana dia memperlakukanmu? Apakah dia memperlakukanmu seperti seorang pengasuh?” tanya Mosha pada putrinya itu.


Sebelum Arimbi sempat menjawab pertanyaan ibunya, Yadid sudah menyela duluan.


“Jangan ikut campur urusan mereka. Kalau mereka ada masalah pasti bisa menyelesaikannya sendiri. Meskipun Tuan Emir tampak tidak berperasaan tapi dia bukan orang jahat! Dia tidak akan melakukan hal buruk pada putri kita. Jangan khawatir ya, jangan bertingkah seolah putri kita sedang mengalami kesulitan di keluarga Serkan. Kamu akan menimbulkan masalah baginya jika bersikap seperti itu.”


“Aku yakin dia mengalami kesulitan disana. Kalau kamu tidak mendengarkan Amanda, semua ini tidak akan terjadi pada Arimbi,” keluh Mosah.


“Amanda melakukannya demi Arimbi. Apa yang Arimbi lakukan saat itu….Itu bukan apa-apa. Sudahlah jangan dibahas lagi.”


Kemudian Yadid menoleh kearah Arimbi dan berkata, “Arimbi! Apapun yang Tuan Emir perintahkan, lakukan saja. Kita bisa menunda makan bersama keluarga kita hari ini karena kita bertiga bisa makan bersama kapanpun kita mau!”


Setelah itu Yadid meminta istri dan putrina keluar sambil mengingatkan, “Arimbi, begitu kamu bertemu dengan Tuan Emir segeralah tanyakan pendapatnya tentang keinginanmu untuk bekerja. Jika dia tidak keberatan maka ayahpun akan setuju dan senang hati melatihmu.” ujar Yadid yang merasa senang karena putri kandungnya sudah mau belajar untuk mengambil alih perusahaan kelak.


Masih ada beberapa tahun lagi sebelum Yadid pensiun dan jika Arimbi dapat bertahan dari kesulitan-kesulitan itu, dia bisa berhasil melatihnya untuk segera mengambil alih perusahaan sehingga mereka tidak perlu lagi mengandalkan Amanda. Bagaimana pun putri kandungnya yang berhak.

__ADS_1


__ADS_2