
Yadid diam sejenak dan berpikir, ya memang benar yang dikatakan Amanda bahwa mereka harus bergerak cepat untuk mendapatkan kontrak kerjasama. Akhirnya dia pun berkata, “Aku akan menghubungi mereka nanti. Pada pertemuan sebelumnya semua berjalan lancar dan besar kemungkinan perusahan-perusahaan itu memesan dalam jumlah lumayan.”
“Baiklah. Oh iya, Arimbi aku dengar kamu datang terlambat hari ini. Aku mendengar para karyawan merasa tidak senang tentang hal itu.” ucap Amanda mengalihkan pembicaraan.
“Arimbi sudah meminta izin padaku tadi pagi karena dia ada keperluan penting.”
“Apa kamu baik-baik saja Arimbi? Jika ada masalah, kamu tahu kan kalau aku akan selalu membantumu. Tapi, kamu juga harus mengingat bahwa kita bekerja disini dan kamu harus menjaga kesehatanmu. Jika karyawan merasa kamu diperlakukan istimewa, itu tidak akan baik untukmu nanti.”
Yadid hanya mendengarkan dan menatap Amanda, semakin dia mendengar apa yang Mosha katakan padanya tentang Amanda, dia semakin memperhatikan cara bicara dan sikap putri angkatnya itu.
Memang bagi orang lain, sikap dan ucapan Amanda akan terlihat bahwa dia seorang yang baik hati meskipun dia hanya anak angkat.
Tetapi Yadid bisa mengerti bahwa Amanda berusaha membuat Arimbi merasa bersalah. Hal itu membuat Yadid mulai meningkatkan kewaspadaannya pada Amanda.
Bagaimana pun juga Arimbi adalah putri kandungnya, meskipun seandainya dia tidak bisa mengambil alih perusahaan tapi mungkin Emir akan mempunyai solusi untuk itu.
Bagaimana pun perusahaan harus tetap berada ditangan keturunan Rafaldi, bukan orang lain. Yadid merasa tidak adil jika menyerahkan perusahaan pada Amanda meskipun dia mengakui kemampuan putri angkatnya itu sangat bagus dalam bisnis. Tapi rasa percayanya perlahan mulai berkurang.
“Aku baik-baik. Terima kasih Amanda atas perhatianmu! Tidak biasanya kamu perhatian begini padaku. Apakah matahari sudah terbit dari barat?” ujar Arimbi.
Amanda terdiam, meskipun hatinya panas karena ejekan Arimbi tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa dihadapan ayah mereka.
__ADS_1
Dia harus tetap sebagai wanita yang baik hati dan lemah lembut seperti yang selama ini orang-orang pikirkan. “Oh iya, selamat ya atas kontrak kerjasama dengan PT. Libra Elektroindo yang kamu dapatkan. Apa Tuan Jordan sudah menghubungimu?”
“Tidak ada. Memangnya ada masalah apa?” tanya Arimbi mengeryitkan keningnya.
“Biasanya setiap kali kita menandatangani kontrak kerjasama baru dengan klien, kita wajib mengundang klien kita untuk makan malam atau apapun itu yang klien kita senangi.”
“Iya, apa yang dikatakan Amanda itu benar. Tadi memang Tuan Jordan ada menyinggung soal itu. Apakah kamu punya waktu luang nanti malam untuk makan malam bersama Tuan Jordan?” tanya Yadid. “Jika kamu sibuk tidak apa-apa, biar ayah dan Amanda saja yang pergi.”
“Maaf ayah sepertinya malam ini aku tidak bisa. Aku mau istirahat karena aku masih merasa lelah.” ucap Arimbi. Dia tahu kalau ini hanya alasan dan akal-akalan saja untuk membuatnya pergi keluar. Pasti ada yang memberikan ide itu pada Tuan Jordan. Siapa lagi kalau bukan Amanda?
“Tidak apa-apa. Amanda bisa mewakilimu. Bukankah begitu Amanda?” tanya Yadid menatap putrinya itu. Saat tadi Jordan mengatakan keinginannya untuk mengundang Arimbi makan malam sebagai awal dimulainya kerjasama mereka, Yadid sudah paham jika pria itu memang menyukai putrinya dan hanya mencari alasan untuk bertemu.
“Eh, iya ayah. Tapi apakah itu tidak akan menyinggung Tuan Jordan? Karena Arimbi yang memenangkan kontrak itu dan bukan aku. Atau begini saja, Aku akan pergi bersama Arimbi agar aku juga bisa membantunya jika ada masalah atau pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Arimbi. Bagaimanapun dia belum menguasai produk dengan baik.”
“Seperti yang aku katakan tadi, aku tidak bisa malam ini. Begitu juga akhir pekan aku akan sibuk.”
“Memangnya kamu mau kemana akhir pekan nanti?” tanya Yadid.
“Hanya akhir pekan aku bekerja dan aku bisa istirahat. Kebetulan di akhir pekan nanti Tuan Emir mengajakku untuk menemaninya ke istal kuda milik Keluarga Serkan. Akan ada sepupu dan yang lainnya yang ikut bersama kami. Ayah, ini pertama kalinya Tuan Emir mau pergi keluar rumah untuk jalan-jalan. Jadi aku harus menemaninya, karena aku pengasuhnya tidak mungkin aku membiarkannya pergi sendiri.”
Amanda kembali mengeryitkan keningnya mendengar itu. ‘Istal kuda? Bersama Tuan Emir? Kenapa harus mengajak Arimbi? Sepertinya perlakuan Tuan Emir pada Arimbi memang tidak wajar. Aku harus mencari tahu lalu memberitahu Zivanna soal ini. Dengan begitu Zivanna akan membalaskan Arimbi.’ senyum licik muncul diwajah Amanda.
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan meminta Tuan Jordan untuk memilih hari lain. Tapi kamu harus mengatur waktumu jangan sampai batal lagi.” ucap Amanda. Arimbi hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Dia tahu jika Amanda pasti merencanakan sesuatu, tapi dia tidak akan lengah. Jika Amanda bermaksud menjebaknya maka dia akan membalasnya.
...*******...
Di sebuah restoran mewah kelas atas tampak Johan Lavani dan Zivanna sedang makan siang bersama dengan Marcel Arkatama. Zivanna terlihat cantik dengan dandanannya yang elegan dan riasan wajah yang mempercantik penampilannya. Johan sengaja mengundangnya untuk bergabung makan siang bersama mereka.
Saudara laki-laki Zivanna itu bisa melihat pria yang duduk didepannya ini cocok menjadi pasangan Zivanna. Apalagi Marcel akan menetap di Kota Metro, maka akan mempermudah hubungan keduanya.
Bagaimana pun juga Johan tidak ingin adiknya itu merendahkan diri mengejar-ngejar Dion Harimurti, sama seperti yang dilakukannya dulu pada Emir.
Marcel seorang pria tampan yang sukses menjalankan bisnis keluarganya. Saat pertama kali dia melihat Zivanna ketika dia dan ayahnya makan malam di kediaman Lavani, dia merasa tertarik.
Pria mana yang tidak tertarik pada wanita cantik, elegan dan berasal dari keluarga kaya kelas atas? Bagi Marcel ini akan mempermudah bisnisnya di kota ini.
Meskipun dia terlihat dingin dan datar saat berbicara tapi dia juga memliki aura yang kuat. Zivanna menyadari sepertinya Marcel ada ketertarikan padanya. Dan pria itu memiliki karakter yang sama persis seperti Emir dan Dion. Itulah yang membuat Zivanna semakin tertantang.
Setelah kemarin malam Zivanna di nasehati oleh Johan habis-habisan untuk berhenti mengejar Dion. Zivanna pun berpikir jika Marcel Arkatama adalah tangkapan yang bagus! Ya, dia tidak akan menjadi wanita bodoh yang mengemis cinta pada pria yang terang-terangan menolaknya. Apalagi setelah tadi pagi salah satu orang suruhannya memberinya kabar.
Kemarahan dan kebenciannya semakin dalam pada Arimbi. Orang suruhannya memberitahunya jika Arimbi dan Emir pergi ke rumah sakit tadi pagi tapi dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun lagi.
Mengingat kondisi Emir yang lumpuh, Zivanna menyimpulkan mungkin Arimbi mengantarkan Emir kerumah sakit untuk check-up.
__ADS_1