
“Apa? Maksudmu Arimbi hamil?” tanya Layla terkejut dan menebak-nebak. Namun Layla menilai dari penampilanArimbi bahwa dia masih tampak memiliki kesucian yang utuh. Itu berarti cuucnya bahkan tidak menyentuhnya. Selain itu dia kesulitan diatas tempat tidur, jadi meskipun Arimbi hami pasti ayah anaknya bukanlah Emir.
“Hahahaha. Nenek tunggu saja kabar baiknya ya. Semoga Arimbi cepat hamil. Oh iya, bukankah nenek juga masih punya cucu yang lain. Mereka sudah cukup umur untuk menikah dan punya anak. Kenapa nenek tidak mendesak mereka untuk menikah dan punya anak juga? Nenek akan bahagia jika dikelilingi banyak cicit bukan?”
Saat itulah Layla yang tadinya tersenyum langsung kehilangan kata-kata. Menurut apa yang diucapkan oleh cucunya barusan, berarti Emir memang tidak punya masalah dan kemungkinan dia sudah sembuh dari impotensinya. Kalau tidak, mana mungkin dia mengatakan ‘tunggu kabar baiknya’.
“Emir berterus ternaglah padaku. Apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dan Arimbi? Kamu menyalahkanku karena membuat keputusan menemui keluarga Rafaldi untuk melamar Arimbi tanpa konsultasi denganmu. Dan kamu bilang padaku bahwa kamu tidak tertarik padanya. Kamu tidak berniat menikahinya jadi itu sebabnya dia mengambil tindakan nekat. Mengapa tiba-tiba kalian berdua malah sudah menikah diam-diam?”
Layla memperhatikan tanggal pendaftaran pernikahan adalah hari yang sama ketika Arimbi melakukan tindakan bunuh diri di kediaman Serkan.
“Ya, seperti itulah. Arimbi berubah pikiran dan setuju untuk menikah denganku. Pada saat yang sama aku juga membutuhkan seorang istri jadi karena dia telah setuju, aku memutuskan untuk melanjutkan pernikahan.”
“Bagaimanapun aku dalam kondisi cacat. Jadi siapapun yang kunikahi layak mendapat pasangan yang lebih baik dariku. Akulah yang mengambil keuntungan dari orang lain. Legipula orang yang menikahiku akan punya suami cacat seumur hidup dan tidak bisa menjalani kehidupan layaknya pasangan suami istri diluar sana. Aku tidak bisa berdiri untuknya, jika dia dalam bahaya aku pun tidak bisa melindunginya. Untungnya Arimbi bukan seperti gadis-gadis kaya lainnya, dia wanita mandiri yang bisa menjaga dan melindungi dirinya. Dia menguasai ilmu bela diri jadi aku tidak khawatir.”
Begitu Layla mendengar kata-katanya, dia merasakan sakit yang tajam dihatinya dan wajahnya menjadi pucat. Dengan nada sedih dia berkata, “Emir, apa kamu mengatakan ini semua untuk menyiksaku? Kamu adalah cucu tertua di keluarga Serkan dan merupakan pewaris Serkan Global Group. Siapa yang menganggpmu pasangan yang kurang layak?”
__ADS_1
“Bahkan….bahkan jika seandainya kamu hany terbaring ditempat tidur sekarang, latar belakang keluarga kita cukup mapan membuatmu akan menjadi pasangan yang baik. Jadi tidak ada yang akan berpikir bahwa kamu telah mengambil keuntungan dari mereka. Kita dapat memberikan kompensasi dengan cara lain pada mereka. Emir aku akan mengatur dokter ahli untuk membantumu. Oke?”
“Dan setelah kamu mendapatkan kembali mobilitasmu, kamu akan kembali menjadi pria paling tampan dan menjadi idaman para wanita seperti dulu.” ujar Layla. Dari semua cucunya, Emir adalah satu-satunya yang dibesarkan olehnya dan dia telah berusaha keras untuk k. Jadi hubungan mereka secara alami cukup dekat.
Sayangnya Emir mengalami kelumpuhan setelah kecelakaan. Kemampuannnya di tempat tidur juga berpengaruh begitulah rumor yang bereda. Tapi baru saja sepertinya cucunya itu menyangkal, dan secara halus mengatakan kalau dia baik-baik saja dan kemungkinan Arimbi mungkin aka hamil dalam waktu dekat.
Layla sangat ingin memberikan yang terbaik didunia ini pada Emir untuk membuat kepercayaan dirinya bangkit kembali.
Tetapi sejak kecelakaan yang menimpa cucunya itu, para wanita mulai berpikir realistis. Bahkan Zivanna yang dulunya sangat tergila-gila pada Emir, tidak lagi pernah mengunjungi kediaman Serkan.
Dion Harimurti memang pria yang luar biasa dan dia selalu bersaing dengan Emir untuk mendapatkan posisi teratas bersama Emir. Baik didepan umum maupun secara diam-diam.
Zivanna yang dulunya sangat tergila-gila pada Emir kini berubah pikiran dan memilih Dion Harimurti dibandingkan Emir yang cacat. Tindakannya ini jelas menghina Emir.
“Nenek aku tidak perlu ke dokter spesialis karena aku baik-baik tidak ada masalah dengan hal itu. Seperti tadi sudah kukatakan, nenek tunggu saja kabar baik dariku dan Arimbi. Dia wanita yang tulus dan luar biasa jika nenek sudah mengenalnya. Dialah yang banyak membantu kesembuhanku.”
__ADS_1
“Aku memberitahu semua ini agar nenek mengerti bahwa Arimbi juga menderita menikah denganku dan dia bukan orang yang memanfaatkanku karena aku bukan pasangan yang baik. Nenek, tolong jangan pernah berpikir untuk mengusirnya saat aku pulih nanti. Aku hanya ingin menikah sekali dalam hidupku dan karena aku telah menikahinya aku akan bersamanya selama hidupku.”
“Satu-satunya pengecualian adalah jika dia meninggalkanku dan ingin pergi. Jika tidak maka kami akan menikah selamanya. Aku harap nenek berhenti mencari kesalahannya, nenek harus sadar bahwa cucu nenek sekarang penyandang cacat dan tidak punya hak untuk memilih pasanganku. Lagipula hanya Arimbi yang tulus menerima keadaanku dan dia selalu membuatku bahagia.”
“Nenek! Nenek tidak punya anak perempuan tetapi nenek punya cucu perempuan! Jadi coba nenek tempatkan diri nenek di posisi Arimbi. Semua manusia normal pasti akan bersimpati dengan putri mereka jika putri mereka menikah dengan pria sepertiku. Nenek juga harus tahu bahwa Arimbi adalah istri yang tepat untukku. Dia tidak sama seperti wanita-wanita kelas atas lainnya, lihatlah dimana mereka semua sekarang?”
“Begitu aku kecelakaan dan lumpuh, mereka lari secepat mungkin untuk menghindariku. Apakah wanita-wanita seperti itu pantas untukku? Mereka hanya ingin memuaskan diri mereka memiliki suami tampan, kaya dan sempurna sepertiku.” ujar Emir membeberkan fakta kepada neneknya yang hanya bisa diam mendengarkan ucapan cucunya.
“Bisa nenek bayangkan jika aku sakit dan tak berdaya, mereka akan pergi dan membawa hartaku lari. Tinggallah aku sendirian! Coba lihat Arimbi, dengan tulus dia merawatku dan bertanggung jawab padaku. Meskipun orang-orang diluar sana menghinanya tapi dia tidak peduli, karena dia seorang wanita yang berprinsip. Aku harap nenek bisa mencoba mengenali karakternya. Aku yakin nenek akan menyukainya kelak.”
“Keluarga Rafaldi setuju agar Arimbi menikahimu, jadi jelas didunia ini tidak setiap orang tua mengutamakan kepentingan terbaik untuk anak-anak mereka.”
“Ya itu benar. Tidak setiap orang tua mengutamakan kebahagiaan anak-anak mereka. Lagipula tidak ada seorangpun yang bisa memilih orang tua mereka saat dilahirkan. Tapi mertuaku juga tidak tahu tentang pernikahan kami ini sebelumnya.”
“Jadi mertuaku tidak bisa disalahkan untuk hal ini. Arimbi dan aku adalah dua orang yang memutuskan untukmenikah. Semua itu adalah keputusanku untuk menyembunyikan pernikahan ini setelah mendapatkan akta nikah dan tidak mengumumkannya. Nenek, jika nenek tidak senang karena ini arahkan saja kemarahan nenek padaku, jangan pada istriku.”
__ADS_1