GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 285. MENAHAN DIRI


__ADS_3

Sementara itu di kantor polisi terjadi keriuhan karena pegawai toko yang ikut ditangkap polisi mengamuk dan hendak memukul Zivanna. Dia tidak peduli jika keluarga Lavani akan menghancurkannya karena sekarang hidupnya pun sudah hancur. Penyesalan selalu datang terlambat, dia hanya orang biasa yang bahkan tak mampu menyewa jasa pengacara.


“Lepaskan saya! Saya tidak bersalah. Nona Lavani yang menyuruh saya menjebak wanita itu!” pegawai toko itu menangis meratapi nasibnya. Tak ada yang peduli karena jelas-jelas dia yang memasukkan gelang itu kedalam tas Arimbi dan buktinya sangat jelas. Polisi pun menyeretnya dan memasukkan kedalam sel.


“Apa-apaan ini? Kenapa saya tidak bisa membawa anakku pulang? Kalian tidak bisa menahannya disini.” teriak Yuda Lavani ayah Zivanna yang datang bersama pengacaranya.


“Maaf Tuan! Kami hanya melaksanakan tugas saja.” jawab seorang petugas.


“Tugas katamu? Apa kalian lupa siapa aku, hah? Berani kalian menentang keluarga Lavani? Kalian pikir kalian itu siapa hah?” Yuda Lavani benar-benar marah.


“Sekali lagi maafkan kami Tuan! Untuk malam ini Nona Lavani terpaksa kami tahan hingga pemeriksaan selesai. Besok Nona Arimbi akan datang untuk pemeriksaan lebih lanjut.”


“Hah! Memangnya siapa Nona Arimbi itu? Apa statusnya lebih tinggi dari keluarga Lavani?” ujar Yuda Lavani penuh amarah. Belum pernah ada orang yang menentangnya selama ini.


Keluarga mereka selalu mendapat kekebalan hukum yang membuatnya selalu bertindak semena-mena. “Putriku akan memberikan keterangannya besok! Dia tidak akan menginap disini malam ini! Kalian paham? Awas kalian semua kalau sampai kalian menahan anakku.” lalu Yuda menoleh kepada pengacaranya untuk membereskan semua.


Saat itu Gio tiba disana dan dengan penuh amarah mengamuk. Terjadi kerusuhan dengan petugas karena keluarga Lavani ingin membawa pulang putrinya. Kepala polisi ketakutan karena ancaman keluarga Lavani sehingga melepaskan Zivanna. Siapa yang berani menentang keluarga itu? Mereka bisa kehilangan pekerjaan dan menghancurkan keluarga mereka selamanya.


Emir menerima laporan dari pengawal yang mengawasi Zivanna. Pria itu mengeryitkan dahinya, sepertinya dia harus menahan diri sementara. Ini masih masalah sepele, tidak akan memberikan efek jera pada Zivanna dan keluarga Lavani. Emir sangat yakin, setelah hari ini keluarga Lavani pasti akan menyerang Arimbi dan dia harus tetap mengawasi istrinya.


Mungkin kali ini keluarga Lavani akan bertindak lebih kejam pada Arimbi, dan itu yang sedang ditunggu oleh Emir. Dia tidak pernah menyerang duluan karena dia tidak mau memiliki musuh. Tapi dia membiarkan orang lain yang menyerangnya, dengan begitu dia tidak akan disalahkan siapapun jika menyerang balik. Karena bukan dia yang memulainya.


Arimbi membuka pintu kamar dan menatap Emir yang sedang duduk bersandar diranjang. “Sayang, maafkan aku ya. Aku siap menerima hukumanku.” ucapnya dengan suara lembut. Gara-gara Zivanna dan pegawai toko dia gagal menghabiskan uang suaminya hari ini.

__ADS_1


“Kemarilah!” ucap Emir. Melihat wanita itu menundukkan wajahnya sambil berjalan mendekati ranjang dan duduk disamping Emir. “Arimbi, apa kamu kehilangan keberanianmu hari ini?”


“Apa maksudmu?” tanya Arimbi mendongakkan wajah. “Aku melawan Zivanna tadi. Siapa yang bilang aku hilang keberanian.”


“Kamu tidak sepintar biasanya. Sepertinya salah satu pegawai toko itu menjebakmu dengan memasukkan perhiasan itu kedalam ats mu. Seorang pegawai toko tidak akan punya nyali sebesar itu untuk menjebakmu. Ini sudah pasti perbuatan Zivanna.”


Senyuman diwajahnya berubah menjadi dingin, sudah lama dia tidak mengambil tindakan apapun terhadap siapapun dalam waktu yang lama. Karena itulah beberapa orang jelas sudah melupakan sifat kejamnya. Emir menariknya mendekat dan memeluknya. “Kenapa wajahmu murung? Apa kamu tidak berhasil menghabiskan uangku, hem?”


“Darimana kamu tahu?” tanya Arimbi.


“Tadi kamu yang minta hukumanmu, kan? Itu berarti kamu gagal!”


“Ini semua gara-gara Zivanna! Aku kesal sekali! Padahal aku dan Joana bersemangat mau belanja tapi….Ck! Apa wanita itu mengikutiku kemanapun? Kenapa dia selalu muncul dimana-mana?”


“Tidak! Aku hanya mengatakan pada Joana untuk menemaniku. Tidak mungkin dia memberitahu seseorang. Kamu kan tahu kalau dia tidak punya teman selain aku.”


“Ada dimana kamu saat kamu menelepon Joana?”


“Di kantor! Aku mengirim pesan padanya karena aku tahu kebiasaannya tidak pernah bangun pagi. Setelah itu dia menelepon lalu aku mengajaknya untuk menjemputku dan pergi belanja bersama.”


“Kamu yakin tidak ada orang yang mendengar pembicaraanmu?” tanya Emir ulang.


Arimbi terdiam dan berpikir sejenak, dia mencoba-mengingat-ingat jika ada yang mendengarnya saat menerima telepon dari Joana. Hanya ada dua orang di kantor itu yang mengetahui perseteruannya dengan Zivanna selama ini, Amanda dan asistennya Sandra. Apa mungkin Amanda menguntitnya lagi?

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya seraya menatap Emir. “Ya sudah. Tidak apa-apa. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Aku mengkhawatirkanmu, tolong jangan buat aku cemas.”


“Maafkan aku, sayang.” ucap Arimbi lalu mencium bibir suaminya. “Sayang, terima kasih ya.”


“Untuk?”


“Kamu membelikanku pusat perbelanjaan itu! Sayang, itu mahal sekali.”


“Hem….kamu harus membayarku untuk itu.”


“Emir! Kamu tidak ikhlas, memangnya berapa harga gedung itu? Bukankah itu juga termasuk menghabiskan uangmu? Benar kan? Kenapa aku harus membayarnya? Kan kamu yang memintaku menghabiskan uangmu!” Arimbi memprotes dan mencoba mengakali Emir.


“Aku tidak butuh uang sebagai bayarannya. Dan pembelian gedung itu tidak termasuk dalam perjanjian kita hari ini. Itu aku beli bukan kamu yang membeli. Jadi kamu gagal menghabiskan uangku hari ini. Hukumanmu tidak boleh ditawar-tawar.”


“Heh? Lalu maunya apa? Emir, aku lelah sekali. Ayo tidur, anakku mengantuk!”


Arimbi hendak melepaskan diri dari pelukan Emir tapi pria itu tidak membiarkannya begitu saja. “Apa begini caramu berterima kasih, hem? Arimbi, ingat hukumanmu.”


“Sayang, bisa tidak kalau hukumannya hutang dulu? Tidak baik bagi ibu hamil menerima hukuman.”


“Oh ya? Kata siapa? Kamu sudah gagal hari ini dan hukuman keduamu karena kamu berhutang padaku. Apa kamu berniat ingkar janji?” ujar Emir. “Kamu sendiri yang memberi ide untuk menghabiskan uangku, kamu sendiri yang menerima tantangannya dan gagal. Kenapa sekarang kamu juga yang enggan menerima hukumanmu?”


“Emir sayang, aku lelah sekali hari ini. Aku sudah tidak punya tenaga. Anakku juga lelah dan sudah mengantuk. Malam ini libur dulu ya? Aku benar-benar mengantuk...hoaaammmm…...aku mau tidur.” dia langsung memejamkan matanya. Hanya dalam hitungan detik dia sudah pulas. Wanita ini!

__ADS_1


Emir menaikkan selimut lalu membaringkan tubuhnya dan memeluk Arimbi. Didalam hatinya pria itu menggerutu’Sepertinya wanita ini makin pintar mengelabui! Awas saja dia besok! Hehe...dia pikir bisa seenaknya mengacuhkanku hah? Masih ada hari esok Arimbi! Siap-siap saja kamu.’ bisiknya didalam hati. Perlahan dia pun menyusul istrinya kealam mimpi.


__ADS_2