
Samantha menatap Emir dengan hati berdegup kencang, pria dihadapannya ini terlihat semakin tampan dan gagah. Jauh berbeda dengan sebelumnya, auranya semakin kuat, sudah tiga tahun dia tidak melihat pria ini dan bukan keinginannya jika dia harus menghilang dari kehidupan Emir. Sejak awal perjodohan kedua keluarga memang Emir enggan dan tampak acuh.
Tapi Samantha menyukainya dan jatuh cinta, yang membuatnya bertahan serta bersaing dengan wanita lain yang berusaha mendekati Emir seperti Zivanna adalah saingan terberatnya waktu itu.
Tapi, bukan salahnya jika dia akhirnya menghilang tanpa kabar lagi. Karena Emir tidak bisa membahagiakannya, saat melihat dunia pria itu hancur begitu pula hati Samantha hancur.
Dia yakin tidak akan bisa menopang dunia Emir meskipun dengan berat hati dia mengikuti saran keluarganya untuk memutuskan hubungan dan meninggalkan Emir yang lumpuh. Ketika dia melihat Emir yang menatapnya sekilas dengan dingin, Samantha masih tak peduli.
Dia yakin kalau dia masih mampu mendapatkan hati Emir dan menikahinya. Wanita itu baru tiba dari luar negeri dan belum tahu jika Emir sudah menikah.
Saat Samantha tersenyum pada Emir dan menyapanya, “Selamat malam Tuan Emir. Akhirnya kita bertemu lagi. Apa kabarmu?”
Dengan penuh percaya diri Samantha tersenyum manis menghampiri Emir dan hendak berdiri didepannya namun, hati Samantha seketika retak dan hancur berkeping-keping saat dia melihat sosok wanita cantik yang langsung menarik perhatian semua orang.
Ekspresi wajah Emir yang tadinya dingin pun langsung berubah saat melihat wanita itu, wajahnya berseri dan tersenyum menyambutnya. Tanpa sadar Samantha menggenggam gelas ditangannya dengan erat.
Rasanya dia tak sanggup melihat Emir menatap wanita lain dengan tatapan memuja seperti itu. Dia hanya ingin tatapan itu untuknya, meskipun dulu Emir selalu menatapnya dingin.
Samantha tidak terima melihat Emir yang terlihat bahagia melebihi dirinya, dia mengamati wanita cantik yang langsung dipeluk oleh Emir sambil mengecup keningnya. Perlakuan Emir itu membuat hati Samantha kembali remuk hingga berkeping-keping. Dia mengingat dulu Emir bahkan tidak pernah banyak bicara padanya dan menolak untuk pergi berkencan.
“Sayang, aku mencarimu sejak tadi. Ternyata kamu disini. Siapa ini?” tanya Arimbi melirik Samantha.
Emir hanya melirik Arimbi tanpa menjawab, namun Arimbi tahu kalau Emir enggan berbicara dengan wanita itu. Jadi dia memutuskan untuk memperkenalkan dirinya, “Hai, aku Arimbi Serkan. Istri sah Emir Serkan! Kamu temannya suamiku ya?”
__ADS_1
Samantha terdiam dan syok mendengar ucapan Arimbi. Dia bertanya-tanya didalam hatinya kapan Emir menikah? Kenapa dia tidak tahu tapi dia berusaha menenangkan hatinya dan bersikap biasa saja dan tersenyum pada Arimbi lalu mengulurkan tangannya. “Salam kenal. Namaku Samantha.”
Arimbi menjabat tangan wanita itu sekejap dengan tetap tersenyum. “Aku sudah mengenalnya. Aku banyak mendengar tentangmu.”
Emir merasakan hawa ketegangan diantara kedua wanita itu dan dia merasa tidak nyaman karena dia tidak mau Arimbi salah paham yang berujung istrinya itu merajuk dan mendiamkannya beberapa hari.
“Oh aku tidak tahu kalau kamu mengenalku. Very interesting!” kata Samantha mulai menunjukkan sikap angkuhnya pada Arimbi. “Sudah berapa lama kalian menikah?”
“Oh masih baru. Kira-kira dua bulan yang lalu, dan aku sangat beruntung karena langsung hamil!” sengaja Arimbi menekankan perkataan itu. Dia pun bisa melihat perubahan wajah Samantha, tapi langsung normal kembali.
‘Huh! Pandai akting juga perempuan ini. Kenapa semua wanita yang mengejar Emir semuanya pandai berakting ya?’ bisik hati Arimbi.
“Oh begitu? Selamat ya untuk kehamilannya semoga lancar.”
“Ehemmm…..belum. Aku masih setia menunggu cinta sejatiku. Aku bukan tipe wanita yang bisa dengan mudah berpaling.” ucap Samantha menyindir.
Arimbi membalas dengan tenang, “Jodoh itu tidak ada yang tahu. Kadang kita baru kenal langsung merasa cocok dan langsung menikah, seperti kami. Iyakan sayang?” ucap Arimbi yang langsung dijawab Emir dengan anggukan kepalanya seraya tersenyum menatap istrinya itu. Lagi-lagi dia mengecup kening Arimbi membuat Samantha semakin panas.
Wanita itu mengepalkan tangannya, bibir tipisnya mengatup rapat tak tahu mau berkata-kata lagi. Samantha sudah tak tahan lagi melihat kemesraan pasangan itu. Mengingat bagaimana dia dulu mengejar Emir dan melakukan apapun untuk mendapat sedikit saja perhatiannya namun wanita yang kini menjadi istri Emir tampak mendapatkan hati Emir dalam sekejap.
Arimbi mengeratkan pelukannya dilengan Emir karena dia melihat gelagat Samantha yang sepertinya hendak menyerangnya. Tak terduga, dugaan Arimbi benar! Tiba-tiba Samantha menyerangnya dan mengarahkan ke perutnya namun Arimbi memiliki refleks yang cepat dan menarik Emir kesebelah kanan sehingga Samantha terjungkal dan jatuh dengan wajah menyentuh tanah.
__ADS_1
“SAMANTHA!” teriak Emir penuh amarah. Para tamu pun berdatangan mendengar teriakan Emir yang kencang. Bahkan para pengawal Emir pun berlari mendekat untuk melindungi atasannya itu.
“Seret perempuan ini! Beri dia pelajaran karena ingin mencelakai istriku!”
“Tidak! Kamu salah paham. Aku tidak bermaksud seperti itu.” ujar Samantha yang malu melihat kerumunan orang.
Samantha berteriak sambil menangis, sepertinya dia kesal hingga tangisan yang mampu meredam semua kekacauan dihatinya. Dia merasa malu dan sakit hati, ini hari pertamanya kembali di kota ini dan dia sudah mendapatkan perlakuan seperti ini. Rino yang sudah dekat segera menarik tubuh Samantha. Wanita itu berteriak marah dan hal itu membuat keributan di pesta pernikahan itu.
Keluarga Lavani pun menghampiri ingin melihat siapa yang sudah mengacaukan dan membuat keributan di pesta itu. Orang-orang semakin tertarik melihat apa yang terjadi, mereka pun berkumpul dan memperhatikan Samantha yang terlihat kacau. Jenita, ibunya Samantha segera berteriak dan menarik putrinya dari cengkeraman para pengawal.
“Apa yang kalian lakukan pada putriku?”
Arimbi tersenyum dan memeluk Emir dengan mesra. Emir memeriksa tubuh istrinya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja.
“Didik anak anda supaya tahu sopan santun. Dia ingin mencelakai istriku dengan menendang perutnya! Istriku sedang hamil dan jika sampai sesuatu terjadi padanya maka aku akan memberi pelajaran pada putrimu dan keluargamu!” ucap Emir dengan marah.
“Emir sayang, aku baik-baik saja. Jangan khawatir aku kuat.” Arimbi memasang wajah memelas.
Emir menatap Samantha dan ibunya, dia tidak menyangka jika wanita itu demikian brutal ingin menendang perut Arimbi.
Sedangkan Samantha menatap Emir dengan tatapan terluka sambil sesenggukan. Tangisannya sangat memilukan dan Emir semakin jijik mendengar tangisan wanita itu.
“Kalian sudah membuat keributan dan kekacauan di pesta pernikahan ini. Lebih baik kalian pergi dari sini.” ujar Tuan Lavani menatap nyalang pada Samantha dan ibunya.
__ADS_1
Jenita membawa putrinya sambil memeluknya. Samantha sedih melihat Emir yang bahagia lebih dulu darinya dan tanpa dia. Dia juga sedih karena justru wanita itu yang telah merebut Emir bahkan mengandung anak pria itu.
Ditambah dengan kemarahan dan perasaannya yang campur aduk saat ini. Samantha tidak tahu mana yang mendominasi, yang pasti dia tidak bisa berpikir jernih saat ini dan ingin meneriaki Emir dan istrinya.