GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 214. KELICIKAN DION


__ADS_3

“Baiklah. Emir, ingat kata-kataku tadi ya. Kamu itu pria yang luar biasa jadi jangan pernah merasa rendah diri. Sampai kapanpun, dihatiku kamu adalah yang terbaik.”


Memangnya kenapa jika dia harus menggunakan kursi roda? Emir masih sangat hebat dalam pekerjaannya. Dion Harimurti bisa berdiri tetapi dia masih belum bisa mengalahkan Emir.


Saat dia teringat pria itu, telepon Arimbi berdering. Dan dia melihat bahwa itu panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Emir dengan matanya yang tajam melihat nomor itu dan ekspresi wajahnya menjadi gelap saat dia mengeram, “Ini nomor Dion Harimurti.”


“Hah? Dion Harimurti?” Arimbi hampir ingin membuang ponselnya. “Emir, kenapa Dion tahu nomor teleponku?” Setelah mengatakan itu, Arimbi merasa bahwa dia baru saja mengajukan pertanyaan yang sangat bodoh. Untuk seseorang yang memiliki kekuasaan dan status seperti Dion, mudah baginya untuk menemukan nomor telepon seseorang.


Kring….kring…..kring…..


Teleponnya masih berdering dan Arimbi tidak tahu apakah dia harus menjawabnya.


“Jawab!” kata Emir dengan suara rendah. Dengan hati-hati Arimbi memperhatikan ekspresinya. Wajah tampannya kaku sementara bibirnya mengerucut kencang dan tatapannya gelap. Itu adalah salah satu ekspresi asing yang tidak bisa dia baca.


“Aku menyuruhmu untuk menjawabnya.” nada suara Emir tiba-tiba menjadi lebih berat dan Arimbi pun buru-buru mengiyakan dan menjawab panggilan Dion.


“Halo?” Arimbi memaksakan dirinya untuk terdengar normal tanpa terpengaruh oleh ekspresi dingin Emir. Sebenarnya dia sangat enggan menerima telepon dari Dion. Dia tidak menyukai pria itu yang menurutnya sangat licik.


“Arimbi.” suara berat Dion terdengar melalui telepon. “Ini aku Dion.”


“Direktur Harimurti, apakah anda membutuhkan sesuatu?”


Dion bersandra kesisi belakang sofa dan menarik dasinya sebelum berkata, “Kakiku masih bengkak.”


“Bengkaknya masih belum berkurang?” tanya Arimbi heran. Padahal sudah beberapa hari berlalu.

__ADS_1


“Kamu menginjaknya terlalu keras.” ujar Dion lagi.


“Ehm….maaf. Aku tidak sengaja melakukannya.”


Dion berkata dengan dingin,”Kalau kamu sengaja menginjaknya, kamu pasti sudah kehilangan satu kakimu sekarang.”


Arimbi terdiam tak berani menjawab.


“Kokiku sedang cuti.” tiba-tiba Dion angkat bicara.


Arimbi pun langsung mengerti, “Apakah anda membutuhkan bantuanku untuk memesankan makanan?” sambil bicara, Arimbi mengutuk didalam hatinya. Benar-benar pria yang sangat licik!


Tak ada respon dari seberang telepon. “Direktur Harimurti, makanan apa yang anda suka? Beritahu padaku dan berikan alamatmu agar aku dapat memesankan makanan untukmu.” ujar Arimbi lagi.


“Nona Arimbi, saya mendengar bahwa keterampilan kuliner anda sangat bagus. Jadi datanglah dan masak makan malam untukku sekarang.” Dion akhirnya mengungkapkan permintaannya yang sungguh tidak masuk akal. Setelah memikirkannya untuk waktu yang lama, dia memutuskan untuk menguatkan dirinya dan bertindak seperti seorang bajingan.


Kalau tidak, Arimbi akan menjauh darinya. Jika dia ingin segera melihat anaknya maka dia harus secepatnya menyeret ibu anak itu ke sisinya terlebih dahulu. Dia sudah tidak sabar untuk mengikat Arimbi disisinya dan mendapatkan anak secepatnya. Sungguh pria yang tidak masuk akal dan gila.


Mendengar perkataan Dion Harimurti itu, membuat Arimbi terhenyak dan secara naluriah dia langsung menolak, “Direktur Harimurti, saya tidak bisa pergi dan memasak untuk anda saat ini. Jika koki anda meminta cuti, apakah tidak ada orang lain disana yang bisa memasak? Paling-paling saya hanya bisa membantu anda memesankan makanan. Maaf, saya sangat sibuk mengurus Emir dan tak punya waktu untuk yang lainnya saat ini.”


Arimbi tidak berani pergi memasak untuknya, Emir akan mencekiknya sampai mati. Lagipula, pria itu sangat tidak masuk akal memintanya untuk datang memasak! Setelah Dion terdiam sejenak dia menutup telepon tanpa sepatah kata pun. Namun Arimbi segera menerima pesan teks darinya. Ketika dia mengkliknya, ekspresinya menjadi bimbang lalu menghapus pesan itu.


Dion mengirimkan padanya foto atau lebih tepatnya potret bayinya. Bagaimana dia bisa menggambar penampilan bayi itu? Apakah dia memimpikan penampilan bayi mereka? Apakah dia juga bereinkarnasi seperti Arimbi? Pikiran Arimbi menjadi kacau.


Tapi dia masih ingat dengan baik, di kehidupan sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan Dion. Jika memang anak itu adalah milik Dion dan dia mengetahuinya kenapa dia tak pernah menemuinya sebelumnya?

__ADS_1


Arimbi menjadi bingung dan menggenggam ponselnya. Dia harus pergidan mencari Dion. Tidak! Dia tidak bisa melakukan itu karena dia telah bereinkarnasi dan dalam kehidupan sekarang dia belum dijebak oleh Amanda dan Reza. Jadi dia tidak hamil, kalaupun dia hami di kehidupan ini maka itu hanya anak Emir!


Di kehidupan ini, bayinya tidak ada hubungannya dengan dia. Dia tidak boleh tergoda oleh Dion atau dia akan jatuh kedalam perangkapnya. Pria itu sangat licik dan selalu berusaha mencari jalan untuk menjebaknya.


Arimbi agak ketakutan memikirkan ini sehingga dia ingin cepat-cepat hamil. Dengan begitu tidak akan ada jalan lain bagi pria itu untuk menjebaknya.


Memikirkan itu, Arimbi perlahan menjadi tenang dan mengutuk Dion Harimurti ribuan kali didalam hatinya. Tidak heran jika Dion layak menadi musuh Emir. Dia sangat licik dan jika dia kehilangan fokusnya sejenak, dia akan hancur!


Sejak tadi Emir menatap Arimbi, dan dia tidak melewatkan perubahan eskpresinya. Ketika Arimbi menunjukkan ekspresi yang rumit, dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun dan membiarkan ekspresinya bimbang. Dari eskpresi penuh konflik di awal hingga ekspresinya yang tenang sekarang seperti kereta luncur sebelum dia tenang.


“Emir, ayo kita pergi makan.” ajak Arimbi tanpa ekspresi padanya sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam saku.


Emir menatapnya dengan dingin. Melihat tatapan Arimbi yang terlihat jujur, Emir merasa patah hati. Jelas sekali kalau wanita itu mempunyai sesuatu yang disembunyikan darinya dan itu pasti terkait dengan Dion Harimurti.


Tetapi Arimbi berpura-pura bodoh seolah tidak ada yang terjadi, dan Emir merasa bahwa dia benar-benar telah meremehkannya. Saat itu mereka mendengar suara langkah kaki dan Beni masuk dengan dua lusin jepitan rambut yang diminta Emir dari gudang utama.


“Tuan Muda Emir….” begitu Beni masuk, dia menyadari ada yang tidak beres. Lalu dia segera berhenti karena tidak tahu apakah dia harus melangkah maju.


Apakah Nyonya Muda Arimbi membuat Tuan Muda Emir marah lagi? Rasanya Beni ingin berteriak pada Nyonya Muda-nya itu. Karena hanya wanita itu yang bisa mengacaukan suasana hati Emir yang berakibat fatal bagi semua orang.


“Bawa kesini!” Emir mengalihkan pandangannya dan berhenti menatap Arimbi.


Beni segera melangkah maju dan menyerahkan jepit rambut itu. Karena Emir yang meminta jepit rambut itu secara pribadi, orang-orang yang mengelola gudang utama memilih beberapa merek mewah dan mengumpulkan dua lusin jepit rambut terbaik untuk diberikan kepada Beni.


 

__ADS_1


__ADS_2