GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 67. EMIR MULAI BALAS DENDAM


__ADS_3

Sementara itu di gedung Serkan Global Group. Aslan memasuki kantor direktur. “Direktu Serkan!”


Emir sama sekali tidak mengatakan apapun dan tidak menengadah.


“Aku berhasil mengumpulkan inforasmi tentang pria itu.” ucapnya menghampiri Emir dan menyerahkan beberapa dokumen ditangannya, “Aku telah mendapatkan semua informasi yang ada.”


“Letakkan saja disana. Nanti aku akan periksa setelah aku lengang.” ucap Emir.


Kemudian Aslan meletakkan berkas-berkas itu disisi kanan Emir dan menyadari ada dua tikus kecil yang dipajang dengan posisi menarik perhatian. Aslan tahu kalau istri Emirlah yang membari dua hewan ini pada pria itu. Melihat Emir memperlakukan benda itu sangat baik berarti pria itu sangat menyayangi istrinya.


“Kamu tidak perlu memandangi tikus itu! Aku tidak akan memberinya pada siapapun!”


Aslan pun langsung tercengang mendengar ucapan Emir lalu menimpali, “Aku bisa beli sepuluh kotak berisikan tikus-tikus ini.”


“Ya memang. Tapi itu tidak akan sebanding dengan dua tikus yang kumiliki.” ujar Emir bangga.


Rino langsung merasa kalau atasannya ini sedang pamer istrinya ke Aslan yang saat ini masih bujang.


“Apa kita punya hubungan bisnis dengan PT. Kanchana?” tanya Emir dengan nada serius. “Lakukan sesuatu yang membuat mereka menanggung kerugian besar. Setelah itu sebarkan berita kalau PT. Kanchana telah menyinggung Serkan Global Group.”


“Baiklah.”


Aslan merasa penasaran kenapa dia tiba-tiba diperintahkan untuk melakukan itu tapi dia tidak bertanya lebih lanjut dan akan melakukan perintah Emir.


“Itu saja!” ucap Emir.


“Baiklah! Aku akan kembali bekerja sekarang. Apakah kamu ingin keluar akhir pekan ini?”


“Kakiku tidak berfungsi dengan baik. Aku tidak bisa bermain dengan kalian lagi. Pergi saja dengan yang lain, aku tak ingin merusak suasana hati orang-orang.” jawab Emir tanpa ekspresi.


Aslan melihat Emir meengeratkan genggamannya ke pena ditangannya. Aslan tahu kalau sebenarnya Emir sangat kesal dengan keadaannya sekarang. Tapi dia menolak untuk mengikuti nasihat dokter agar melakukan fisioterapi meski telah mendapatkan jaminan dokter kalau dia rutin melakukannya maka dia bisa sembuh dan berjalan normal kembali dalam waktu beberapa tahun.

__ADS_1


“Emir! Maukah kamu mengikuti saran dokter untuk melakukan fisioterapi? Kenapa kamu tidak mau mengambil kesempatan untuk sembuh? Sudah lama sekali sejak kamu bergabung untuk bermain golf, mendaki, menunggang kuda ataupun berselancar.”


Emir mengatupkan bibirnya dan tetap diam tak mau menanggapi ucapan Aslan.


“Sekarang kau punya istri dan sebuah keluarga. Kalau bukan untuk dirimu sendiri setidaknya pikirkan istrimu! Aku yakin dia ingin pergi belanja denganmu sambil berpegangan tangan.” bujuk Aslan.


Mendengar itu Emir langsung meletakkan penanya lalu menengadah menatap Aslan.


“Aku bisa pergi bersamanya dengan kursi rodaku!”


“Jika kamu bisa berjalan, kamu bisa merawat istrimu dengan baik.Tapi ini justru kebalikannya, malah dia yang harus merawatmu Emir! Meskipun kamu tak mengatakan siapa istrim tapi melihatmu memajang dua tikus kecil itu ditempat yang menonjol begitu seolah memberitahuku betapa pentingnya wanita itu bagimu! Pasti kamu berharap kamu bisa membuatnya bahagia bukan? Tapi sekarang bukannya merawatnya, situasimu hanya akan memperburuk keadaan istrimu. Akankah dia bahagia?”


Ekspresi Emir berubah menjadi buruk Arimbi telah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak keberatan dengan kelumpuhan Emir. Wanita itu bahkan bersedia menjanda selama sisa hidupnya.


“Emir! Tolong pertimbangkan dengan baik. Aku pergi sekarang.”


Aslan cukup bijak untuk tahu kapan harus berhenti.


...*******...


Mobil Amanda berhenti didepan Villa Golden, tapi dia tidak langsung turun dari mobilnya, Amanda melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada mobil lain sebelum memakai kacamata hitamnya dan sebuah topi lalu keluar dari mobil dengan tas Hermesnya.


Ketika sampai didepan pintu villa, dia kembali melemparkan pandangan ke sekeliling lalu menekan bel rumah setelah memastikan tidak ada seorangpun berada disana atau menguntitnya.


Seorang pelayan membukakan pintu. “Nona Amanda!” sapanya dengan senyum seorang penjilat. “Apakah nona ingin membawa mobilnya masuk?”


“Tidak perlu. Aku akan segera pergi.” kata Amanda. Dia lalu membuka tasnya mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah kemudian menyerahkannya pada pelayan itu. “Santi! Ini untukmu. Aku membelinya tadi di perjalanan ke kantor tapi aku sibuk jadi tidak bisa datang lebih awal kesini.”


Senyum Santi pun bersinar terang melihat hadiah dari Amanda. Dengan malu-malu dia berkata, “Terimakasih atas hadiah ini Nona Amanda. Tuan sudah menunggu Nona didalam.”


“Baiklah. Aku masuk dulu.”

__ADS_1


Ini adalah villa milik Reza, di villa ini dia sering bertemu dengan Reza secara sembunyi-sembunyi. Amanda pun memasuki villa itu sendirian.


Tak seperti rumah kediaman keluarga Kanchana yang banyak pelayan, disini hanya ada dua pelayan Santi dan Nita. Santi bertugas membersihkan rumah sedangkan Nita yang memasak.


Saat Amanda masuk dia terkejut melihat Reza tidak ada disana. Beberapa saat dia terdiam sebelum melangkah menaiki tangga. Tak lama kemudian dia sampai di depan sebuah kamar yang menghadap timur lalu mengetuk pintunya.


“Reza! Ini aku Amanda.” tapi tidak ada jawaban dari dalam. Amanda sedikit ragu-ragu lalu kembali mengetuk pintunya sekali lagi. Tiba-tiba pintu itu terbuka dan sebuah tangan menarik tubuhnya. Bibirnya langsung dilahap dengan posisi tubuhnya ditekan ke pintu. Sesi ciuman panas yang berlangsung lama. Setelah itu Reza mengusap wajah Amanda dan berkata, “Aku mencintaimu Amanda.”


Amanda menengadah dan menatap mata pria itu. Karena ciuman barusan dia terengah-engah. Dengan ekspresi menggoda dia memeluk tubuh Reza. Sikapnya itu membuat Reza ingin menciumnya lagi tapi Amanda menutup mulutnya dengan tangannya.


“Aku juga mencintaimu Reza!”


“Benarkah?”


“Apakah kamu mau aku menunjukkan hatiku?” tanya Amanda, matanya dipenuhi berbagai emosi.


Reza menarik tangan yang menutupi bibir Amanda lalu mencium bibirnya dengan kesal dan berkata, “Tapi kamu malah memintaku untuk menikahi Arimbi! Kamu tidak tahu betapa sulitnya harus berakting begitu agar terlihat natural dan menyakinkan.”


“Bukankah kamu menikmatinya? Hei kamu tak terbiasa dengan Arimbi yang berubah menjadi tidak menyukaimu ya?” ujar Amanda menerka-nerka.


“Aku hanya bersandiwara didepan orang tua angkatmu.” ucap Reza.


Amanda tak tertarik untuk melanjutkan percakapan itu karena akan merusak moodnya. “Mana luka-lukamu? Biar aku periksa.”


Reza mendorong Amanda dari pelukannya, “Ada banyak bekas cakaran diseluruh tangan dan kakiku! Anjing-anjing dirumah keluarga Serkan terlalu menakutkan!” ucapnya bergidik ngeri.


“Anjing-anjing itu tak menggigitku tapi saat pakaianku dirobeknya mereka meninggalkan banyak sekali bekas cakaran di tubuh dan leherku! Untungnya bekas cakaran dileherku tak begitu kelihatan kalau tidak aku takkan berani menampakkan diri.” kata Reza menjelaskan. Lalu dia mengelus wajahnya sendiri “Jika mereka berani mencakar wajahku, aku pasti akan membunuh anjing-anjing itu!”


 


 

__ADS_1


__ADS_2