
Arimbi merengut mendengar itu. Dia ingat insiden yang terjadi sehari sebelumnya ketika dia menatap wajah keras kepala Zivanna.
“Apa kamu masih marah karena aku kurang sopan ketika aku mengangkat teleponmu semalam Nona Lavani?” tanya Arimbi.
“Aku kira kamu sibuk sehingga tidak memikirkan insiden-insiden kecil seperti itu Nona Rafaldi! Aku hanya mau kamu keluar dari mobil sekarang juga dan menampar dirimu dua puluh kali. Satu pipi sepuluh kali. Dan kamu baru boleh minta maaf kepadaku seribu kali sebelum ku maafkan!”
“Jika kamu tidak mau, maka hukuman tamparan dua puluh kali tidak akan cukup. Aku akan memotong lidahmu dan aku berikan ke anjing-anjing.” ujar Zivanna memperingatkan lagi. Zivanna adalah wanita yang arogan, semua orang di kota ini tahu dia adalah wanita paling egois di dunia.
“Kamu tahu dimana kamu sekarang Nona Lavani? Beraninya kamu bersikap seperti itu disini? Memangnya orang tuamu disini untuk melindungimu?” tanya Arimbi.
“Kamu kira aku takut karena aku berada di Rafaldi group? Jika orang tuaku tahu begini caramu memperlakukanku, mereka akan mengikatmu dan memaksamu untuk meminta maaf paadaku.” ujar Zivanna dengan sombongnya.
“Oh, pantas saja kamu sombong sekali. Sepertinya memang sudah mendarah daging ya. Bahaya itu loh seperti penyakit yang sulit disembuhkan!” balas Arimbi.
“Apa kamu bilang? Ku hitung sampai tiga Arimbi! Jika kamu tidak keluar juga, aku tidak akan segan-segan lagi. Kamu kira aku tidak berani merusak mobilmu sebelum menyeretmu keluar?”
“Oh seperti itu ya? Silahkan saja rusakkan mobilnya. Ini mobilnya Amanda dan kamu harus menggantinya jika kamu merusaknya. Kebetulan Amanda ingin mobil baru.”
“Aku yakin dia pasti akan senang sekali dan menghargai kebaikanmu sebagai sahabatnya. Ayo rusakkanlah! Jangan cuma berani bicara saja! Aku menunggumu Nona Lavani!” Arimbi kembali memprovokasi Zivanna.
Dia menikmati mempermainkan wanita sombong itu. Jika Zivanna merusakkan mobil Amanda maka kedua sahabat itu pasti bertengkar. Bukankah sangat bagus kalau dia membalas mereka semua dengan cara membuat mereka saling menyerang satu sama lain. Dan Arimbi hanya duduk manis menonton pertunjukan menarik itu?
“Kau! Apa kamu takut padaku Arimbi? Makanya kamu sembunyi didalam mobil dan tak berani keluar?” Zivanna mencoba untuk menantang Arimbi lagi.
__ADS_1
Arimbi tertawa lalu menjawab, “Ah benar sekali! Aku takut sekali padamu Nona Lavani! Aku takut aku akan memukulmu balik dan membuatmu tidak bisa keluar rumah setelah itu. Wajah cantikmu itu mungkin akan butuh operasi plastik lagi nantinya. Ah, aku tidak mau wajahmu tambah rusak karena terlalu sering operasi plastik!” ucap Arimbi menyindir Zivanna yang wajahnya di operasi plastik.
“Beraninya kamu memukulku setelah membuatku marah Arimbi.” senggak Zivanna.
Arimbi sangat terhibur dengan kata-kata Zivanna dan dia tertawa dengan bahagia, “Hahaha kata-katamu konyol sekali Nona Lavani! Memangnya aku akan diam saja jika kamu memukulku? Aku tidak bodoh loh! Aku hanya takut tidak bisa menahan diriku sehingga merusak wajah plastikmu itu!”
“Keluar kau jahanam!” teriak Zivanna sangat marah karena Arimbi mengejek wajahnya.
“Sepertinya aku tidak salah bicara kemarin Nona Lavani. Kamu mungkin telah menyenangkan Tuan Emir dulu tapi apakah kamu mau menikahinya sekarang jika dia mau? Karena kamu sudah menyerah padanya kenapa kamu masih mengurusi urusan kami?”
“Karena dia baik padaku ya? Memangnya kamu itu siapa sih? Bukan siapa-siapanya Tuan Emir! Bahkan mengelap sepatumu pun kamu tidak pantas!” Arimbi bicara seakan-akan dia tidak melakukan apapun.
Dia hanya memancing emosi Zivanna sehingga wanita bodoh itu yang akan memulai menyerangnya. Jika itu terjadi maka Arimbi bisa membalas lebih kejam dan tak akan ada yang bisa menuduhnya memulai menyerang.
Zivanna bahkan meneleponnya hanya untuk memarahinya karena cemburu. Dan Arimbi hanya menjawab dengan santainya. Namun, Arimbi masih tersinggung dengan ucapannya kemarin. Sekarang Zivanna bahkan mengejarnya untuk menyelesaikan semua ini.
Zivanna adalah tipikal wanita egois yang tidak mau wanita lain memakai sampah yang dia buang. Namun Emir bukanlah sampah! Dia adalah manusia yang bernapas.
“Aku tidak peduli. Bagaimanapun caranya, aku tidak mau Tuan Emir baik pada wanita lain! Walaupun dia jadi cacat dan mandul, aku masih mau dia memperlakukanku seperti tuan putri.”
“Siapapun yang mendapat perlakuan baik darinya adalah musuhku!” tegas Zivanna. “Jika kamu memang pintar, keluar kamu dari kediaman Keluarga Serkan! Kamu harus janji tidak pernah melihat Tuan Emir lagi selamanya. Kamu harus menolak semua kebaikannya meskipun dia baik padamu! Michele piawai mendesain gaun malam dan dia jarang sekali mendesain pakaian sehari-hari.”
“Jika aku harus memohon padanya untuk membuat desain baju sehari-hari untukku, bagaimana wanita kampungan sepertimu dapat empat puluh set pakaian untuk dirimu sendiri?” amarah Zivanna semakin meluap-luap dan ekspresi wajahnya semakin masam karena cemburu.
__ADS_1
Jika Arimbi memohon pada Michele untuk mendesain empat puluh set baju itu sendiri, Zivanna tidak akan secemburu ini. Tapi Emir yang meminta dan itulah yang membuatnya tidak terima dengan semua ini.
Kecemburuan Zivanna seperti gelombang pasang dasyat yang menerpa Arimbi dan menenggelamkannya.
“Ehm, karena gadis kampung seperti aku bisa dapat empat puluh set baju dari Michele. Apakah kamu mau membeli separuhnya dariku? Baju-baju desain Michele memang ekslusif, apakah satu milyar sepotong cukup? Murah kan?” Arimbi ingat ketika dia pergi ke M&J Butik untuk membeli gaun malam untuk ulang tahun Zivanna, dan membayar ratusan juta hingga milyaran untuk satu gaun.
Harga itu cukup murah! Aku tidak menyuruhnya untuk membayar lebih walaupun dia adalah sainganku. Ekspresi wajah Zivanna menggelap ketika dia mengeram, “Keluar kau ******! Kau kira aku mau baju-bajumu itu?”
“Oh, tidak mau ya? Memangnya kenapa? Baju-baju itu pilihan Emir loh!” ujar Arimbi tersenyum.
“Kamu takut ya?”
“Iya. Aku sudah bilang kan? Aku takut padamu Nona. Kamu adalah putri kesayangan Keluarga Lavani yang terkenal. Gadis kampungan sepertiku bukanlah apa-apa jika dibandingkan denganmu. Makanya aku takut sekali. Aku takut hingga berkeringat dingin Nona Lavani!”
“Pindahkanlah mobil itu. Aku sedang terburu-buru dan kamu sudah membuang waktuku dengan marah-marah tidak jelas disini.” Arimbi berharap semoga Rino tidak datang. Habis dia kalau sampai pengawal itu datang.
“Beraninya kamu Arimbi! Berbohong didepan mataku. Kamu kira aku takut untuk menyeretmu keluar?” teriak Zivanna lebih kencang.
“Oh silahkan saja! Anda adlaah wanita terhebat nona.” balas Arimbi. Zivanna tercengang, dia selalu menganggap dirinya punya mulut tajam tapi dia masih kalah ketika harus bersilat lidah dengan Arimbi.
Arimbi ini tidak punya malu, pikir Zivanna. Lalu dia mengayunkan tangannya. Plak! Telapak tangan Zivanna mengenao kaca mobil. Arimbi tidak tahu apakah tangannya sakit tapi dia tahu kalau kaca mobilnya pasti kesakitan.
Setidaknya kaca itu tidak rusak, pikirnya. Nona Lavani tidak cukup kuat untuk merusak kaca mobilku hanya dengan satu tamparan saja.
__ADS_1