GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 239. ARIMBI HAMIL


__ADS_3

Emir berusaha berjalan menghampiri Arimbi yang pingsan. Dia memeluknya dan menepuk-nepuk lembut pipinya. Tapi tidak ada reaksi apapun, pintu ruang kerjanya terbuka dan terlihat Rino datang bersama Aslan. Kedua pria itu terkejut melihat Emir memeluk Arimbi di lantai.


“Tuan----”


“Cepat bantu kami! Dia pingsan.” ujar Emir dengan cemas. Dia mengutuki dirinya atas apa yang baru saja terjadi.


“Saya akan panggilkan dokter sekarang.” ujar Aslan yang kebingungan.


Sedangkan Rino berusaha membantu Emir berdiri tanpa melepaskan pelukannya pada Arimbi. “Tuan---biar saya bantu….”


“Jangan sentuh istriku! Cepat bantu aku ke kursi rodaku!” perintahnya masih tetap memeluk Arimbi. Rino segera memanggil pengawal lainnya yang berada diluar. Saat mereka datang, mereka langsung membantu Emir duduk di kursi roda dengan Arimbi berada dalam dekapannya.


Rino memijit pelipisnya, apa yang terjadi? Kenapa nyonya mudanya sampai pingsan? Padahal tadi dia melihat betapa berenerginya Nyonya Mudanya itu saat berkelahi dengan Zivanna.


Rino mendorong kursi roda kearah sofa, lalu membantu Emir membaringkan Arimbi di sofa. Keringat dingin memenuhi keningnya saat dia mengangkat tubuh Arimbi dan membaringkannya di sofa.


Rasa sakit di kakinya tidak dipedulikannya lagi, dia sangat mengkhawatirkan kondisi istrinya itu. Selama ini dia melihat Arimbi adalah sosok wanita yang kuat. Tapi kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan? Apakah aku terlalu keras padanya? Pikir Emir.


 'Arimbi! Aku mohon, jangan buat aku takut! Arggg....kalau kakiku tidak lumpuh aku bisa mengejarnya.' gumam Emir didalam hatinya. Dia tak henti-hentinya mengutuki dirinya yang tak sempat menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka.


Tak lama, suara ketukan di pintu terdengar dan pintu terbuka. Aslan datang bersama dokter Sammy yang tiba-tiba dihubungi Aslan untuk segera datang. “Biar aku memeriksanya dulu. Kenapa dia bisa pingsan? Apa yang terjadi?” tanya dokter sammy.


Emir malah memelototinya. “Kan kamu dokternya! Cepat periksa! Pakai sarung tanganmu! Jangan sentuh istriku sembarangan! Aslan….lain kali kamu panggil dokter perempuan untuk istriku!” ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya kesal.


Tak mau membuat pria itu marah, dokter Sammy langsung mengenakan sarung tangan. Mengingat dia tidak boleh menyentuh Arimbi, dia melirik Emir dan berkata, “Bisa bantu aku memegang tangannya? Aku mau cek denyut nadinya.”


Emir menuruti apa yang dikatakan dokter Sammy. Toh ini lebih baik, dokter itu tidak akan menyentuh Arimbi. Lalu Dokter Sammy kembali melirik Emir dan berkata, “Bisakah kamu angkat sedikit kemejanya. Biar aku bisa meletakkan stetoskop ini di perutnya?”

__ADS_1


“Sini stetoskopnya! Aku saja yang meletakkan diperutnya!” lalu Emir mengambil ujung stetoskop dan meletakkan diperut Arimbi sementara Dokter Sammy terlihat mengeryitkan dahinya.


“Sudah,” ucapnya. Lalu dia mengambil minyak kayu putih dan mengarahkan ke hidung Arimbi tapi sebelum dia sempat melakukannya Emir sudah merebut dari tangannya.


Tanpa banyak bicara, dia mengarahkan minyak kayu putih ke hidung Arimbi. Tak lama dia melihat mata wanita itu bergerak-gerak dan terbuka perlahan. “Ehm…...”


“Sssstt…..jangan bergerak dulu. Kamu tadi pingsan.” ucap Emir dengan lembut. Lalu dia menoleh pada dokter Sammy dengan sorot mata meminta penjelasan.


“Tuan Emir, saya sarankan untuk membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.”


“Kenapa? Memangnya dia sakit apa sampai pingsan begitu?” tanya Emir ketus.


“Ehm….ini baru dugaanku saja. Tapi untuk memastikannya, lebih baik pergi kerumah sakit.”


“Cepat katakan dia kenapa?” uhar Emir marah.


“Tuan Emir, kemungkinan dia hamil!” ucap dokter Sammy.


“Apa? Apa kamu bilang barusan?”


“Dia hamil! Lebih baik membawanya kerumah sakit untuk pemeriksaan lengkap. Kondisinya lemah, takutnya nanti akan berpengaruh pada kandungannya.” ucapnya lagi.


Emir masih tidak percaya apa yang didengarnya, tapi saat itu juga dia segera memerintahkan Rino untuk membantunya membawanya dan Arimbi kerumah sakit.


“Ehm…..aku kenapa?” tanya Arimbi lemah. Kepalanya masih terasa pusing dan matanya berkunang-kunang.” dia tetap memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya.


“Ssshhh…..mana yang sakit? Kita kerumah sakit sekarang. Kamu tenang saja ya.” ujar Emir dengan nada penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Arimbi.....bagaimana perasaanmu?"


Wanita itu diam saja karena kepalanya pusing dan diamasih marah pada Emir. Samar-samar dia sempat mendengar peekataan dokter tadi.


"Aku kenapa?"


"Kamu tenang dulu ya. Kita sedang perjalanan kerumah sakit."


Rombongan iring-iringan mobil Emir meninggalkan gedung perusahaannya. Dokter Sammy mengikuti mereka menuju kerumah sakit miliknya. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ke ruang dokter spesialis kandungan.


Seorang dokter wanita menyambut mereka dengan senyum. Dia sering mendengar tentang Emir, dan ini pertama kalinya dia melihat pria tampan itu. Setelah membaringkan Arimbi diatas ranjang rumah sakit, dokter itu mulai melakukan pemeriksaan.


Segaris senyum menghiasi wajahnya lalu menoleh kearah Emir dan berkata, “Tuan Emir, wanita ini hamil. Dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ketiga.”


“Oh….” hanya itu yang keluar dari bibirnya karena dia tidak tahu harus berkata apa saking senangnya.


“Sebelumnya maaf, apakah dia adalah----”


“Dia istriku! Tolong rahasiakan ini. Tidak ada yang boleh tahu tentang ini. Soal kehamilan istriku, jangan sampai bocor! Jika sampai itu terjadi…..” ucap Emir memotong perkataan dokter itu.


“Baiklah Tuan. Jangan khawatir, saya akan merahasiakannya.” lalu dokter itu menatap Arimbi. Dia merasa betapa beruntungnya wanita ini bisa menikahi pria itu. Tapi…..dia tiba-tiba teringat sesuatu! Bukankah beredar rumor kalau Tuan Emir itu impoten? Tapi sekarang dia sudah menikah dan istrinya sudah hamil?


Meskipun dokter perempuan itu ingin tahu tapi dia tidak berani menanyakannya. Lalu dia berkata pada Arimbi, “Nyonya, selamat ya. Anda hamil, saya akan meresepkan beberapa vitamin dan penguat kandungan. Saya harap nyonya jangan terlalu lelah.”


“Hah?” hanya itu reaksi Arimbi. Dia benar-benar terkejut mendengar perkataan dokter itu. Dia melirik Emir yang juga menatapnya tapi Arimbi masih marah pada suaminya itu. Mendengar berita kalau dia sedang hamil, dia merasa gembira dan berteriak didalam hatinya! Memangnya kenapa kalau Emir menyukai Zivanna?


Sekarang dia sedang hamil anaknya Emir! Posisinya di keluarga Serkan akan semakin kuat! Memangnya siapa yang akan berani menyingkirkannya sekarang? Wah ini sungguh kejutan luar biasa! Arimbi mengerucutkan bibirnya menatap Emir, dia masih marah dan tak akan semudah itu memaafkan suaminya itu. Dia harus memberinya pelajaran.

__ADS_1


Setelah dokter memberikan resep pada Emir dan pria itu menyuruh Rino menebus resep di apotik rumah sakit. Dokter itu menyerahkan foto USG kepada Emir. Arimbi masih diam saja tak mengatakan apapun sehingga membuat dokter itu bertanya-tanya. Apa nyonya muda ini sedang marah? Ah mungkin ini pengaruh kehamilannya, pikirnya.


 


__ADS_2