
Sambil menghentakkan kakinya dengan kesal Rania bergegas masuk kedalam villa dan memanggil pelayan untuk membantu mengemasi semua barang-barangnya. ‘Huh! Semakin belagu dan banyak tingkah perempuan desa itu! Kalau bukan karena ancaman ibu, aku tidak akan mau pulang! Ck! Ngidam kok minta mertua masak!”
Tak sampai lima belas menit semua barang sudah dikemas dan para pelayan membantu memasukkan koper milik Rania kedalam mobil. Setelah semuanya selesai, Rania dan Alarik pun masuk kedalam mobil. “Kita kembali ke rumah.” ucap Alarik kepada supirnya. “Ambil jalur alternatif supaya cepat sampai dirumah.”
“Baik Tuan.” ucap si supir melajukan kendaraan.
“Jangan memasang wajah cemberut seperti itu, tidak baik.” ucap Alarik saat melihat wajah Rania yang mengkerut kesal. “Ingat, menantu kita sedang mengandung cucu, calon penerus keluarga Serkan! Kamu dulu waktu mengidam juga suka minta yang aneh-aneh.” sindir Alarik.
“Wajar kalau dulu aku begitu. Aku menantu pilihan keluargamu dan diterima baik oleh seluruh keluarga Serkan. Nah, Arimbi? Ibumu saja tidak menyukainya! Apalagi aku?”
“Lalu siapa yang kamu suka jadi menantumu, hah? Zivanna? Ternyata tidak sebaik yang kamu kira selama ini. Memalukan dan doyan gonta ganti pasangan, hidupnya bebas. Untung saja dulu Emir menolaknya mentah-mentah.”
Rania pun terdiam dan melemparkan pandangannya ke luar jendela. “Masih banyak gadis dari keluarga kaya lainnya dengan status baik yang cocok untuk Emir.”
“Dimana mereka semua selama ini? Anakmu cacat, semuanya pada lari! Sekarang Emir sudah normal dan bisa berjalan seperti biasa, pastilah semua mau menikah dengannya! Tapi disaat dia berada dititik terendah di hidupnya hanya Arimbi yang mau menerimanya!”
“Jika bukan karena Arimbi, kamu pikir Emir bisa berjalan seperti sekarang? Arimbi yang selama ini menyemangatinya untuk meneruskan terapi! Seharusnya kamu bangga mendapat menantu sebaik itu, jangan pandang dia berasal darimana. Bagaimanapun dia tidak bersalah karena dibesarkan didesa. Tak ada seorangpun yang mau berada di posisi Arimbi, tertukar waktu bayi.”
“Bagaimana pun dia adalah putri kandung dan pewaris keluarga Rafaldi! Dan Arimbi juga punya karakter yang baik meskipun dia sedikit bar-bar dan tidak tahu malu. Setidaknya dia tidak memakai topeng kepalsuan seperti gadis-gadis kaya yang selama ini kamu bawa untuk dikenalkan pada Emir.”
Rania tak bisa berkata-kata lagi, dia terdiam dan hanyut dalam pikirannya. Entah mengapa dia sangat membenci Arimbi dan sekarang kebenciannya semakin memuncak setelah mendapat telepon dari mertuanya yang memintanya segera pulang untuk memasakkan makanan untuk Arimbi.
“Sepertinya dia sengaja membuat permintaan seperti itu! Dia ingin membalas dendam padaku dengan memintaku untuk masak untuknya! Kenapa ibu jadi ikut-ikutan?” geram Rania pelan namun masih bisa didengar oleh Alarik.
“Karena ibu masih punya akal sehat! Sebenci apapun dia pada Arimbi, anak dalam kandungannya adalah darah daging keluarga Serkan! Dan Emir menyayangi istrinya.”
__ADS_1
“Cih! Dia pasti pakai guna-guna untuk meluluhkan hati anakku itu! Emir yang sejak dulu dingin pada wanita bisa tunduk dengan mudahnya pada perempuan itu. Kalau anaknya sudah lahir, ambil saja anaknya dan usir dia. Berikan yang berapapun yang dia mau!”
“Rania! Jaga bicaramu! Aku lebih memilih mengusirmu daripada mengusir Arimbi! Setidaknya dia jauh lebih berguna daripada kamu!” ujar Alarik dengan ketus.
“Apa? Jadi kamu berniat mau mengusirku? Iya begitu?” Rania pun meneteskan airmata, hatinya sakit akibat dibentak oleh suaminya. Selama pernikahan mereka, tak pernah sekalipun Alarik memarahinya.
Tapi baru saja suaminya membentak dan memarahinya untuk pertama kalinya. Dan semuanya karena Arimbi, apa sih hebatnya perempuan itu sampai semua orang membelanya? Tidak Elisha, tidak Emir, tidak Agha…..menyusul Layla Serkan mertuanya dan sekarang suaminya ikut-ikutan membela Arimbi.
Rania mengepalkan tangannya menahan kekesalan dan amarah.
Tiga jam kemudian mereka pun tiba di kediaman keluarga Serkan. Begitu mobil sampai di depan pintu masuk utama tampak Yaya dan pelayan sudah menyambut mereka.
“Selamat datang kembali Tuan, Nyonya.”
“Tolong angkat koper dari mobil dan bawa ke kamar.” ucap Alarik sedangkan Rania bergegas masuk kedalam rumah tanpa menyapa kepala pelayannya.
“Kenapa kamu berjalan seperti itu?” tanya Layla Serkan pada menantunya.
“Bu, apakah benar perempuan desa itu memintaku memasak?”
“Iya. Memangnya ada masalah?” tanya Layla Serkan menatap Rania yang terlihat sangat kesal.
“Dia sedang mengandung dan ingin makan masakanmu. Makanya aku menelepon dan memintamu segera pulang. Tidak baik jika tidak memenuhi keinginan wanita hamil.” ucapnya lagi.
“Bu, apa menurut ibu ini tidak keterlaluan? Seenaknya saja dia menyuruh-nyuruh! Biar koki saja yang memasak dan katakan padanya kalau itu aku yang masak.” ucap Rania mencari alasan untuk tidak memasak. Dia tidak suka karena mengira Arimbi sengaja meminta pada Layla.
“Apanya yang keterlaluan? Kenapa kamu malah kesal begitu?”
__ADS_1
“Ini pasti akal-akalannya saja untuk membalas dendam padaku, Bu. Dia tahu aku tidak menyukainya.”
“Rania! Cukup! Cepat ke dapur dan mulailah memasak. Setelah itu kita pergi menemui mereka di hotel. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama, lagipula aku sudah memberitahu Emir barusan.”
Rania tak ada pilihan setelah suami dan ibu mertuanya memelototinya dengan marah. Rania pun pergi kedapur dan mulai memasak.
Tidak sampai disitu saja, Layla Serkan bahkan masuk ke dapur hanya untuk mengecek makanan yang dibuat Rania. “Jangan ada seafood, tidak baik untuk kandungannya. Tidak boleh terlalu pedas, Arimbi suka asam manis.” ujar Layla Serkan.
Rabia mendengus bertambah kesal. Dia heran darimana mertuanya itu tahu makanan kesukaan Arimbi? Dia pun akhirnya bertanya, “Bu, darimana ibu tahu makanan kesukaan perempuan desa itu?”
“Siapa yang kamu maksud?” tanya Layla Serkan.
“Siapa lagi bu kalau bukan perempuan yang dinikahi Emir?”
“Arimbi! Arimbi Rafaldi, itu namanya! Kenapa kamu tidak mau menyebut namanya? Ck!”
“Kenapa sekarang ibu banyak berubah? Jangan bilang kalau ibu sudah menerima Arimbi di keluarga ini.” ujar Rania. “Apa benar begitu bu?” tanya Rania menatap mertuanya dengan serius.
“Dia sudah menikahi Emir secara resmi. Artinya dia adalah istri sah Emir dan sekarang dia sedang mengandung penerus keluarga Serkan! Apa kamu mau menendangnya dari sini, hah?”
“Bu—bukan begitu maksudku bu. Dia tidak pantas jadi bagian keluarga ini.”
“Rania! Pantas tidak pantas bukan urusan kita! Dia sudah membantu Emir kembali normal. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih untuk itu. Cepat selesaikan masakannya. Jangan terlalu lama, setelah itu kamu antarkan ke hotel. Mereka sedang berada disana untuk beberapa hari.”
Layla Serkan keluar dari dapur dan berjalan menuju ke kamarnya. ‘Kenapa semuanya harus diributkan? Beruntung bisa langsung hamil, setidaknya keluarga ini akan segera punya penerus! Setidaknya dia tidak seburuk Nona Lavani dan wanita lain yang memalukan.’ gumam Layla didalam hatinya.
Dia pun segera bersiap-siap ingin pergi menemui Emir karena ada hal yang ingin dia bicarakan dengan cucunya yang sudah sekian lama tidak bertemu dan berbicara. Meskipun mereka tinggal di lingkungan yang sama namun Emir tidak pernah pergi ke rumah utama untuk menemui neneknya. Sejak kejadian Layla Serkan yang merundungi Arimbi, Emir tak pernah mau bertemu dengan neneknya lagi.
Hal ini menjadi dilema bagi Layla Serkan karena dialah yang membesarkan dan mendidik Emir sejak kecil. Layla berusaha untuk mencoba berdama dengan cucunya agar hubungan mereka tidak semakin renggang. Bagaimanapun dia ingin dilibatkan saat kelahiran cicitnya nanti.
__ADS_1