GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 226. MENEMUI DION


__ADS_3

Dengan alat pancing ditangannya, Arimbi berjalan kearah pintu keluar lalu berbalik dan menatap Amanda. “Apa aku bisa meminjam mobilmu? Aku diantar supir keluarga Serkan setiap hari jadi aku tidak membawa mobilku sendiri. Dan supir itu juga sudah pulang, dia akan datang menjemputku setelah jam kerja.”


Dia tidak menyangka jika ada undangan dari Jordan untuk pergi memancing yang datang lebih cepat dari prediksinya. Ini bahkan belum akhir pekan pikir Arimbi. Jordan pasti memiliki banyak waktu luang didalam perusahaannya.


Atau pria itu memang sengaja meluangkan waktu dan mengundangnya? Meski begitu Arimbi harus mengakui bahwa PT. Libra Elektroindo melesat tinggi saat berada ditangan Jordan.


Ditambah lagi, Jordan telah mendapatkan kepercayaan orang-orang kantor pusat, sampai-sampai setiap langkah yang dia ambil adalah jalan perusahaan dan setiap ucapannya adalah hukum perusahaan.


Tiba-tiba Arimbi teringat sesuatu, Emir suaminya.  Ah, aku harus memberi kabar pada Emir agar dia tidak khawatir dan cemburu nanti mana tahu dia melihatku dengan Jordan.


Setelah memikirkan permintaan Arimbi sejenak, meskipun dengan rasa heran kenapa keluarga Serkan memberikan supir pribadi untuk Arimbi tapi akhirnya Amanda memberikan kunci mobilnya kepada Arimbi. “Hati-hati dijalan. Ibu sudah memberitahuku bahwa kamu sudah dua kali terlibat dalam kecelakaan mobil.”


“Itu tidak benar. Yang benar hanya sekali saja.” ujar Arimbi. Saat orang-orang melihat bagaimana dia balapan mobil dan selalu menang, tidak ada apapun yang terjadi saat itu. Hanya aksinya waktu itu dia baru menabrak pohon dipinggir jalan. Memikirkan tabrakan itu, Arimbi menjawab, “Baik. Aku akan berhati-hati.” setelah itu Arimbi mengambil kunci mobil Amanda dan pergi.


Didalam mobil dia meraih ponselnya lalu menghubungi Emir. Saat itu Emir sedang berada dipertemuan saat ponselnya berdering membuat semua yang hadir saling pandang karena mereka tahu Emir melarang keras membawa ponsel saat rapat. Dia melirik layar ponselnya dan itu adalah Arimbi yang meneleponnya.


Emir segera mengangkat panggilan itu karena dia khawatir jika Arimbi mengalami masalah. “Halo, sayang. Apa kamu sedang sibuk sekarang? Maaf mengganggumu.”


“Kamu memang sudah menggangguku. Ada apa?”

__ADS_1


“Kamu sedang apa? Hem, begini! Jordan memintaku untuk pergi memancing jam sepuluh nanti. Aku belum tahu dimana lokasinya. Aku hanya akan ikut bersamanya jadi kurasa aku harus memberitahumu.”


“Hem...” hanya itu saja yang keluar dari bibir Emir. Dia tidak masalah jika Arimbi pergi karena berhubungan dengan pekerjaan. Lagipula Jordan adalah manajer di anak perusahaan miliknya.


“Emir sayang. Apa kamu marah? Kalau kamu tidak setuju, aku tidak akan memenuhi undangannya. Tapi ini ada hubungannya dengan kontrak kerjasama itu, aku ingin mendesaknya nanti untuk segera menandatangani.”


“Aku tidak marah.” jawabnya.


“Baiklah. Ehm, ada satu hal lagi. Bagaimana menurutmu jika aku menemui Dion di kantornya. Sampai saat ini Joana masih belum kembali. Aku ingin menegaskan padanya kalau dia tidak bisa menggunakan temanku untuk menekanku! Aku tidak akan pernah bersamanya! Sayang, dia harus tahu batasannya.


Emir mengeratkan genggaman diponselnya, dia merasa cemburu dan tak rela jika istrinya menemui pria lain. Tapi apa yang dikatakan Arimbi ada benarnya, jika Dion menggunakan Joana untuk menekan Arimbi maka sudah saatnya Arimbi bersikap tegas pada pria itu agar tahu batasannya. Meskipun didalam hatinya dia tidak rela tapi Emir akhirnya mengijinkan karena dia percaya pada istrinya.


...******...


“Direktur Harimurti. Arimbi Rafaldi dari Rafaldi Group ingin bertemu dengan anda.” suara dari interkom terdengar setelah Dion mengangkat panggilan itu.


Karena adanya diskusi mengenai kolaborasi antara Harimurti Group dan Rafaldi Group, sekretaris Dion berpikir mungkin Arimbi datang untuk membahas bisnis. Mendengar Arimbi yang ingin bertemu dengannya, mata Dio bersinar dan dia berkedip beberapa kali lalu menjawab interkom itu, “Antarkan dia masuk.”


Sekretaris laki-laki Dion mengantar Arimbi, tidak lama kemudian Arimbi sudah berada didepan pintu kantor Dion. Saat dia memasuki kantor itu, Arimbi terkejut saat melihat bahwa kantor Dion tidak terlalu jauh berbeda dengan kantor Dion. Jika tidak ada sekretaris yang menuntunya, dia akan berpikir kalau dia malah memasuki kantor Emir.

__ADS_1


Kenapa Dion memiliki selera yang sama dengan Emir?  Apa ini kebetulan belaka atau salah satu bentuk persaingan mereka? Pikirnya. Apa sebenarnya masalah Dion dengan Emir? Kenapa bisa sama persis semua yang disini dengan kantor Emir? Pikir Arimbi dalam hatinya. “Direktur Harimurti.” sapa Arimbi dengan sopan lalu menghampiri meja kerja Dion.


Dion mengisyaratkan sekretarisnya untuk memberi mereka privasi. Setelah sekretarisnya menutup pintu dan pergi, ruang kantor itu sekarang hanya ada mereka berdua.


“Silahkan duduk, Nona Arimbi.” ujar Dion dengan ekspresi datar. Tapi sebenarnya didalam hatinya merasa sangat senang dengan kedatangan wanita incarannya itu.


“Terima kasih Direktur Harimurti.” jawab Arimbi lalu duduk.


Sembarimenyeruput kopinya, mata Dion terpaku pada Arimbi yang pagi ini terlihat sangat cantik dari biasanya.


Dion mengamati wajah cantik didepannya yang memancarkan aura yang kuat dan wajah yang bersinar. ‘Apa yang berbeda dengan Arimbi? Kenapa dia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya dan auranya bersinar? Pikirnya.


Dia mengamati pakaian dan riasan Arimbi yang juga tampak sederhana seperti biasanya meskipun pakaiannya mahal. Tapi Dion merasa bukan itu yang mempengaruhi sesuatu yang berbeda dari Arimbi.


Arimbi yang sadar jika mata Dion sedari tadi mengamatinya mulai merasa tak nyaman akan tatapan darinya. Tapi dia tetap berusaha bersikap tenang lalu dengan sopan dia bertanya, “Direktur Harimurti, saya menjadi merasa ada yang aneh pada diri saya jika anda terus menatap saya seperti itu.”


“Jika anak kita adalah perempuan, dia mungkin akan terlihat mirip denganmu dan secantikmu.”


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Dion, Arimbi tidak bisa lagi tersenyum. Dengan raut wajah yang mulai ketat dan serius dia menarik napas beberapa kali sebelum bicara. Dia membenci pria ini dan sekarang dia lebih membencinya lagi.

__ADS_1


“Direktur Harimurti, saya sudah menjelaskan tentang masalah ini sebelumnya. Tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kita. Bahkan orang-orang yang anda sewa untuk memeriksaku pun iut membenarkan apa yang saya katakan. Kita tidak pernah memiliki anak dan tidak akan pernah!” ucap Arimbi kesal.


Lalu Dion meletakkan kopinya lalu mulai bicara dengan suara yang rendah dan dalam, “Sekarang mungkin belum. Namun bukan berarti kita tidak bisa punya nanti. Arimbi, tidakkah kamu rindu akan anakmu? Aku ingat betapa miripnya anak kita denganmu saat melihat wajahnya yang sangat cantik sepertimu dan lucu. Hatiku serasa melelh saat berpikir tentang betapa manis dan lucunya anak kita dulu.”


__ADS_2