
“Istriku seorang yang pemalu, aku khawatir dia akan takut pada sikap nenek dan itu akan membuatnya bermimpi buruk dan terbangun dimalam hari. Jika hal itu terjadi maka akan menggangu tidurku juga. Aku harap tidak nenek dan keluarga yang lain jangan pernah menakuti istriku. Jika marah atau mau protes, langsung saja padaku karena aku suaminya. Hanya aku yang berhak mendidik dan menegur istriku.” ujar Emir dengan tegas.
Sedangkan Layla Serkan hanya membuka lalu menutup kembali mulutnya beberapa kali ketika dia mencoba memikirkan kata-kata untuk diucapkan tetapi dia gagal.
Arimbi telah pindah cukup lama sekarang dan meskipun Layla tidak ikut campur urusan rumah tangga mereka,tetapi dia sadar bahwa Arimbi itu wanita pemberani dan berkulit tebal.
Hampir tidak mungkin Layla membuatnya takut hingga mimpi buruk.
“Nenek, apa masih ada hal lain yang ingin nenek katakan?” tanya Emir yang merasa sudah cukup memberikan penjelasan pada neneknya. Dia tidak mau istrinya dirundung oleh neneknya dan para tetua dikeluarganya.
Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan Arimbi bahwa dia akan memberikan kehidupan yang tenang dan damai serta kebahagiaan padanya.
“Kamu sudah mengatakan semuanya Emir! Jadi apa lagi yang bisa kukatakan padamu?” jawab Layla.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi. Aku tidak ingin mengganggu nenek saat sedang mengatur emosi. Nenek, jika nenek bisa menyuruh Agha dan yang lainnya untuk ikut kencan buta. Mereka bukan anak muda lagi, tetapi mereka masih bertingkah aneh dan menolak menikah.”
Jika saja Agha mendengar ucapan itu, kemungkinan besar dia akan menangis dan mengutuki Emir, apa salahnya dia? Kenapa dia malah dilibatkan dalam hal itu? Padahal dia tidak melakukan apa-apa. Kemarin saat memancing pun dia tidak jadi mencicipi masakan Arimbi, kenapa sepertinya Emir mau balas dendam pada adiknya itu?
Layla pun buru-buru berkata saat dia menyadari Emir hendak pergi, “Tunggu Emir! Terus terang padaku. Apa kamu punya rencana untuk mengumumkan pernikahanmu dengan Arimbi pada publik?”
Ekspresi diwajah Emir berubah lembut tapi dengan cepat langsung berubah menjadi datar.
“Aku masih membuat daftar hadiah pernikahan dan setelah aku menyelesaikannya dan menyiapkan semuanya aku akan mengirimkannya ke keluarga Rafaldi. Saat itu aku akan mengumumkan hubunganku dengan Arimbi pada semua orang.” kata Emir dengan santai seolah tidak peduli.
__ADS_1
“Apa kamu berencana untuk mengadakan acara pernikahan untuknya?” tanya Layla lagi.
“Kenapa tidak? Aku hanya akan menikah sekali seumur hidup, jadi kenapa aku harus merendahkan diri? Semua orang mengenakan gaun pengantin ketika mereka menikah dan mereka juga mengadakan perjamuan mewah.”
“Bagaimana bisa istriku tidak mendapatkan itu semua? Aku akan memberinya acara pernikahan yang mewah sehingga dia bisa menjadi menantu dikeluarga kita dengan penuh gaya dan dikenal sebagai Nyonya Muda Keluarga Serkan. Aku ingin seluruh dunia tahu dia istriku satu-satunya dan tidak akan ada yang lainnya.”
Emir bersumpah tidak hanya memberi Arimbi semua yang dimiliki orang lain tetapi apapun yang tidak dimiliki orang lain. Dia akan memastikan Arimbi akan memiliki semuanya lebih dari yang dimiliki orang lain. Sejak dia memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bersamanya, dia telah berubah pikiran.
Dia tidak lagi berencana menyiksanya tetapi dia akan membuat Arimbi menjadi prioritasnya dan menghujaninya dengan kasih sayang. Istriku layak dihujani kasih sayang setelah menikah!
“Oh, aku harus segera menghubungi desainer gaun pengantin terbaik di kota ini untuk membuat gaun pengantin untuk Arimbi.” ujar Emir yang tiba-tiba teringat soal gaun pengantin.
Layla hampir mati lemas karena amarahnya, tetapi sepertinya dia tidak bisa mengumpulkan keinginan dalam dirinya untuk melakukannya. Karena dia dia menahan amarahnya didalam hatinya.
Dia berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan bahkan jika dia menikahi Arimbi, orang kampung itu hal itu akan sangat menguntungkannya.
Bagaimanapun ini pilihan Emir, dan jika dia menolaknya maka Emir tidak akan mau mempedulikannya lagi. Ini pertama kalinya dia melihat cucunya itu bersemangat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hidup pribadinya.
“Nenek, bisakah nenek memberitahu orang tuaku soal ini? Jika mereka bereaksi terlalu buruk biarkan saja mereka menemuiku untuk melampiaskannya padaku. Aku akan menunggu menghadapi kemarahan mereka. Jika mereka punya sesuatu yang perlu diselesaikan denganku, tidak apa-apa juga. Aku tidak takut pada apapun, mereka dapat menyelesaikannya denganku sekaligus. Tapi---jangan pernah serang istriku! Aku tidak akan membiarkan siapapun merundung istriku!”
Layla terdiam mendengar kata-katanya. Lalu Emir mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan itu sambil memegang akta nikahnya ditangannya sambil diawasi oleh neneknya.
Emir menuju ke pintu masuk dan perlahan-lahan keluar. Arimbi yang sedang menunggu diluar, tidak sengaja menguping percakapan antara nenek dan cucunya.
__ADS_1
Tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk mendengarkan sedikit pembicaraan mereka. Dia sadar bahwa Nenek Layla sangat tidak menyukainya dan Layla tidak bisa menerima Arimbi sebagai cucu menantunya. Begitu Arimbi mendengar suara kursi roda mendekat, dia menyadari bahwa Emir akan keluar dari sana.
Dia segera berjalan mendekat dan melihat Emir yang akan keluar ruangan sendiri. “Emir.” dia melangkah maju untuk membantunya mendorong kursi roda keluar.
Pada saat bersamaan Arimbi melirik kedalam rumah dan memperhatikan Layla berdiri diam dalam posisi semula dengan ekspresi wajah pucat dan dipenuhi amarah.
Arimbi pun buru-buru mengalihkan pandangannya dan fokus mendorong kursi roda Emir keluar dari ruang tamu mewah itu.
Prang! Dari arah belakang mereka terdengar keributan dari benda-benda yang jatuh ke lantai. Pada saat itu Arimbi segera menghentikan langkahnya.
“Jangan pedulikan dia.” suara rendah Emir terdengar, Arimbi pun mendorong kembali kursi roda suaminya keluar dari rumah utama tanpa repor-repot menoleh. Akhirnya dia bisa menghela napas lega setelah meninggalkan rumah utama. Meskipun ruang tamu tampak cerah dan ramah tapi entah bagaimana Arimbi bisa merasakan tekanan saat dia berada disana.
Untuk beberapa alasa, Nenek Serkan adalah satu-satunya orang yang ada didalam ruangan tetapi Arimbi mendapatkan sensasi sesak napas dan rasanya seolah-olah dia berada di area ramai.
“Sayang, apa nenek ingin kamu menceraikanku?” tanya Arimbi yang penasaran.
Tapi Emir tidak menjawab pertanyaannya tetapi malah membalikkan pertanyaan itu kembali padanya.
“Apa kamu mau bercerai? Kamu tampaknya telah mengatakan cerai lebih dari sekali padaku.”
Dengan cepat Arimbi menjelaskan, “Tidak! Aku tidak pernah berpikir untuk bercerai. Tetapi kita memiliki kesenjangan yang besar dalam latar belakang keluarga kita dan anggota keluargamu tidak menyukaiku. Mereka tidak akan menerimaku, jadi wajar jika mereka berharap kita bercerai.”
“Akulah yang memutuskan sendiri tentang masalah pribadiku. Selama kamu tidak membicarakan perceraian, aku tidak akan pernah mengajukan cerai. Bahkan jikakamu meminta cerai, aku juga tidak akan pernah menyetujuinya. Kamu adalah orang yang tanpa malu memintaku untuk menikahimu dan aku sudah memberimu kesempatan untuk berubah pikiran.”
__ADS_1
Emir mendongakkan wajahnya menatap Arimbi sebentar lalu kembali memandang ke depan, “Tetapi kamu menyia-yiakan kesempatanmu untuk tidak terikat pada pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku karena kejam dan mendominasimu.”