
Tapi…..
Saat dia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk melilit tubuhnya, karena dia niat untuk merayu Emir, yang ditemukannya hanyalah ranjang kosong.
Suaminya hilang entah kemana, “Emir! Apa kita tidak akan bertarung memperebutkan kasur malam ini?” sambil menghela napas Arimbi bergumam kecewa, “Aku masih tidak terbiasa dengan dia yang terlalu mudah menyerah dan melarikan diri! Pufff!”
Andai saja Emir bisa mendengar ucapan istrinya itu, mungkin mulutnya sudah berbusa mengomel.
Benar-benar rubah betina yang ganas!
...*********...
Didalam sebuah ruangan yang temaram, seorang wanita dan pria sedang bercinta dikasur yang besar. Keduanya bergumul dengan sangat bergairah diiringi suara ******* dan lenguhan dari keduanya. Tapi……
Tiba-tiba Emir terbangun dan duduk dikasurnya dengan sekujur tubuh basah berkeringat seperti baru habis olahraga. Mimpi itu lagi!
Sudah beberapa bulan terakhir ini Emir selalu bermimpi yang sama berukali-kali. Didalam mimpi itu dia tanpa henti bercinta dengan seseorang wanita tetapi mimpi itu sangat aneh karena dia tidak bisa melihat wajah wanita yang menjadi pasangannya. Emir yakin selama hidupnya dia tidak pernah begitu bergairahnya berhubungan badan dengan seseorang didalam mimpinya.
Di tambah lagi, dia tidak tahu alasannya kenapa seorang pria sepertinya yang tidak suka wanita bisa memimpikan hal yang sama berkali-kali. Apakah mimpi itu adalah sebuah ramalan masa depan?
Emir mengambil tisu diatas nakas dan mengusap keringat dikeningnya. Setiap kali dia terbangun dari mimpi itu, dia akan berkeringat seperti itu dan kadang dia terengah-engah kelelahan dan berpikir mungkin mimpi itu adalah sebuah kenyataan.
Emir menyalakan lampu tidurnya karena dia tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi, dia berusaha beranjak dari kasur dan berpindah ke kursi roda. Dia menggerakkan kursi rodanya menuju keruang kerja, lalu dia mengeluarkan sebuah buku gambar dari laci meja kerja. Dia membuka buku gambar itu dan melihat gambar seorang wanita tak berwajah yang dia gambar berdasarkan apa yang dilihatnya didalam mimpinya.
__ADS_1
Karena dia tidak bisa melihat wajah wanita misterius itu, dia tidak bisa menyelesaikan gambarnya. “Siapa kamu sebenarnya dan kenapa kamu selalu muncul didalam mimpiku?” gumamnya lirih.
Mimpi itu benar-benar mengganggunya bahkan sampai dia tidak bisa tidur.
“Aku tidak pernah melakukan hal tidak senonoh dengan wanita lain. Jadi tolonglah! Siapapun kamu, jangan mencariku lagi!”
Setelah itu dia menutup buku gambar itu dan mengembalikannya kedalam laci di meja kerjanya. Emir duduk didepan meja kerja selama sepulu menit, sebelum dia kembali keatas ranjang dan memaksakan diri untuk tidur.
Tapi, setiap kali dia menutup matanya mimpi yang sama terulang kembali. Entah mengapa mimpi itu rasanya seperti ada batu yang jatuh kedalam genangan didalam hatinya, yang menciptakan gelombang besar menjadi ombak.
Emir tidak bisa tidur dengan tenang karena mimpi itu, membuatnya selalu dalam suasana hati yang buruk setiap kali dia memulai hari yang baru. Seperti pagi ini, saat Arimbi melihat suasana hatinya memburuk, dia sadar diri dan menghindarinya setiap kali Emir tidak mencarinya agar pria itu tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada Arimbi.
Tapi, Arimbi selalu saja merasa penasaran, apa yang selalu membuat Emir kesal di pagi hari. Sedangkan Emir tidak membuat masalah pada Arimbi pagi itu. Dia hanya sarapan ditempat seperti biasa dan bersiap-siap untuk pergi ke kantor bersama pengawalnya.
Dia berhenti tepat didepan mobil Emir dan mengetuk kaca jendela mobilnya. Dua menit sudah berlalu, lalu Emir pun menurunkan kaca mobilnya dengan ekspresi kaku menatap Arimbi.
“Ada apa?”
Arimbi menyodorkan kotak kecil ditangannya pada Emir tapi Emir tidak langsung menerimanya. Dia mengangkat alisnya dan wajahnya memasang ekspresi bertanya.
“Emir! Ini hadiah untukmu. Bukannya kamu menginginkan aku memberimu hadiah setiap hari mulai dari sekarang?”
Lalu Arimbi meletakkan kotak kecil itu ketangan Emir, “Kamu bisa membukanya nanti di kantor ya, tapi jangan dibuang oke? Aku membuat hadiah ini dengan tanganku sendiri. Meskipun itu bukankah hadiah mahal yang terpenting adalah niatny. Aku tulus membuatnya untukmu!”
__ADS_1
Dengan bibir mengerucut, Emir tidak mengatakan apapun tapi dia menerima kotak kecil itu. Lalu dia menutup jendela mobilnya dan pergi. Perjalanan ke kantor Emir sekitar tiga puluh menit. Gedung perusahaan yang memiliki tujuh puluh lantai itu layaknya seperti permata dalam dunia bisnis.
Siapapun yang berhasil bekerja di Serkan Global Corp. adalah para elit dari orang-orang elit. Meski direktur perusahaan adalah orang yang dingin dan tidak banyak bicara dan sulit untuk didekati. Bagi siapapun yang berhasil bekerja di Serkan Global Corp akan mendapatkan banyak keuntungan dan kesempatan promosi jabatan yang kompetitif.
Banyak orang yang berusaha untuk bisa bergabung dengan perusahaan itu dan mereka selalu berusaha untuk mendapatkan perhatian Emir. Karena siapapun yang bisa berarti akan mendapatkan masa depan yang cerah. Kantor direktur berada dilantai teratas gedung tinggi itu. Selain Emir dan tim sekretaris utamanya, tidak ada petinggi perusahaan yang berada dilantai teratas.
Bagi para karyawan perusahaan, lantai teratas bukanlah tempat yang bisa dimasuki oleh orang sembarangan. Banyak karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun disana tapi tidak pernah sekalipun melihat sosok Emir secara langsung. Ketika Emir tiba dikantornya, kopi yang baru diseduh oleh sekretarisnya sudah berada diatas meja kerjanya dengan temperatus yang pas untuk diminum.
Emir meletakkan hadiah dari Arimbi dimeja. Setelah dia meminum kopinya, dia meletakkan cangkir itu dan mengambil kotak kecil dari Arimbi, dia masih belum beralih ke mode kerja. Saat itu seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk!” jawab Emir sambil membuka kotak hadiah dari Arimbi.
Pintu ruang kerja direktur terbuka dan seorang pria seumuran Emir berjalan masuk sambil membawa setumpuk dokumen ditangannya. Lalu pria itu meletakkan tumpukan dokumen dimeja kerja Emir, dia duduk dikursi dihadapan Emir, ”Direktur Emir! Ini semua dokumen-dokumen yang harus ditandatangani.”
Tidak ada respon dari Emir, dia mengabaikan dokumen-dokumen itu dan fokus membuka hadiahnya.
Emir merasa penasaran pada hadiah yang diberikan oleh Arimbi. Saat Aslan sadar bahwa bosnya tidak mempedulikannya, Aslan pun langsung berdiri dan melihat Emir yang sedang membuka kotak hadiah. Aslan yang kepo pun merasa penasaran dan bertanya, “Direktu Emir, siapa yang memberimu hadiah ini? Siapapun itu, dia punya nyali yang besar untuk memberimu hadiah.”
Yang membuat Aslan semakin heran adalah Emir menerima hadiah itu. Aslan sudah bekerja pada Emir selama delapan tahun lamanya dan bahkan menemaninya mempertahankan dan mengembangkan perusahaannya. Jadi sebagai bawahan dan temannya, Aslan sangat mengetahui sifat Emir.
Emir mengabaikan Aslan dan tidak menjawab pertanyaannya.
Dia membuka bungkus kado dari Arimbi, Emir tidak bisa menahan rasa kesalnya saat menemukan didalam kado masih ada kado. Setelah beberapa kali membuka kotak kado itu, akhirnya dia berhasil menemukan hadian Arimbi, sepasang boneka tikus! Lebih tepatnya sepasang boneka tikus dari kapas.
__ADS_1
Arimbi yang membuat hadiah itu sendiri, dia membuatnya sangat teliti sehingga terlihat nyata dengan menambahkan detail-detail presisi sehingga sepasang boneka tikus pun terlihat seperti tikus sungguhan.