
Keesokan harinya, keduanya bangun pagi dengan suasana hati yang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Sikap dingin Emir belum berubah tapi itu tidak menjadi masalah bagi Arimbi. “Apa masih sakit?” tanya Emir saat dia melihat Arimbi yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan bibir mengerucut.
“Ini gara-gara kamu!” kesalnya menatap Emir yang membuat pria itu tertawa.
“Siapa yang menggodaku? Aku hanya membuktikan padamu kalau aku normal.” balasnya.
“Hehe….” Arimbi terkekeh lalu menunduk malu. ‘Aduh sial betul! Mana aku harus pergi kerja hari ini. Hihihi….ternyata Emir sangat luar biasa. Untung saja dia berhenti, kalau tidak….bisa-bisa aku tidak sanggup jalan lagi. Terlalu kejam dan buas!’ bisiknya dalam hati membayangkan pergumulan mereka tadi malam.
Bagaimana ganasnya Emir, tapi Arimbi senyum-senyum tidak jelas saat dia mengingat bagaimana semuanya berawal. Dia tahu kalau Emir pasti tak ingin menyentuhnya tadi malam karena dia memikirkan yang macam-macam tentang Arimbi dan Reza.
Dan Arimbi semakin yakin kalau Emir tiba-tiba menyerangnya tadi malam setelah mendengar ucapannya kalau Emir adalah yang pertama. Ego pria itu terlalu tinggi dan dia merasakan kalau dirinya adalah pemenang karena dia menang banyak menikahi Arimbi. Wanita itu sangat cantik, imut, tak tahu malu, menyebalkan, pintar dan menjaga kehormatannya.
“Mau apa kamu?” tanya Emir saat melihat Arimbi ingin melepaskan seprai yang bernoda.
“Hem...Emir biar aku saja yang mencuci seprei ini nanti. Aku malu kalau pelayan akan melihatnya.”
“Kenapa memangnya kalau mereka melihat?” tanya Emir mengeryitkan dahinya.
“Ehm….i---itu ahhh….sudahlah. Tidak apa-apa.” akhirnya Arimbi mendengus lalu pergi menuju walk in closet. Dia ingat kalau Emir menyuruh pelayan membelikannya beberapa setelan formal untuk dipakainya ke kantor. Tapi dia tidak menyangka kalau Emir membelikan begitu banyak pakaian untuknya dan semuanya barang-barang branded.
Arimbi memasuki walk in closet dan memilih setelan yang akan dipakainya ke kantor hari ini. Sedangkan Emir yang sudah bangun duluan dan bersiap-siap hanya duduk dikursi rodanya memperhatikan gerak-gerik Arimbi.
Ada sedikit kekhawatiran dihatinya mengingat kejadian tadi malam, dia takut Arimbi masih merasa sakit dan dia pikir sebaiknya Arimbi menunda untuk masuk kerja hari ini dan istirahat dirumah.
__ADS_1
Tapi saat dia melihat bagaimana antusiasnya Arimbi pagi ini ingin pergi bekerja, Emir hanya mengatupkan bibirnya dan tak mengatakan apapun. Dia merasakan pagi ini moodnya sangat bagus dan wajahnya tersenyum menatap Arimbi yang sedang memilih pakaian. Emir menggerakkan kursi rodanya keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah untuk menunggu Arimbi.
Ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan ayahnya. Dia memilih baju soft pink dipadukan dengan celana pensil warna putih dan blazer putih. Arimbi teringat bros emas yang diberikan Emir, dia mengambilnya lalu memasangnya di bagian depan blazer.
Setelan ini sangat cocok untuknya dengan perpaduan warna putih dan soft pink membuatnya terlihat fresh dan cantik. Perusahaan ayahnya punya seragam khusus untuk pegawai mereka, Arimbi seharusnya mendapat seragam juga begitu dia resmi menjadi pegawai disana.
Setelah selesai berpakaian dia berjalan menuju meja rias, dia mengepol rambutnya dengan rapi dan merias wajahnya dengan makeup warna natural dan memoles bibirnya dengan lipstik warna nude.
Tak lupa dia menyempurnakan penampilannya dengan memakai anting dan jam tangan mahal pemberian Emir. Lalu dia mengambil salah satu koleksi tas mahal yang juga sudah dibelikan Emir. Terakhir dia memakai sepatu stileto dan berjalan pelan menghampiri Emir.
Kepribadian dan pekerjaan lamanya yang membuatnya tidak menyukai sepatu setinggi itu. Tapi kini dia harus berubah total untuk merebut perusahaan ayahnya dari Amanda. Bukan saja dia harus belajar bisnis tapi juga merubah total penampilannya.
Arimbi sudah bertekad akan melakukan yang terbaik untuk mengambil alih semua yang seharusnya menjadi miliknya dan melindungi orang tuanya. Untuk bisa bersaing dengan Amanda maka dia harus kerja keras dan dia merasa yakin kalau Emir pasti akan membantunya selain ayahnya.
“Iya Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Beni.
“Tolong kamu carikan sepatu pantovel milik Elisha. Aku mau sepasang sepatu baru yang belum pernah dipakai Elisha untuk Arimbi. Nanti kamu belikan sepatu baru untuk Arimbi jangan hak tinggi, pilihkan warna yang sesuai dengan pakaiannya.” perintah Emir lagi.
“Baik Tuan. Nanti akan saya minta butik mengantarkannya segera.” jawab Beni lalu bergegas pergi.
Elisha dan Arimbi memiliki ukuran sepatu yang sama, Emir mengetahuinya karena dia sudah menyelidiki semua tentang istrinya itu. Elisha adalah putri kesayangan keluarga Serkan, dia memiliki banyak koleksi sepatu sampai-sampai punya ruang penyimpanan khusus sepatu. Dari sekian banyak sepatu koleksinya pasti ada yang belum pernah dipakainya.
Karena ini masih terlalu pagi dan butik belum ada yang buka maka hanya ada satu solusi, meminta sepatu dari Elisha untuk dipakai Arimbi. Pria itu sadar setelah melihat cara berjalan Arimbi, kalau wanita itu merasa tak nyaman.
__ADS_1
Dalam pikiran Emir, mungkin karena keganasannya tadi malam membuat istrinya itu susah jalan dan Emir tak mau Arimbi mendapat masalah karena itu, makanya dia ingin mengganti sepatu Arimbi.
Memakai sepatu hak tinggi dengan kondisi Arimbi pagi ini pasti tidak nyaman baginya. Emir tak tega melihat ekspresi wajah Arimbi yang meskipun tersenyum manis tapi dia tahu wanita itu masih merasa sakit. “Kenapa kamu tidak istirahat saja hari ini?”
“Emir, aku sudah janji pada ayah akan mulai bekerja hari ini. Aku tidak mau mengingkari janji dan mengecewakannya. Aku baik-baik saja, Emir.”
“Yakin? Jalanmu seperti siput begitu.” ejek Emir.
“Hehe….ini salahmu! Dasar tidak peka.” balas Arimbi cemberut.
“Apa katamu? Salahku? Aku sudah memperingatkanmu semalam tapi kamu terus saja menggodaku. Sekarang malah menyalahkanku?”
“Ya iyalah. Kalau kamu tidak balas menggodaku kan aku tidak tergoda.” jawab Arimbi mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dia merasa sangat malu mengingat tindakannya tadi malam.
Emir memelototi Arimbi, ‘Dasar tidak tahu malu! Dia yang tak mau melepaskan milikku semalam malah menyalahkanku. Hehe….rasakan sendiri! Siapa suruh membangunkan singa tidur.’ bisiknya dalam hati sembari tertawa. Ekspresi wajah Emir terlihat bahagia dan terus menatap wajah Arimbi.
Tak berapa lama Beni kembali dengan membawa sebuah kotak sepatu lalu menyodorkannya pada Arimbi. “Nyonya Muda, ini sepatunya.”
Dia mengambil kotak sepatu itu lalu membukanya, senyum muncul diwajah Arimbi saat melihat sepatu flat berwarna soft pink yang cantik itu sesuai dengan warna kemejanya. Dia langsung memakainya dan berdiri berputar-putar didepan Emir.
“Bagaimana? Penampilanku sudah bagus kan, Emir?”
“Hem….bagus. Ayo sarapan, aku akan mengantarmu ke kantor.” ujar Emir. Seorang pengawal langsung mendorong kursi rodanya menuju ruang makan. Sepasang suami istri itu mulai menyantap sarapan dengan diam namun keduanya tampak tersenyum pagi ini.
__ADS_1
Beni dan para pengawal yang memperhatikan ada yang berbeda dari majikannya pagi ini pun saling bertatapan sambil mengedikkan bahu, bertanya-tanya apa yang terjadi?