
“Dia memang tidak menggigit tapi aku hanya akan memfotonya kalau dia izinkan. Kalau tidak, aku akan merasa bersalah memfotonya diam-diam.” ujar Joana menyatakan penyesalannya karena tak ada satupun pria dalam koleksinya yang setara ketampanannya dengan Emir. Jika dia bisa mendapatkan fotonya, dia bersumpah akan menempatkannya di tempat istimewa didalam rumahnya.
Arimbi tersenyum tanpa mengatakan apapun. Di kehidupan sebelumnya dia menyinggung Emir demi Reza. Itu membuat hidupnya terancam tapi untungnya Emir tidak dendam pada Arimbi. Dia bahkan membantunya saat Arimbi kesusahan. Jika dibandingkan dengan orang baik pada umumnya, dia akan lebih menghargai orang yang membantunya saat kesusahan.
“Oh Arimbi! Aku dengar kamu menjadi pembantu di kediaman Serkan ya? Apakah itu benar? Apa yang terjadi?” tanya Joana mengungkapkan gosip yang beredar tentang Arimbi. Dan penyebar gosip itu tidak lain dan tidak bukan adalah Amanda. “Apakah karena ulahmu? Kamu adlaah wanita yang pemberani karena mengorbankan keluargamu demi Reza.”
Menurutnya mengorbankan keluarga sendiri demi cinta itu tak sepadan. Mantra macam apa yang digunakan oleh Reza pada Arimbi? Atau mungkin dia begitu hingga sudi mengorbankan nyawanya demi Reza? Tapi Joana belum mengetahui apa yang terjadi pada Arimbi sekarang.
“Joana! Aku tahu itu salahkau dan aku sudah melupakannya. Setelah semua yang kuperbuat, menentang Emir demi Reza tak sekalipun Reza menjengukku saat aku sakit dan patah hati.”
Sebelumnya dia tidak pernah menceritakan dengan jelas pada sahabatnya itu tentang melupakan Reza tapi kali ini entah bagaimana Joana bisa percaya. “Pekerjaanku adalah merawar Emir tapi sekarang semuanya baik-baik saja. Dia tidak mempersulitku.”
Jika dia memberikan hukuman, Emir mungkin hanya akan mengetuk kepalanya beberapa kali atau menyuruhnya membuat refleksi diri sebanyak sepuluh ribu kata.
Lagipula dia belum menyerahkan refleksi diri yang kedua pada suaminya itu. Emir juga tidak menagihnya. Jadi lebih baik tidak membahas soal itu dan pura-pura lupa saja. Karena menulis sepanjang itu berulang-ulang tak sanggup dia lakukan lagi.
“Baguslah kalau begitu.” Joana merasa lega sahabatnya tidak dipersulit Emir. Joana pun memutuskan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi agar dia tak terlalu banyak tahu tentangnya. Karena Joana tidak ingin hidupnya dalam bahaya, dia menahan rasa ingin tahunya dan mengunci mulutnya. Saat keduanya berbincang dipojokan, pesta ulang tahun akhirnya dimulai.
__ADS_1
Keluarga Lavani meninggalkan kedua Tuan Muda untuk mempersembahkan kue ulang tahun besar untuk Lavani. Kemudian semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun sebelum mendoakannya. Dia adalah ‘putri raja’ satu-satunya dikeluarga Lavani dalam generasinya seperti Elisha tentu saja keluarganya berusaha memanjakannya.
Di pesta semua orang mengerumuni Zivanna untuk berfoto dengannya. Dan Amanda adalah salah satunya. Joana menyikut temannya dan memberinya tantangan. “Arimbi, lihatlah saudari sosialitamu. Tirulah dia dan bergabunglah dengan yang lain.”
“Lupakan saja! Lagipula Zivanna dan aku tidak berteman sedangkan mereka itu bersahabat.”
Tiba-tiba Arimbi teringat kejadian itu sebelum datang ke pesta. Amanda berjanji pada ibunya bahwa dia akan menjaga Arimbi dan memperkenalkannya pada para petinggi dunia bisnis. Hanya ibu yang percaya ucapannya….aku yakin ibu takut kalau aku bergaul dengan orang-orang penting ini.
“Bersulang!” Joana mengangkat gelasnya untuk bersulang dengan sahabatnya. Mereka saling menatap sebelum meminumnya.
Sementara itu, Reza yang tidak menemui Arimbi sejak dia sampai disini meletakkan segelas anggur ke nampan seorang pelayan dan menunjuk kearah Arimbi.
Si pelayan melirik Arimbi dan mengangguk sopan pada Reza sebelum dia berjalan menuju ke pojok ruangan. Setelah kedua wanita itu menghabiskan minumannya, si pelayan yang peka memberi mereka segelas minuman lagi sedangkan Arimbi diberikan gelas yang dari Reza.
“Joana.”
Saat mereka mau bersulang, Jayanti datang dan akhirnya menemukan putrinya. Setelah Joana meletakkan gelasnya, ibunya langsung menarik tangannya. “Joana! Aku bertemu temanku.Ayo sapa mereka dulu.”
__ADS_1
Pesta semaam ini dapat menjadi ajang kencan buta selama seseorang memiliki anak. Mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk berburu menantu yang cocok. Jayanti jelas memiliki niat yang sama.
Setelah sahabatnya dibawa ibunya, Arimbi meletakkan gelas anggurnya untuk mengambil makanan dari tempat yang berbeda. Pada saat yang sama para pengawal Keluarga Harimurti dan Serkan berbisik pada Tuan Muda mereka hampir bersamaan. Emir selangkah didepan Dion selagi dia meminta Rino untuk mengganti minuman Arimbi secara diam-diam.
Sementara itu Dion yang melihat tindakan lawannya yang mendahuluinya hanya bisa mendengus. Kali ini dia kalah cepat dari Emir. Tampaknya kedua pria hebat itu akan mempunyai pertempuran sengit untuk untuk seorang wanita.
Dimana yang satu adalah suami sahnya sedangkan yang satu lagi adalah penggemar beratnya. Emir hanya bisa menghela napas panjang, sepertinya dia harus mengikat istri cantiknya itu dirumah….Ah tidak,….mungkin Arimbi bisa ikut dengan Emir kemanapun dia pergi.
Dengan begitu, Emir bisa menghalau para pria yang hendak mendekati istrinya. Emir sadar sejak tadi banyak mata yang terus-terusan memandang Arimbi. Istrinya itu memang cantik dan malam ini dia jauh lebih cantik dengan tampilan gaun merah yang glamour. Saat Arimbi kembali dari berburu kuliner, dia tidak bisa membedakan yang mana gelas anggur miliknya.
Karena Joana tidak meminum anggur miliknya Arimbi pun mengambil gelas terdekat sementara matanya terpaku pada para tamu. Minum segelas anggur sambil menjadi pengamat sungguh menyenangkan. Terkadang dia melirik suaminya tetapi dia segera mengalihkan pandangan matanya saat mata mereka bertemu.
Agar dia aman dari para pengagum Emir, dia tidak ingin berada disisinya di acara seperti ini. Dia memnag pria sejati, meskipun memiliki kekurangan tapi para wanita masih saja mengantri demi dia. Saat minumannya hampir habis, Arimbi melirik Emir lagi tapi ternyata dia sudah pergi lalu dia memindai ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan suaminya.
Tapi dia tidak melihat sosok Emir ataupun para pengawalnya. Hanya ada orang yang mengerumuni Elisha dan Zivanna. Meskipun jelas itu ulang tahun Zivanna, Elisha juga banyak disukai para tamu. Elisha harusnya bersyukur karena Keluarga Serkan lebih unggul daripada keluarga Lavani kalau tidak pasti sudah terjadi perang.
Arimbi yang tenggelam dalam pikirannya tersenyum kecil. Asal dia tidak berada dihadapan Zivanna seperti Amanda, maka wanita itu tidak akan mengganggunya. Dan sekali lagi ini akan menjadi malam yang tenang. Meski begitu, masalah terus saja menghampirinya meskipun diasudah berusaha untuk menghindarinya. Tak lama berselang, tampak Zivanna menghampiri Arimbi diikuti oleh para sahabatnya.
__ADS_1
Wanita yang mendekat itu mengingatkan Arimbi pada kejadian di kehidupan sebelumnya. Malam itu Arimbi mengucapkan selamat dan mendoakan Zivana setelah diingatkan oleh Amanda. Tetapi, saat mereka bersulang, tangan Zivanna gemetar dan sengaja menumpahkan anggur ke gaun putih Arimbi. Noda merah di gaunnya tampa jelas karena gaun itu berwarna putih.