GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 257. PRATIWI DAN ADRIAN


__ADS_3

Adrian segera memotongnya,”Kita kaan bicara lagi nanti! Kita harus kembali kedalam bangsal. Aku akan memberikmu segelas air hangat.”


Arimbi menelan ludahnya dan menahan lidahnya untuk tidak bicara lagi dengan menahan rasa malu. Dia sadar betapa bersemangatnya dia setiap kali membicarakan tentang Emir.


Arimbi mengatakan pada Adrian betapa dia sangat percaya pada suaminya dan ingin memastikan bahwa dia senang dengan keputusannya menikahi Emir yang menuntunya menuju kehidupan yang bahagia. Sementara itu, Adrian menarik tangan Arimbi sedikit memaksa.


Di masa depan, dia mungkin tidak bisa lagi memegang tangannya lagi. Dia adalah saudarinya sejak dulu. Meskipun dia memeluknya, tidak ada yang akan mengomentari mereka. Sekarang, walaupun mereka masih bersaudara tapi mereka berdua tahu kalau mereka tidak punya hubungan darah diantara mereka.


Terlebih lagi, Arimbi sudah menikah dengan pria paling penting dan paling kuat di Metro. Emir yang perkasa tidak akan mengizinkannya untuk menyentuhnya lagi. Setelah mereka mendorong pintu bangsal hingga terbuka. Adrian dan Arimbi masuk bersama dan saat mereka menatap kearah Pratiwi, bisa dilihat wanita itu menarik napas lega.


Arimbi langsung bisa menebak kalau aura emir yang terlalu kuat membuat Pratiwi merasa tertekan dan tidak enak badan. Bahkan ibu kandungnya merasakan auranya yang mengerikan saat menghadapi Emir. Ketika pria itu melihat Adrian baru saja menarik Arimbi, matanya langsung terpaku pada tangan mereka yang masih bergandengan.


Hingga akhirnya Arimbi melepaskan genggamana tangan mereka dan berjalan berdampingan dengannya. Hanya saat dia memalingkan tatapannya. “Arimbi, ini sudah larut malam. Kamu dan Emir belum makan sama sekali. Sebaiknya kamu pulang dan makan. Aku bisa keluar dan berjalan-jalan sekarang. Aku baik-baik saja.” Pratiwi memaksa Arimbi untuk pergi.


Wanita paruh baya itu melihat keluar dan melihat langit diluar dan menyadari kalau masih sangat terang. Selama musim panas, siang hari terasa panjang dan malam hari terasa pendek. Sekarang sudah jam tujuh lewat tiga puluh menit malam. Tapi langit pasti akan gelap nanti.


“Bu, aku ingin bersamamu lebih lama lagi.”


“Aku tidak membutuhkanmu disini.”


Arimbi menajwab, “Bu, ibu tidak menyukaiku lagi ya? Aku baru saja datang dan ibu sudah menyuruhku untuk pulang. Apa ibu sengaja mengusirku ya?”

__ADS_1


Pratiwi tertawa dan berkata, “Aku yang membesarkanmu. Bagaimana mungkin aku tidak menyukaimu? Aku khawatir kalau kamu akan kelaparan setelah sibuk bekerja seharian. Karena kamu belum makan apapun dan kamu juga sedang mengandung mungkin kamu kelaparan. Pulanglah dan makan ya?”


Adrian menuangkan segelas air hangat dan mendatanginya lalu memberikan gelasitu pada Arimbi. Sambil tersenyum, Adrian berkata, “Arimbi, kamu harus mendengarkannya. Atau kami tidak akan menghabiskan makan malam kami hingga besok.”


Arimbi ternganga. Setelah menghabiskan air minumnya, dia berkata dengan suara pasrah, “Bu, apakah ibu akan pulang dari rumah sakit besok atau lusa?”


“Besok! Aku tidak ingin berada disini lagi. Setelah pulang dari rumah sakit, aku akan langsung kembali kerumah untuk beristirahat.”


“Aku akan baik-baik saja jika beristirahat selama beberapa hari.” ucap Pratiwi. Dia datang ke kota kali ini karena dia menrindukan anak kandungnya Amanda. Sekarang dia sudah bertemu dengannya dan menghabiskan waktu bersamanya selama beberapa hari.


Walaupun dia masih merasa tidak bahagia karena sikap Amanda yang masih belum bisa menerimnya. Tapi keinginannya sudah terpenuhi dan dia tidak ingin untuk tinggal disana lebih lama lagi.


“Kalau begitu, aku akan datang besok untuk menjemput ibu dari rumah sakti. Bu, apa ibu tidak ingin aku mengundang Amanda juga?”


Emir dengan cepat menyela, “Biaya rumah sakit sudah dibayar?”


“Semuanya sudah diselesaikan.dan biayanya juga sudah dibayar.” jawab Adrian.


“Baiklah. Kalau begitu besok aku akan menyuruh seseoran datang menjemput kalian. Adrian setelah kamu selesai menyelesaikan prosedurnya kalian bisa naik mobil untuk pulang. Dengan begitu aku dan Arimbi akan merasa tenang.”


Adrian ingin menolaknya, namun Pratiwi dengan cepat langsung menyetujuinya, “Terima kasih Emir. Kamu memang pria yang sangat baik.”

__ADS_1


Emir mengangguk pelan. Setelah Pratiwi terus menerus membujuk mereka, Arimbi dengan berat hati berjalan keluar bersama suaminya.


Seusai suami istri itu pergi, Adrian berkata kepada ibunya. “Bu, kita bisa jalan kaki atau naik taksi untuk pulang kerumah. Kita tidak perlu merepotkan Emir.”


“Emir melakukannya bukan untuk kita. Dia melakukannya demi menyenangkan hati Arimbi dan dia ingin memberikan yang terbaik kepadanya. Jika kita ingin membantunya kita harus memberikannya kesempatan.” ucap Pratiwi.


Adrian segera menjawab, “Bu, setelah aku dan Arimbi keluar. Apa yang ibu dan Emir bicarakan? Saat kami kembali kenapa suasananya terasa dingin dan tegang?”


“Rasanya menyenangkan kalau ada sesuatu yang bisa dibicarakan. Jadi suasananya menjadi canggung. Itulah Emir Serkan! Tentu saja aku tidak berani bicara padanya tentang segala hal yang terjadi dirumah.”


“Apa kamu pikir dia adalah tipe orang yang menyukai orang-orang desa seperti kita ini? Yang memikirkan apakah ayam-ayam kita sudah bertelur atau belum hari ini? Tapi Emir benar-benar pria yang baik untuk Arimbi. Tidak peduli apapun badai yang menerpa mereka, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.”


“Selama dia memperlakukan Arimbi dengan baik dan dia bisa hidup bahagia, aku merasa lega. Kita harus hidup dengan baik juga dan tidak peduli atas apa yang dikatakan orang lain.”


“Bu, ada rumor yang mengatakan bahwa Emir itu tidak manusiawi dan sangat kejam. Tidak peduli sebaik apa dia pada Arimbi, dia tidak benar-benar peduli padanya. Untuk hal ini aku merasa kasihan padanya.”


Pratiwi terbatu-batuk mendengar perkataan putranya itu dan menjawab. “Kita juga kasihan pada Arimbi tapi inilah jalan yang dipilihnya. Aku yakin dia sudah mendengar gosip-gosip tentang Emir…..Arimbi tahu semuanya tapi dia masih ingin menikahinya. Mental Arimbi itu pasti sudah siap.”


“Kita pikir kalau pernikahan itu tidak baik tapi itu hanyalah asumsi kita saja. Aku bisa melihat betapa Arimbi dan Emir saling mencintai satu sama lain. Kalaupun tidak…..mereka tetap akan hidup dengan baik bersama-sama.” tambahnya lagi.


Adrian pun berhenti bicara. Lalu dia duduk setelah emngambil mangkuknya yang berisi makanan yang tadi belum sempat dia sentuh. Dengan kasar dia mengaduk-aduk sup ayam itu dengan sendok ditangannya. Melihat perilaku anaknya itu, Pratiwi merasa terkejut.

__ADS_1


Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah dan dia bertanya dengan nada pelan karena dia takut ada orang diluar pintu yang mendengarkan tanpa sengaja, “Adrian! Apakah kamu mencinta…..Dia itu adikmu!” teriak Pratiwi merasa marah dan kecewa setelah menebak perasaan anaknya pada Arimbi.


 


__ADS_2