
“Beni! Apa kamu sudah pernah hamil sebelumnya?”
“Belum Tuan. Saya hanya mengatakan apa yang saya tahu saja, Tuan bisa mencari informasi di internet tentang wanita hamil. Mana berani saya berbohong pada Tuan.”
Rino yang baru saja turun dari atas pohon mangga, menyodorkan beberapa buah mangga muda kepada Arimbi dan berkata, “Nyonya, ini mangga mudanya. Cuma ada empat saja. Apakah sudah cukup?”
Arimbi menatap mangga muda itu seperti melihat perhiasan berharga dengan mata berbinar.
“Ahhhh…..ini pasti enak sekali. Beni, bisakah kamu buatkan sambal rujak?”
“Baik Nyonya.”
“Apa kamu yakin mau makan mangga malam-malam begini? Ini asam sekali, Arimbi.”
“Hmm…..justru yang asam yang enak. Emir, kamu harus memakan mangga muda ini juga ya.”
Mata Emir langsung melotot menatap horor mangga muda yang sudah bisa dia pastikan rasanya sangat asam itu. “Aku tidak suka mangga muda.”
“Oh, kamu tidak suka mangga muda ya sayang?” Arimbi menatap lembut suaminya dan berkata lagi. “Bagaimana dengan janda muda dan gadis muda.”
“Pffff…..” Rino dan Beni sontak menutup mulut mereka menahan tawa.
“Tidak suka!” ucap Emir mendengus.
“Baguslah. Karena kamu tidak suka janda muda dan gadis muda, makanya kamu harus makan mangga muda.” ujar Arimbi lagi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Emir.
Sementara Rino mendorong kursi rodanya kembali ke rumah sambil terkekeh didalam hatinya. Nyonya mudanya ini memang pintar menjebak Emir dengan kata-katanya.
“Arimbi…...” Emir baru mau mengatakan sesuatu akhirnya dia tidak melanjutkan ucapannya. “Baiklah. Aku makan sedikit saja.” akhirnya dia mengucapkan kata itu.
Saat mereka sudah berada didalam rumah, tampak Beni membawa sepiring buah mangga muda yang sudah dipotong-potong dan sambal rujak.
__ADS_1
“Hmm….sssshhh…..nampaknya enak sekali.” air liur Arimbi sudah menetes menatap mangga muda dan sambal rujak permintaannya. Setelah dia dan Emir duduk diatas sofa, dia mengambil piring berisi mangga muda dan memberikan sepotong pada Emir.
Ekspresi wajah pria itu langsung berubah mengkerut, dengan terpaksa dia memakan mangga muda yang rasanya sangat asam itu. Ekspresi wajah Beni dan Rino ikutan mengkerut setiap kali Emir memasukkan mangga muda kedalam mulutnya. Sedangkan Arimbi sangat menikmati mangga muda. Rasa iba melihat Emir yang dengan terpaksa memakan mangga muda yang terus disodorkan oleh Arimbi.
********
Keesokan harinya, di ruang presdir gedung Serkan Global Group, Emir membaca laporan yang barus saja diberikan oleh Aslan. “Laporan keuangan yang kuminta kemarin, sudah direvisi semua?”
“Bagian Finance sedang menyiapkan revisinya sekarang.”
Emir kembali fokus memeriksa dokumen-dokumen didepannya sebelum menandatanganinya.
“Aslan! Beritahu pada Jordan untuk segera menandatangani kontrak dengan Rafaldi Group! Katakan padanya jangan berlama-lama karena perusahaan klien membutuhkan produk secepatnya! Awasi terus pergerakannya dan laporkan padaku.”
“Wah...ada apa dengan wajahmu itu? Apa Jordan benar-benar menggoda Nyonya Serkan?” ujar Aslan sengaja menggoda Emir yang sontak memelototinya.
“Sudah pertemuan yang ketiga, aku tahu dia sengaja menarik ulur agar bisa bertemu dengan istriku! Suruh dia mengirimkan kontrak kerjasamanya hari ini! Katakan untuk memberikan kontrak itu pada Arimbi!” ujar Emir kesal.
“Kan aku sudah bilang sejak awal tentang Jordan. Dia punya kebiasaan buruk dan aku khawatirkan istrimu. Apa dia melakukan hal tidak menyenangkan pada istrimu? Pecat saja dia kalau begitu!”
“Selama ini kamu tidak pernah bersikap seperti ini! Bukankah kamu yang menyarankan ini? Supaya istrimu bisa belajar bisnis? Seharusnya dari awal langsung saja berikan kontrak itu pada istimu.”
“Dia tidak akan mau! Sekarang dia sedang berjuang untuk mengambil alih Rafaldi Group dari Amanda. Tidak akan mudah baginya jika segala sesuatu didapatkan dengan cara instant. Kau paham maksudku?”
“Ya aku mengerti. Apa ada hal lain yang harus ku lakukan?”
Seolah tahu apa yang terjadi sehingga membuat wajah Emir ditekuk seperti itu, Aslan pun hanya bisa menghela napas panjang. Kenapa tidak sejak awal saja memberi perintah pada Jordan untuk langsung menerima penawaran kerjasam dari Arimbi? Mengapa harus ribet dan membuat kedua saudari itu bertarung jika akhirnya kerjasama itu akan diberikan juga pada Arimbi?
“Cari tahu kapan Jordan akan menjadwalkan pertemuan berikutnya, minta dia melaporkan semua jadwalnya untuk kontrak kerjasama dengan Rafaldi Group. Aku tidak mau kecolongan.”
“Baiklah. Akan segera kuhubungi dia.” jawab Aslan setelah Emir menyerahkan kembali semua dokumen yang sudah dia tandatangani padanya.
__ADS_1
“Istriku hamil.” ucap Emir tiba-tiba. Mendengar itu membuat Aslan membelalakkan matanya.
“Apa? Nyonya Serkan hamil? Tapi...Emir….”
“Kau juga percaya rumor itu hem? Heeeh….itu memang anakku. Sudah pergi sana! Jangan berpikir yang macam-macam.” ujar Emir pada asistennya yang juga sahabatnya itu.
Aslan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku tidak pernah percaya rumor itu Emir! Aku hanya terkejut saja. Kamu harus secepatnya bisa berjalan lagi, supaya kelak kamu bisa menemani anakmu bermain.” ucap Aslan yang selalu memberi dukungan pada Emir sejak dia mengalami kecelakaan.
“Ya aku tahu. Aku menjalani rehabilitasi setiap hari. Aku mau saat pesta pernikahanku nanti, aku bisa berdiri berdampingan dengan Arimbi.” ucapnya sambil tersenyum. “Bicara soal pernikahan, kamu carikan wedding organizer terbaik untuk mengatur semuanya.”
“Emir, apa tidak lebih baik orang-orang kita saja yang menanganinya? Bukankah kamu ingin tetap merahasiakan mengenai pernikahanmu? Jika kita menggunakan wedding organizer, bukan tidak tertutup kemungkinan akan ada yang membocorkannya.”
“Kamu ada benarnya juga. Baiklah kalau begitu kamu yang mengaturnya.” ucap Emir.
“Oke. Aku akan meminta orang-orang kita mengatur semuanya. Rencananya, pestanya mau diadakan dimana?” tanya Aslan lagi. “Apa kamu sudah menentukan tanggalnya?”
“Di salah satu hotel milik keluargaku.” Emir terdiam sejenak sambil berpikir. “The Palm Bliss Hotel. Agha bisa membantu untuk menangani semuanya kalau diadakan disana. Dan mengenai tanggalnya, aku mau dilaksanakan bulan depan.”
“Baiklah. Aku akan mengatur semuanya untukmu. Ada hal lain lagi?”
“Bagaimana perkembangan villa yang akan kuberikan sebagai hadiah pernikahanku?” tanya Emir.
“Sudah hampir rampung. Furniture yang khusus kamu pesan akan selesai lusa. Setelah itu kamu bisa memeriksanya apa sudah sesuai dengan keinginanmu.”
“Kamu akan pergi kesana. Bawa ibu mertuaku kesana untuk melihatnya. Dia yang tahu selera anaknya, jika dia ingin mengubah interior atau apapun itu, segera lakukan.”
“Sepertinya kamu sudah benar-benar jatuh cinta pada istrimu. Sampai-sampai kamu memberi hadiah pernikahan semahal itu. Ck! Apa tanggapan keluargamu soal itu?”
“Yang menikah aku bukan keluargaku! Aku tidak peduli apa tanggapan mereka!” ucap Emir. “Apa semua yang ingin kamu ketahui sudah kujawab?”
“Fuuuh! Baiklah Emir! Aku pamit dulu,”
__ADS_1
“Ya ya…..pergilah! Semakin lama kamu disini, semakin banyak bahan gosip yang kamu kumpulkan.”
Aslan terkekeh lalu dia pun meninggalkan ruangan itu sambil geleng-geleng kepala. Aslan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi Jordan untuk menyampaikan pesan dari Emir. Setelah panggilan tersambung, tanpa basa basi Aslan langsung menyampaikan pesan Emir.