GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 64. KEKHAWATIRAN AMANDA


__ADS_3

Amanda bergegas masuk kedalam rumah dan disambut oleh seorang pelayan, “Anda sudah pulang Nona?” ujar pelayan itu sambil berjalan menuruni tangga membawa segelas susu.


“Apakah ibuku diatas? Susunya tidak diminum?”


“Nyonya terlihat sangat kesal dan tidak mau meminum susunya.” jawab pelayan itu.


“Kenapa ibu kesal? Apakah ini soal Arimbi?” Amanda ingin tahu kenapa Mosha merasa kesal dan menginginkannya segera pulang kerumah. Pelayan itu menggelengkan kepalanya karena dia juga tidak tahu kenapa nyonya Rafaldi terlihat sangat kesal dan marah, tidak seperti biasanya.


“Istirahatlah. Berikan susu itu padaku biarkan aku yang memberinya pada ibuku.” Amanda mengambil segelas susu itu dari tangan pelayan.


Mosha memiliki gejala amnesia ringan dan dia perlu minum susu untuk membantunya tidur setiap malam. Amanda berjalan menuju kamar Mosha dengan segelas susu ditangannya lalu mengetuk pintu.


“Ibu! Ini aku Amanda.”


“Ada apa?” tanya Mosha ketus dari dalam kamar.


“Bukankah ibu menginginkan aku segera pulang?”


“Sudah tidak perlu lagi!” balas Mosha.


Amanda memegang gelas susu itu erat-erat, ‘Kukira ada hal gawat. Sudah datang jauh-jauh setelah disuruh pulang dan sekarang ibu bilang tidak perlu?’ Amanda mengomel kesal dihatinya. Tapi dia berusaha menyembunyikan kekesalannya dan terus berakting seperti anak yang baik dan sabar. “Ibu perlu minum segelas susu ini agar bisa tidur nyenyak.” ucapnya kemudian.


“Aku tidak mau minum! Aku sedang kesal Amanda! Pergilah dan jangan ganggu ibu.”


“Ibu, bisakah ibu memberitahuku ada apa?”

__ADS_1


Mosha bungkam selama beberapa menit. Amanda memanggilnya lagi tapi Mosha mengacuhkannya. Akhirnya Amanda berbalik lalu dan berjalan menuruni tangga. Sesaat kemudian tampak Yadid berjalan memasuki rumah dengan langkah tergesa-gesa.


“Ayah!” Amanda berdiri masih memegang ponselnya mengirim pesan pada Reza dan menerima informasi kalau pria itu sudah berganti pakaian dan membersihkan lukanya serta mendapatkan suntikan anti rabies.


“Dimana ibumu Amanda?”


“Ibu ada dikamar. Aku sudah mengetuk pintu tapi ibu tak kunjung keluar. Dia bahkan tidak mau meminum susunya. Apakah ayah selingkuh dari ibu?”


“Tidak! Aku akan menemui ibumu sekarang.” ucap Yadid tersenyum lalu berjalan cepat menaiki tangga dengan langkah tergesa-gesa.


Amanda pikir ayahnya mungkin berselingkuh dari ibunya. ‘Apakah ayah punya selingkuhan diluar sana? Apakah dia punya anak lagi?’ Amanda semakin penasaran dan khawatir. ‘Huh! Kembalinya Arimbi saja sudah emngurangi hartaku! Jika ada seorang anak lagi yang muncul, bisa-bisa kau tidak mendapatkan apa-apa dari keluarga ini.’pikirnya dengan kesal.


Rasa penasarannya semakin mengganggu pikirannya, Amanda pun berjalan menaiki tangga perlahan mendatangi kamar orang tuanya dan mencoba mendengarkan pembicaraan didalam. Dia bisa mendengar suara teriakan berdebat dan terdengar ibunya menangis. Tapi Amanda tidak bisa mendengar topik pembicaraan mereka, meskipun dia sudah berusaha kerasa untuk mendengarkan tapi dia tidak bisa mendengarkan. Jadi dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Sedangkan didalam kamar, Yadid duduk disamping istrinya memegang sekotak tisu. Dia terus menarik tisu keluar untuk mengusap air mata Mosha. “Aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu sayang. Emir bilang aku tidak bisa mengatakannya padamu.” ucap yadid berbisik.


“Ini semua salahmu! Kalau kamu menolak permintaan Keluarga Serkan, Arimbi tidak akan pergi menemui Emir. Kejadian ini tidak akan pernah terjadi!” Mosha menjerit kerah Yadid sambil menangis tersedu-sedu. Sedangkan Yadid memgang pundak istrinya lalu dengan suara lembut dia bicara.


“Iya...iya. Ini semua salahku. Sekarang tenanglah, Arimbi bukan orang yang mudah dirundung. Dia pasti menikahi Emir atas kemauannya sendiri.”


“Apakah kamu tak menyadari kalau dia sedikit berbeda sejak saat itu?” tanya Yadid lagi.


“Apa yang kamu bicarakan? Dia adalah putri kandung kita!” Mosha berhenti menangis.


“Aku tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja Arimbi adalah wanita penuh pendirian, kita tidak mengenalnya dengan baik meski sudah setahun berlalu. Dia pasti punya alasan sendiri kenapa melakukan itu. Jangan terlalu kesal, sayang. Selama Arimbi melakukan ini atas kemauannya sendiri yang bisa kita lakukan hanyalah kebahagiaan untuknya. Emir punya peluang untuk sembuh dan mungkin kemandulannya juga bisa sembuh.”

__ADS_1


Mosha mendorong suaminya itu menjauh,”AKu tahu kamu senang pernikahan ini terjadi. Kamu bisa mendapatkan sekutu yang berkuasa, tapi coba kamu pikirkan soal putri kita. Keluarga Serkan memang berkuasa sementara Arimbi hidup didesa selama ini. Dia bukan wanita cerdik, bagaimana bisa dia menjejakkan kaki disebuah keluarga yang begitu berbahaya?”


Mosha memikirkan Arimbi seandainya para wanita dikeluarga Serkan menyerangnya maka Arimbi akan berakhir buruk.


“Ada Emir disana, selama dia ada disana takkan ada seorangpun yang berani melakukan apapun pada Arimbi.”ucap Yadid berusaha menenangkan istrinya.


“Kalau Emir tidak cacat dan impoten dia akan menjadi pria yang tepat untuk dinikahi. Tapi----”


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan! Berhentilah memelototiku. Kamu bisa tanya pada Arimbi kenapa dia melakukannya saat dia pulang kesini. Kurasa kamu akan menyetujui keputusannya. Kamu tidak memberitahu Amanda kan? Emir tidak ingin siapapun tahu jadi kita harus merahasiakannya juga.”


Hati Mosha terasa sakit seperti disayat karena memikirkan putrinya tak hanya menikahi pria jahat tapi dia juga menginginkan pernikahannya dirahasiakan juga! Ketika Arimbi pulang nanti Mosha akan menanyakan begitu banyak hal. ‘Kalau memang benar Emir memaksa Arimbi menikahinya maka aku akan membuat pria itu membebaskan Arimbi meski dia mengancam membunuhku!’ tekad Mosha didalam hatinya sudah kuat.


...****...


Jam tiga pagi dini hari, Emir lagi-lagi terbangun dari mimpi indah itu. Bahkan kali ini dia berkeringat, ditatapnya langit-langit kamar. Didalam mimpinya dia sedang berhubungan badan dengan seorang wanita yang tak dia ketahui identitasnya. Hal misterius itu membuatnya frustasi. Beberapa saat kemudian dia ingin bangkit dari tempat tidur tapi tersadar bahwa seseorang sedang memeluknya.


‘Arimbi? Wow! Dia bahkan tidak mau melepaskanku saat tidur? Sungguh wanita ini tak tahu malu.’


Karena frustasi Emir menarik tangan Arimbi dan berusaha menendangnya jatuh dari ranjang tapi mengangkat kakinya saja sudah terasa sulit jadi dia menyerah. Dia memelototi wanita itu sejenak sebelum perlahan merubah posisinya menjadi duduk. Ketika dia akan beranjak dari kasur, Arimbi memanggilnya tiba-tiba, “Emir….”


Pria itu membalikkan badan dan melihat kedua mata Arimbi masih tertutup rapat tapi dia memanggil nama pria itu dengan sangat lembut. ‘Hmmm sepertinya dia bermimpi! Apa dia bermimpi tentangku?’ Ekspresi wajah Emir berubah, tak lama kemudian dia melihat tangan Arimbi mengayun diudara sambil memanggil dengan kesakitan, “Sayang. Bayiku…...”


‘Bayi? Bayi siapa?’ Emir mengeryitkan kening melihat Arimbi meneteskan air mata. Hal itu membuatnya kesal lalu Emir mendorong Arimbi untuk membangunkannya, “Hei Arimbi.”


Arimbi terbangun saat didorong agak kuat. Melihat Emir didepannya dia tampak melamun cukup lama. ‘Oh aku bermimpi?’ bisik hatinya. Dia bermimpi tentang kehidupan sebelumnya ketika bayinya mati dan betapa tak berdayanya dia saat itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2