
Sementara itu di ruang kerjanya, setelah Emir meletakkan ponselnya wajahnya berubah menjadi gelap. Entah siapa yang baru diteleponnya. Dia duduk bersandar dikursinya sambil menatap sepasang boneka tikus dimejanya. Kemudian, wanita tanpa wajah yang dia tiduri didalam mimpinya muncul dibenaknya dan entah mengapa dia mulai menyocokkan wanita tanpa wajah itu dengan Arimbi.
Setelah menghabiskan waktu bersama Arimbi, dia merasakan familiar dengannya. Ada rasa familiar dan akrab yang dirasakan Emir setiap kali dia bersama Arimbi tetapi dia sangat yakin kalau dia belum pernah melihat Arimbi sebelum dia datang untuk memeotong pergelangan tangannya.
Saat Emir melihat jam tangannya, dia berteriak, “Rino! Masuk sini sebentar!”
“Tuan Emir, anda memanggil saya?” tanya pengawal bernama Rino.
“Aku mau pulang.” perintah Emir. Kemudian Rino berjalan mendekat dan membantu Emir naik kekursi rodanya sebelum mengambil ponselnya menghubungi rekan-rekannya.
Begitu sampai dilantai dasar, iring-iringan mobil Emir sudah menunggu diluar. Beberapa menit kemudian iringan mobil itu meninggalkan gedung kantor megah itu. Saat iring-iringan mobil itu sudah memasuki jalan utama menuju Villa Serkan, sebuah mobil BMW warna merah menyala melaju kencang menyusul iring-iringan itu dari belakang lalu melewati iring-iringan itu. Siapapun yang berada didalam mobil BMW itu terlihat terburu-buru hingga mengemudi bak seorang pembalap.
“Sungguh pengemudi yang berbahaya!” ujar supir Emir dengan wajah cemberut saat mobil BMW itu melaju kencang menyelipnya. Jalan ini menuju Villa serkan jadi tidak ada yang mengemudi di jalan ini kecuali mereka menuju ke arah villa.
Emir yang duduk dijok belakang mobil pun melihat mobil BMW yang melaju kencang melewati iring-iringan mobilnya. Dia tidak mengenali plat nomornya tetapi dia mengenali kata-kata pada stiker yang menempel di belakang mobil BMW itu. “Pengemudi wanita pemula. Tolong bersabar denganku.”
Emir tahu yang mengemudi mobil itu adalah seorang wanita dan dia juga pengemudi pemula. Seorang pengemudi pemula sedang melaju kencang dijalanan seperti itu? Itu bukan pengemudi pemula tetapi pembalap profesional! Saat Emir memikirkan hal itu, tatapannya menjadi gelap dan mengerucutkan bibirnya. ‘Awas kau! Benar-benar istri tidak tahu malu!’ bisiknya didalam hati.
Iring-iringan mobil Emir menjaga jarak aman sambil mengikuti mobil BMW yang dikemudikan seperti pesawat tempur itu. Sedangkan pengemudi BMW adalah Arimbi, dia sedang terburu-buru untuk segera pulang ke villa Serkan jadi dia melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Sebenarnya dia bukan seorang pemula, dia bahkan jago mengemudi mobil karena dia juga seorang pembalap tapi ini adalah mobil baru dan dia sangat menyayanginya. Itu sebabnya dia menempelkan stiker itu untuk mengingatkan orang lain agar tidak menabraknya.
Awalnya dia tidak tahu kalau iring-iringan mobil berharga miliaran itu milik suaminya. Tapi saat dia melihat mobil-mobil itu masih dibelakangnya dan berhenti di pintu masuk Villa serkan, akhirnya dia sadar kalau iringan mobil itu milik Emir.
Emir adalah kepala keluarga Serkan jadi dia tahu semua nomor plat mobil keluarga Serkan, karena dia tidak mengenal plat mobil BMW itu makanya dia menebak bahwa istri barunya yang mengendari mobil itu dengan gila-gilaan di jalan. Wajahnya pun menjadi gelap seperti batu bara dan sebuah ide terlintas dikepalanya.
Jika wanita itu meninggal setelah menikahinya, orang lain akan mengatakan kalau dia tidak bisa mengurus istrinya dengan baik, dia cacat dan dia itu kutukan!
Saat itu Arimbi turun dari mobilnya karena dia tidak bisa masuk. Penjaga keamanan di pintu masuk Villa Serkan tidak membiarkan mobil yang tidak dikenal memasuki kompleks itu. Karena dia tahu suaminya yang ada dibelakangnya, dia pun turun dari mobilnya menunggu suaminya.
“Hentikan mobil!” perintah Emir. Supir pun langsung menghentikan mobilnya. Emir menurunkan jendela mobilnya dan menatap Arimbi dengan tatapan dingin saat Arimbi mendekat.
Tapi Emir tidak membalas, dia hanya menatapnya dengan dingin. Arimbi tidak takut karena dia sudah biasa melihat tatapan dingin dan tajam Emir, dia pun berdiri didekat jendela mobil sambil tersenyum.
“Mobil apa yang kamu kendarai?”
“BMW! Ibuku memberikannya padaku. Bagaimana menurutmu, baguskan?” tanya Arimbi sambil melihat mobil barunya yang dihadiahkan ibunya.
“Kamu yakin itu BMW? Kupikir itu pesawat ! Mengendarai mobil seperti pesawat! Arimbi, kamu benar-benar…...” Emir mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
“Terimakasih Emir atas pujianmmu. Apakah menurutmu kemampuan mengemudiku sangat menakjubkan? Jika aku ikut balapan mobil, aku pasti akan menjadi juara dan membuatmu bangga.” ujarnya dengan membual sedikit mengakui kalau dia memang sering balapan.
Wajah Emir pun langsung berubah setelah mendengar bualan Arimbi, ingin rasanya dia mencekik istrinya itu sampai mati.
Emir hanya memelototinya lalu menaikkan jendela mobil karena dia tak ingin bicara dengan Arimbi lagi. Dia khawatir akan kehilangan kendali diri dan mengambil tindakan ganas untuk memberinya pelajaran. “Rino!” panggilnya setelah menutup jendela. “Biarkan Arman dan yang lainnya turun dan suruh mereka melepaskan ban mobil itu!” perintahnya.
‘Mari kita lihat Arimbi! Bagaimana kamu akan mengemudikan mobilmu tanpa ban!’ seringai licik muncul diwajah Emir. Dia tampak sangat senang membayangkan reaksi istrinya itu nanti.
“Baik, Tuan!” jawab Rino. ‘Aduh nyonya sudah membuat Tuan Emir marah sampai menyuruh melepaskan ban mobilnya. Tapi…..apakah tindakan Tuan Muda ini karena dia mengkhawatirkan Nyonya Muda? Biasanya dia tidak pernah peduli dengan hal-hal seperti itu?’ bisik hati Rino.
Tak lama pintu gerbang Villa Serkan terbuka dan iring-iringan mobil Emir masuk. Tapi salah satu mobil tidak ikut masuk. Hal itu membuat Arimbi merasa aneh saat dia melihat empat pengawal turun dari mobil itu dan menuju ke bagasi untuk mengambil sesuatu. Kemudian Arimbi melihat bahwa benda yang mereka ambil adalah kotak peralatan.
Setelah itu mereka menuju ke mobilnya dan mulai melepas ban mobilnya. ‘Kyaaa! Apa-apaan ini? Mereka melepas ban mobilku? Arggg…...Emiiiiirrrrrr!’ geramnya.
“Hei…..apa yang kalian lakukan? Hentikan! Heiiiii!” Arimbi berteriak mencoba menghentikan para pengawal itu tetapi kata-katanya tidak diindahkan dan mereka dengan cepat melepas ban mobilnya.
‘Ahhhh…..ini pasti perintah Emir! Awas ya bakal aku kasi pelajaran tuh orang!’ geramnya didalam hati mengutuki suaminya. Arimbi panik dan menatap mobilnya dengan cemas. Dia menghentakkan kakinya dan berlari masuk ke dalam villa. ‘Bagaimana aku bisa mengemudi mobilku tanpa ban? Orang itu benar-benar gila ya! Ahhh…….berani-beraninya dia menyuruh pengawalnya melepas ban mobilku!’
‘Aku hanya mengebut supaya cepat sampai dirumah! Apa yang salah dengan itu?’ geramnya. ‘Kenapa menghukumku begini sadis sih? Argggg….lagipula aku diminta pulang sebelum jam 1 siang kan? Coba dia memberiku waktu lebih lama, aku juga tidak bakal ngebut.’
__ADS_1
Setelah memasuki komplek villa, Arimbi mengingat-ingat sejenak ketika dia mencoba mencari tahu kemana dia harus pergi karena komplek Villa Serkan terlalu besar. Ada jalanan yang terbuat dari semen saling bersilangan mengarah ke berbagai arah dan semua jalan dipenuhi pepohonan dan tanaman hijau. Terlihat seperti labirin raksasa dan siapapun yang tidak terbiasa akan kesulitan menemukan jalan masuk kerumah yang ada ditengah.