GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 246. BERTEMU KEKASIH


__ADS_3

“Nona Ruby, selamat siang.”


“Selamat siang.” Ruby menggenggam tangan Reza. Sementara itu Reza tak berani menatap mata Amanda. Dia menolehkan wajahnya kesamping dan menatap Ruby dari samping dengan tatapan lembut. Rasa bersalah Reza menyelimuti Amanda yang penuh dengan cemburu.


“Nona Ruby, Tuan Kanchana. Kudengar kalian berdua akan mengumumkan kabar gembira. Selamat ya. Rasa-rasanya aku akan berkesempatan untuk diundang pada acara pernikahan kalian nanti.”


Kendati Amanda tersenyum, tapi didalam hatinya dia sangat cemburu.


Wajah Ruby merona merah tersipu malu. Ia memiringkan kepala dan menatap Reza. Ketika dia menyadari Reza sedang menatapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Ruby langsung meleleh pada tatapan sang pria. Pria ini benar-benar tampan!


Lalu Ruby pun berkata, “Nona Rafaldi, kamu dan Reza sudah saling mengenal selama bertahun-tahun dan juga berteman. Aku pasti akan mengundangmu untuk menyaksikan pernikahan kami nanti. Kalau kamu mau, aku memintamu untuk menjadi pagar ayu juga. Reza, apa kamu mau mengizinkanku meminta Nona Rafaldi menjadi pagar ayu di pernikahan kita nanti?”


Dengan suara yang mesra, Reza berkata, “Aku tidak masalah selama Amanda menyanggupi.”


Sontak dia melirik Amanda. Saat dia melihat Amanda memandangnya, dia segera menatap Ruby lagi dengan lembut. Dalam hatinya Reza menghela napas dan mengutuki dirinya yang sangat sial hari ini.


‘Aku mengajak Ruby pergi memancing tetapi kami malah bertemu Arimbi disana. Tidak itu saja. Arimbi bahkan mendorong Ruby kedalam sungai. Karena itu aku terpaksa membeli pakaian baru untuk Ruby untuk mengganti pakaiannya yang basah. Aku harus merogoh dompetku untuk membayar pakaian itu.’ gerutunya dalam hati.


Gara-gara kejadian itu akhirnya Ruby kehilangan minatnya untuk memancing. Jadi Reza menemaninya pergi kerumah Keluarga Lavani untuk memberitahu Zivanna tentang kejadian itu. Tapi mereka malah berpapasan dengan Amanda disini. Reza merasa dadanya sesak karena memikirkan tatapan Amanda yang tajam tanpa belas kasih.


Reza takut kalau Arimbi tidak bisa menahan dirinya dan menguak hubungannya dengan Amanda. Jika itu terjadi, maka Reza dan perusahaan keluarganya akan jatuh kedalam keadaan genting. Walaupun Amanda dalam hati mengutuk Ruby sebagai wanita licik, tapi dari luar dia bersikap baik dan berkata, “Nona Ruby. Aku ingin menjadi pagar ayu dalam pernikahanmu dan berbagi kebahagiaan bersamamu juga.”

__ADS_1


“Tapi sayangnya aku sangat sibuk dengan pekerjaanku. Jadi, sepertinya aku tidak akan bisa datang tepat waktu. Tapi jangan khawatir aku pasti datang ke upacara pernikahanmu saat kalian menikah nanti.” ucap Amanda sambil tersenyum.


Setelah mendengarnya Ruby menghela napas dan berkata, “Oh ya? Sayang sekali ya?”


“Nona Ruby, ada sesuatu yang harus kutangani saat ini. Aku pamit dulu.” Amanda pamit pada Reza dan Ruby. Dia memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Reza hanya bisa menghela napas panjang setelah Amanda pergi. “Reza, ayo kita masuk. Zivanna seharusnya sudah bangun dari tidur siangnya jam segini. Aku akan menemanimu memasuki rumah dan meminta maaf padanya sekali lagi. Zivanna akan memaafkanmu demi aku.”


“Baiklah. Terima kasih.” ucap Reza.


“Kenapa kamu berterima kasih? Berhubung aku sudah memutuskan untuk menikahimu, kita akan menjadi suami istri. Suami dan istri adalah satu. Tak peduli apa pun itu, kita akan jatuh dan bangkit bersama. Dan bagaimana aku bisa diam saja saat sesuatu terjadi pada keluarga suamiku dan mengabaikannya?”


‘Aku tidak perlu mempersiapkan mahar lagi. Ibu sudah mempersiapkan banyak mahar sebelumnya untuk menghina Arimbi.’ gumam Reza dalam hatinya. ‘Tentu saja jumlah mahar yang akan kuberikan pada keluarga Zimena harus setengahnya. Mereka tidak selevel dengan keluarga kami, mana mungkin aku memberikan semua mahar itu?’


Memang dalam hal kedudukan, Ruby tidak sebanding dengan putri dari Keluarga Rafaldi. Terlebih lagi, Ruby juga bukanlah wanita yang dicintai Reza. Menurut Reza dan Yessi, mahar sebaiknya tak perlu mewah namun membawa nilai tertentu dimana keluarga Zimena tak akan menemukan kesalahan.


Sembari bergandengan tangan, Reza dan Ruby berjalan menuju rumah utama dengan mesra. Sesaat setelah mereka tiba di pintu rumah utama, ponsel Reza berdering. Dia mengeluarkan ponselnya dan melihat nama penelepon. Itu adalah panggilan dari Amanda. Reza mengangkat panggilan tersebut seolah tak terjadi apa-apa.


Tapi dia hanya diam saja tak mengucapkan sepatah katapun. Lalu dia segera menutup panggilan lalu menoleh pada Ruby dengan wajah serius dan berkata, “Ruby, maafkan aku. Ada panggilan darurat sementara dari perusahaan. Aku diminta untuk kembali dan mengurusnya.”


Dengan ekspresi kecewa Ruby berkata, “Tetapi kita sudah disini. Apa kamu tidak ingin masuk dulu?”

__ADS_1


Namun wanita itu langsung mengerti saat dia melihat tatapan tegas Reza. “Kalau begitu, pergilah dan urus masalah mendadak itu terlebih dahulu. Aku akan meminta maaf pada Zivanna mewakilimu. Ingat ya jemput aku nanti. Kita akan makan malam bersama malam ini.”


“Baiklah.” jawab Reza singkat. Reza mengambil kesempatan tak ada orang di sekitar mereka, dia langsung memeluk Ruby dan mencium bibirnya. Pria itu melepaskan sang wanita saat dia merasa malu. Lantas Reza berbalik dan pergi dengan terburu-buru.


Ruby berdiri ditempat dan menunggu hingga sosok Reza menjauh. Wajahnya sumringah mendapatkan ciuman dari pria menawan itu. Hati Ruby pun menjadi berbunga-bunga, dia berpikir betapa beruntungnya dia bisa menikahi Reza. Kelak dia akan melayani dan menjadi istri terbaik untuk pria itu.


Setelah itu, Ruby berbalik dan masuk kedalam rumah.


...********...


Setelah makan siang, mereka beristirahat sebelum Emir mengantarkan Arimbi ke Lembaga Pendidikan  Etika Metro. Kepala sekolah bernama Pascal Abiram yang sedang menunggu di pintu masuk, tersenyum melihat kedatangan mobil Emir mendekat kearahnya. Awalnya dia takut penantiannya akan sia-sia.


Tetapi ketika melihat jam dia langsung terkejut dengan ketepatan waktu Emir.  Dia bahkan datang dua menit lebih awal. Supir menghentikan mobil ditempat parkir didepan pintu masuk. Rino yang pertama keluar dari mobil. Dia mengeluarkan kursi roda Emir lalu Arimbi membantunya keluar dari mobil.


“Halo Tuan Emir,” sapa Pascal sambil tersenyum bersama beberapa pimpinan lainnya.


“Maaf membuat anda menunggu, Tuan Abiram.” ucap Emir. Emir selalu bebricara dengan dingin pada orang lain, tetapi sebenarnya dia tidak jahat. Itu hanyalah kebiasaannya saja. Sikapnya itu membuat orang lain menjadi takut.


Mereka takut kalau-kalau menyinggung perasaannya. Itu sebabnya dia selalu berbicara dengan nada dingin pada orang lain. “Oh tidak sama sekali Tuan. Kami baru saja berjalan keluar.”


“Tuan Abiram, ini istri saya. Arimbi Rafaldi.” ucap Emir memperkenalkan.

__ADS_1


__ADS_2