GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 36. MANDIKAN AKU


__ADS_3

“Baiklah!”


Arimbi dengan cepat mengambil alih kursi roda Emir dari tangan pengawalnya dan mendorong masuk kedalam rumah. Setelah mereka berada didalam rumah, Emir menyuruh Arimbi untuk membawanya kedalam ruangannya dan menyiapkan mandi untuk Emir. Lalu Arimbi mendorong kursi rodanya memasuki kamar hingga sampai di depan pintu kamar mandi.


“Kamu bantu memandikanku!” perintah Emir dengan tegas.


“Ha?” Arimbi sangat terkejut mendengar perintah Emir. Saking terkejutnya, dia sampai-sampai lupa caranya berjalan. Tangannya gemetaran. “E---Emir, kamu memintaku untuk membantumu ma---mandi?” tanya Arimbi dengan tergagap. Tangannya tiba-tiba berkeringat.


“Iya! Kenapa kamu gugup begitu? Apa kamu menggigit lidahmu sendiri?” tanya Emir sarkas.


“Emir! Apa kamu lupa kalau aku ini seorang wanita? Apa menurutmu wajar bagiku untuk membantumu mandi?” tanya Arimbi cemas.


“Kamu istriku. Apa salahnya jika seorang istri membantu suaminya mandi?” ujar Emir mendengus.


“Kalau begitu….aku akan melakukan apa yang kamu mau,” ujar Arimbi bahagia dan mendorongnya masuk kedalam kamar mandi dengan wajah ceria.


Melihat Arimbi yang bahagia, Emir menoleh kebelakang. Awalnya dia terkejut lalu kenapa sekarang malah terlihat bahagia sekali? Emir bertanya-tanya didalam hatinya bahwa suasana hati wanita ini berubah secepat kilat, yang membuatnya sama saja seperti Emir!


Setelah mereka berada didalam kamar mandi, Arimbi segera menyiapkan semua keperluan mandi untuk Emir. Saat dia memikirkan kalau dia bisa melihat orang seampan Emir dalam keadaan polos dan mandi, Arimbi merasa sangat senang sampai-sampai dia bersenandung bahagia.


Sedangkan Emir mengerutkan keningnya saat mendengar Arimbi bersenandung dengan cepat dia menoleh dan melihat Arimbi yang meringis lebar. Senyumannya mengingatkan Emir saat pertama kali mendapatkan buku nikah mereka.


“Emir! Aku sudah mengisi bak mandinya.” ujarnya sambil memberikan senyuman termanis pada Emir.


Emir menggerakkan kursi rodanya mendekat ke bak mandi.

__ADS_1


Mata Emir menangkap sinar bahagia dimata istrinya itu saat Arimbi mulai melepaskan baju Emir.


“Emir! Kamu memiliki otot yang keras!”


Saat Arimbi membantu Emir melepaskan kemejanya, dia mencari kesempatan untuk melampiaskan hasratnya untuk menyentuh tubuh suaminya. Sedangkan Emir menyadari kalau dia sudah membuat Arimbi tidak merasa takut lagi padanya dan malah membuat Arimbi bisa melakukan apapun yang dia mau pada Emir.


Tangan lembut Arimbi menyentuh sabuk celana Emir dan mrncoba melepaskan celana pria itu tapi. Emir meraih tangan Arimbi dan mencengkeram kuat. Tangannya yang lembut itu terasa nyaman dipegang.


Emir berkata pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan melepaskan tangan Arimbi. Dia ingin merasakan tangan Arimbi tapi dia juga ingin menghentikan aksi Arimbi yang hendak melepaskan celana Emir.


“Emir?” Arimbi menatapnya dengan bingung.


“Aku akan mandi sendiri! Kamu bisa pergi sekarang!” ujar Emir lalu melepaskan tangan Arimbi. “Tutup pintunya saat kamu keluar.”


“Tapi Emir, tidakkah kamu akan kesulitan untuk mandi sendiri? Kenapa tidak mengizinkanku untuk membantumu? Kita sudah menikah dan hubungan kita adalah hubungan terdekat sebagai suami istri, jadi kamu tidak perlu malu-malu.”


Emir melepaskan tangan Arimbi dari genggamannya. Dengan perasaan kecewa wnaita itu keluar dari kamar mandi dan menutup pintu.


Setelah keluar dari kamar mandi, dia menutupi mulutnya dan tertawa, “Hahaha….coba-coba bermain-main denganku ya? Emir! Kita lihat siapa yang akan kalah nanti! Huh! Aku tidak akan menyerah begitu mudah….”


Setelah Emir selesai mandi, Arimbi sudah berbaring diatas ranjang sambil memakan buah yang ada dipiring yang dibawanya. Dia tersenyum pada Emir dan bertanya, “Emir! Apa kamu mau buah?”


Tetapi, Emir mengabaikannya dan menggerakkan kursi rodanya mendekati ranjang. Setelah Arimbi melihat bahwa Emir agak kesulitan untuk naik keatas ranjang, dia merasa cemas. “Kamu sebaiknya melanjutkan terapimu, dan berlatih untuk berjalan lagi agar kamu cepat sembuh. Kamu bisa terkena atofi otot kalau kamu terus bergantung pada kursi roda.”


Tak ada respon dari Emir, akhirnya dia berhasil berbaring diatas ranjang. Arimbi melihat semuanya dengan wajah cemberut, dengan tidak tahu malunya dia mendekati Emir sambil tersenyum.

__ADS_1


“Emir! Apa kamu masih marah padaku? Aku mengaku bahwa aku pernah menyukai Reza tapi seperti yang aku bilang, itu dulu! Aku sudah tidak ingin berurusan lagi dengannya karena sekarang aku hanya menyukaimu. Aku berkata jujur, aku menyukaimu seorang!” ujarnya sambil menyentuh wajah Emir.


Arimbi melihat tatapan mata Emir yang kelam yang membuatnya tertawa dan tersenyum padanya.


“Emir! Aku tahu kamu tidak menyukaiku tapi aku tidak peduli. Aku masih punya waktu yang lama sepanjang hidupku untuk membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan buktikan ucapanku ini! Aku akan membuatmu benar-benar jatuh cinta padaku, ya hanya padaku!”


“Benar-benar tidak tahu malu!” balas Emir ketus.


“Terimakasih pujiannya, Emir.” jawab Arimbi tersenyum manis membuat Emir tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat senyum manis yang disukainya itu.


“Emir! Apa kita akan tidur bersama malam ini?” tanya Arimbi penuh semangat tanpa rasa malu.


“Tidak masalah, kalau kamu mau tidur dilantai!”


Emir membalikkan badannya memunggungi Arimbi, dia tidak ingin wanita itu melihat ekspresi senang diwajah tampannya saat ini.


Emir baru saja menemukan satu hal baru bahwa Arimbi saat ini semakin tidak terkendali dan Emir mulai memaklumi kelakuannya itu. Meskipun kelakuan Arimbi mengejutkan bagi Emir karena baru beberapa hari lalu mereka menikah dan tidak saling mengenal sebelumnya. Tapi istrinya itu sangat berani didepan Emir.


“Tunggu aku ya Emir. Aku mau mandi dulu, tidak lama-lama kok aku mandinya.” Arimbi meringis lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


Emir yang mendengar ucapan wanita itu semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena ucapan Arimbi seolah memberi isyarat kalau mereka akan melakukan hubungan suami istri setelah dia selesai mandi. Dengan polosnya, Arimbi melepaskan bajunya dikamar itu untungnya Emir sedang dalam posisi membelakanginya sehingga pria itu tidak melihat Arimbi.


Setelah melepas pakaiannya, dia masuk ke kamar mandi, Emir yang mendengar suara pintu kamar mandi ditutup segera membalikkan tubuhnya dan memikirkan semuany. Sebelum akhirnya dia sadar dan cepat-cepat beranjak menaiki kursi rodanya dan dengan terburu-buru dia menggerakkan kursi rodanya dan meninggalkan kamar.


‘Lebih baik aku pergi sekarang, sebelum dia selesai mandi dan kembali ke kamar. Wanita tak tahu malu itu terlalu ganas! Bisa-bisa dia akan menerkamku dan menelanjangiku lalu memperkosaku malam ini.’ bisiknya dalam hati. Entah dengan kekuatan apa dia bergerak begitu cepat dan kini sudah berada diluar kamar yang pintunya tertutup rapat. Emir menghela napas lega.

__ADS_1


Sedangkan Arimbi yang sedang menikmati sesi mandi dan memikirkan bahwa dia akan tidur bersama dengan orang paling melegenda didunia bisnis, dia merasa sangat bahagia dan cepat-cepat menyudahi mandinya.


__ADS_2