GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 53. EMIR PELINDUNGNYA


__ADS_3

“Seorang wanita terhormat dari kalangan atas tidak perlu menjatuhkan orang lain demi meningkatkan derajatnya sendiri! Dan aku akan mengatakan ini untuk terakhir kalinya, Emir tidak membawaku kembali sebagai pelayan Keluarga Serkan! Jangan pernah berharap aku akan melakukan apapun yang pelayan lakukan. Jadi maaf, aku ada urusan lain yang lebih penting untuk ditangani. Aku akan menyingkir dari hadapan ibu dan menyelamatkan ibu dari cobaan berat karena menemuiku. Sebaiknya aku tidak mendekat dan mendengar ibu mengatakan kalau seorang udik sepertiku hanya akan mengotori rumah ibu dengan berdiri disini.”


Arimbi berbalik dan pergi setelah dia selesai bicara. Dia bahkan tidak menunggu jawaban dari Rania. Sedangkan Rania ingin membalas cercaan Arimbi tetapi wanita itu bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara. Arimbi bicara tanpa jeda bagaikan senapan mesin ketika emosinya meluap. Kata-katanya tajam dan menusuk serta tak memberi kesempatan untuk membalas.


Sementara Beni yang sedari tadi berdiri disudut mendengarkan semuanya. Dia mengira jika kepribadian Arimbi lemah karena dia melihat wanita itu sangat patuh dihadapan Emir. Tapi dia sangat terkejut saat melihat Arimbi menggunakan kekuatannya dihadapan Rania. Arimbi tak menunjukkan sedikitpun kelemahan dan Rania gagal mencecranya dan tampak seperti ketakutan.


“Arimbi rafaldi! Cepat kembali kesini!” teriak Rania yang tersadar dan berlari sambil berteriak setelah melihat Arimbi pergi.


Arimbi tak mengindahkan dan terus berjalan. Rania berlari dengan murka kemudian dia menoleh pada Beni dan berkata, “Beni! Apa kamu lihat bagaimana cara wanita itu bicara padaku? Beraninya dia meninggikan suaranya padaku? Kenapa memangnya kalau aku memanggilnya udik? Apa aku salah?”


“Nyonya Serkan, apakah anda ingin mendengar yang sebenarnya?” tanya Beni.


“Apa kau ingin berbohong padaku?”


“Tentu saja tidak Nyonya Serkan. Perilaku serta pilihan kata-kata anda tidak hanya menghina Nona Arimbi tapi juga menghina orang-orang yang berasal dari pedesaan.”


“Itu…..itu karena aku tidak menyukainya dengan caranya memperlakukan Emir!” balas Rania.


“Nyonya serkan, maafkan saya api sebaiknya anda tidak ikut campur dengan urusan pribadi Tuan Emir. Meskipun anda adalah ibunya tapi beliau tidak mengizinkan anda untuk ikut campur. Jadi sebaiknya anda menghindari mencampuri hubungan Tuan Emir dan Nona Arimbi.”ujar Beni.

__ADS_1


Wajah Rania langsung muram, “Sebagai ibunya aku berhak membalas dendam pada wnaita itu. Andai saja Emir tidak mengalami kecelakaan dan cacat bagaimana mungkin seorang wanita seperti Arimbi bisa menikahi putraku?”


Rania memikirkan tentang Emir, dia adalah putra kebanggaannya yang kini terjebak dikursi roda dan tak dapat menjalankan perannya sebagai seorang pria. Semua wanita muda dari keluarga kaya dulunya berharap menikah dengan Emir, kini semua itu sirna seketika dan tak ada seorangpun yang mau membangun ikatan pernikahan dengan keluarga mereka. Akhirnya mereka terpaksa memilih Arimbi dan itulah yang membuat hati Rania tertusuk.


Dan sekarang wanita yang tidak pantas untuk masuk kekeluarga Serkan sudah berani menceramahinya. Wanita itu bahkan tinggal bersama putranya, memikirkan itu membuat Rania sakit kepala. Dia merasa khawatir jika Arimbi akan melakukan sesuatu yang buruk pada putranya.


“Kembalilah Beni. Aku akan menasihati Emir saat dia pulang nanti.”


Rania tidak akan membiarkan Arimbi lolos begitu saja dari masalah ini. ‘Huh dasar udik! Dia pikir dia itu siapa? Cih! Lihat saja nanti saat Emir pulang, aku akan meminta putraku untuk memberi pelajaran pada wanita itu!’ bisiknya didalam hati.


Beni yang sudah melangkah keluar dari rumah utama tidak mendapati jejak Arimbi, dia segera melangkah secepat mungkin.


Arimbi tidak langsung kembali ke villa Emir, dia memutuskan untuk duduk di pavilliun dimana biasanya Emir makan. Sang surya lambat paun membenamkan diri dan cahayanya kini hangat. Tak seterik saat siang tadi, cahaya suray senja itu mengayun ke arah Arimbi bagaikan sebuah pelukan hangat. Aingin sepoi-sepoi yang perlahan berhembus menghilangkan amarah dalam hati Arimbi.


Dia bahkan dikurung didalam kediaman Kanchana, setelah kematian orang tuanya Arimbi dipermalukan habis-habisan, seluruh hartanya dirampas dan hidupnya dibuat sulit. Kehidupannya lebih sulit daripada seorang pelayan.


Dia berhasil bertahan karena saat itu dia mencintai Reza tapi akhirnya semuanya berakhir tragis. Arimbi mencoba menyusun kembali puzzle dari ingatan dikehidupan dimasa lalu. Dia ingin menjadi kuat dan tidak akan bisa dikalahkan di kehidupan kedua ini.


Semua tragedi di kehidupan sebelumnya mulai terekam dibenak Arimbi dan dia bertekad akan memulai permainan takdirnya kali ini dan mengubahnya. Tragedi pertama yang harus dia ubah adalah pesta yang akan dia hadiri di akhir pekan nanti. Arimbi mencoba menahan air matanya saat dia teringat putrinya yang mati mengenaskan ditangan Reza dan Amanda.

__ADS_1


Hatinya merasa telah dicabik-cabik hingga tak terbentuk, dia tidak akan pernah bersua kembali dengan bayinya. Arimbi berharap agar bayinya memiliki keluarga yang baik dikehidupan selanjutnya. Saat dia mengingat putrinya dari kehidupan sebelumnya, dia mengerti kenapa Rania sangat membencinya.


Tapi tak seharusnya mertuanya itu menghinanya hanya karena dia dari pedesaan. Tanpa sadar waktu sudah berlalu dan dia baru sadar dari lamunannya saat dia mendengar suara mobil datang.


Emir sudah pulang, dia menyeka airmatanya dan duduk sejenak mengatur napas dan berusaha tampak tenang seperti tidak ada yang terjadi. Setelah dia merasa tenang, Arimbi berjalan keluar dari pavilliun dan berjalan menghampiri Emir.


Tapi Maya mendahulinya mendekati Emir dan mengatakan sesuatu padanya. Arimbi melihat saat Emir berbalik menatapnya, setelah itu para pengawal mendorong kursi roda Emir menuju ke rumah utama.


Arimbi berhenti berjalan, dari tatapan sekilas Emir, dia sadar bahwa sesuatu telah terjadi yang berhubungan dengannya. Mungkin Rania akan mengadu pada Emir tentangnya. Arimbi menghela napad dan kembali ke villa Emir. Dia belum membeli bahan makanan sehingga dia tidak bisa menyiapkan makan malam untuk dirinya. Tampaknya dia harus mengandalkan Emir lagi untuk berbagi makanan.


Saat Arimbi berjalan ke dapur mencari mi instan, dia terkejut setelah membuka kulkas yang telah diisi penuh dengan bahan makanan. ‘Siapa yang membeli ini semua?’ bisiknya.


“Nona Arimbi.”


Beni berdiri didepan pintu dapur dan memanggilnya.


“Oh Beni! Kupikir tidak ada bahan makanan didapur tapi saat aku membuka kulkas isinya sudah penuh. Apakah kamu yang membeli semua ini?”


“Saya meminta pelayan untuk membawakan beberapa bahan makanan dari rumah utama. Apa Nyonya akan memasak?” tanya Beni menunduk.

__ADS_1


“Bolehkah aku menggunakan bahan-bahan itu?”


“Silahkan saja, Nyonya Arimbi. Anda berhak penuh untuk menggunakan apapun disini dan jika anda membutuhkan batuan atau butuh yang lainnya tolong beritahu saya agar saya bisa menyuruh pelayan mendapatkannya untuk anda. Anda juga boleh membuat daftar dan saya akan akan memberikan pada juru masak utama. Mereka akan membawa barang yang anda butuhkan saat mereka pergi ke tempat bahan makanan besok.”


__ADS_2