Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Hukuman


__ADS_3

Setelah membunuh orang yang memimpin kelompok itu, Zero berjalan mendekati mereka yang tersisa. Raut-raut penuh ketakutan kini terlukis jelas di wajah mereka membuat wajah mereka yang semula jelek menjadi semakin jelek.


Mereka tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Melihat Zero mempunyai sebuah pistol dan mampu menembak dengan begitu akurat, menurut mereka memilih kabur bukanlah pilihan yang tepat.


Sementara para penduduk desa yang menyaksikan bagaimana pemimpin sekelompok b*jingan itu tewas merasa lega karena akhirnya dendamnya bisa terbalaskan.


Namun pada saat yang sama mereka merasa ngeri saat menyaksikan aksi bocah berdarah dingin itu. Mereka tidak pernah melihat ada manusia yang bisa tenang-tenang saja saat membunuh seseorang apalagi orang itu hanyalah seorang bocah.


Para penduduk desa tidak tahu apakah kemunculannya saat ini akan membawa akhir yang baik atau tidak. Tapi yang jelas mereka berharap yang baik tentunya.


Zero berhenti melangkah lalu menoleh ke sekumpulan penduduk desa yang masih mematung dalam posisinya dan menatapnya ketakutan.


"Jangan takut, aku disini diminta oleh gadis bernama Levy untuk menolong kalian. Pasti kalian mengenalnya bukan?"


Mendengar pernyataan tersebut beberapa dari mereka merasa lega. Mereka tentu mengenal siapa gadis itu karena mereka yang membantunya keluar dari tempat ini untuk meminta pertolongan.


"K-Kalau boleh tahu dimana dia sekarang?" Ayah dari gadis itu bertanya.


"Dia ada diluar." Zero menunjuk ke belakang.


"Ah iya, kau bawa gadis itu dan dua orang lainnya ke dalam." Zero memberi perintah pada ayah Levy.


"B-Baik, Tuan." Ayah Levy mengangguk dan segera berlari menghampiri anaknya.


"Aku ikut." Ibunya yang merasa cemas pun ikut menyusul dari belakang.


Saat sampai di depan pintu masuk, kedua orang tua Levy menemukan anaknya sedang berdiri di dekat pohon bersama dua orang gadis lainnya. Merasa senang melihat anaknya baik-baik saja, kedua orang tua Levy dengan segera menghampirinya.


"Levy!"


Levy yang mendengar seruan mereka langsung menoleh dan mendapati kedua orang tuanya tengah mendekat. Levy pun ikut berlari mendekati mereka.


"Ibu! Ayah!"


Mereka saling berpelukan meluapkan rasa senangnya karena akhirnya bisa berkumpul kembali dalam kondisi yang baik. Sherria dan Fluffy di belakangnya tersenyum, ikut merasa senang melihatnya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah."


"Berkatmu desa kita sekarang selamat."


Beberapa saat kemudian mereka berhenti berpelukan lalu menegakkan tubuhnya melihat kedua orang gadis lainnya yang berada di belakang.


"Apa kalian berdua teman dari orang yang telah menyelamatkan desa kami?" tanya ayah Levy.


"Benar." Sherry dan Fluffy mengangguk diiringi senyuman.


"Terima kasih banyak. Kami sangat berhutang pada kalian karena kalian telah menyelamatkan desa kami dan anak kita." Kedua orang tua Levy membungkukkan setengah tubuhnya berterima kasih.


Sherria mengangkat kedua tangannya merasa tidak pantas mendapatkan terima kasih itu, "T-Tidak perlu berterima kasih pada kita. Kita tidak melakukan apa-apa. Sudah tolong angkat kepala kalian," pintanya.


Kedua orang tua Levy menurut.


"Syukurlah, kelihatannya kalian orang baik." Ibu Levy tersenyum lega melihat Fluffy dan Sherria.


"Benar, bu, mereka orang baik. Pacarnya kakak ini tadi sudah menyelamatkanku bersama gadis naga itu." Levy menunjuk Fluffy dan Sherria secara bergilir.


"Pa-pacar? B-Bukan! Aku bukan pacarnya!" Wajah Sherria menjadi merah mendengar perkataan Levy.


"Benarkah?" Levy menanggapi.


"Benar! Aku tidak mempunyai hubungan yang seperti itu dengan Zero-sama!" Sherria menggeleng keras sambil mengangkat kedua tangannya malu.


"Oh, begitu… heheh, maaf kak, aku sudah salah duga."


Sementara kedua orang tua Levy lebih tertarik pada gadis berambut putih yang mempunyai tanduk di kedua sisi dahinya dan sepantaran dengan anaknya.

__ADS_1


"Gadis naga?"


"Benar, yah, tadi dia berubah menjadi naga yang be...sar sekali, dan... Woosh... mengalahkan mereka semua." Levy memperagakan aksi Fluffy tadi pada kedua orang tuanya.


"Naga…" Orang tua Levy memandangi Fluffy yang tersenyum riang sebelum saling berpandangan dan tersenyum. Mereka jelas tidak mungkin percaya kalau gadis mungil di depannya ini adalah naga. Mereka pikir anak mungkin sedang mengada-ada.


"Sudah kita lanjutkan pembicaraan kita nanti. Ayo ikut kami. Dia tadi menyuruh kalian untuk masuk ke dalam," ajak ayah Levy.


"Baik." Keduanya mengangguk.


Sherria dan Fluffy mengikuti pasangan keluarga itu memasuki desa. Tepat ketika berada di pintu masuk, langkah pasangan keluarga itu terhenti saat dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa yang terjadi di depan matanya.


"Apa yang terjadi…"


*~*


Sebelumnya…


Menghiraukan kedua orang tua Levy , Zero melanjutkan langkahnya mendekati para mantan prajurit itu. Saat berdiri di hadapan mereka, Zero mengeluarkan aura sihirnya dan hanya diarahkan pada mereka saja.


"A-Apa yang ingin kau lakukan pada kami?" Mereka tidak tahu nasib seperti apa yang akan menimpa mereka selanjutnya, tapi yang jelas mereka tahu itu pasti bukanlah nasib yang baik.


Mengabaikan pertanyaan itu, Zero menoleh ke sekumpulan laki-laki penduduk desa. Dia kemudian bertitah, "Ikat mereka semua yang sudah mengacaukan desa kalian dan sekalian sumpal mulutnya sampai tidak lagi berbunyi."


Tanpa banyak tanya mereka pun segera melaksanakan perintah Zero. Lantaran tidak bisa bergerak karena ditekan oleh aura sihirnya, para mantan prajurit itu hanya bisa pasrah saat diikat dan di tumpukan di satu tempat.


Zero kemudian menyuruh para penduduk desa agar berjajar di depannya. Mereka saling berpandangan sesaat sebelum dengan patuh menurut. Mereka berusaha bersikap sebaik mungkin di depan sosok yang telah menyelamatkan desanya.


"Aku ingin pemimpin desa ini untuk maju ke hadapanku," titah Zero.


Salah seorang pria dewasa mendekati Zero dan memberi hormat.


"Maaf Tuan, pemimpin desa saat ini sedang sakit. Jika Tuan membutuhkan bantuan, aku disini bisa mewakilkannya," kata pria dewasa.


"Baik, sekarang coba jelaskan apa yang sudah mereka lakukan pada kalian?" Zero menunjuk ke arah mereka yang terikat tak jauh di sampingnya.


"Yang pasti mereka sudah melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan kami semua, Tuan. Mereka tiba-tiba datang mengacaukan desa ini, membunuh penduduk desa yang melawan, melecehkan para kaum wanita dan merampas semua hak yang kami punya. Meski sebelumnya kami sempat melawan tapi kami bukan tandingan mereka, oleh karena itu kami tadi hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan mereka," jelas pria dewasa itu.


"Begitu, ya…" Zero mengelus dagunya sambil melirik ke arah mereka yang terikat yang tampak masih memandangnya penuh ketakutan. Selain mengumpat kesal mereka hanya bisa meratapi kesialannya karena bertemu lagi dengan Zero.


"Apa kalian marah pada mereka?" Zero tersenyum tipis ke arah penduduk desa.


"Tentu saja, Tuan."


"Mereka sudah membunuh beberapa teman kami."


"Mereka sudah merampas hak kami."


Satu persatu dari mereka ikut menyeruakan kekesalannya, memberitahukan pada Zero tentang seberapa marahnya para penduduk desa terhadap semua perbuatan yang sudah dilakukan para b*jingan itu.


"Berhenti…" Zero mengangkat satu tangannya, membuat mereka seketika berhenti.


Zero kemudian membuka menu store-nya dan membeli sesuatu disana. Selesai bertransaksi dia lalu melambaikan satu tangannya dan tiba-tiba saja belasan pedang keluar dari ruang kosong.


Mereka semua yang menyaksikan hal itu tercengang sampai kesulitan berkata-kata. Zero hanya tersenyum tipis menanggapinya. Sedangkan para mantan prajurit yang terikat merasakan firasat buruk melihatnya.


"Baiklah, sekarang coba perlihatkan padaku seberapa marah kalian pada mereka…" Zero melemparkan satu pedang yang dia beli ke penduduk desa yang berjajar.


Mereka terdiam memandangi pedang itu, tidak mengerti apa yang Zero maksud. Sebagian yang mengerti pun terdiam, ragu untuk melakukannya.


"Kenapa diam saja. Ayo, coba perlihatkan padaku. Kalian sangat marah pada mereka bukan." Zero menyilangkan kedua tangan di dadanya, menoleh sekali ke arah mantan prajurit itu yang tidak berhenti ketakutan.


Mereka terdengar seperti memohon pada Zero untuk membiarkannya hidup tetapi suara dari mulut mereka yang tersumpal tidak bisa keluar dengan jelas dan terdengar seperti gumaman.


"Tapi, Tuan... mereka sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi." Pria dewasa yang masih berdiri di samping Zero mewakili keraguan mereka.


"Lantas, apa yang ingin kalian lakukan pada mereka sekarang. Membebaskannya begitu saja? Memaafkan semua yang sudah mereka perbuat pada kalian?" Zero mengangkat sudut bibirnya menatap para penduduk desa.


Para penduduk desa tidak tahu harus bagaimana mengambil tindakan. Di satu sisi jelas mereka marah oleh perbuatan para b*jingan itu, tapi membunuh mereka dengan cara seperti ini membuat mereka ragu, terlebih lagi mereka tidak pernah membunuh seseorang dan belum pernah memegang yang namanya pedang .

__ADS_1


Zero menghela nafas melihat keraguan mereka. Aneh, padahal tadi mereka terlihat marah sekali.


"Aku ingin tahu apakah mereka tadi memperlakukan hal yang sama saat membunuh salah satu dari kalian meskipun mereka mengetahui kalau kalian tidak bisa berbuat apa-apa."


Perkataan Zero menyadarkan mereka akan hal itu. Apa yang diucapkan memang benar.


"Coba ingat kembali apa yang sudah mereka lakukan. Membunuh rekan kalian, merampas semua yang kalian miliki, bahkan para kaum wanita kalian dilecehkan. Dengan semua itu apa masih belum cukup untuk membuat kalian sadar?" Zero berniat memprovokasi mereka.


Mereka menundukkan kepala mendalami perkataan Zero.


"Benar… untuk apa kita kasihan pada mereka..." Salah seorang pemuda berjalan mendekati pedang itu lebih dulu lalu mengambilnya. Zero tersenyum melihatnya dan mengamati aksi selanjutnya dari pemuda itu.


"Mereka tiba-tiba datang mengacaukan desa kita, apa pantas mereka diberi ampunan?"


Semua orang beraksi melihat pemuda itu berjalan mendekati mereka yang terikat sambil membawa pedang.


"Ini…" Dengan tangan yang gemetar, pemuda itu menghunuskan pedangnya ke salah satu dari mereka yang sontak membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ini balasan karena kau sudah membunuh ayahku!"


Crat!


Semua penduduk desa terkejut sampai mengernyitkan wajahnya saat menyaksikan pemuda itu mengayunkan pedangnya pada kepala orang yang terikat itu hingga terlepas.


Zero tersenyum sinis melihatnya.


"Ahh!!" Sementara rekan-rekannya yang terikat menjadi panik. Mereka meronta-ronta untuk bebas, merangkak ke belakang ketakutan.


Pada saat yang sama beberapa penduduk desa lainnya ikut mengambil pedang yang Zero beli tadi dan membawanya ke tempat mereka yang terikat. Dengan membawa emosi yang membuncah di dada, mereka ikut andil menghabisi para b*jingan itu.


"Ini balasan karena kalian telah melecehkan istriku!"


"Ini balasan karena kalian sudah membunuh kakakku!"


"Ini balasan karena kau sudah mengambil sesuatu yang berharga dari anakku!"


"Ini balasan karena kau tadi menyebutku jelek."


"Tidak bisa dimaafkan!"


"Mati kalian semua!"


Semua korban dari keb*jatan para mantan prajurit itu ikut melampiaskan amarahnya pada mereka. Amarah yang membuncah di dada membuat penduduk desa tidak ragu-ragu membunuh meski setelahnya tangan mereka bergetar, tidak percaya jika mereka bisa melakukannya.


Sedangkan sebagian yang tidak berani melakukan hal seperti itu hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata, tidak tahan menyaksikan aksi kejam dari rekan-rekannya.


Nasib para b*jingan itu kini berakhir buruk. Tidak ada yang menyangka jika penduduk desa yang tadi mereka permainankan kini malah menjadi sosok malaikat kematiannya.


Zero sendiri tersenyum tipis sambil menggeleng pelan melihat tindakan mereka sebelum meninggalkan tempat itu, meninggalkan jeritan-jeritan keputusasaan dan amarah yang dihasilkan dari kedua belah pihak.


Di tengah langkahnya, Zero melihat Sherria beserta yang lainnya tengah berjalan memasuki desa. Dia pun mendekatinya.


"Apa yang terjadi…"


Awalnya mereka terlihat tersenyum namun ketika mendengar teriakan dan menyaksikan apa yang terjadi di depannya, senyuman mereka pun memudar diganti dengan raut keterkejutan.


Ayah Levy yang pertama kali melihat itu segera menutupi mata anaknya. Pandangan kedua orang tua Levy tertuju pada Zero yang tengah berjalan mendekat.


"Ayah, ada apa?" Levy tidak bisa melihat apa yang terjadi namun dia bisa mendengar jeritan-jeritan itu.


"Ikuti perkataan ayah. Jangan dilihat."


"Baik."


Sherria yang tadi menyusul di belakang tidak kalah terkejutnya melihat situasi yang terjadi di depannya saat ini.


"Benar, kalau kalian tidak suka lebih baik jangan dilihat." Zero menghampiri Sherria dan yang lainnya.


"Zero-sama, apa yang terjadi?" Sherria bertanya pada Zero namun pandangannya masih tertuju pada situasi yang terjadi di depannya.

__ADS_1


"Oh, mereka, ya…"Zero menoleh sesaat ke belakang lalu tersenyum santai,


"Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan..."


__ADS_2