Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Rapat Penting


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan terdapat sepasang kakak beradik berusia dua puluh tahunan. Sang adik yang tengah membaca buku kini sedang menjaga kakaknya yang semalam tidak sadarkan diri. 


"Kakak…akhirnya kau sadar juga." Minerva melihat Lawrence mengerjap-ngerjapkan matanya dan tersadar. Dia lalu meletakkan buku yang dia baca di meja sampingnya. 


"Ahk...apa yang terjadi denganku?" tanya Lawrence yang belum mengingat apapun. Dia mencoba membangkitkan tubuhnya yang terasa nyeri akibat pertarungan semalam. 


"Apa kakak tidak mengingat kejadian semalam?" tanya Minerva dengan kedua alisnya menyatu. 


"Semalam…" Lawrence mengingat-ingat kejadian semalam, "Kalau tidak salah, semalam aku bertarung dengan bocah bertopeng itu, dan…" Lawrence mulai teringat pertarungannya dengan Zero. 


Saat dia larut dalam ingatannya, tanpa Lawrence sadari sebuah tamparan tiba-tiba melayang di pipinya dan seketika membuatnya tersadar. 


Plak! 


"Kenapa kau menamparku?" Sambil memegangi pipinya, Lawrence memandangi adiknya penuh keterkejutan atas aksinya tersebut. 


"Aku diminta oleh Eleine untuk menamparmu ketika kau sadar, dan tanpa diminta juga sebenarnya aku akan menamparmu, " jawab Minerva datar sebelum sesaat berikutnya ekspresinya berubah menjadi cemas dan seperti ingin menangis, "Bodoh, kenapa kakak bertindak gegabah seperti itu?! Kenapa kakak nekat melawannya sendiri?! Apa kakak tidak sayang nyawa?! Eleine sangat mengkhawatirkanmu, bodoh!" kata Minerva sambil memukuli Lawrence, meluapkan kekesalan dan rasa khawatirnya. 


Sebelumnya Minerva sangat khawatir saat mendengar kabar kakaknya tidak sadarkan diri setelah bertarung dengan bocah bertopeng yang belakangan ini sering mericuhkan kota. 


Lawrence menerima rasa sakit dari tamparan dan pukulan yang Minerva berikan, karena dia memaklumi pasti adiknya semalam begitu khawatir dengan keadaannya. 


"Dimana Eleine sekarang?" tanya Lawrence setelah Minerva kembali tenang. 


"Dia sedang keluar membeli sesuatu untukmu," jawab Minerva. Ekspresinya masih sedikit kesal. 


"Begitu, ya…" Lawrence memposisikan duduknya di tepi ranjang. 


"Apa semalam kau yang membawaku kesini?" tanya Lawrence teringat detik-detik sebelum dirinya tidak sadarkan diri. 


"Bukan…" Minerva menggeleng pelan. 


"Lalu siapa yang membawaku kesini?" Lawrence merajut alisnya. 


"Zero dan Gladius." Minerva seperti malas mengucapkan nama mereka. 


"Mereka berdua?" Lawrence merajut alisnya lebih dalam. 


"Benar. Kata Eleine mereka semalam yang sudah membantu kakak melawan bocah bertopeng itu dan membawa kakak kesini," jelas Minerva. 

__ADS_1


'Tunggu, apa maksudnya ini?' Lawrence tidak mengerti karena kejadian semalam tidak seperti itu. 


"Pria bernama Zero sempat mengingatkan agar kakak tidak berurusan lagi dengan bocah bertopeng itu," jelas Minerva dari apa yang dia dengar.


Lawrence langsung menangkap sesuatu yang penting dari penjelasan adiknya tersebut. Sejenak dia teringat kembali dengan peringatan bocah bertopeng itu sebelumnya yang memintanya untuk tidak lagi berurusan dengannya jika ingin dia dan orang-orang terdekatnya baik-baik saja.


"Aku tidak tahu kenapa dia memperingatkan itu padamu, tapi dari situ entah kenapa aku merasa semakin yakin kalau pria bernama Zero ini adalah bocah bertopeng itu, " ujar Minerva.


'Zero… Jangan-jangan firasat adikku benar. Dia bocah bertopeng itu,' pikir Lawrence berdasarkan pengamatannya. 


*~*


Di suatu tempat di ibukota kerajaan Blue Diamond, di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, berkumpul belasan ksatria suci dengan pangkat tertinggi. Mereka sedang mengadakan rapat penting.


Pangkat ksatria suci sendiri terbagi menjadi tiga tingkatan, dari mulai ksatria suci bintang satu sampai bintang tiga. Semakin banyak bintangnya maka pangkat dan kedudukan yang dimiliki semakin tinggi. Begitu juga dengan kekuatannya. 


Para ksatria suci kini akan mendiskusikan sesuatu yang penting tentang bocah bertopeng yang telah mericuhkan kota Belius dan akhir-akhir ini sedang panas diperbincangkan oleh orang-orang. 


"Seperti biasa hanya tiga orang itu saja yang tidak mengikuti rapat ini..." kata salah satu ksatria suci terdengar bosan.


"Tidak apa-apa, yang penting rapat ini masih bisa berjalan, " tanggap rekan di dekatnya.


"Baik, langsung saja. Jadi bagaimana menurut kalian tentang bocah bertopeng ini? Bagaimana cara kita mengatasinya?" tanya ksatria suci yang memimpin diskusi meminta pendapat. 


"Cih, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia hanyalah seorang bocah. Sebentar lagi juga dia akan jatuh ke dalam permainannya sendiri," kata ksatria suci berusia tiga puluh tahunan, bertubuh jangkung dan memiliki perangai yang angkuh. 


Kepercayaan dirinya didapat karena kekuatannya berada di jajaran lima orang terkuat dari semua ksatria suci bintang tiga yang ada di kerajaan tersebut. 


"Jangan menganggapnya remeh, Colt. Kau sudah mendengarnya bukan, kalau dirinya mampu membantai semua orang yang saat itu berperang seorang diri. Apa kau yakin tidak perlu mengkhawatirkan orang seperti itu?" Ksatria suci di dekatnya menanggapi. 


"Benar. Selain itu ada berita baru tentangnya. Katanya bocah itu semalam bertarung dengan Lawrence dan berhasil mengalahkannya. Apa kau berpikir orang yang berhasil mengalahkannya bisa dianggap sebagai bocah biasa?" Pemimpin diskusi ikut menanggapi. Dia mendapatkan informasi tersebut dari salah satu ksatria suci di kota Belius.


Menurutnya orang yang telah mengalahkan Lawrence yang merupakan ksatria suci terkuat ketiga diantara semua ksatria suci harus dianggap sebagai ancaman yang serius. 


"Tunggu, Lawrence yang memiliki zirah yang tidak bisa ditembus oleh apapun dikalahkan oleh bocah itu? Yang benar saja. " Ksatria suci yang sangat mengenali kekuatan zirah Lawrence sangat terpukul mendengar berita tersebut. 


Ksatria suci yang awalnya menganggap remeh bocah itu kini bungkam. Dirinya yakin diantara semua ksatria suci tidak ada yang bisa mengalahkan Lawrence meskipun dia berada di jajaran tiga terkuat. 


"Benar. Aku juga tidak tahu bagaimana cara bocah itu mengalahkannya," kata Pemimpin diskusi. 

__ADS_1


"Mungkin dia mempunyai senjata sejenis harta suci yang bisa menembus langsung zirahnya."


"Atau dia mempunyai sihir yang bisa menyerang langsung ke bagian tubuh seseorang."


"Mungkin juga dia sudah menyerang Lawrence dengan racun sebelum dia menggunakan zirahnya."


Ksatria suci yang tidak ingin diam saja ikut berpendapat. Yang lain pun mengeluarkan pendapatnya juga. 


"Bagaimana kalau dia mempunyai senjata yang bisa menghancurkan apapun, seperti zirah Lawrence yang tidak bisa ditembus." Pendapat ksatria suci termuda diantara mereka membuat suasana seketika menjadi hening. 


"Kalau benar begitu, bocah bertopeng itu akan menjadi sulit untuk dikalahkan," kata ksatria suci tertua diantara mereka. Semuanya sependapat dengannya. 


"Apa ada penjelasan lengkap tentang bagaimana Lawrence bisa kalah dengan bocah itu?" tanya ksatria suci yang tadi sempat meremehkannya. 


"Tidak ada orang lain yang menyaksikan pertarungan itu. Namun ada dua orang yang saat itu membantunya sekaligus orang yang menyelamatkan Lawrence," jelas pemimpin diskusi. 


"Siapa mereka?"


"Entahlah. Mereka berdua hanya petualang di kota itu. Yang satu memiliki pangkat platinum sedangkan yang satu lagi aku tidak mengetahuinya, kemungkinan dia juga tidak jauh berbeda dengan rekannya," jelasnya lagi. 


"Setelah ini kau harus meminta informasi yang lebih lengkap lagi dari Lawrence, dan kalau bisa dengan kedua petualang itu juga," kata ksatria suci termuda.


"Aku akan melakukannya nanti. Untuk sekarang lupakan dulu soal itu. Sekarang aku ingin meminta pendapat kalian tentang bagaimana cara kita mengatasi bocah bertopeng ini?" Pemimpin diskusi beralih ke pembahasan utama.


Semuanya terdiam, saling memikirkan langkah terbaik untuk mengatasi bocah bertopeng yang kini mereka tanggapi sebagai ancaman yang serius. 


"Biar aku saja yang mengatasinya." Seorang gadis pendiam yang sejak tadi diam di pojokan mengajukan diri. 


"Benar juga, dengan harta sucinya, Rin pasti bisa mengalahkan bocah itu," kata ksatria suci di dekatnya yang antusias.


Rin, atau gadis pendiam itu merupakan ksatria suci keempat terkuat setelah Lawrence. Dia memiliki senjata yang begitu mematikan yang mampu membunuh lawan hanya dalam hitungan detik. Semua ksatria suci mengakui kekuatannya dan tidak berani mencari masalah dengannya.


"Aku setuju jika Rin yang mengatasinya. Siapapun bocah itu, dia tetaplah makhluk hidup, dengan pedang milik Rin, dia hanya perlu memberikan setitik luka di tubuhnya," ujar ksatria suci tertua.


Diantara semua harta suci yang mereka punya hanya milik Rin yang kualitasnya paling terbaik.


"Benar. Kalau begitu aku serahkan dia padamu, Rin," kata pemimpin diskusi tersenyum melihat Rin yang sejak tadi memasang ekspresi datar.


"Baik. Jika aku bertemu dengannya aku akan menyelesaikannya saat itu juga."

__ADS_1


__ADS_2