Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Firasat


__ADS_3

Setelah Zero dan Viona saling memperkenalkan diri, Charla menyarankan pada Zero untuk melanjutkan perbincangannya di restoran dekat tempat mereka bertemu. Zero menyetujui saran Charla dan mengajak Viona untuk masuk ke dalam restoran yang dimaksud. 


Viona awalnya menolak beberapa kali ajakan Zero karena tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengannya. Baginya bisa melihat Zero dari dekat dan bisa sedikit bercakap dengannya saja sudah cukup. Apalagi rasa bersalah akan kejadian waktu itu sampai saat ini masih tertanam dalam hatinya.


Akan tetapi, setelah beberapa kali dibujuk, Viona akhirnya luluh dan mau menerimanya. Zero, Charla, dan Viona pun memasuki restoran tersebut. 


Dua orang di dekat pintu masuk restoran yang saat itu tengah asik menyantap hidangan segera mengalihkan visinya saat melihat kedatangan Zero bersama dua orang gadis. Pandangan mereka lebih terfokus pada Zero yang tampak tidak biasa di mata mereka. 


"Rin, kau merasakannya?" tanya seorang pria bermata sipit pada gadis pendiam berwajah datar yang duduk di depannya. 


"Ya…" Gadis itu hanya mengamati Zero beberapa detik lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke hidangan di depannya. 


Zero tidak langsung mencari tempat duduk, melainkan berjalan ke tempat meja pemesanan. Charla dan Viona yang tidak tahu apa yang ingin Zero lakukan hanya mengikutinya dari belakang. 


Sesampainya, Zero lalu mengeluarkan satu kantong berisi koin emas dalam sakunya. Dia kemudian berbalik dan berseru lantang, memecah perhatian semua orang yang ada di dalam restoran. 


"Hei, kalian semua yang ada di sini, dengarkan aku!"


Semua orang yang mendengarkan langsung menghentikan aktivitasnya dan memusatkan perhatiannya pada Zero. 


Zero berdehem sekali dan berseru, "Karena hari ini aku sedang ingin berbuat baik, kalian boleh memesan semua hidangan yang ada di sini sepuasnya! Kalian tidak perlu khawatir soal biaya, biar aku yang membayar semuanya!" seru Zero sambil menunjukkan sekantong koin emas di tangannya dan melemparkan kantong tersebut ke meja petugas restoran di sana. 


Semua orang yang ada di situ saling berpandangan dengan rekan di dekatnya karena tidak mengenali sosok yang barusan berseru dan berniat mentraktir mereka. 


Sementara Charla dan Viona tercengang dengan aksi Zero yang dengan mudahnya menghamburkan uang sebanyak itu. 


"Semua uang itu cukup kan untuk mentraktir semua orang di sini?" tanya Zero dengan nada angkuh. 


Petugas restoran yang tadinya bengong segera melihat isi kantong yang Zero lemparkan, "Hah, i-iya cukup. I-ini lebih dari cukup, Tuan. Tuan bisa memesan semua hidangan di sini sepuasnya, " jawab petugas yang menerima pesanan terbata-bata. Dia terkejut saat menemukan isi di dalam kantong tersebut begitu fantastis. Dia tidak menyangka ternyata ada orang yang akan membuang uang sebanyak itu hanya untuk mentraktir orang yang tidak dikenalinya. 


"Kalian bisa mendengarnya, kan? Sekarang kalian boleh menikmati semua hidangan yang ada di sini sepuasnya!" seru Zero yang kali ini disambut antusias orang-orang yang ada di sana. 


Tanpa memikirkan siapa sosok Zero sebenarnya, mereka segera berdiri dari tempat duduknya dan berebut memesan hidangan gratis. 

__ADS_1


Charla dan Viona terkejut dengan aksi Zero barusan. Terutama Viona, dia kembali melihat sisi Zero yang sekarang yang sangat berbeda dengan sosok yang dia kenal. 


Sementara keadaan di restoran mulai heboh, Zero, Charla, dan Viona segera dibawa oleh satu pelayan ke tempat terbaik yang ada di restoran tersebut. 


"Zero-sama kenapa menghamburkan uang sebanyak itu?" tanya Charla setelah duduk di kursi yang disediakan. 


Zero dan Charla duduk bersebelahan sedangkan Viona duduk di depan mereka. 


"Hahaha, jangan terkejut seperti itu, Charla. Bukankah waktu itu aku juga pernah melakukannya. Aku hanya ingin mengosongkan sedikit uang recehku saja. Tidak perlu khawatir. Uang segitu tidak seberapa bagiku. Anggap saja aku sedang bersedekah pada mereka." Zero menjawab dengan santai. 


Charla menggembungkan sebelah pipinya, "Hmph...Tapi mendapatkan uang sebanyak itu tidak mudah loh, Zero-sama. Daripada dihambur-hamburkan seperti itu lebih baik uang sebanyak itu dipakai ke hal-hal yang lebih bermanfaat," saran Charla. 


"Benar apa kata, Charla. Yang kamu lakukan barusan sama saja dengan pemborosan tahu," timbal Viona sambil membuang muka.


'Kenapa dia sekarang jadi seperti ini…' batin Viona merasa tidak mengenal lagi sosok Zero yang sekarang.


"Hahaha, begitu, ya…" Zero tertawa santai seolah menikmati reaksi mereka.


Tujuannya melakukan itu untuk mencari tahu reaksi Viona dan menunjukkan padanya kalau dirinya yang sekarang bukanlah sosok yang seperti dulu lagi. 


"Baik, baik, aku akan mencobanya…" kata Zero sambil mengusap-usap kepala Charla. 


Di tengah perbincangan mereka, dua orang yang tadi tertarik dengan Zero berjalan menghampirinya. Zero dan lainnya mengalihkan perhatiannya saat melihat kedatangan mereka. 


"Anu, kau tadi yang mentraktir semua orang di sini, kan?" tanya Rin, gadis pendiam itu tanpa menunjukkan ekspresi sedikitpun. 


Zero bisa merasakan kalau mereka berdua bukanlah orang sembarangan. Terutama sosok gadis yang bertanya padanya. Sekilas dia tampak seperti gadis biasa, tetapi Zero bisa mengetahui seberapa berbahayanya gadis tersebut. Charla juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Zero rasakan. 


Sementara Viona mengenali mereka berdua meskipun mereka berdua bukanlah orang yang suka menarik perhatian. 


"Iya, kenapa?" Zero menanggapi dengan santai. 


"Bolehkah aku memesan beberapa makanan lagi untuk adik-adikku di rumah?" pinta Rin. Matanya diam-diam bergerak mengamati Zero.

__ADS_1


Zero mencari tahu siapa mereka berdua sejenak lalu menjawab, "Tentu, pesan saja. Aku kan sudah bilang kalian boleh memesan semua makanan di sini sepuasnya," jawab Zero sambil tersenyum kecil. 


"Kau baik sekali. Siapa namamu?" tanya Rin, kali ini dia menunjukkan sedikit senyumannya.


Zero menatap Rin dan rekannya dengan maksud ingin mencari tahu sesuatu dari mereka. Kemudian dia menjawab, "Kau bisa memanggilku Zero. Sementara dia Charla dan dia yang duduk di depanku Viona, " kata Zero sambil menunjuk kedua gadis yang semeja degannya.


"Salam kenal." Charla dan Viona mengangguk singkat sambil tersenyum pada mereka.


Rin juga ikut mengenalkan dirinya. Begitupun dengan rekannya.


"Terima kasih karena sudah mau mentraktir kita dan mengabulkan permintaanku." Rin dan rekannya menunjukkan sikap terima kasih. 


"Ya, sama-sama." 


"Semoga di lain waktu kita bisa membalas kebaikanmu ini."


"Aku akan menantinya."


Setelah itu mereka berdua berpamitan lalu pergi meninggalkan Zero dan lainnya. 


'Sepertinya mereka berdua salah satu ksatria suci atau petualang di kota ini.' Zero mengamati mereka yang mulai menjauh dari pandangannya.


'Apa ini hanya firasatku saja. Kenapa aku merasa akan bertemu lagi dengan mereka...' Feeling Zero.


Di sisi lain, Rin dan rekannya mendiskusikan hasil pengamatannya tadi tentang Zero.


"Bagaimana pendapatmu, Rin? Apa kau bisa merasakannya dengan jelas?" tanya rekannya.


"Ya. Aku merasakannya. Aura yang terpancar dalam dirinya terasa sangat asing. Aku tidak bisa menebak pasti seberapa besar kekuatan aslinya, tetapi aku bisa menyimpulkan kalau kekuatannya sekelas dengan ksatria suci bintang tiga seperti kita, atau bahkan lebih." Rin menyimpulkan.


"Mengapa kau bisa menyimpulkan demikian?" rekannya belum mengerti.


"Itu karena energi sihir dalam dirinya. Meskipun dia menggunakan item untuk menyembunyikan energi sihirnya, tetapi aku bisa merasakannya tadi. Ini untuk kedua kalinya aku merasakan ada orang lain yang memiliki energi sihir yang tidak masuk akal selain orang itu..." Rin berpendapat sesuai pengamatannya.

__ADS_1


"Apa kau berpikir kalau dia orang yang selama ini kita cari?" tanya rekannya kembali.


Rin memejamkan matanya seiring menghela nafas lalu membukanya kembali, "Entahlah... tapi aku mempunyai firasat suatu saat aku akan bertemu lagi dengannya, entah itu dalam keadaan baik atau sebaliknya..."


__ADS_2