Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Tujuan dan Kebenaran


__ADS_3

"Lalu, apa yang kau cari dariku?" tanya Zero dingin. 


"Semuanya, Tuan. Semua yang ada dalam dirimu, semua yang telah kau perlihatkan padaku, semua yang menarik dan menakjubkan, aku ingin terus melihat semua itu." Gladius mengutarakan keinginannya sambil merentangkan kedua tangan dan tersenyum. 


Zero terdiam, menatap tajam Gladius untuk memastikan kebenaran dari ucapannya itu.


"Coba katakan sekali lagi, apa tujuanmu sebenarnya menjadi bawahanku?" Zero menanyakan hal itu untuk kesekian kalinya karena masih belum bisa mempercayai Gladius. 


"Aku tidak mempunyai maksud apa-apa, Tuan. Aku hanya ingin berjalan di jalur yang sama dengan sosok yang selama ini kucari, sudah itu saja." 


"Benarkah hanya itu saja, tidak ada maksud lain?" Suara dan tatapan Zero masih dingin mencari tahu maksud tertentu dari ucapan dan mimik wajah Gladius. 


"Ya. Aku hanya menginginkan itu. Aku ingin terus melihat sesuatu yang menakjubkan dan menarik darimu, Tuan." Gladius memegang sebelah dadanya bersikap hormat. 


"Apa kau mendapatkan suatu petunjuk kenapa ayahmu memintamu untuk mencari orang yang menurutmu menarik?" 


"Tidak ada, Tuan. Mungkin dia menyuruhku melakukan itu karena ingin aku mempelajari banyak hal darinya." Gladius berkata apa adanya. 


Zero terdiam, mencerna semua pernyataan dan cerita yang Gladius ucapkan sembari memikirkan berbagai hal. 


'Siapa ayahnya sebenarnya... Pasti dia mempunyai maksud tertentu mengapa meminta anaknya untuk melakukan itu,' pikir Zero lalu menghela nafas singkat, ekspresinya berubah tidak lagi dingin,


"Kau terlihat mencurigakan, Gladius. Tapi anehnya aku tidak menemukan kalau kau mempunyai niatan jahat padaku," kata Zero setelah mengamati ucapan Gladius yang terbukti sesuai dengan kata hatinya. 


"Jika aku mempunyai niat jahat sedikitpun padamu, jantung ini saat itu juga akan hancur, Tuan." Gladius menunjuk sebelah dadanya. 


"Benar juga apa katamu..." Zero sudah memastikannya sebelumnya.


"Baik, untuk sekarang aku masih akan belajar mempercayaimu. Tapi ingat, jika suatu saat kau terbukti berbohong dan melakukan sesuatu yang bisa mencelakakanku atau orang-orang terdekatku…" Zero menatap Gladius sangat tajam sampai Gladius membuka sedikit matanya melihatnya, "Saat itu juga aku akan mencarimu kemanapun dirimu pergi, bahkan sampai ke lubang neraka sekalipun." Suara Zero terdengar mencekam. 


"Demi nyawaku ini aku bersumpah tidak akan mengkhianatimu, Tuan." Gladius meyakinkan Zero. 


"Aku harap sumpah yang kau ucapkan itu benar." Zero sedikit teryakinkan. 


"Aku masih mempunyai banyak pertanyaan untukmu. Tapi kurasa akan lebih menarik jika melakukannya sambil bertanding." Zero memposisikan dirinya kembali, mulai mempersingkat jarak dan menyerang Gladius. 

__ADS_1


Gladius yang sejak tadi diam di posisinya menyambut serangan Zero sehingga pertarungan pun terjadi. Mereka kini mulai menaikan persentase kemampuannya menjadi lima persen. Bertarung sedikit serius. 


"Selain itu apa kau sudah mendapatkan kunci yang menjadi tugasmu yang lain?" tanya Zero selagi mempercepat gerakannya. Semua anggota tubuhnya dia mainkan dengan penuh talenta bertarung. 


"Belum, Tuan. Aku pun tidak tahu kunci apa itu sebenarnya." jawab Gladius berusaha menyamai tempo serangan Zero. 


"Kalau begitu apa kau tahu tentang benda yang tertanam di jantungmu?" Tepat di ujung kalimatnya, Zero berhasil mendaratkan satu pukulan di dada Gladius dan membuatnya terpental mundur. Meski begitu, serangan tersebut tidak berdampak apapun pada Gladius


"Aku juga kurang tahu, Tuan. Tapi yang pasti alasanku bisa terus hidup sampai saat ini semua itu karena benda yang ada di dalam jantungku ini. Meskipun aku tidak menyukainya tapi mungkin ini bisa disamakan dengan inti monster yang Tuan kenal," ujar Gladius. 


'Memang benar benda itu mirip seperti inti monster, dan seingatku hanya ada satu makhluk yang bisa membuat benda seperti itu…' Zero mengamati benda kecil menyerupai inti monster yang tertanam di jantung Gladius sambil memikirkan berbagai hal.


Sampai ketika dia memutuskan tidak ingin memikirkannya dulu, Zero kembali mempersingkat jarak menyerang. 


"Aku ingin mengetahui semua hal tentang semua kakakmu. Coba ceritakan padaku semua yang kau tahu dari mereka. Kelak mungkin aku juga akan bertemu dengan mereka atau bisa jadi salah satu dari mereka akan menjadi musuhku."


Gladius kemudian menjelaskan satu persatu yang dia ketahui tentang kakaknya selagi bermain-main menggunakan tangan kosong melawan Zero. Meski belum sepenuhnya serius mereka cukup menikmati pertarungan tersebut.


Raut wajah Zero terus berubah seiring Gladius menjelaskan satu persatu tentang kakaknya. Baik kemampuan, sifat, ciri khas dan kekuatan mereka, semuanya Gladius utarakan. Dari apa yang Zero dengar, ketiga orang kakaknya yang dulu diasuh oleh kelompok pembunuh bayaran mempunyai sesuatu yang menarik sekaligus menakutkan jika tidak menyikapinya dengan waspada, sama seperti Gladius. 


"Silahkan, Tuan. Lagi pula saat itu kami sudah memutuskan ikatan keluarga kami dan memutuskan untuk hidup sendiri-sendiri. Aku sudah tidak mempunyai hubungan apapun lagi dengan mereka." Gladius tampak sungguh-sungguh dengan perkataannya. 


"Begitu, ya…"


"Diantara mereka, aku lebih tertarik dengan kakak tertuamu. Menurutmu jika aku bertarung dengannya siapa yang akan menang?" tanya Zero mencari pendapat. 


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, tapi seperti yang Tuan ketahui, dia mampu menghabisi semua kelompok itu seorang diri. Kemungkinan besar dia sekarang sudah semakin bertambah kuat. Mungkin menurutku Tuan akan seimbang jika melawannya. Tapi jika Tuan sungguh-sungguh, aku yakin Tuan bisa menang mengingat masih banyak sesuatu yang menakjubkan yang belum Tuan tunjukkan," ujar Gladius


Zero terkekeh, "Kau mengetahuinya, ya. Memang benar, aku masih mempunyai sesuatu yang menakjubkan yang belum aku perlihatkan pada siapapun." Zero membenarkan.


"Aku ingin sekali melihatnya, Tuan." Gladius tersenyum lebar, penasaran ingin melihathya. Zero hanya menjawab kau bisa melihatnya nanti. 


"Jika aku menyuruhmu untuk membunuh mereka apa kau bisa melakukannya?" tanya Zero dengan senyuman memastikan. Tangan dan kakinya masih lihai menyerang Gladius.


"Jika itu perintah Tuan, aku akan melaksanakannya." Gladius menjawab tanpa ada perasaan apapun seolah kakaknya bukan lagi siapa-siapa baginya.

__ADS_1


Zero kembali terkekeh, "Kau mulai bisa membuatku percaya, Gladius." Zero melepaskan pukulan pada lengan Gladius kemudian bergerak mundur.


Gladius yang berhasil menahan pukulan Zero dengan lengannya juga bergerak mundur.


"Aku akan berusaha agar Tuan bisa mempercayaiku," kata Gladius bersikap hormat tanpa memperdulikan rasa sakit dari dampak pukulan yang Zero lepaskan barusan.


"Baiklah, kurasasudah cukup pemanasannya, sekarang sudah saatnya kita bertarung lebih serius lagi." Zero menanggapi dengan senyuman seiring memanggil kedua pedang kembarnya.


"Tunjukkan semua kemampuan.." Zero tersenyum menantang sembari mengeluarkan aura sihir dalam dirinya dan menyatu dengan energi sihir miliknya. Zero bersiap memulai pertarungan yang sesungguhnya. 


Gladius mendengus pelan sambil tersenyum melihat Zero sungguh ingin bertarung secara serius dengannya. Aura sihir serta energi sihir dalam Zero memang luar biasa, tapi itu hanya sedikit menekan dirinya


"Sekalipun aku mengerahkan semua kemampuanku, aku tidak yakin bisa menang melawanmu, Tuan." Gladius tersenyum merendah.


"Jangan bersikap seperti itu. Bertarung lah secara serius dneganku. Kalau bisa anggap saja kau ingin membunuhku." Di ujung kalimatnya, Zero melesat dengan cepat menyerang Gladius dengan kedua pedang kembarnya.


"Itu terlalu berlebihan Tuan. Bukankah Tuan hanya ingin menguji kekuatanku saja." Gladius bergerak mundur sembari menghindari serangan Zero yang kini meningkat tiga kali lipat dari yang sebelumnya.


"Ya. Untuk itu kau perlu mengerahkan semua kemampuan."


Sret!


Zero berhasil memberikan goresan kecil di pipi Gladius yang spontan membuatnya menjauh beberapa meter.


"Ingat, jika kau tidak mengerahkan seluruh kemampuan mu akan membunuhmu," kata Zero dingin memaksa Gladius untuk melakukannya.


'Dia sungguh ingin membunuhku...' Gladius tersenyum kecut mengetahui barusan Zero sungguh berniat membunuhnya jika dia tidak segera bergerak dengan cepat.


"Baiklah kalau itu mau Tuan, aku akan melakukannya.... " Gladius mulai mengeluarkan rantainya untuk melilit kedua pergelangan lengannya sampai pangkal tangannya sebagai pelindung. 


Selanjutnya Gladius mengeluarkan aura yang tidak biasa dalam dirinya. Aura berwarna gelap mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, berkobaran seperti api yang membara.


Zero mengerutkan sedikit wajahnya dengan mata melebar saat melihat aura itu. Dia mengenali aura yang Gladius perlihatkan. 


"Aura pembunuh..."

__ADS_1


__ADS_2