
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
{Level up}
——————¤¤¤———————
—————STATUS——————
——————¤¤¤———————
Name : Tora Akira
Level : 69
Job : Profesional
Title : Monster Slayers
——————
HP : 17380/17500 Fatigue: 30
MP : 12690/13000
EXP : 530/85000
———
BP : 26.340.500
SP : 0
Orb: 485.000
——————————————
Str : 465
Agi: 435
Sen: 428
Vit : 487
Int : 470
——————————————
"Setidaknya di lantai ini levelku masih bisa bertambah." Akira mengamati statusnya yang kini bertambah satu level, memikirkan suatu hal.
"Menurut perkataan Charla sebelumnya tingkat kekuatanku sekarang berada di tahapan Magic General. Apa benar memang seperti itu? Atau mungkinkah dengan statusku sekarang aku berada di tingkatan yang lebih jauh lagi?" pikir Akira hanya sesaat sebab dia tidak berhasil menemukan jawaban apapun. Dia pun sudah tidak pernah lagi bertanya pada Sistem karena sudah muak mendengar jawabannya.
Tidak ingin memikirkannya lagi, Akira kemudian mengamati keadaan sekitar yang sudah terasa sangat sepi, di tengah hutan yang gelap dan hanya disinari oleh sang rembulan.
__ADS_1
Sebelumnya Akira telah selesai melakukan leveling dengan membunuh berbagai monster serta hewan buas yang dia temui. Tidak sedikit dia juga membunuh manusia-manusia yang mengganggu.
"Hari sudah semakin gelap, sudah saatnya aku kembali ke tempat tadi. Lagian sudah tidak ada lagi monster maupun hewan buas yang terlihat." Akira memutuskan kembali. Dia baru teringat dengan keberadaan Charla yang pasti sudah menunggunya sejak tadi. Diam-diam dia merasa khawatir.
Akira bergerak dengan kecepatan tinggi menapaki satu dahan ke dahan lainnya hingga beberapa menit berikutnya dia pun sampai di tempat yang dituju.
Akira berjalan mendekati tenda. Dia bisa memastikan tempat itu sejak tadi aman tanpa ada sama sekali orang yang menjamah. Dia melihat api unggun di dekat tenda sudah padam dan hanya menyisakan arangnya yang masih menyala.
Akira membuka sedikit daun tenda tuk melihat ke dalamnya dan mendapati Charla tengah tertidur pulas disana.
"Kau sekarang sudah seperti anak kelinci yang menunggu kepulangan induknya." Akira tersenyum tipis sambil menggeleng pelan saat melihat gaya Charla tertidur. Tubuhnya sepenuhnya tertutupi oleh selimut sambil memeluk guling di sampingnya dengan erat. Wajahnya ketika tertidur sangat menggemaskan.
Akira tidak ingin membangunkannya. Dia menutup daun tendanya kembali dan membeli satu set tenda lagi beserta seperangkat alat tidur untuknya beristirahat.
Selesai tenda itu berdiri kokoh di samping tenda yang satunya, Akira lalu memasukinya dan menjatuhkan tubuhnya yang letih di atas kasur kecil yang empuk.
"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya..."
Akira berkutat memikirkan berbagai hal menyangkut situasinya saat ini selama beberapa saat sampai akhirnya tertidur dengan sendirinya.
*~*
Paginya Akira terbangun saat mentari menerpa. Akira menggeliat, merentangkan kedua tangannya sampai salah satu tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu.
"Empuk?" Salah satu tangannya memegang sesuatu yang terasa kenyal, "Slime?" Akira meremas-remas sesuatu yang kenyal itu lalu menoleh untuk memastikan apa yang baru saja dia pegang.
Saat Akira menoleh, wajahnya bertemu dengan wajah seorang gadis berambut biru, mempunyai sepasang telinga kelinci dan terdapat sedikit kumis tipis-tipis di dekat hidung si gadis. Ya, gadis itu tidak lain adalah Charla.
Wajah Akira hanya menyisakan jarak beberapa mili saja dengan wajah Charla. Akira terkejut begitu menyadari sesuatu yang sedang dia pegang sekarang adalah buah dada milik Charla.
"Ahh!!"
"Kenapa kau tidur disini?!" teriak Akira dan segera bergerak menjauhi Charla.
"Ma-maafkan aku! Habisnya aku tidak tenang tidur sendirian!" Charla ikut bergerak mundur menjauhi Akira, "Maaf-maaf-maaf." lalu bersujud tiga kali meminta maaf.
"Setidaknya kau harus meminta izin dulu jika ingin tidur denganku!" Akira berusaha mengatur nafasnya yang memburu karena terkejut.
"Maaf! Soalnya Akira-san semalam terlihat seperti sangat kelelahan, jadi aku tidak tega membangunkannya, " jelas Charla mencoba membela diri.
Akira menarik nafas dalam dan menjawab, "Bukan berarti kau harus tidur berdekatan denganku seperti itu, " katanya dengan nafas yang masih memburu.
"Aku juga tidak tahu." Charla mengangkat tangan sambil menggeleng kepala.
"Semalam kau tidak berbuat apa-apa pada tubuhku, kan?" tanya Akira sambil menyipitkan matanya menatap tajam Charla.
"Ti-tidak! aku tidak berani melakukan itu!" Charla menggeleng keras dengan kedua tangan terangkat.
"Bohong. Jangan-jangan kau sudah mengambil keperjakaanku. " Akira semakin menatap tajam Charla dan membuatnya menelan ludah.
"Sungguh! Aku tidak melakukannya. Lagian itunya Akira-san belum cukup besar dan masih dalam proses pertumbuhan." Charla menunjuk hati-hati ke bawah, ke arah barang milik Akira.
Akira mengikuti arah telunjuk Charla sebelum kembali berteriak, "Ahh!! Jadi kau melihatnya!" Akira menunjuk Charla.
"Ti-tidak! Sungguh tidak!!" Charla berusaha menegaskan.
"Keluar dari tendaku sekarang! dasar kelinci mesum!" Akira melemparkan bantal, selimut dan guling di dekatnya ke arah Charla. Satu bantal mengenai wajahnya.
__ADS_1
"Ba-baik! Aku keluar! Sekali lagi maaf!!" Charla segera cepat-cepat keluar dari tenda itu dan mengatur nafasnya sambil mengelus dada.
Di dalam tenda, Akira mencoba mengendalikan dirinya supaya kembali tenang. Dia kemudian membuka sedikit celananya dan melihat kepunyaannya sendiri,
"Ahh...Dia mengejek punyaku masih kecil. Harga diriku sebagai lelaki benar-benar hancur. "
*~*
Lima belas menit kemudian, Akira keluar dari tenda.
Dia mendapati Charla tengah berada di dekat perapian yang sudah padam dan sedang menusuk-nusukan kayu ke tanah sambil tangan yang satu memegangi perutnya.
Charla menoleh lalu berdiri saat menyadari seseorang mendekat, "Akira-san, apa kau sudah tenang?" tanya Charla saat melihat Akira sudah berekspresi seperti semula.
"Ya, " jawab Akira datar.
"Aku benar-benar minta maaf." Charla tersenyum canggung sambil mengelus pipi dengan telunjuknya.
"Tidak perlu dipikirkan." Akira mengibaskan tangannya dengan wajah sedikit malu-malu. Kejadian tadi sepertinya akan menjadi kesan yang tidak bisa dia lupakan untuk beberapa waktu.
Berbeda dengan Akira, Charla malah terkekeh sambil menutup mulutnya ketika mengingat kejadian tadi.
"Kenapa kau tertawa." Akira bertanya saat melihat Charla seperti ingin tertawa.
"Bukan apa-apa. Hanya saja tadi ketika melihat Akira-san terkejut ternyata lucu juga, " jawab Charla sambil mencoba menahan tawa.
"Sudah kubilang jangan dibahas lagi... " Akira mengepalkan tangannya erat dengan wajah mengeras.
"Baik-baik!" Charla mengangguk-anggukan kepalanya cepat.
Akira menghela nafas dan berjalan ke satu arah, "Lebih baik sekarang kita sarapan dulu. Kau pasti semalam kelaparan kan karena belum makan apa-apa?" Akira bisa menebak setelah tadi sempat melihat Charla sedang memegang perutnya seperti orang kelaparan.
Charla mengangguk semangat dan mengikuti Akira dari belakang.
Akira mengambil sebuah kapsul di kantong ajaibnya yang kemudian dia lemparkan ke tanah. Seketika bangku kecil yang ukurannya muat untuk di duduki dua orang muncul.
Akira duduk di bangku itu dan mulai mengeluarkan satu persatu perbekalan makanannya. Dia juga tidak lupa mengeluarkan makanan untuk Charla.
Charla ikut duduk di samping Akira, menunggu Akira memberikan makanan untuknya. Akira memberikan makanan berupa sup seperti kemarin pada Chara.
Mereka berdua pun masing-masing makan makanannya dengan lahap.
Selesai makan, Akira bersama Charla berkemas. Akira mengembalikan tenda-tenda itu ke dalam bentuk kapsul dan menyimpannya kembali ke dalam kantong ajaibnya
"Oh, ternyata itu item sihir..." Mulut Charla membentuk huruf O ketika baru mengetahuinya saat menyaksikan hal itu langsung dari dekat. Akira tidak terlalu menanggapi reaksi Charla.
"Sudah selesai." Akira selesai mengembalikan semuanya.
"Sekarang kita mau kemana?" tanya Charla penasaran.
Akira tidak menjawab pertanyaan Charla. Dia membuka panel map di sampingnya untuk mengamati situasi dan keadaan sebelum memutuskan mengambil langkah.
"Entahlah. Ikuti saja." Akira lalu berjalan ke salah satu arah yang sudah dia tentukan.
"Baik!" Charla mengangguk mengikuti Akira dan berjalan di sampingnya.
Setelah melalui berbagai kejadian, Charla sekarang bisa melihat bahwa ternyata Akira tidak seperti yang dia pikirkan sebelumnya.
__ADS_1