
"Cih, menyebalkan. Dari sekian banyaknya monster yang bermunculan tadi, aku hanya mampu mendapatkan segini.." Sean tampak begitu kesal saat mengetahui inti monster yang dia dapatkan dari perburuannya sangat sedikit.
Kedua petualang pangkat diamond lainnya merasakan hal yang sama saat melihat hasil buruan yang mereka dapat tadi tidak jauh berbeda dengan Sean. Apalagi dengan yang lainnya yang hanya mendapatkan sisaan. Bahkan ada yang tidak dapat sama sekali.
Lain halnya dengan mereka, Zero yang menguasai perburuan berhasil meraup keuntungan yang begitu besar dari gelombang monster di masa permulaan ini.
"Sial, ini tidak bisa dibiarkan. Kalau terus seperti ini aku tidak akan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan."
Sean yang tidak terima dengan hasil tersebut mengajak dua petualang diamond lainnya untuk melakukan protes agar Zero mau menghentikan aksi tidak adilnya.
"Kau saja, aku tidak mau." Iris menolak ajakan Sean karena tidak ingin mencari masalah lagi dengan Zero.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak bertindak gegabah dengan orang sepertinya. Aku tidak terlalu mempermasalahkan seberapa banyak inti monster yang bisa kudapatkan di sini. Tujuanku disini hanya untuk menyelesaikan quest yang aku terima," tegas Bobby menolak ajakan Sean.
Sean merasa kesal saat mendengar penolakan Iris dan Bobby namun dia tidak bisa memaksa mereka. Akhirnya dia memutuskan untuk mengajak orang lain saja yang ingin ikut protes dengannya. Hasilnya banyak juga dari mereka yang mengikutinya.
"Hei, ini tidak adil tahu. Bagaimana bisa kalian membiarkannya mengambil semua monster itu sendiri." Sean menyuarakan protesnya pada petugas yang bertanggung dalam gelombang monster di kota itu.
"Benar, ini tidak adil! Kita tidak terima jika dia mengambil semua monster itu sendiri. Kami juga di sini ingin mendapatkan keuntungan lain selain quest yang kita terima," protes salah satu petualang yang juga kesal dengan aksi Zero. Yang lainnya pun ikut meminta keadilan pada petugas itu.
"Apanya yang tidak adil?" Petugas itu bertanya dengan nada malas, menganggap orang-orang yang melakukan protes di depannya ini tidak penting.
"Tentu saja perburuan ini! Bagaimana bisa kalian menempatkan orang sepertinya di sini!" Salah satu anggota party Sean menyentak petugas itu.
Petugas itu malah terkekeh, menanggapi kekesalan mereka dengan santai. "Dengar, ya. Tidak ada peraturan di gelombang monster ini yang membatasi seseorang untuk tidak boleh berperilaku adil. Jadi yang dilakukan oleh orang itu sah-sah saja.
Jika kalian masih ingin protes, lebih baik kalian protes ke walikota di kota ini karena dia yang telah meminta bantuannya," kata petugas itu memberikan penjelasan yang tidak memuaskan untuk mereka.
Mereka yang protes merasa geram namun tidak bisa berbuat apa-apa selain mengumpat dalam hati.
"Dasar, kalian sama sekali tidak berguna." Sean semakin kesal karena yang dilakukannya ini sia-sia. Dia tidak bisa terima jika di gelombang monster kali ini dia tidak bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.
__ADS_1
Karena merasa sia-sia melakukan protes ke petugas itu, dia dan lainnya akhirnya membubarkan diri dan kembali ke tempatnya masing-masing.
"Bodoh, kalian yang tidak berguna. Jika dari awal aku tahu orang itu mampu menghadapi semua monster itu seorang diri, aku akan meminta walikota untuk menyuruhnya saja," gumam petugas itu setelah orang-orang yang protes padanya pergi.
Di hari kedua gelombang monster, hampir semua monster yang muncul di kota itu berhasil dikalahkan oleh Zero.
Zero mendapatkan keuntungan yang besar sementara yang lain mendapatkan hasil yang menyedihkan.
*~*
Selain di kota yang Zero duduki, pertempuran gelombang monster yang terjadi di setiap penjuru dunia kini sudah selesai. Langit yang semula tampak menyeramkan kini kembali menampilkan warna asalnya. Orang-orang bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Ternyata bukan hanya Zero seorang yang mampu menghadapi gelombang monster itu seorang diri, tokoh-tokoh hebat di setiap kerajaan pun memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Contohnya salah satu tokoh besar di kerajaan Extavia sekaligus sosok yang menjadi raja di kerajaan tersebut.
Sang raja kini tengah terduduk di singgasana yang ditempatkan tak jauh di depan pintu masuk ibukota kerajaan. Alasan sang raja berada di tempat itu tak lain untuk melindungi rakyatnya dari serangan gelombang monster.
Sang raja baru saja selesai membantai monster-monster yang muncul di tempat itu seorang diri. Keberadaannya di situ disaksikan oleh hampir sebagian rakyatnya yang menyorakinya dengan penuh semangat karena raja mereka yang luar biasa ini telah berhasil menghadapi gelombang monster dengan begitu mudah.
"Seperti biasanya, Yang Mulia memang luar biasa. Aku yakin tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang jauh lebih hebat selain anda," puji salah satu pengawalnya
"Jangan berkata seperti itu. Di atas langit masih ada langit. Aku yakin suatu saat akan ada seseorang yang bisa kuajak bertarung dengan serius," kata sang raja penuh percaya diri.
Semua orang di kerajaan itu percaya, meskipun ada orang yang sangat kuat di kerajaan lain, tetapi menurut mereka raja mereka lah yang terkuat.
Buktinya sudah jelas ada di depan mata.
Semua orang di tempat itu menyaksikan secara nyata bagaimana raja mereka menghabisi monster-monster yang bermunculan tanpa sekalipun berdiri dari singgasananya. Bahkan semua monster itu dihabisi olehnya hanya dengan menggerakkan satu tangan.
Hal itu membuat mereka percaya bahwa raja mereka lah yang terkuat di dunia ini.
__ADS_1
*~*
Sosok yang tidak kalah menakutkan selain Zero maupun raja dari kerajaan Extavia juga ada di kerajaan Balviar.
Di suatu lapangan yang luas yang menjadi tempat pertempuran gelombang monster terjadi, terdapat sepasang kakak beradik laki-laki dan perempuan yang telah menyelesaikan pertempuran di tempat itu.
"Mad Gear, tidakkah kau terlalu berlebihan. Tidak hanya menghabisi semua monster itu, kau bahkan sampai menghabisi mereka semua. Dasar, kau selalu saja mencari masalah seperti ini," kata adiknya sambil memandangi pemandangan yang tampak begitu mengerikan di depannya.
Mayat manusia, demi human, dan ras elf yang sebelumnya ikut bertempur bersama mereka tampak bergeletakkan di setiap tempat.
Namun anehnya wanita berambut merah itu masih bisa tersenyum dengan santainya saat memandangi pemandangan tersebut.
"Habisnya aku kesal, Irene. Monster-monster itu sama sekali tidak bisa memuaskanku padahal aku sudah menanti momen ini sejak lama," kata Mad Gear terkekeh pelan sambil memulihkan salah satu tangannya yang hancur dan kini beregenerasi kembali.
"Yang barusan itu cukup mendebarkan juga, ya. Mereka bisa menghiburku dengan sangat baik bahkan sampai membuatku seperti ini. Aku sudah cukup puas sekarang." Mad Gear tersenyum lebar sambil memandangi mayat beberapa ksatria suci bintang tiga yang tadi menjadi lawan sengitnya.
"Baguslah kalau kau sudah puas. Jadi sekarang bagaimana dengan mereka? Apa kau ingin menghabisi mereka juga untuk menutupi perbuatanmu ini?" Irene menunjuk ke arah para petugas dan staf medis yang bersembunyi dari dalam rune.
"Tidak perlu. Biar aku yang atasi mereka." Mad Gear menyelesaikan pemulihannya terlebih dahulu kemudian berjalan ke arah mereka.
Orang-orang yang bersembunyi di sana ketakutan saat melihat Mad Gear mendekat. Bahkan saking takutnya mereka sampai tidak bisa bergerak untuk melarikan diri dari tempat itu. Sosok Mad Gear bagi mereka jauh lebih menakutkan dari iblis sekalipun.
"Hei, kalian masih ingin hidup, kan?" tanya Mad Gear tersenyum ramah saat berdiri di depan mereka. Namun senyumannya itu malah semakin membuat mereka takut.
"Y-ya!" jawab mereka yang ketakutan.
"Yosh, kalau begitu laporkan kalau mereka semua bukan tewas di tanganku maka kalian akan bebas. Kalian bisa melakukannya, kan?" Senyuman Mad Gear tambah menakutkan di mata mereka.
Mereka segera mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Sebagai tambahan kalian juga boleh mengambil semua inti monster yang belum kita kumpulkan di sana," kata Mad Gear sambil berbalik dan melenggang pergi dengan santainya.
__ADS_1
Mad Gear dan Irene kemudian pergi dari tempat itu untuk melanjutkan perjalanannya mencari sesuatu yang selama ini menjadi misi mereka.