
Saat memasuki desa, Zero langsung memerintahkan mereka semua untuk berkumpul dan berjajar membentuk barisan seperti biasa. Semuanya segera mengikuti arahan Zero dan berjajar rapi di depannya.
"Langsung saja tanpa basa-basi. Aku disini ingin memberitahukan ke kalian bahwa aku membawakan teman baru yang akan membantu kalian semua membangun desa ini menjadi kerajaan." Zero melambaikan tangannya, mengeluarkan para ras demi-human itu dalam cincin ruangnya.
Semua yang menyaksikan jelas terkejut melihat kemunculan para ras demi-human itu. Sementara para ras demi-human pun sama terkejutnya apalagi saat menemukan tempat yang disebut sebagai kerajaan hanyalah sebuah desa kecil yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding desa mereka.
Mana mungkin desa seperti ini disebut sebagai kerajaan, mereka sama-sama berpikir demikian.
"Mulai sekarang mereka semua akan tinggal di sini bersama kalian." Zero memperkenalkan para ras demi-human itu.
"Mohon kerjasamanya…" Para penduduk desa itu memberi hormat.
"Mohon kerjasamanya juga." Para ras demi-human membalasnya. Mereka merasa senang melihat sepertinya penduduk desa manusia ini ternyata orang-orang baik.
"Kuharap kalian semua bisa akur tinggal disini. Jangan ada diantara kalian yang saling merendahkan apalagi sampai memicu pertengkaran, mengerti?!" Zero menjelaskan peraturan yang harus ditaati
"Mengerti, Tuan!" Semuanya menjawab serempak.
"Yosh, sebagai penyambutan teman baru kita, sekarang kita akan berpesta!" Zero berseru sambil mengepal tangannya ke atas.
"Ho!" Semuanya membalas seruannya dengan sorakan gembira.
Zero langsung saja mengeluarkan bahan-bahan untuk berpesta dan menyerahkannya pada mereka semua.
Semuanya segera saling membantu dari yang perempuan mengolah makanan serta laki-lakinya mengatur meja dan menyiapkan berbagai hal lainnya.
Pesta ini juga Zero tujukan sebagai cara untuk membuat mereka saling mengakrabkan diri satu sama lain demi menjalin hubungan yang baik bagi semuanya.
Pesta berlangsung sangat meriah mengingat jumlah orang-orang di desa ini kini bertambah. Meja dan kursi bertebaran di segala tempat dan tentunya dengan berbagai hidangan makanan serta minuman di atasnya.
Mengabaikan mereka yang sibuk asik berpesta, Zero meminta beberapa orang diantaranya kedua kepala desa untuk berkumpul mendiskusikan berbagai hal menyangkut pembangunan desa ini.
Diskusi berjalan dengan baik. Terlepas dari postur tubuh Zero yang masih tampak seperti anak-anak, pembawaannya yang terlihat seperti pemimpin yang hebat membuat mereka dapat memahami setiap penjelasan yang diutarakan dengan mudah.
Dengan adanya Zero disini, mereka kini yakin desa ini suatu saat akan berkembang pesat seperti yang Zero harapkan.
Setelah mendiskusikan berbagai hal, Zero mulai membagi tugas untuk mereka lakukan besok serta arahan yang harus dilakukan bagi kedua kepala desa.
"Baik, kita sudahi sampai disini dulu." Zero membangkitkan dirinya. Semuanya pun ikut bangkit dari kursinya.
"Untuk sekarang kalian boleh melanjutkan pestanya, dan untuk kalian yang tidak memiliki tempat tidur…" Zero mengeluarkan kantong biasa dari menu inventory-nya lalu menyerahkannya pada Alzack, kepala desa ras demi-human.
"Di dalam kantong ini terdapat ratusan kapsul yang berisikan tenda dan tempat tidur untuk kalian yang tidak mempunyai tempat beristirahat," jelas Zero
Alzack mengambil kantong tersebut dan melihat isinya sesuai dengan apa yang Zero jelaskan.
"Terimakasih, Tuan." Alzack mengangguk.
"Ya. Sama-sama." Zero balas mengangguk.
"Baiklah, kalian sekarang boleh bubar." titah Zero. Mereka pun kembali ke tempatnya masing-masing dan lanjut berpesta.
Zero menghela nafas lega menjatuhkan kembali dirinya di kursi. Dia mengamati mereka semua yang sedang asik berpesta sambil memikirkan hal-hal baru yang diperlukan untuk membangun desa ini.
__ADS_1
"Zero-sama…" Charla dan Sherria menghampiri Zero yang tengah duduk sendirian dan terlihat tengah melamun.
Zero berbalik dan menemukan mereka sedang membawa cemilan dan minuman untuknya.
"Terima kasih." Zero mengambil minuman yang dibawa lalu meneguknya.
"Bagaimana diskusinya?" Charla dan Sherria duduk di samping Zero.
"Seperti yang diharapkan." Zero mengambil satu cemilan kentang lalu memakannya.
"Mereka terlihat senang sekali, ya." Charla tersenyum ke arah mereka. Sinar matanya terlihat bercahaya terkena lampu api yang berkobar di tengah-tengah tempat itu.
"Begitukah..." Zero menatap datar mereka yang tengah sibuk berpesta. Dia tidak menaruh perasaan apapun pada mereka selain pada sosok yang mirip dengan kakeknya.
"Ya. Semuanya berkat Zero-sama. " Charla balik tersenyum ke arah Zero.
"Benar, Zero-sama. Bagi kami semua Zero-sama sudah dianggap sebagai pahlawan yang telah membawa kebahagian dan menghapus semua kesedihan yang pernah kami lalui. Dan seperti perkataan kepala desa sebelumnya, rasa terimakasih pun sepertinya belum cukup untuk membalas apa yang sudah Zero-sama berikan," jelas Sherria mewakili perasaan semua orang di desanya.
"Pahlawan, ya…" Zero menggumamkan kata itu, "Tidak buruk..." Tersenyum dia mendengarnya. Karena memang sudah sepantasnya dia mendapat julukan seperti itu.
"Dimana Flo?" tanya Zero melirik ke segala tempat.
"Seperti biasa dia sedang bermain dengan Levy dan teman-temannya," jelas Sherria menunjuk ke arah Fluffy berada.
"Begitu, ya." Zero tersenyum melihat sosok yang sudah dia anggap sebagai adiknya tampak riang bermain dengan teman yang sepantaran dengannya.
Sesaat kemudian tiba-tiba Zero merasakan kembali efek samping dari membangkitkan mereka yang sudah mati. Zero langsung memegang dadanya yang terasa pengap hingga membuat nafasnya tiba-tiba tidak beraturan.
Charla dan Sherria di sampingnya menjadi cemas melihat hal itu namun Zero segera menenangkan mereka.
"Tapi…" Mereka menolak dan ingin membantunya.
"Aku hanya perlu istirahat." Zero bangkit dari kursinya, "Sudah jangan khawatir. Mungkin ini efek samping dari membangkitkan semua orang di desa kalian," jelas Zero tidak ingin menutupinya.
"Kalian lanjutkan saja pestanya. Aku ingin sendiri dulu." Zero melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Zero-sama…" Mereka berdua merasa cemas dengan keadaannya, takut jika efek samping tersebut berbahaya bagi Zero. Sayangnya mereka tidak bisa membantu apapun dan hanya bisa menuruti perkataannya.
Zero memasuki ruangan yang disediakan untuknya dan mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di atas kasur.
'Sistem, apa benar ini efek samping dari menggunakan sihir terlarang ini?' tanya Zero pada sistem.
[Benar. Sebenarnya efek ini tidak akan terjadi pada Anda jika Anda tidak menggunakan sihir ini secara berlebihan]
'Apa kondisiku ke depannya. Akan baik-baik saja?'
[Ya. Tenang saja. Anda hanya perlu mengistirahatkan diri Anda selama beberapa hari untuk memulihkan mental dan jiwa Anda yang terus terkuras selama menggunakan sihir ini]
"Begitu, ya. Syukurlah…" Zero merasa senang mendengarnya. Setidaknya sihir ini tidak akan berpengaruh buruk pada keadaannya.
Sesuai arahan Sistem, Zero mencoba mengistirahatkan dirinya dengan tidur, mengabaikan hiruk pikuk mereka-mereka yang masih sibuk berpesta.
Keesokan harinya Zero membuka matanya saat mentari pagi mulai menyirami desa itu. Setelah lama tertidur kondisinya kini sudah terasa baikkan. Dia sudah tidak lagi merasakan sesak di dadanya seperti semalam dan bisa bernafas lega seperti semula.
__ADS_1
Saat hendak membangkitkan tubuhnya, Zero menyadari kalau dirinya semalam tidak tidur sendiri. Dia ditemani oleh Charla dan Sherria yang semalam memutuskan untuk tidur mendampinginya karena merasa khawatir pada keadaannya.
Zero tersenyum sambil mengelus-elus telinga mereka secara bergilir lalu membangkitkan dirinya.
"Bangun…" Zero kemudian mencubit pipi mereka berdua mencoba membuat mereka terbangun.
"Ah, sakit, sakit…" Mereka berdua langsung terbangun dari tidurnya sambil meringis kesakitan.
"Kenapa kalian tidur disini?" tanya Zero.
"Tentu saja karena kami khawatir dengan keadaanmu," jawab Charla.
"Benar. Apa Zero-sama baik-baik saja?" tanya Sherria.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa." Zero menghela nafas pelan lalu berdiri, keluar dari kasur itu
"Ayo, mulai hari ini kita semua akan sibuk membangun desa ini," ajak Zero melangkah keluar ruangan.
"Baik, Zero-sama." Mereka berdua mengikuti.
*~*
Selesai berkemas diri, Zero mengumpulkan kembali semua orang di desa. Dia sekarang akan memulai pembangunan desa ini dengan tujuan merubahnya menjadi kerajaan.
"Bagaimana pestanya semalam?" seru Zero.
"Menyenangkan, Tuan!" Seru mereka serempak.
"Apa sekarang kalian sudah siap bekerja?"
"Ya!!" Mereka tampak penuh semangat.
"Bagus. Itu sudah cukup sebagai pembukaan. Mulai sekarang aku akan membagi tugas untuk kalian semua."
Zero memulainya dengan mengeluarkan ratusan kayu kokoh yang sebelumnya sudah dia beli dari menu inventory-nya dan memperlihatkannya pada mereka. Tak lupa dia juga mengeluarkan peralatan pembangunannya.
Mereka yang melihat tumpukkan kayu serta alat-alat pembangunan tiba-tiba muncul di samping Zero hanya bisa terpana. Sekarang mereka tambah yakin jika desa ini suatu memang bisa menjadi kerajaan seperti yang Zero harapkan.
"Ka..- ah, maksudku August, aku serahkan tugas membuat beberapa bangunan yang semalam aku katakan padamu." Zero menyerahkan tugas pada August.
"Baik, Tuan." August dengan patuh menerimanya.
"Baiklah, sekarang untuk kalian…"
Zero mulai membagi tugas pada mereka semua. Baik para laki-laki dan perempuan semuanya mendapatkan tugasnya.
Zero mengeluarkan semua yang dibutuhkan untuk membangun desa ini, contohnya seperti beberapa benih untuk ditanam dan beberapa tempat untuk dibangun.
Para ras demi-human tidak ketinggalan ikut saling bekerja sama membantu yang lain membangun desa yang akan menjadi tempatnya sekarang.
"Yosh, untuk kalian..." Zero memandangi mereka yang belum mendapatkan tugas.
"Ikuti aku…" ajaknya kemudian melangkah keluar desa. Mereka dengan patuh mengikutinya dari belakang
__ADS_1
——
Like & coment