
"Zero-sama sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu," kata Charla terdengar cemas sambil menoleh ke belakang.
"Ya. Aku sudah mengetahuinya sedari awal." Zero menanggapinya dengan santai sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala.
"Tenang saja. Selama ada aku dan Flo disini, kalian tidak perlu takut pada orang-orang seperti mereka. Benarkan, Flo?" Zero tersenyum ke arah Fluffy di sampingnya.
"Emm! Aku akan menghajar mereka kalau mereka berani macam-macam dengan kalian." Fluffy mengepal tangannya ke atas.
"Seperti biasanya hanya orang-orang bodoh yang berani mengganggu kita. Kalian sudah melihatnya kan? Palingan ujung-ujungnya mereka nanti akan meminta ampun seperti yang sudah-sudah." Zero terkekeh pelan.
Charla menghela nafas pelan untuk meredam rasa khawatirnya. Yang Zero katakan memang benar, dia seharusnya tidak perlu sekhawatir itu, karena pria yang dicintainya ini selalu bisa menghadapi setiap masalah sesulit apapun itu.
Mereka saat ini sedang berjalan menuju ke dasar gua yang menjadi tempat dimana monster yang harus mereka pancing keluar itu berada.
"Hmm...Aku penasaran, monster seperti apa yang ada di dalam gua ini? Apa benar dia kuat..." Zero mengelus dagunya menerka-nerka.
"Jika dilihat dari kategori quest ini kemungkinan itu bukan monster yang mudah untuk dilawan." Sherria mengeluarkan pendapatnya.
"Benar. Aku sempat mendengar mereka menyebutkan kalau monster yang harus kita hadapi ini berada di tingkat Ancient atau bisa disebut sebagai tingkatan paling akhir. Akan sangat sulit jika menghadapinya seorang diri." Charla ikut mengeluarkan pendapatnya.
Zero tertawa pelan dalam hatinya mendengar monster tingkat Ancient dinilai sebagai monster tersulit. Sewaktu dirinya masih berada di dalam Menara Agung dia bahkan pernah melawan puluhan monster di tingkat itu sendirian. Apalagi dengan status kekuatannya saat ini, seratus monster tingkat itu sepertinya masih mampu dia atasi seorang diri.
"Monster seperti itu hanya akan menjadi samsak yang bagus untuk latihanku." Zero bersikap angkuh.
"Benarkan, Flo?" Zero mengusap-usap rambut Fluffy.
"Emm! Tuan yang terkuat."
"Tentunya."
Charla dan Sherria tersenyum ringan melihat sifat angkuh Zero yang seperti ini. Mereka tahu, Zero bersikap seperti ini hanya untuk membuat mereka tidak terlalu cemas.
Setelah beberapa langkah jalan menyusuri dasar gua mereka akhirnya sampai di ujungnya. Disana mereka menemukan monster yang harus mereka hadapi yaitu sejenis monster laba-laba dengan ukuran yang tidak biasa.
Jaring putih laba-laba menempel di setiap dinding gua beserta dengan telur-telurnya yang di dalamnya terdapat anak monster laba-laba berukuran sedang.
Sedangkan yang berada di tengah-tengah jaring itu tak lain adalah ibu dari monster itu. Dia belum menyadari kehadiran Zero dan yang lainnya dan tampak masih asik mel*mat seekor rusa yang terbungkus dalam jaringnya.
"Jadi kita harus memancing monster seperti ini keluar dari sarangnya, ya..." Zero belum mau bergerak dan mencoba mengamati monster itu terlebih dahulu.
"Apa yang harus kita lakukan, Zero-sama?" tanya Charla.
__ADS_1
Charla dan Sherria belum terbiasa dihadapkan dengan monster seperti ini dan tentunya rasa takut masih tertanam dalam diri mereka.
"Tentu saja kita habisi mereka langsung. Untuk apa kita repot-repot membawa mereka keluar jika kita bisa menghabisinya langsung di sini."
Zero melangkah lebih dulu mendekati monster laba-laba itu. Saat berada di jangkauannya, monster laba-laba itu bereaksi dan segera menghentikan aktivitasnya.
Monster laba-laba itu melepas makanannya dan mengalihkan pandangannya pada Zero yang tengah berjalan mendekatinya lalu menjerit.
Jeritannya itu seakan memberi pertanda kalau musuh telah masuk ke wilayahnya, sebelum sesaat berikutnya monster laba-laba yang masih dalam telur keluar secara bersamaan.
"Kalian urus monster yang kecil biar aku urus bossnya." Zero memberikan arahan.
Charla dan Sherria menarik nafas dalam, mencoba menekan rasa takut dalam dirinya lalu serempak memposisikan diri.
"Baik, Zero-sama."
Mereka bertiga segera membagi posisi bersiap menghadapi monster yang kecilnya. Sedangkan Zero berjalan santai mendekati boss monster itu, berniat menghabisinya menggunakan tangan kosong.
Boss monster laba-laba itu menyerang lebih dulu dengan menyemprotkan jaringnya pada Zero namun segera berhasil dihindari olehnya.
Anak-anaknya yang sudah turun ke bawah menyusul menyerang Zero dan yang lainnya secara bergerombol.
Mengabaikan anak monster itu, Zero segera melesat menghampiri ibunya. Sementara Charla dan yang lainnya mulai menghabisi satu demi satu monster yang mendekatinya itu menggunakan keahliannya masing-masing.
Zero merasa beruntung bertemu dengan monster seperti ini karena dengan semua inti monster itu dia bisa membuat mereka dan dirinya bertambah kuat dengan cepat.
"Pasti kau memiliki inti monster yang paling besar disini, kan," kata Zero selagi melontarkan serangan demi serangan pada boss monster itu.
Hanya dalam hitungan menit, Zero berhasil menghabisi boss dari monster itu, menyisakan monster-monster kecilnya yang masih dibersihkan oleh Charla dan yang lainnya.
"Apa kalian perlu bantuan?" tanya Zero.
"Tidak perlu, kami bisa menghadapinya sendiri." Charla dan yang lainnya terlihat bersemangat sekali menghabisi monster kecil itu.
"Begitu, ya…" Zero tersenyum melihat perkembangan mereka yang seiring waktu mulai bisa menekan rasa takutnya dalam menghadapi musuh-musuh seperti ini.
"Kalau sudah selesai kalian kumpulkan semua inti monster itu."
"Baik!"
Melihat mereka mampu mengatasi monster itu sendiri, Zero mendekati tempat dimana boss monster itu tewas untuk mengambil inti monster yang keluar dari tubuhnya.
__ADS_1
"Huuaahh~ Lucky…" Mata Zero berbinar saat melihat inti monster dengan ukuran besar di tangannya.
Tak butuh waktu lama semua monster laba-laba yang ada di dalam gua itu lenyap menjadi kepingan pixel dan hilang dari pandangan mereka semua.
Mereka segera mengumpulkan inti monster yang bergeletakkan dimana-mana itu.
"Masukkan semuanya kesini." Zero menyerahkan kantong ajaibnya untuk menampung semua inti monster yang telah mereka kumpulkan.
Setelah terkumpul semuanya, Zero menyelipkan kantong itu di pinggangnya.
"Sudah selesai, ayo kita keluar…" Zero bersama party-nya pun keluar dari gua itu dengan membawa hasil buruan yang bagus.
*~*
Rogue bersama party-nya mulai bosan menunggu party Zero keluar dari gua kecil itu, namun ketika mendengar sebuah jeritan yang sangat keras yang berasal dari dalam gua mereka segera menyadarkan dirinya.
Senyuman lebar terlukis di bibir mereka karena akhirnya sesuatu yang mereka tunggu sebentar lagi akan tiba.
Akan tetapi setelah beberapa waktu menunggu, tidak ada tanda-tanda party Zero akan keluar dari dalam gua itu. Hal itu mulai membuat mereka geram.
"Kenapa mereka lama sekali? Apa yang terjadi di dalam?" kata anggota party-nya yang sudah tidak sabar menunggu kemunculan mereka.
"Apa jangan-jangan mereka tewas?" terka yang lainnya
"Boss, apa perlu kita cek?" Anggota party itu meminta persetujuan pada ketuanya.
"Jangan dulu. Kita tunggu sebentar lagi, jika mereka masih tidak keluar baru kita coba periksa," kata Rogue memberikan arahan.
Para penghancur pemula itu memutuskan menunggu selama beberapa waktu sampai akhirnya sosok yang ditunggu pun mulai terlihat.
Senyuman mereka yang semula melebar ketika melihat party Zero muncul perlahan melengkung ke bawah saat menemukan ada yang aneh dengan mereka.
Zero dan anggota party-nya keluar dari dalam gua itu dengan wajah riang tanpa membawa monster yang seharusnya mereka bawa.
Melihat keanehan itu mereka memutuskan menghampiri Zero dan anggotanya.
"Dimana monsternya?" Rogue yang sampai lebih dulu langsung menanyakan hal itu pada mereka.
Zero tidak langsung menjawab pertanyaan Rogue karena pandangannya teralihkan pada rune yang terpasang di sekitaran tempat itu. Dia langsung mengerti, alasan mengapa mereka memasang rune itu pasti untuk menjebak mereka dengan monster itu di dalamnya.
"Oi, jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi dengan monsternya?" tanya Rogue terlihat serius. Semua anggotanya yang sudah sampai memandangi party Zero dengan kerutan dahi, tidak mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi.
__ADS_1
Zero mengalihkan pandangannya ke depan dan menunjukkan senyuman bodoh seolah ingin mengejek mereka semua.
"Oh, monster itu sudah tidak ada..."