Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Balas Dendam (Arc 1 End)


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Akira dibawa oleh Makhluk Agung ke dunia asalnya. Setibanya disana dia tidak langsung menapaki tanah melainkan melayang di tempat tertinggi, di atas gumpalan awan.


"Kau sudah sampai…"


Saat membuka mata, Akira langsung menoleh ke belakang dan mendapati Makhluk Agung tengah melayang di sana.


"Untuk apa kau mengikutiku?" Akira berpikir dia hanya akan dibawa seorang diri saja.


Makhluk Agung mengusap belakang kepalanya sambil tertawa pelan, "Ya... sepertinya akan ada sesuatu yang menarik, jadi aku memutuskan mengikutimu. Tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa. Aku disini hanya sebagai penonton."


Akira menghela nafas pelan, mengabaikan Makhluk Agung lalu melihat ke bawah. Dia baru menyadari kalau dirinya saat ini tengah melayang di udara padahal dia tidak menggunakan skill-nya.


Tidak ingin memikirkannya, Akira segera menuju ke bawah dan menemukan sebuah hamparan bangunan kota yang tidak lain adalah tempat tinggalnya.


"Aku benar-benar dibawa ke dunia asalku…" Akira terpana saat menyaksikan dunia asalnya dari ketinggian, "Tempat ini tidak berubah sama sekali…" gumamnya.


Makhluk Agung menyusul turun ke bawah kemudian menjelaskan satu hal pada Akira, "Tentu saja. Waktumu selama di Menara Agung dengan waktu yang berputar disini sama. Atau dengan kata lain, sudah tiga bulan tempat ini berlalu sejak kematianmu."


"Begitu…" Akira menoleh sesaat pada Makhluk Agung.


"Apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Makhluk Agung.


"Bukankah sudah kukatakan, aku ingin menyelesaikan semua urusanku di dunia ini…"


Akira turun ke bawah. Makhluk Agung mengikuti Akira dari belakang.


"Aku tahu, salah satu alasan mengapa kau memintaku untuk membawamu ke dunia ini pasti karena kau ingin mencari tahu keadaan mantan kekasihmu itu, kan?" terka Makhluk Agung.


Akira tidak menjawab perkataan Makhluk Agung. Dia hanya menoleh sebentar selagi terus bergerak ke bawah.


"Mm...Apa perlu aku memberitahukan keadaannya sekarang? "


Akira masih mengabaikan perkataan Makhluk Agung, namun ketika dia mendengarkan perkataan Makhluk Agung selanjutnya.


"Dia sudah mati…"


Akira berhenti saat itu juga. Dia langsung menoleh pada Makhluk Agung.


"Mati… mati maksudmu?" Akira jelas terkejut mendengar istilah itu.


"Kau tidak mengerti dengan istilah mati?" Makhluk Agung mengangkat sedikit alisnya sambil tersenyum.


"Maksudmu... dia sudah mati? Dia sudah tidak ada di dunia ini?" Akira merajut alisnya menatap Makhluk Agung dengan perasaan campur aduk.


"Begitulah…" Makhluk Agung mengangkat kedua tangan dengan bahu sedikit ke atas.


"Bohong!" Tidak ingin percaya, Akira melesat turun ke bawah meninggalkan Makhluk Agung.


Makhluk Agung menggeleng pelan kemudian menyusul Akira, "Terserah kau mau mempercayaiku atau tidak, tapi kenyataannya memang seperti itu. Kau bisa membuktikannya langsung nanti, " ujarnya yang membuat Akira kembali berhenti.


Akira menoleh, menimbang-nimbang pernyataan Makhluk Agung selama beberapa saat sebelum bertanya.


"Apa kau sungguh dengan perkataanmu?" Dia memastikan.


"Ya. Untuk apa juga aku berbohong."


Akira terdiam. Apa yang dikatakan Makhluk Agung ada benarnya juga. Dia tidak mempunyai alasan untuk berbohong.


Akira tidak menanyakan dari mana Makhluk Agung bisa mengetahui hal itu karena dia sudah melihat kemampuan Makhluk Agung dengan matanya sendiri, jadi menurutnya hal itu bukanlah hal yang mustahil dia ketahui, apalagi dengan fakta kalau Makhluk Agung tertarik dengan dirinya, pasti dia juga sudah mengorek-ngorek kehidupan masa lalunya dan orang-orang terdekatnya. Kemungkinan itu yang Akira pikirkan.


"Kalau begitu sejak kapan?" Akira buka suara setelah beberapa saat terdiam.


"Sejak satu bulan setelah kematianmu…"


Akira kembali terdiam. Dia tidak menyangka jika sosok yang pernah singgah di hatinya itu benar-benar telah tiada. Padahal salah satu alasan mengapa dia ingin kembali sebentar ke dunia asalnya karena dia ingin bertemu dengan kekasihnya sekali lagi untuk memastikan satu hal yang sudah sejak dulu dia pikirkan.


"Kau tahu penyebabnya kenapa?" Akira lanjut bertanya.


"Aku takut kau terkejut mendengarnya."


"Sudah cepat katakan saja kenapa?"


"Baik baik aku akan memberitahukannya…"


Makhluk Agung mulai menjelaskan secara rinci faktor penyebab kematian Yui, atau mantan kekasih Akira. Dia bercerita sebenarnya saat kejadian dimana Yui tertangkap basah telah mengkhianatinya saat itu tidak semuanya benar. Nyatanya Yui berbuat seperti itu bukan atas kemauan dirinya melainkan orang tuanya.


"Maksudnya?" Akira mengerutkan dahinya belum mengerti.


Makhluk Agung kembali melanjutkan. Dia memberitahukan bahwa orang tua Yui saat itu telah menjualnya ke seorang pria dewasa yang saat itu mencumbuinya. Yui dijadikan oleh pria dewasa itu sebagai mainan pemuas hasratnya, sampai satu bulan kemudian…


Makhluk Agung menghentikan ceritanya dengan helaan nafas sambil menggeleng pelan.


Raut wajah Akira dipenuhi keterkejutan mendengar cerita sebenarnya dibalik kejadian itu.


"Tidak mungkin…" Akira mengusap wajahnya dengan satu tangan. Perasaan amarah bercampur pilu kini dia rasakan. Dia tidak menyangka kalau kenyataannya akan seperti itu.


"Apa kau ingin melihat makamnya?" tanya Makhluk setelah beberapa saat Akira terdiam.


Akira memejamkan matanya sejenak kemudian menjawab, "Ya. Mohon bantuannya."


"Baik. Ikuti aku…"


Makhluk Agung menuntun Akira ke tempat makam Yui berada.

__ADS_1


*~*


Setibanya di tempat tujuan mereka bisa melihat tempat itu kosong, tidak ada orang sama sekali. Mereka berdua pun turun dan berjalan ke tempat makam Yui berada.


"Jadi ini makamnya…" Akira sampai di tempat makam Yui.


Terlihat jelas makam itu seperti tidak terurus sama sekali. Banyak ranting dan daun yang berserakan menumpuk di dekat batu makam yang bahkan tidak tertuliskan satu huruf pun nama Yui.


"Benar-benar keterlaluan…" Akira mengepal tangannya erat. Emosi mulai membara keluar dari dasar hatinya.


Tapi untuk sekarang Akira mencoba menahan emosinya terlebih dahulu. Dia mendekati batu makam itu lalu meluapkan semua perasaan yang dia rasakan saat ini.


Makhluk Agung yang di belakangnya hanya mengamati dalam diam sambil sesekali melihat-lihat keadaan sekitar.


"Yui, maaf sebelumnya aku sudah salah paham padamu. Aku tidak pernah menyangka kalau kenyataannya akan seperti ini."


Akira meluapkan seluruh perasaannya sampai beberapa saat kemudian dia pun selesai dan ditutup dengan helaan nafas panjang sambil memejamkan mata. Dia mendoakan semoga Yui bisa tenang di alam sana.


Ketika membuka matanya, ekspresi Akira seketika berubah menjadi sangat menakutkan, urat-urat amarah terukir jelas di wajahnya memperlihat betapa marahnya dia saat ini.


"B*jingan itu…"


*~*


DUARR!


Sebuah ledakan yang sangat besar membuat sebuah pintu yang kokoh hancur berkeping-keping


"Apa yang terjadi?" Orang-orang di dalamnya yang saat itu tengah sibuk bermain dengan para wanita penghibur terkejut. Serentak mereka langsung bersiap siaga dan segera memposisikan senjatanya masing-masing.


Sedangkan para wanita penghibur berhamburan melarikan diri menyelamatkan nyawanya karena mengetahui akan ada pertumpahan darah di tempat itu.


"Siapa yang berani melakukan ini? Tunjukan dirimu!"


Pandangan semua orang yang ada disitu terpaku pada kepulan asap hasil dari ledakan. Saat kepulan asap itu memudar mereka bisa melihat pelaku di balik hancurnya pintu yang kokoh itu.


"Bocah…"


Seorang bocah berdiri di tengah-tengah pintu menatap semua yang ada disitu penuh amarah.


Mereka semua yang tadi mengangkat senjatanya kini menurunkannya kembali. Mereka semua tidak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi di depannya sekarang.


"Apa-apaan dengan bocah ini..."


"Coba lihat tatapannya. Sepertinya dia sedang marah…"


"Tunggu dulu. Apa dia barusan yang menghancurkan pintu itu?"


"Ah, jelas tidak mungkin. Pasti ada orang lain di balik kejadian ini."


Semuanya saling berpandangan membicarakan bocah di depannya yang tampak tidak biasa.


"Dimana boss kalian?!" seru Akira menyadarkan mereka semua, membuat pandangan semua orang tertuju kembali pada dirinya.


Namun semut itu menjelma menjadi sosok yang mengerikan saat Akira menggerakkan tangannya mencekik orang itu tanpa sama sekali menyentuhnya sebelum berikutnya dia melempar orang itu ke tembok dan mengubahnya menjadi gumpalan daging.


"Pemeran figuran diam saja."


Semua yang ada di situ seketika tidak bisa bernafas saat menyaksikan salah satu temannya kini sudah tidak lagi berbentuk.


"Aku tanya sekali lagi! Dimana boss kalian?"


Suara Akira menyadarkan mereka semua kembali dan membuat pandangan mereka tertuju lagi pada bocah di depannya namun kali ini keterkejutan dan ketakutan terukir jelas di wajah mereka.


"Mo-mo-monster!" teriak salah satu dari mereka sambil mengangkat senjatanya dan melontarkan peluru pada Akira. Yang lainnya pun segera mengikuti. Beberapa peluru melesat ke arah Akira.


Namun sayangnya semua peluru yang mendarat di tubuh Akira tidak ada yang berhasil menembusnya membuat mereka yang menyaksikan itu semakin terkejut.


"Dasar monster! Siapa kau sebenarnya?!" serunya sambil terus melontarkan peluru pada Akira. Raut wajah frustasi mulai terlihat di wajah mereka saat menyaksikan bocah yang terlihat biasa-biasa di depannya ini bahkan lebih menakutkan dari malaikat kematian sekalipun.


"Orang seperti kalian memang tidak bisa diajak bicara."


Akira menghentakan kakinya menghilang secepat kilat membunuh satu persatu dari mereka menggunakan kepalan tangannya. Semuanya mati hanya dalam satu kali pukulan saja membuat mereka yang menyaksikan hal itu sebagian memilih melarikan diri menyelamatkan nyawanya.


Akan tetapi Akira tidak membiarkan itu terjadi. Dia membunuh satu persatu dari mereka yang kabur tanpa ampun.


Sedangkan di sisi lain terlihat Makhluk Agung tengah duduk santai menyaksikan aksi Akira di salah satu meja sambil menyantap buah-buahan yang disediakan disana.


"Ya… sudah kutebak akan jadi seperti ini…"


Beberapa menit kemudian, Akira menghentikan aksinya setelah berhasil membunuh mereka semua dan hanya menyisakan satu orang saja.


"Dimana bossmu?" tanya Akira dingin.


"Di-di lantai paling atas…" jawabnya terbata-bata karena ketakutan.


Akira membiarkan satu orang itu hidup kemudian segera menuju lantai atas. Makhluk Agung yang sejak tadi hanya mengamati Akira mengikuti dari belakang.


*~*


Setibanya di lantai paling atas, Akira mendobrak pintu ruangan khusus dengan keras. Di dalamnya terdapat seorang pria dewasa tengah duduk santai di sofa mewah dengan lima orang wanita penghibur di sekelilingnya. Mereka yang melihat Akira berceceran darah dan tengah menatap penuh amarah terkejut.


"Siapa kau bocah? Berani sekali masuk ke tempat ini tanpa izin!" Pria dewasa itu membangkitkan dirinya. Begitupun dengan wanita penghibur.


"Apa kau kenal dengan yang namanya Yui?" Akira langsung pada intinya.


"Yui…Yui...entahlah, aku tidak tahu. Apa dia ibumu? Dia tidak disini." Pria dewasa itu berjalan santai mendekati Akira, tidak terlihat takut sama sekali padanya.


"B*jingan!"

__ADS_1


Akira mengepal tangannya erat dan dalam sekali kedipan mata, dia menghilang dari pandangan mereka dan muncul di depan pria dewasa itu.


Sebelum pria dewasa itu sempat bereaksi sebuah pukulan mendarat di tubuhnya, mementalkannya ke belakang dan menghancurkan semua yang dilaluinya hingga berakhir menghantam sebuah tembok yang seketika membuatnya retak.


Sontak para wanita penghibur yang mengelilinginya tadi terkejut menyaksikan hal itu.


"Ah!!" Mereka langsung berteriak, berhamburan keluar ruangan. Tapi langkah mereka terhenti sesaat, ketika hendak keluar ruangan mereka melihat seorang pemuda tampan tengah bersandar di sisi pintu.


"Silahkan…" Pemuda tampan itu tersenyum ramah mempersilahkan mereka keluar. Mereka tidak punya waktu terpana dan segera keluar ruangan.


Sementara di sisi lain pria dewasa yang tadi menerima pukulan Akira sangat terkejut. Dia tidak menduga jika sosok bocah yang memukulnya barusan mempunyai kekuatan yang begitu menakutkan.


"Bocah… siapa kau sebenarnya?" Pria dewasa itu membangkitkan dirinya dengan berpegangan pada tembok.


"Jawab dulu pertanyaanku, apa kau kenal dengan perempuan bernama Yui?" Akira mempersingkat jarak mendekati pria dewasa itu.


"Ya, aku mengenalnya... Ada hubungan apa kau dengannya? Lagipula dia sudah mati, untuk apa kau mencarinya disini..." Suaranya tertahan oleh erangan kesakitan.


"Apa kau tidak mengingat siapa diriku?" Akira memperlihatkan senyuman sinis.


"Tidak tahu… aku tidak pernah melihat monster sepertimu…" Pria dewasa itu diam-diam ketakutan menatap Akira. Darah yang menempel di tubuhnya menjadi bukti bahwa dia telah membunuh seseorang dan kemungkinan darah itu pasti milik bawahannya.


"Apa kau masih ingat pernah memukul seorang pemuda yang saat itu bersama Yui?" Jarak Akira semakin dekat. Senyuman sinisnya melebar.


"Ya. Kalau tidak salah dia sudah mati?" Pria dewasa itu mencoba tetap tenang dan berusaha menjawab dengan baik agar tidak menyinggung Akira. Dia tidak ingin mencari masalah.


Akira berhenti melangkah kemudian tertawa,


"Hahaha!" Sesaat berikutnya tawanya diganti dengan seringaian yang menakutkan, "Asal kau tahu saja. Orang itu adalah aku…"


Pria dewasa itu menggeleng keras, "T-Tidak mungkin... Dia sudah mati. Tidak mungkin…". Dia tidak bisa mempercayai kalau bocah di hadapannya ini adalah orang yang pernah dia hajar habis-habisan.


Pria dewasa itu tidak bisa menahan rasa takutnya lagi saat melihat Akira semakin mendekat.


"Apa kau perlu bukti?"


Akira muncul di depannya dan mendaratkan satu pukulan yang membuat tubuhnya melengkung sebelum dia akhirnya jatuh ke lantai.


"Apa kau masih ingat dengan ini?" Akira kemudian menduduki tubuh pria dewasa itu sambil tersenyum. Hal itu seketika membuat pria dewasa itu teringat akan kejadian beberapa bulan sebelumnya ketika dia tiba-tiba dipukul oleh seseorang.


Tidak pernah dia sangka orang itu ternyata kini muncul kembali tepat di hadapannya.


"Kau… apa itu benar kau… tapi bagaimana caranya kau bisa hidup kembali, terlebih dalam bentuk seorang bocah seperti ini…" Bola mata pria dewasa itu bergetar, sulit percaya jika bocah ini benar adalah dia.


"Ya. Ini benar aku. Aku merangkak dari dasar neraka dan akhirnya berhasil sampai disini…" Akira mengepal tangannya erat sambil menggertakkan giginya.


"Mustahil…." Pria dewasa itu sult percaya jika yang diakatakan Akira benar.


"Sekarang giliranmu merasakan yang namanya siksa neraka karena selama kau ini telah mempermainkan sosok yang kucintai…" Akira melepaskan sebuah pukulan pada wajah pria dewasa itu hingga membuatnya tidak berbentuk. Tidak sampai disitu saja, dia terus memukulmha berkali-kali dan sesekali menyiksanya dengan cara lain yang lebih kejam.


Hari itu menjadi hari yang paling mengerikan bagi pria dewasa itu sekaligus hari dimana kematian yang begitu mengenaskan menjemputnya.


"Semua ini masih belum berakhir…"


*~*


Akira melanjutkan urusannya yang belum terselesaikan. Setelah membalaskan dendamnya pada pria dewasa itu dia langsung menuju ke tempat orang tua Yui dan melakukan pembantaian yang sama seperti sebelumnya, melampiaskan amarahnya pada mereka.


Lanjut dia juga menemui orang-orang yang dia benci dan pernah membuatnya menderita.


Ding dong ~


"Siapa...?" Seorang pemuda dengan malas membukakan pintu.


"Yo, kakak sialan. Apa kabar?"


Pemuda itu menemukan seorang bocah tengah tersenyum lebar menatapnya.


"Kakak? Cari siapa kau bocah? " tanya


pemuda itu sambil melirik ke kanan dan ke kiri.


Bocah itu tersenyum dan menjawab dengan sebuah pukulan mematikan yang seketika membuat tubuh pemuda itu hancur berceceran.


Hari itu juga satu demi satu orang yang dia benci dia habisi dengan keji. Aksi Akira dalam satu hari itu membuat seluruh media jepang dan dunia gempar. Mereka tidak mempercayai akan berita yang tersebar jika ada seorang anak kecil menyerupai iblis membantai satu persatu warganya yang ada disana.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Makhluk Agung yang masih setia mengikutinya sampai saat ini dan juga menjadi orang yang selama ini memberitahukan lokasi dimana tempat orang-orang yang Akira cari berada.


"Ya…" Akira mengatur nafasnya yang memburu setelah membunuh sosok terakhir yang dia benci.


"Baik, dengan ini aku sudah mengabulkan permintaan keduamu." Makhluk Agung tersenyum tipis menatap Akira.


"Ya, sudah saatnya aku kembali ke duniaku yang seharusnya."


*~*


Makhluk Agung membawa Akira kembali ke dalam Menara Agung, lebih tepatnya lantai terakhir di dalam Menara Agung.


"Sekarang sebutkan permintaan terakhirmu…" Makhluk Agung langsung menyuruh Akira menyebutkan permintaanya tanpa memberikan waktu baginya beristirahat.


"Terakhir, ya…" Akira menghela nafas dalam kemudian duduk di kursi yang disediakan. Dia tidak langsung menjawab melainkan memikirkan permintaan terakhirnya dengan matang.


Selama beberapa saat berpikir Akira teringat akan sesuatu, 'Ah, benar aku baru ingat. Mungkin ini yang dimaksud oleh sistem sebelumnya.' Akira teringat akan perkataan sistem yang mengatakan kalau sesuatu yang dia cari ada berada di lantai terakhir.


"Jadi apa itu?" Makhluk bertanya meski sudah menebak permintaan Akira.


Akira berdiri, tersenyum angkuh lalu menjawab,


"Aku ingin keabadian…"

__ADS_1


———


Arc 1 Menara Agung (selesai)


__ADS_2