Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Salah Paham


__ADS_3

"Wah...luar biasa!" Charla begitu senang sekali bisa merasakan sensasi terbang layaknya burung untuk yang pertama kalinya. Apalagi yang membawanya terbang saat ini adalah seekor naga yang digadang sebagai makhluk yang luar biasa.


"Sherria, apa sebelumnya kau pernah merasakan terbang seperti ini juga?" tanya Charla sambil memejamkan mata, menikmati terpaan angin yang menyejukkan


"Iya. Aku pernah dua kali merasakannya dan ini untuk yang ketiga kalinya," jawab Sherria.


"Eh~ Enak sekali. Jadi kau sudah sering melakukannya, ya." Charla terdengar iri.


"Apa kau sudah melakukan hal lain selain ini bersama Zero-sama?" Charla menolehkan sedikit wajahnya menatap Sherria.


"E-Eh, m-maksud Nee-san melakukan hal lain… h-hal lain seperti apa." Sherria menjadi gugup mendengar pertanyaan itu. Dia tiba-tiba teringat kembali pada saat kejadian dimana Zero waktu itu menciumnya. Wajahnya seketika memerah saat mengingat kejadian tersebut.


"Ada apa? Kenapa kau menjadi gugup seperti ini?" Charla tersenyum curiga.


"B-Bukan apa-apa!" Sherria mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi gugup.


"Heh~ Apa jangan-jangan..." Charla melirik Sherria dengan tatapan menyelidik.


"T-Tidak, bukan. Anu...i-Itu..." Sherria menjadi salah tingkah, sulit menjelaskan kejadian yang terjadi waktu itu pada Charla.


Charla menjadi semakin curiga melihat gelagat adiknya. Dia beralih menatap Zero.


"Ne~ Zero-sama," panggil Charla terdengar tidak suka.


"Apa?" Zero yang tengah memejamkan mata menanggapi.


Charla menggerakkan bibirnya ke dekat telinga Zero, "Apa kau sudah melakukannya dengan adikku?" bisiknya pelan tanpa terdengar oleh Sherria.


"Melakukan apa?" Zero mengerutkan dahinya tidak paham.


"Ecchi…"


Wajah Zero seketika memerah mendengar satu kata itu. Dia sontak membelalakan matanya.


"Tentu saja tidak!" Sergahnya segera.


"Bohong...kalian pasti diam-diam sudah pernah melakukannya, kan." Charla menggembungkan pipinya terlihat cemburu.


Dia lalu berbalik memastikannya langsung pada Sherria, "Sherria, jujur, kalian sudah melakukannya, kan?" Dia memegang tangan Sherria, mencari kepastian.


Merasakan firasat buruk, Zero melirik mereka berdua yang ada di belakangnya.


"E-Eto...itu…" Sherria menautkan kedua telunjuknya ragu untuk menjawab sebelum sesaat kemudian dia menganggukkan kepalanya, "Ya...kita pernah melakukannya," lirihnya malu-malu.


"Ehh!! Jadi benar kalian sudah pernah melakukannya!!" Charla berteriak, sangat terkejut mendengar jawaban adiknya.


Begitupun dengan Zero, dia melebarkan mata dan mulutnya terkejut mengetahui sepertinya Sherria sudah salah paham dari maksud perkataan kakaknya.


"Ahh, Moo~ Kalian berdua jahat!" Charla membuang muka sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Tidak! Bukan seperti itu, Charla. Kau sudah salah paham." Zero berusaha membenarkan.


Sherria menundukkan wajahnya merasa bersalah karena telah mengambil sesuatu yang berharga dari kakaknya. Dia menganggap dirinya bodoh karena waktu itu terlalu terbawa suasana.


"Bohong. Buktinya Sherria sendiri yang menjelaskan kalian sudah melakukannya." Charla mendengus sambil memanyunkan bibirnya, kesal karena telah kalah start lebih dulu dengan adiknya sendiri.


Zero berbalik mencoba meluruskan kesalahpahaman ini.


"Tidak. Itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kita memang melakukannya—"


"Ahh! Tuh, kan. Zero-sama juga mengakuinya." Charla langsung memangkas penjelasan Zero.

__ADS_1


"Ah...dengarkan dulu." Zero menggaruk kepalanya keras, geram karena tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Zero menghela nafas lalu menjelaskan,


"Ya. Kita memang pernah melakukannya. Tapi bukan melakukan hal seperti yang kau pikirkan. Kita belum pernah melakukan hal seperti itu." Zero menjawab dengan cepat agar tidak dipotong oleh Charla.


"Nee-san, maksudnya melakukan hal seperti itu, jangan-jangan..." Sherria menengadahkan kepalanya kembali. Dia merasa ada yang salah saat mendengar Zero seperti tidak ingin mengakuinya.


Charla berbalik ke Sherria lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sherria, "Kalian sudah melakukan…" Charla menjelaskan arti dari melakukan seperti itu.


Wajah Sherria memerah sampai mengeluarkan asap. Merasa malu karena telah salah mengartikan arti dari melakukan seperti itu yang tadi kakaknya katakan.


"Tentu saja tidak! Nee-san sudah salah paham!" Sherria menggelengkan kepalanya keras. Dia segera memberitahukan yang sebenarnya dengan berbisik di telinga Charla.


"Oh...begitu, ya. Hihih, maaf, maaf..." Charla mengusap belakang kepalanya, merasa malu karena telah salah mengartikannya.


"Sekarang sudah jelaskan. Lagian dengan kondisiku sekarang tidak mungkin aku melakukan hal seperti itu." Zero mendengus sekali kemudian kembali ke posisinya. Dia tidak ingin membicarakan hal itu lagi dan memilih untuk fokus menikmati terpaan angin yang menenangkan.


"Jadi kalian sudah pernah melakukannya?" Charla kembali berbisik di telinga Sherria.


"I-Iya. Itu juga karena sebelumnya ada kesalahpahaman, tidak ada maksud apa-apa..." lirih Sherria.


Charla menegakkan tubuhnya kembali dan tersenyum menatap Sherria yang tampaknya merasa seperti bersalah akan kejadian itu, padahal kenyataannya dia tidak seperti yang sedang Sherria pikirkan.


"Heh~Jadi posisi kita sekarang sama, ya." Charla menutupi mulutnya dengan satu tangan.


"Fufufu~ tapi setidaknya aku masih menang darimu. Aku sudah pernah melakukannya dua kali." Charla menunjukkan dua jarinya, menyombongkan diri di depan Sherria.


"Mulai saat ini juga Aku akan berjuang lebih keras lagi. Aku tidak akan kalah dari adik kecilku ini…" Charla mencubit pelan pipi Sherria.


Sherria tersenyum hambar, tidak mengerti untuk apa Charla memberitahukan hal seperti ini padanya. Dan kenapa kakaknya seolah tidak marah sedikitpun meski sosok yang dia cintai sudah melakukan hal seperti itu dengan yang lain, terlebih itu adalah adiknya sendiri.


Meski begitu perlu diketahui, sebenarnya sebelumnya Zero sempat merasa takut andai saja waktu itu dia tidak bisa membangkitkan Charla kembali karena faktor dirinya sudah cukup untuk tinggal di dunia ini.


Namun melihat dia berhasil membangkitkannya sudah jelas mengartikan bahwa Charla masih ingin menikmati hidup di dunia ini bersama orang-orang tercintanya.


"Ah~ Bulumu sangat nyaman sekali, Flo. " Charla mengelus-elus bulu halus yang ada di punggung Fluffy.


"Squekk…" Fluffy terlihat senang mendengarnya dan senang mendapatkan teman baru lagi.


"Mulai saat ini kau akan sering merasakannya juga," kata Zero.


"Benarkah, Zero-sama." Charla memeluk Zero yang duduk di depannya.


"Ya…aku sudah berjanji akan membawamu berpetualang bersama lagi seperti waktu itu." Zero memegang tangan Charla yang melingkar di perutnya.


"Baiklah, tapi kali ini ajak adikku juga."


"Tentu."


Mendengar percakapan mereka, Sherria yang berada di belakang kakaknya tersenyum ringan, ikut senang melihat keromantisan mereka. Dalam senyumannya sedikit tersirat kalau dia ingin bisa merasakannya juga tetapi dia sadar akan posisinya.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika suatu saat akan bertemu lagi denganmu." Charla membenamkan pipinya di pundak Zero.


"Bukankah saat itu kau sempat bilang kalau suatu saat kita akan bertemu kembali." Zero memejamkan matanya, mengingat kembali kenangan bersama Charla.


"Benar, aku pernah mengatakannya. Tapi aku tidak pernah mengira kita akan bertemu lagi di dunia ini." Charla melepas pelukannya diiringi helaan nafas.


"Begitu, ya…" Zero mengerti apa maksud dari perkataan Charla.


"Aku juga tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu, Sherria." Charla tersenyum melirik ke arah Sherria di belakangnya.

__ADS_1


"Aku juga, Nee-san. Kupikir saat ini aku sedang bermimpi." Sherria membenamkan wajahnya di pundak kakaknya.


"Semua orang di desa juga pasti berpikiran sama." Charla mengelus-elus kepala adiknya, memberikan sentuhan kasih sayang seorang kakak.


"Ya. Mereka juga terlihat senang sekali bisa berkumpul lagi bersama."


Zero tersenyum melirik ke arah mereka berdua. Meski dia tidak terlalu peduli dengan keadaan mereka yang lainnya tapi dia ikut senang melihat mereka berdua senang.


Zero sempat berpikir, apakah melawan takdir dengan membangkitkan seseorang yang sudah mati demi membuat orang itu bahagia adalah suatu hal yang buruk atau tidak.


Dan jawabannya? Tentu saja dia tidak peduli.


Meskipun itu adalah suatu hal yang buruk dia akan tetap melakukannya. Sekalipun dia harus membawa banyak dosa dan menyelam ke dasar neraka demi meraih suatu kebahagiaan dia akan mencobanya. Semuanya dia lakukan untuk membuat dirinya dan orang-orang yang dia kasihi bahagia.


Dalam tenangnya menikmati terpaan angin yang menyejukkan, tiba-tiba Zero merasakan sensasi jiwanya tersedot, sama seperti waktu dirinya membangkitkan mereka yang sudah mati. Hal itu membuat nafasnya terasa pengap dan tidak beraturan.


"Apa ada masalah, Zero-sama?" Charla dan Sherria menjadi cemas melihatnya.


"Ah, bukan apa-apa." Zero mencoba kembali tenang agar mereka berdua tidak khawatir.


'Sial, ini pasti efek samping dari membangkitkan lebih dari ratusan orang dalam satu waktu,' pikir Zero.


Setelah merasa tenang, Zero mencoba untuk tidak memikirkannya dulu. Dia melihat peta untuk membandingkan posisinya sekarang dengan desa yang dituju.


"Sebentar lagi kita sampai." Zero menemukan posisinya saat ini sudah semakin dekat.


Tak lama kemudian, tepat saat hari menjelang malam, tempat yang dituju mulai terlihat dan sejurus kemudian mereka pun sampai.


"Akhirnya kita sampai…"


Fluffy menukik turun ke bawah, membawa ke desa yang dikelilingi oleh tebing.


"Apa ini kerajaan, Zero-sama?" Charla tidak bisa melihat kalau desa kecil itu layak disebut sebagai kerajaan.


"Ya. Suatu saat ini akan menjadi kerajaanku," jawab Zero santai.


Saat Fluffy sampai di bawah, mereka langsung disambut ramai oleh penduduk desa yang tampak tengah berkumpul di pintu masuk sambil bersorak melambaikan tangan.


Zero bersama Charla dan Sherria turun dari punggung Fluffy.


"Flo berubahlah…"


Sesuai permintaan Zero, Fluffy berubah menjadi sosok gadis kecil berambut putih yang menggemaskan.


"Ehh!" Charla yang baru pertama kali melihatnya terkejut. Naga sebesar itu ternyata mempunyai wujud seperti ini? Itu mungkin yang dia pertabyakan saat melihat wujud Fluffy.


"Uppa!" Fluffy memeluk teman barunya.


"Zero-sama apa benar ini Fluffy?" tanya Charla masih dalam raut terkejut.


"Ya."


"Sudah nanti aku jelaskan. Untuk sekarang ayo kita masuk ke dalam," ajak Zero melangkah lebih dulu menuju desa. Yang lainnya mengikuti.


Saat berada di depan pintu masuk desa, para penduduk desa langsung memberi hormat mempersilahkan Zero dan yang lainnya masuk.


"Selamat datang Tuan…"


——


Like & coment

__ADS_1


__ADS_2