
Apa yang sejak tadi disaksikan oleh semua orang yang ada di tempat itu benar-benar sesuatu yang mengesankan.
Monster-monster tingkat di tinggi yang sebelumnya sulit untuk ditaklukkan kini tidak ada satupun yang tersisa setelah semuanya dimusnahkan oleh satu orang pria yang kelihatannya jauh lebih menakutkan dari monster-monster tersebut.
Bagaimana tidak menakutkan, puluhan monster yang baru saja dikalahkan pria itu adalah monster dengan tingkatan tertinggi, terlebih pria itu mampu mengalahkan monster setingkat itu sebagaimana dirinya menginjak semut.
Semuanya masih terdiam karena tidak bisa menerima situasi yang terjadi saat ini. Monster-monster terbaik yang seharusnya menjadi buruan mereka semuanya diambil alih oleh Zero. Hal itu membuat hati mereka iri karena tidak bisa mendapatkan keuntungan yang besar di perburuan kali ini.
Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak mempunyai keberanian untuk memprotesi apa yang sudah Zero lakukan dan hanya bisa menerima kenyataan. Itupun berlaku bagi ketiga petualang pangkat diamond itu.
Semua orang yang bertempur di kota itu merasa sepertinya kali ini mereka sudah salah memilih tempat perburuan.
*~*
Gelombang monster telah selesai, keadaan kembali tenang. Tidak ada lagi rune yang terpasang di kota itu dan semua orang yang berlindung di dalamnya bisa kembali beraktifitas seperti biasa.
Para petualang dan pasukan kerajaan membubarkan diri dari tempat pertempuran, mengistirahatkan tubuh mereka yang letih setelah seharian bertempur melawan para monster.
Gladius tampak masih sibuk mengumpulkan inti monster dari monster-monster yang sebelumnya Zero kalahkan, sedangkan Zero sedang terduduk santai di tempat beristirahat yang disediakan di tempat itu sambil menikmati camilan di tengah langit sore yang begitu memanjakan mata.
Selagi bersantai, Zero juga mengamati statusnya yang kini meningkat setelah menghabisi semua monster itu.
"Gelombang monster ini memang momen yang pas untuk meningkatkan level statusku. Hanya tinggal belasan level lagi sampai akhirnya aku bisa memenuhi salah satu syarat untuk mencapai tahap itu," kata Zero setelah puas mengamati statusnya. Dia kemudian menutup panel statusnya dan lanjut menikmati waktu santainya.
Beberapa saat kemudian ketika Zero sedang menikmati waktu santainya, ada tiga petualang pangkat diamond yang menghampirinya dan memberi salam padanya.
Zero menoleh saat menyadari kedatangan mereka. "Ada apa?" tanya Zero datar, tidak merespon kedatangan mereka dengan baik.
Ketiga petualang itu saling berpandangan sejenak seperti memutuskan sesuatu kemudian Sean mengangguk.
"Sebelumnya perkenalkan, kita bertiga adalah petualang pangkat diamond yang menerima quest untuk menjaga kota ini." Sean memperkenalkan dirinya dan dua orang di sampingnya dengan sopan.
"Ya terus?" Zero tampak tidak peduli dengan mereka dan malah lebih peduli pada camilannya.
__ADS_1
Ketiga petualang itu terlihat tidak suka dengan cara Zero menanggapi perkenalan mereka padahal mereka sudah melakukannya secara baik-baik. Sayangnya mereka tidak bisa meluapkan ketidaksukaannya itu pada sosok seperti Zero.
Ketiga petualang itu kembali saling berpandangan, tidak tahu bagaimana cara menghadapi Zero dalam pembicaraan.
"Jangan membuang-buang waktu bersantaiku. Cepat katakan saja, apa mau kalian." Zero menatap mereka risih seolah kehadiran mereka mengganggu.
"Kita sudah mendengar kalau ada empat petualang pangkat diamond yang mendapatkan quest untuk menjaga kota ini. Kau pasti salah satunya, kan?" Bobby yang kali ini buka suara dengan bertanya.
"Ya, itu aku. Ada urusan apa kalian denganku?" tanya Zero memperlihatkan tatapan malas pada mereka.
Sean kemudian memberanikan diri untuk memberitahukan tujuannya. "Kita bertiga ingin mengingatkan padamu supaya di gelombang monster selanjutnya kau jangan mengambil terlalu banyak monster buruan kita," jelas Sean sambil menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Bukan hanya kita, tetapi semua orang yang berpartisipasi dalam gelombang monster ini. Kita ingin kau bersikap adil kepada semuanya." Iris menambahkan untuk lebih meyakinkan Zero, berharap Zero mau mempertimbangkan keinginannya.
"Oh, jadi itu yang kalian inginkan." Zero menyunggingkan sudut bibirnya mendengar keinginan mereka. Tatapan nya sedikit tajam saat menatap Sean seolah ingin mengisyaratkan sesuatu padanya.
Sean yang melihat tatapannya itu merasakan firasat yang tidak enak seolah akan terjadi sesuatu yang tidak baik padanya nanti.
"Kalian baik sekali ternyata sampai begitu pedulinya pada mereka, padahal mereka belum tentu peduli pada kalian," lanjut Zero setelah menghabiskan camilan terakhirnya.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Zero tersenyum tipis namun terkesan menantang.
Tanpa menggunakan mata bijaknya pun Zero bisa mengetahui maksud dibalik mereka memintanya untuk melakukan hal itu. Yang pasti itu ditujukan bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri mereka sendiri.
Mata ketiga petualang itu sedikit terbelalak mendengar jawaban Zero.
Bobby yang merasa tidak suka dengan jawaban itu segera membalasnya.
"Kalau kau tidak mau kita bertiga akan—"
Namun kata-kata yang disampaikan Bobby berhenti setelah Sean menyiku perutnya dengan kuat kemudian merangkulnya ke bawah dan berbisik di telinganya.
"Bodoh, jangan sembarangan memutuskan sesuatu..." bisik Sean kesal mendengar Bobby seperti hendak mengatakan sesuatu yang mungkin akan menjadi masalah besar bagi mereka.
__ADS_1
Iris sampai menahan nafas mendengar balasan Bobby tadi. Beruntungnya Sean bisa dengan cepat menghentikan mulut bodohnya itu.
Setelah memperingatkan Bobby untuk diam, Sean melanjutkan negosiasinya dengan Zero.
"Uh...Emm...Bagaimana kalau kita bagi secara adil saja. Untukmu 40℅ dan sisanya untuk kita semua." Sean mencoba memberikan pilihan terbaik untuk Zero.
"Aku ulangi pertanyaanku tadi. Kalau aku tidak mau bagaimana?" Suara dan senyuman Zero begitu dingin dan penuh penekanan.
"Kenapa tidak mau. Bukankah itu sudah cukup banyak untukmu." Iris yang merasa kesal menyuarakan protesnya.
Prak.
Zero menggeprakkan meja pelan dan berkata,"Kau tidak dengar apa yang aku katakan, hah? Aku bilang 'kalau' aku tidak mau, bukan berarti aku tidak mau." Tatapan dan perkataan Zero begitu tajam sampai membuat kaki Iris secara tidak sadar bergetar.
Bobby yang melihat Iris ditekan seperti itu ingin mengambil tindakan tetapi segera ditahan oleh Sean.
Sean memberi kode pada mereka untuk diam dan jangan menjawab apapun karena dia tahu maksud Zero bertanya seperti itu.
Selama satu menit, Zero tidak mendapatkan balasan apapun dari mereka. Dia tersenyum karena menurutnya mereka memberikan pilihan terbaik dengan tidak menjawab pertanyaannya.
"Bagaimana kalau 80:20." Zero buka suara dengan memberikan penawaran yang membuat mereka syok.
"Hah? Itu terlalu berlebihan!" jawab mereka serempak.
"Terlalu berlebihan dari mananya? Justru seharusnya kalian memanggilku terlalu baik karena aku mau merelakan dua puluh persen itu untuk kalian." Zero tersenyum angkuh untuk memancing emosi mereka, terkhusus Sean yang sejak tadi selalu sabar menahan emosinya.
"Bagaimana? Apa kalian mau menerimanya?" Senyuman Zero semakin menyebalkan di mata mereka.
'Orang ini!' Sean kali ini terpancing dengan perlakuan Zero yang benar-benar merendahkannya.
"Tentu saja tidak. Itu sama saja kau ingin mengambil hak kita semua. Lagipula apa kau yakin bisa mengalahkan semua monster itu sendirian? Kau sombong sekali. Jangan pikir hanya karena kau bisa mengalahkan monster itu dengan mudah, kau bisa mengatasi semua monster itu sendirian." Sean meluapkan kekesalannya yang sejak tadi dia tahan.
Mendengar perkataan Sean yang seolah meremehkannya, Zero tersenyum sinis sambil berdiri dari kursinya, menatap ketiga petualang itu dengan tajam kemudian mengeluarkan cincin yang tersemat di jarinya.
__ADS_1
Seketika energi sihir yang begitu dahsyat keluar bersamaan dengan aura pembunuh yang selama ini bersemayam dalam dirinya.
"Kau meremehkanku, hah?"