
Setelah lama terbang di udara, Zero mengarahkan Fluffy untuk mendarat di tempat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya menuju guild dengan berjalan kaki. Butuh waktu dua jam lebih sampai akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Seperti biasa, saat membuka pintu guild, Zero dan rombongannya segera menjadi pusat perhatian para petualang yang ada di dalamnya, baik di lantai bawah maupun lantai atas.
Para petualang di guild itu tahu jika Zero kini sudah mendapatkan promosi pangkat dan sebelumnya dia tengah menjalankan quest yang letaknya berada di gunung kematian.
"Kelihatannya mereka berhasil kembali dengan selamat dari gunung kematian itu dan berhasil mendapatkan apa yang mereka cari."
"Tidak heran mengapa mereka bisa keluar tanpa luka sedikitpun mengingat ketua party itu adalah seorang Magic Emperor."
"Benar. Ditambah lagi dengan kehadiran petualang solo itu. Kita sudah tahu kalau dia mampu menjadi petualang platinum hanya dengan seorang diri, dan yang jelas itu tidak mudah dilakukan oleh orang seperti kita."
"Jangan lupakan juga dengan kedua bocah yang selalu mengikutinya. Mereka jelas bukanlah bocah biasa. Aku baru menyadari tingkat sihirnya ternyata besar juga."
"Ya. Yang pasti mereka semua bukanlah orang-orang biasa."
"Apapun yang terjadi aku tidak ingin mencari masalah dengan mereka."
Para petualang saling berbincang pelan membicarakan Zero bersama anggotanya yang lain.
Zero tidak ingin menanggapi celotehan mereka dan berjalan lurus menuju ke tempat administrasi untuk melapor.
Disaat mereka sedang sibuk membicarakan kehadiran Zero dan rombongannya, Clarise yang mempunyai pendengaran yang tajam dan saat ini sedang menyusun berkas di sebuah ruangan langsung keluar menghampiri Zero.
"Zero-san!" Clarise tampak begitu senang saat melihat kedatangan Zero. Dia lalu berlari ke arahnya dan tanpa banyak basa basi langsung bertanya pada intinya, "Apa anda berhasil mendapatkannya?"
Zero dan yang lainnya dapat melihat harapan yang sangat besar dari sinar mata Clarise. Dia seperti sudah menunggu momen ini sejak lama.
Zero merogoh kantong ajaibnya dan memperlihatkan satu lembar daun berwarna emas pada Clarise.
"Ya. Aku sudah mendapatkannya."
Para petualang lain bereaksi karena penasaran ingin melihat tumbuhan langka yang hanya tumbuh di puncak gunung kematian. Mereka terpukau saat menemukan tumbuhan langka itu ada di tangan Zero.
"Syukurlah...aku sangat senang sekali...akhirnya ada orang yang berhasil mendapatkannya." Clarise tidak bisa menahan air mata kebahagiaannya.
"Ah, maaf…aku terlalu terbawa suasana…" Clarise buru-buru menyeka air mata yang mengalir di pipinya saat menyadari ini bukan waktunya untuk menangis.
"Jika kau ingin segera menyembuhkan ibumu cepat urus semua laporan quest ini," ujar Zero
"Baik, tunggu sebentar…" Clarise dengan buru-buru mengurus semua laporan tersebut dan meminta izin pada rekannya untuk pulang ke rumah sebentar.
Setelah mendapatkan izin dari rekannya, Clarise sesegera mungkin membawa Zero dan yang lainnya ke rumahnya.
Saat tiba di rumahnya mereka mendapati seorang gadis elf berusia sepuluh tahunan tengah menyapu di halaman depan. Dia langsung menghentikan aktivitasnya saat melihat kakaknya pulang ke rumah begitu cepat dengan membawa beberapa orang petualang yang tak dia kenal.
"Nee-san, ada apa? Kenapa membawa mereka semua ke sini?" tanya nya.
"Sudah jangan banyak tanya dulu. Mereka kesini karena ingin menyembuhkan ibu." jelas Clarise
"Benarkah?" Adiknya tampak senang sekali.
"Ya."
Zero dan yang lainnya kemudian dibawa masuk oleh Clarise ke dalam rumah sederhananya dan dituntun ke dalam kamar ibunya.
__ADS_1
Zero dan yang lainnya bisa melihat ibu Clarise tengah terbaring lemas di ranjang kasurnya. Dia membuka matanya saat merasakan kehadiran seseorang namun dia tidak bisa menoleh karena tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.
"Dia ibuku, Zero-san. Sudah dua tahun lebih dia seperti ini…" Clarise memperkenalkan ibunya yang sakit.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Clarise mengangguk lalu menjelaskan jika dua tahun yang lalu ibunya pernah mempunyai hubungan khusus dengan seorang bangsawan di kota seberang. Namun sayang saat itu bangsawan itu sudah mempunyai istri dan anak.
Ibu Clarise yang sudah jatuh hati ke bangsawan itu meminta untuk dinikahi tidak peduli jika harus dijadikan yang kedua. Tetapi sebelum dia berhasil melakukannya, istri bangsawan itu dengan segera menghentikan keinginannya dengan menaruh sebuah kutukan padanya.
Kutukan itu membuat dirinya berakhir dalam kondisi menyedihkan seperti ini, tidak bisa bergerak selain bernafas dan berkedip.
Selama ini ibunya diurus oleh adiknya sementara dirinya bekerja menjadi tulang punggung keluarga.
Clarise menceritakan semua itu dengan deraian air mata yang tidak bisa ditahan. Adiknya dan ibunya pun ikut menangis mendengarnya.
Selain Zero dan Gladius, yang lainnya yang merasa tersentuh mendengar cerita tersebut ikut meneteskan air matanya.
Zero menghela nafas setelah Clarise selesai menjabarkan cerita penyebab ibunya menjadi seperti ini.
"Apa kau yakin ingin ibumu yang bodoh ini sembuh?" tanya Zero terdengar malas menatap ibu Clarise yang tampak kurus oleh beban pikiran.
"Ya. Tolong, Zero-san…" Clarise memohon. Dia tidak tersinggung meskipun Zero menyebut ibunya bodoh karena memang faktanya seperti itu.
"Apa kau yakin setelah dia sembuh dia tidak akan bertindak bodoh seperti itu lagi?" Zero memastikan.
"Akan aku usahakan agar dia tidak akan melakukannya."
"Aku yakin ibu tidak akan melakukannya lagi, jadi kumohon sembuhkanlah ibuku…"
Zero menatap lamat-lamat ibu Clarise yang seolah ingin mengatakan dia tidak akan melakukan kebodohan yang sama lagi.
"Baik, aku akan menyembuhkannya."
Kalimat yang Zero ucapkan membuat kedua elf kakak beradik itu senang meliputi rasa bersyukur karena akhirnya momen seperti ini terjadi juga. Kedua kakak beradik gadis demi-human pun merasakan hal yang sama.
"Kalian tunggu saja disini, aku akan segera meracik daun obat ini," kata Zero sambil melenggang pergi dari ruangan itu dan mencari tempat untuk meracik daun emas tersebut.
Charla dan yang lainnya nencoba menghibur Clarise dan adiknya. Sedangkan Gladius mengikuti Zero karena penasaran apa yang ingin dilakukannya. Zero sama sekali tidak mempermasalahkan keinginan Gladius dan memperbolehkan dia mengikutinya
Setelah menemukan tempat yang cocok, Zero membuka menu store-nya.
"Apa yang ingin Tuan lakukan? Apa Tuan bisa meracik daun itu sendiri? " Gladius penasaran.
"Kau diam dan lihat saja."
Di menu store-nya, Zero mencari bahan-bahan untuk meracik obat itu dari mulai alat, wadah serta item yang lainnya. Gladius yang mengamati aksi Zero menyentuh-nyentuh ruangan kosong dibuat heran sekaligus penasaran dengan apa yang tuanya itu lakukan.
Selesai melakukan transaksi, Zero mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan untuk meracik daun emas itu menjadi obat kemudian menatanya satu persatu dengan rapi.
Gladius yang menyaksikan aksi Zero mengeluarkan benda dari ruang kosong hanya bisa takjub meski dia sudah pernah melihat orang lain melakukannya.
Dengan semua bahan yang sudah terpasang di depannya, Zero mulai meracik daun emas itu menggunakan kemampuan Alchemist-nya. Kemampuan ini didapat dari job-nya yang waktu itu sudah dipromosikan dari profesional menjadi expert.
'Bagi seorang Alchemist ketika ingin meracik sesuatu harus memiliki ketelitian dan kemahiran yang tinggi jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal.'
__ADS_1
Zero beruntungnya sudah pernah mengembangkan kemampuannya di bidang ini sewaktu masih di kerajaannya jadi dia mempunyai keyakinan untuk bisa meracik daun emas ini menjadi obat untuk menyembuhkan ibu Clarise.
Gladius terpana menyaksikan Zero ternyata mampu melakukan hal seperti ini juga. Zero sungguh pria yang sangat menarik menurutnya. Dia memang tidak salah pilih menjadikan dia sebagai tuannya.
"Selesai…" Zero akhirnya selesai membuat obat untuk menyembuhkan ibu Clarise.
Zero menuangkan wadah berisi cairan berwarna emas hasil dari racikannya itu pada satu botol kecil.
"Tuan hebat sekali bisa meracik daun itu menjadi obat seperti ini," puji Gladius
"Tidak perlu takjub seperti itu jika di dekatku. Aku bahkan mempunyai sesuatu yang bisa membuatmu lebih takjub dari ini," ujar Zero.
Gladius tidak sabar ingin melihat sesuatu dari Zero yang lebih menakjubkan dari semua yang dia perlihatkan.
Zero kemudian melangkah pergi ke tempat Clarise dan yang lainnya berkumpul.
"Zero-sama sudah selesai…" Charla dan Sherria mendekati Zero dan Gladius. Yang lainnya serentak mengalihkan pandangannya padanya.
"Bagaimana?" Clarise mendekati Zero dan menanyakan hasilnya.
"Aku sudah membuatnya…" Zero menunjukkan sebotol cairan berwarna emas.
"Syukurlah…"
"Minumkan ini pada ibumu." Zero menyerahkan botol kecil itu pada Clarise.
"Baik." Clarise mengambilnya, mendekati ibunya dan duduk di samping adiknya.
"Ibu, minumlah obat ini. Setelah meminumnya aku yakin ibu akan sembuh." Clarise mulai menuangkan cairan berwarna emas itu pada mulut ibunya secara perlahan.
Ibunya dengan segenap tenaga membuka mulutnya agar semua cairan obat itu masuk ke dalamnya.
Semuanya yang menyaksikan berharap hasil yang baik. Sampai ketika semua cairan yang ada di dalam botol itu habis, tubuh ibu Clarise mengeluarkan cahaya dan membuatnya kejang-kejang untuk sesaat. Yang terjadi berikutnya saat cahaya itu menghilang, Ibu Clarise bisa menggerakkan tangannya kembali.
"Clarise…Neila…" Ibu Clarise pun bisa mengucap nama kedua anaknya lagi.
"Ibu!" Clarise dan adiknya yang senang melihat ibunya telah pulih langsung memeluknya. Air mata kembali jatuh di matanya membanjiri kasur itu.
Zero dan yang lainnya ikut senang melihat mereka bisa kembali lagi seperti ini.
"Aku senang melihat ibu bisa kembali lagi seperti semula!"
"Maafkan ibu karena sudah membuat kalian khawatir. Maafkan ibu…" Ibu Clarise mengelus kepala kedua anaknya dengan penuh kasih.
"Ibu janji tidak akan mengulangi kebodohan yang sama lagi. Mulai saat ini ibu akan menjadi orang tua yang baik untuk kalian." Ibu Clarise ikut menjatuhkan air matanya karena senang akhirnya dia bisa berinteraksi lagi bersama kedua anaknya. Dia sangat bersyukur bisa diberi kesempatan kedua untuk menjadi orang tua bagi mereka.
Clarise melepas pelukannya dan berdiri lalu menoleh ke sosok yang telah menyelamatkan ibunya.
"Zero-san, terimakasih sudah menyembuhkan ibuku…" Clarise yang sangat senang spontan merangkul Zero.
"Terimakasih…terimakasih...terimakasih…" Air mata Clarise bergenang di pundak Zero.
Clarise kemudian memberikan satu kecupan di pipi Zero sebagai rasa terima kasih atas semua yang telah Zero lakukan.
Cup...
__ADS_1
Baik Zero maupun yang lainnya tercengang dengan apa yang Clarise lakukan. Terutama ketiga gadis di belakang Zero yang seketika dibuat cemburu oleh aksi Clarise